Tentang Wahyu

Tentang Wahyu

I. Kemungkinan dan Terjadinya Wahyu.
Perkembangan ilmiyah telah maju dengan pesat, da cahayanya pun telah menyapu segala keraguan yang selama ini merayap pada diri manusia mengenai roh yang ada dibalik materi. Ilmu materialistis yang meletakkan sebagian besar dari apa yang ada dibawah percobaan dan experimen percaya terhadap alam gaib yang ada dibalik dunia nyata ini. Dan percaya pula bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam dari pada alam nyata. Dan bahwa sebagian besar penemuan modern yang membimbing pemikiran manusia menyembunyikan rahasia yang samar yang hakikatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama dengan keimanan. Dan itu sesuai denga firman Allah :
`Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar.`( Fushilat :53 ). dan firman-Nya :
`Dan tidakkah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.` ( al-isra’: 85 ).
Pembahasan psiologik dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan. Dan hal itupun didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasan, kecenderungan dan naluri mereka. Diantara inteligensia itu ada yang istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala yang baru. Tetapi ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Diantara dua posisi ini, terdapat sekian banyak tingkatan, demikian pula halnya dengan jiwa.ada yang jernih dan cemerlang. Dan ada pula yang kotor dan kelam.
Dibalik tubuh manusia ada roh yang merupakan rahasia hidupnya. Apa bila tubuh itu kehabisan tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerusakan jika tidak mendapatkan makanan menurut kadarnya., maka demikian pula dengan roh. Ia memerlukan makanan yang dapat menimbulkan tenaga rohani agar ia dapat memelihara sendi-sendi dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Bagi Allah bukan hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-Nya sejumlah jiwa yang dasarnya begitu jernih dan kodarat yang lebih bersih yang siap menerima sinar Ilahi dan wahyu dari langit serta hubungan dengan mahluk yang lebih tinggi; agar kepadanya diberikan risalah Ilahi ya g dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka mempunyai ketinggian rasa, keluhuran budi dan kejujuran dalam menjalankan hukum. Mereka itulah para Rasul dan Nabi Allah. Maka tidaklah aneh jika berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnitisma yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang kepada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang kemauannya lemah. Sehingga yang lemah ini tertidur pulas dan ia dikemudikan menurut kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengelirlah itu semua kedalam hati dan mulutnya. Apa bila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu ?
Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa ole gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat sipembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang satu berada diujung timur dan yang lain diujung barat. Dan terkadang pula keduanya bisa saling melihat dalm percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk disekitarnya tidak mendengar apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan diwaktu turun wahtyu.
Siapkah diantara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri. Dalam keadaan sadar atau tidur yang terlintas dalam pikirannya tanpamelihat orang yang diajak bicara dihadapannya ?
Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu.
Orang yang sezaman dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilkannya secara mutawatir dengan segala persayaratannya yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya didalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap berpegang kepada keyakinan itu. Dan akan hancur dan hina apa bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak diragukan lagi. Serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita Muhammad saw. Bukanlah rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah memberikan wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang diwahyukankepadanya:
`Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung`( an-nisaa :163-164 ).
Dengan demikian maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran itu bagi orang-orang yang berakal.
`Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: `Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka`. Orang-orang kafir berkata: `Sesungguhnya orang ini benar-benar adalah tukang sihir yang nyata`.( Yunus : 2).
II. Arti Wahyu
Dikatakan wahaitu ilaih dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraa yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu adalah kata masdar ( infinitif ); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu ; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha yaitu pengertian isim maf`ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi :
1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu nabi Musa :
`Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa `susuilah dia �( al-Qasas :7 ).
2. Ilham yang berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah :
`Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia`( an-Nahl : 68 ).
3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Quran :
`Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang`.( Maryam : 11 ).
4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dlam diri manusia.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu`.( al-An`am : 121 ).
`Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.`( al-An`am :112 ).
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan :
`Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman`.( al- Anfal : 12 ).
