Tentang Al-Quran

Tentang Al-Quran

Diantara kemurahan Allah kepada manusia bahwa Dia tidak saja memberikan sifat yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka kearah kebaikan, tetapi juga dari waktu kewaktu Dia mengutus sweorang Rasul kepada manusia dengan membawa al kitab dari Allah dan menyuruh mereka beibadah hanya kepada Allah saja. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar yang demikian menjadi bukti bagi manusia.
`Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( An-Nisa`: 165 )
Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai dengan wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh kaum setiap Rasul saat itu. Sampai perkembangan itu mencapai kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad muncul dipermukaan bumi ini. Maka diutuslah beliau disaat manusia sedang mengalami kekosongan para Rasul, untuk menyempurnakan ` bangunan` saudara-saudara pendahulunya ( para rasul )dengan syriatnya yang universal dan abadi serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu al-quranl karim.
`Perumpamaan aku dengan nabi sebelum aku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah, dibuat dengan baik dan diperindahkanya rumah itu, kecuali letak sebuah bata disudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata: seandainya bukan karena satu batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna. Maka akulah batu bata itu, dan akaulah penutup para nabi.` .
Qur`an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya, banyak nash yang msnunjukkan hal itu, baik didalam qur`an maupun didalam sunnah.
`Katakanlah: `Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua`,( Al A`raf :158 ).
`Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam , Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,( Al-Furqan : 1 )
`Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus untuk segenap manusia,` .
Sesudah Muhammad saw. Tidak akan ada lagi kerasulan lain.
`Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi`.(Al Ahzab : 40 ).
Maka tidaklah aneh apabila quran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaam berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi.
`Dia telah mensyari`atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : `Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya`.( Asyuraa: 13 ).
Rasulullah SAW juga telah menantang orang-orang arab dengan quran, padahal quran diturunkan dengan bahasa mereka dan mereka pun ahli dalam bahasa itu dan retorikanya. Namun ternyata mereka tidak mampu membuat apapun seperti quran, atau membuat sepuluh surah saja, bahkan satu surah pun sepertu quran. Maka terbuktilah kemukjizatan quran dan terbukti pula kerasulan Muhammad. Allah telah menjaga kerasulannya da menjaga pula penyampaiannya yang beruntun. Tentang jibril yang membawa quran itu diantaranya dilukiskan :
`Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin`,( Asyuraa : 193 ).
Dan diantara sifat quran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya quran itu adalah :
`Sesungguhnya Al Qur`aan itu benar-benar firman utusan yang mulia , yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai `Arsy, yang dita`ati di sana lagi dipercaya. Dan temanmu itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib`.(at-taqwir : 19-24 ).
`Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan`.(al waqiah :77-79 ).
Keistimewaan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu diperuntukkan bagi satu waktu tertentu, maka benarlah Allah dengan firman-Nya:
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al Hijr : 9 )
Risalah quran disamping ditujukan kepada manusia juga ditujukan kepada jin.
`Dan ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan lalu mereka berkata: `Diamlah kamu `. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya memberi peringatan. Mereka berkata: `Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih`.( al-Ahqaf : 29-31 ).
Dengan keistimewaan itu Quran dengan memecahkan problem-problem kemanusiaan diberbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani sosial, ekonomi maupun politik dengan pemecahan yang bijaksana, karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan maha terpuji. Pada setiap problem itu Quran meletakkan sentuhan yang mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan demikian Quran selalu memperoleh kelayakannya disetiap waktu dan tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke 14 ini:
`Islam adalah suatu sitem yang lengkap, ia siap mengatasi setiap segala gejala kehidupan, ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa, ia adalah moral dan potensi atau rahmat dan keadilan. Ia adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, atau pendpatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan ide. Begitu pula ia adalah aqidah yang benar dan ibadah yang sah.`
Manusia yang kini tersiksa hati nuraninya dan ahlaknya sudah rusak, tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya kejurang kehinaan selain dari pada Quran. `Allah berfirman: `Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta`.( Taha : 123-124 ).
Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor ditengah-tengah sistem-sistem dan prinsip-prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia yang kebingungan dengan Quran sehingga terbimbing kepantai keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan mempunyai Quran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus memiliki negara dengan Quran juga.
Definisi Quran
Qara`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qira`ah , yaitu masdar (infinitif) dari kata qara` qira`atan, qur`anan. Allah berfirman:
`Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu`. (Al;-Qiyamah :17-18).
Qur`anah berarti qiraatun (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata itu adalah masdar menurut wazan (tashrif, konjugasi)`fu`lan` dengan vokal `u` seperti `gufran` dan `syukran`.Kita dapat mengatakan qara`tuhu , qur`an, qira`atan wa qur`anan, artinya sama saja.Di sini maqru` (apa yang dibaca) diberi nama Qur`an (bacaan); yakni penamaan maf`ul dengan masdar.
Qur`an dikhususkan nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w, sehingga Qur`an menjadi nama khas kitab itu, sebagai nama diri. Dan secara gabungan nama itu dipakai nama qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang yang membaca ayat al-Qur`an, kita boleh mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an.
`Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat `. (al-Araf :204)
Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama qur`an di antara nama-nama kitab Allah itu karena kitab ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya, bahkan mencakup inti dari semua ilmu.
Akan hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri` (an-Nahl:89).
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab`(al-An`am : 38 ).
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Quran itu pada mulanya tidak berhamzah sebagai kata jadian, mungkin ia dijadikan sebagai suatu nama bagi kalam yang diturunkan kepada Nabi saw., dan bukanya kata jadian dari Qara`a atau mungkin juga karena ia berasal dari kata qarana asy-sya`ia bisy-syai`i yang berarti memperhubungkan sesuatu dengan yang lain, atau juga berasal dari kata qaraa`in ( saling berpasangan ) karena ayat-ayatnya satu dengan yang lain saling menyerupai. Dengan demiian maka huruf Nun itu asli. Namun pendapat ini masih diragukan. Yang benar ialah pendapat yang pertama.
Qur`an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagaian serta ketentuan-ketentuannya secara khusus, mempunyai genus, diferensia, dan propium, sehingga definisi qur`an mempunyai batasan yang benar-benar konkrit. Definisi untuk Qur`an yang konkrit ialah menghadirkannya dalam fikiran atau dalam realita seperti misalnya kita menunjuk sebagai Quran kepada yang tertulis didalam mushaf atau terbaca dengan lisan. Untuk itu kita katakan Quran adalah: Apa yang ada diantara dua jilid buku, atau kita katakan juga; Quran adalah bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahirabbil alamin��sampai dengan minal jinnati wannas.
Para ulama menyebutkan definisi Quran yang mendekati makananya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: `Quran adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhamad saw. Yang pembacanya merupakan suatu ibadah`. Dalam deinisi `kalam` merupakan kelompok jenis yang meliputi segal kalam. Dan dengan menghubungkannya dengan Allah ( kalamullah ) berarti tidak semua masuk dalam kalam manusia, jin dan malaikat.
Dan dengan kata-kata `yang diturunkan` maka tidak termasuk kalam Allah yang sudah khusus menjadi milik-Nya.
`Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu `.(al-Kahfi: 109).
`Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut , ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudah nya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( Luqman: 27 ).
Dan membatasi apa yag diturunkan itu hanya `kepada Muhammad saw` Tidak termasuk yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti taurat, injil dan yang lain.
Sedangkan `yang pembacanya merupakan suatu ibadah` mengecualikan hadis ahad dan hadis-hadis qudsi bila kita berpendapat bahwa yang diturunkan dari Allah itu kata-katanya -sebab kata-kata `pembacanya sebagai ibadah` artinya perintah untuk membecanya di dalam shalat dan lainnya sutau ibadah. Sedangkan qiraat ahad dan hadis-hadis qudsi tidak demikian halnya.
Nama dan Sifatnya
Allah menamakan Quran dengan beberapa nama, diantaranya:
1. Qur`an
`Al Qur`an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus`.( al-Israa:9)
2. Kitab
`Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu`.(al-Anbiyaa: 10)
3. Furqan
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,(al-Furqan: 1)
4. Zikr
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.( al-Hijr :9)
5. Tanzil
`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam`,(as-Syuaraa:192 ).
Quran dan alkitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammada Daraz berkata: ` ia dinamakan Quran karena ia `dibaca` dengan lisan, dan dinamakan al- kitab karena ia `ditulis` dengan pena. Kedua kata ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya`.
Penamaan Quran dengan kedua nama ini memberikan isyarat bahwa selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian, apa bila diantara salah satunya ada yang melenceng, maka yang lain akan meluruskannya, kita tidak dapat menyandarkan hanya dengan haflan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada kita dari generasi kegenerasi menurut keadaan sewaktu dibuatnya pertama kali. Dan kita pun tidak dapat menyandarkan hanya kepada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan tersebut berdasarkan isnad yang sahih dn mutawatir.
Dengan penjagaan yang ganda ini oleh Allah telah ditanamkan kedalam jiwa umat Muhammad untuk mengikuti langkah Nabi-Nya. Maka Quran tetap terjaga dalam benteng yang kokoh. Hal itu tidak lain untuk mewujudkan janji Allah yang menjamin terpeliharanya Quran seperti di firmankan-Nya :
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al-Hijr :9 ).
Dengan demikian Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.
Penjagaan ganda ini diantaranya menjelaskan bahwa kitab-kitab samawi lainnya diturunkan hanya untuk waktu itu, sedang Quran diturunkan untuk membetulkan dan menguji kitab-kitab yang sebelumnya. Karena itu Quran mencakup hakikat yang ada didalam kitab-kitab terdahulu dan menambahnya dengan tambahan yang dikehendaki Allah. Quran menjalankan fungsi-fungsi kitab-kitab sebelumnya, tetapi kitab-kitab itu tidak dapat menempati posisinya. Allah telah menakdirkan untuk menjadikannya sebagai bukti sampai hari kiamat. Dan apa bila Allah mengehndaki suatu perkara, maka Dia akan mempermudah jalannya ke arah itu. Karena Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Inilah alasan yang paling kuat.
Allah telah melukiskan Quran dengan beberapa sifat, diantaranya ;
6. Nur (cahaya ) :
`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang`.(an-nisaa : 174 )
7. Huda ( petunjuk ), Syifa` ( obat ), Rahmah ( rahmat ),dan Mauizah ( nasehat ) :
`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman`.( Yunus : 57 ).
8. Mubin ( yang menerangkan ) :
`Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan`.( al-Maidah :15 ).
9. Mubarak ( yang diberkati ) :
`Dan ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya`.(al- An`am ;92 ).
10. Busyra ( kabar gembira ) :
`Katakanlah: `Yang membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman`.(al-Baqarah :97 ).
11. `Aziz ( yang mulia ) :
`Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quraan ketika Al Quraan itu datang kepada mereka, , dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia`.( Fushilat : 41 ).
12. Majid ( yang dihormati ) :
`Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur`an yang mulia`,( al-Buruuj ; 21 ).
13. Basyr ( pembawa kabar gembira ) :
`Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan`.( Fushilat ; 3-4 ).
Perbedaan antara Quran dengan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi
Definisi Quran telah dikemukakan pada halaman terdahulu. Dan untuk mengetahui perbedaan antara definisi Quran dengan hadis kudsi dan hadis nabawi, maka disini kami kemukakan dua definisi berikut ini :
1. Hadis Nabawi
Hadis ( baru ) dalam arti bahasa lawan qadim ( lama ). Dan yang dimaksud hadis ialah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengarannya atau wahyu, baik dalam keadaan jaga taupun dalam keadaan tidur. Dalam pengertian ini Quran juga dinamai hadis.
`Hadis (kata-kata ) siapakah orang yang lebih benar perkataan dari pada Allah`?(an-nisaa : 87 ).
Begitu pula apa yang terjadi pada manusia diwaktu tidurnya juga dinamakan hadis.
`�.dan Engkau telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil dari hadis-hadis-maksudnya mimpi`. (Yusuf : 101 ).
Sedang menurut istilah pengertian hadis ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi saw. Baik berupa perkataan, perbuatan persetujuan atau sifat.
Yang berupa perkataan seperti perkataan Nabi saw. :
`Sesungguhnya sahnya amal itu disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya�.`
yang berupa perbuatan ialah seperti ajaranya pada sahabat mengenai bagaimana caranya mengerjakan shalat, kemudian ia mengatakan :
`Shalatlah seperti kamu melihat aku melakukan shalat`.
juga mengenai bagaimana ia melakukan ibadah haji, dalam hal ini Nabi saw. Berkata :
`Ambilah dari padaku manasik hajimu`.
Sedang yang berupa persetujuan ialah seperti ia menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan ataupun perbuatan, dilakukan dihadapannya atau tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya. Misalnya mengenai makanan baiwak yang dihidangkan kepadanya, dan persetujuannya dalam sebuah riwayat, Nabi saw, mengutus seseorang dalam suatu peperangan. Orang itu membaca suatu bacaan dalam salat yang diakhiri dengan qul huwallahu ahad. Setelah pulang mereka menyampaikannya kepada Nabi, lalu kata Nabi : tanyakan kepadanya mengapa ia bernuat demikian !` mereka pun menanyakannya. Dan orang itu menjawab. ` kalimat itu adalah sifat Allah dan aku senang membacanya`. Maka jawab Nabi :
`katakan kepadanya, Allah pun senang kepadanya`.
Dan yang berupa sifat adalah riwayat seperti : `bahwa Nabi saw. Itu selalu bermuka cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula bernicara kotor dan tidak juga suka mencela��..`.
2. Hadis Kudsi
Kita telah mengetahui hadis secara etimologis. Sedangkan qudsi ( kudsi ) dinisbahkan sebagai kata quds, nisbah ini mengesankan rasa hormat, karena materi kata itu menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam arti bahasa. Maka kata taqdis berarti menyucikan Allah. Taqdis sama dengan tathiir, dan taqddasa sama dengan tatahhara (suci, bersih ) Allah berfirman dengan kata-kata malaikat-Nya :
`��pada hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan diri kami karena Engkau.` (al-Baqarah : 30 )
yakni membersihkan diri untuk-Mu.
Hadis kudsi ialah hadis yang oleh Nabi saw, disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka rasul menjadi perawi kalam Allah ini dari lafal Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah SAW dengan disandarkan kepada Allah, dengan mengatakan :
`Rasulullah SAW mengataklan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`, atau ia mengatakan:
`Rasulullah SAW mengatakan : Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah Ta`ala.`
Contoh yang pertama :
`Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulullah SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla, tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafakah, baik di waktu siang atau malam hari�.`
Contoh yang kedua :
`Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW berkata : ` Allah ta`ala berfriman : Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku.bila menyebut-KU didalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya didalam diri-Ku. Dan bila ia menyebut-KU dikalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya didalam kalangan orang banyak lebih dari itu�.`
3. Perbedaan Quran dengan Hadis Kudsi
Ada beberapa perbedaan antara Quran dengan hadis kudsi,yang terpenting diantaranya ialah :
a. Al-Quranul Kariam adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafalnya. Dan dengan itu pula orang arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Quran itu, atau sepuluh surah yang serupa itu, bahakan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena Quran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat.. sedang hadis kudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
b. Al- Quranul karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: Allah ta`ala telah berfirman, sedang hadis kudsi-seperrti telah dijelaskan diatas-terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah; sehingga nisbah hadis kudsi kepada Allah itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Maka dikatakan : `Allah telah berfirman atau Allah berfirman.` Dan terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW tetapi nisbahnya adalah nisbah kabar, karena Nabi yang menyampaikan hadis itu dari Allah, maka dikatakan : Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannaya.
c. Seluruh isi Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang hadis-hadis kudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Ada kalanya hadis kudsi itu sahih, terkadang hasan ( baik ) dan terkadang pula da`if (lemah).
d. Al-Quranaul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadis kudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW . hadis kudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Leh sebab itu, menurut sebagian besar ahli hadis diperbolehkan meriwayatkan hadis kudsi dengan maknanya saja.
e. Membaca Al-Quranul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca didalam salat. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`(al-Muzammil : 20).
Nilai ibadah membaca Quran juga terdapat dalam hadis :
`Barang siapa membaca satu huruf dari Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf`.
Sedang hadis kudsi tidak disuruhnya membaca didalam salat. Alllah memberikan pahala membaca hadis kudsi secara umum saja. Maka membaca hadis kudsi tidak akan memperoleh pahala sperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca Quran bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.
4. Perbedaan Hadis Kudsi dan Hadis Nabawi
Hadis nabawi itu ada dua :
a. Tauqifi.
Yang bersifat tauqifi yaitu : yang kandungannya diterima oleh Rasulullah SAW dari wahyu, lalu ia menjelaskan kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini, meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih dinisbahkan kepada Rasulullah SAW , sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya, meskipun didalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain.
b. Taufiqi.
Yang bersifat taufiqi yaitu : yang disimpulkan oleh Rasulullah SAW menurut pemahamannya terhadap Quran, kerena ia mempunyai tugas menjelaskan Quran atau menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulannyang bersifat ijtihad ini, diperkuat oleh wahyu jika ia benar, dan jika terdapat kesalahan didalamnya, maka turunlah wahyu yang membetulkannya. Bagian ini bukanlah kalam Allah secara pasti.
Dari sini jelaslah bahwa hadis nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi dan taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh wahyu itu bersumber dari wahyu. Da inilah makna dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad saw. :
`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan`.(an-najm :3-4).
Hadis kudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui salah satu car penurunan wahyu, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW , inilah pendapat yang kuat. Dinisbahkannya hadis kudsi kepada Allah SWT adalah nisbah mengenai isinya, bukan nisbah mengenai lafalnya. Sebab seandainya hadis kudsi itu lafalnya juga dari Allah, maka tidak ada lagi perbedaan antara hadis kudsi dengan Quran; dan tentu pula gaya bahsanya menuntut untuk ditantang, serta membacanya pun diangggap ibadah.
Mengenai hal ini timbul dua macam ketaskaan ( syubhah ) :
Pertama: bahwa hadis nabawi ini juga wahyu secara maknawi, yang lafalnya dari Rasulullah SAW , tetapi mengapa hadis nabawi tidak kita namakan juga hadsi kudsi ? jawabnya ialah bahwa kita merasa pasti tentang hadis kudsi bahwa ia diturunkan maknanya dari Allah karena adanya nash syara` yang menisbahkannya kepada Allah, yaitu kata-kata Rasulullah SAW ; Allah Ta`ala telah berfirman, atau Allah Ta`ala berfirman. Itulah sebabnya kita namakan hadis itu adalah hadis qudsi. Hal ini berbeda dengan hadis-hadis nabawi, kerena hadis nabawi tidak memuat nash tentang hal seperti ini. Disamping itu bisa jadi isinya diberitahukan ( kepada Nabi ) melalui wahyu ( yakni secara tauqifi ) namun mungkin juga disimpulkan melalui ijtihad ( yaitu secara taufiqi ), dan oleh sebab itu kita namakan masing-masing dengan nabawi sebagai terminal nama yang pasti. Seandainya kita mempunyai bukti untuk membedakan mana wahyu tauqifi, tentulah hadis nabawi itu kita namakan pula hadis kudsi.
Kedua : Bahwa apa bila lafal hadis kudsi itu dari Rasulullah SAW maka dengan alasan apakah hadis itu dinisbahkan kepada Allah melalui kata-kata Nabi ` Allah Ta`ala telah berfirman` atau ` Allah Ta`ala berfirman`?.
Jawabnya ialah bahwa hal yang demikian ini biasa terjadi dalam bahasa arab, yang menisbahkan kalam berdasarkan kandungannya bukan berdasar lafalnya. Misalnya ketika kita mengubah sebait syair menjadi prosa, kita katakan ` sipenyair berkata demikian` . juga ketika kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseorang kita pun mengatakan `si fulan berkata demikian` . begitu juga Quran menceritakan tentang Nabi Musa, Fir`aun dan sebagainya isi kata-kata mereka dengan lafal mereka dan dengan gaya bahasa yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi dinisbatkan kepada mereka.
`Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa : `Datangilah kaum yang zalim itu, kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?` Berkata Musa: `Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah kepada Harun . Dan aku berdosa terhadap mereka , maka aku takut mereka akan membunuhku`.Maka datanglah kamu berdua kepada Fir`aun dan katakanlah olehmu: `Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami`.Fir`aun menjawab: `Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu . dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. Berkata Musa: `Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah kamu telah memperbudak Bani Israil`.Fir`aun bertanya: `Siapa Tuhan semesta alam itu?` Musa menjawab: `Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya , jika kamu sekalian mempercayai-Nya`.(asy-syuara` : 10-24 )

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s