Sedang wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara` mereka definisikan sebagai ` kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi`. Definisi ini menggunakan pengertian maf`ul, yaitu al muha ( yang diwahyukan ). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalatut tauhid sebagai ` pengetahuan yang didapati seseoranng dari dalam dirinya dengan disertai keinginan pengetahan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal sepeti itu serupa dengan rasa lapar, haus sedih da senang.`
Definisi diatas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau khasyaf. Tetapi penbedaannya dengan ilham diakhir definisi meniadakan hal ini.
III. Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat
1. Didalam Al- Quranul Karim terdapat nash mengenai kalam Allah kepada para malaikatnya :
`Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: `Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.` Mereka berkata: `Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya .`( al-Baqarah : 30 ).
Juga terdapat nash tentang wahyu Allah kepada mereka :
`Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman`.( al-Anfal : 12 ).
Disamping itu ada pula nash tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya.
`Demi malaikat yang mebagi-bagi urusan.`( ad-dzariyat : 4 ).
`Dan demi malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia.` ( an-Naziat : 5 ).
Nash-nash diatas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis dari Nawas bin Sam`an r.a yang mengatakan : Rasulullah SAW berkata :
`apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langitpun tergetarlah dengan getaran- atau Dia mengatakan dengan goncangan-yang dahsyat karena takut kepada Allah Azza wa jalla. Apa bila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu, kepada jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian jibril berjalan melintasi para malikat, setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu; apa yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai jibril ? jibril menjawab : Dia mengatakan yang hak. Dan Dialah yang maha tinggi lagi Maha Besar. Para malikatpun mengatakan seperti apa yang dikatakan jibril. Lalu jibril menyampaikan wahyu itu seperti apa yang diperintahkan Allah azza wajalla.`
hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malikatnya mendengar-Nya. Dan pengaruh wahyu itupun sangat dahsyat; apa bila pada lahirnya- didalam perjalanan jibril untuk menyampaikan wahyu-hadis diatas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Quran, akan tetapi hadis tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok permasalahan itu terdapat didalam hadis sahih :
`Apa bila Allah memutuskan suatu perkara dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena pengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang licin.`
2.Telah nyata pula bahwa Quran telah dituliskan dilauhil mahfudz, berdasarkan firman Allah :
`Bahkan ia adalah Quran yang mulia yang tersimpan dilauhil mahfudz.` (al-Buruj : 21-22 ).
Demikian pula bahwa Quran itu diturunkan sekaligus ke baitul izzah yang berada dilangit dunia pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
`Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam lailatul qadar.`(al-Qadar:1)
`Sesungguhnya Kami menurunkannya-Quran- pada suatu malam yang diberkahi.`(ad-Dukhan : 3 ).
`Bulan Ramadhan -bulan yang didalamnya diturunkan Quran.`( al-Baqarah : 185 ).
Didalam sunnah terdapat hal yang menjelaskan nuzul ( turunnya ) Quran yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukan lah nuzul kedalan hati Rasulullah SAW .
Dari Ibnu Abbas dengan hadis mauquf : ` Quran itu diturunkan sekaligus kelangit dunia pada mala lailatul Qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun, lalu Ibnu Abbas membacakan: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penyelesaiannya.`(al-Furqan : 33). `Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`( al-Israa: 106 ).
Dan dalam satu riwayat :
`Telah dipisahkan Quran dari az-Zikr lalu diletakkan dibaitul Izzah dilangit dunia; kemudian jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.`
Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Quran kepada jibril dengan beberapa pendapat :
• Bahwa Jibril menerimanya secara mendengar dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
• Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfudz.
• Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad saw.
Pendapat yang pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh ahlussunnah wal jama`ah. Serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam`an diatas.
Menisbahkan Quran kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat :
`Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quraan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui`.(an-Naml : 6 ).
`Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.`( at-Taubah : 6).
`Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: `Datangkanlah Al Qur`an yang lain dari ini atau gantilah dia `. Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`(Yunus : 15 ).
Quran adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedang pendapat kedua diatas itu tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya Quran dilauhul mahfudz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Quran.
Dan pendapat yang ketiga lebih sesuai denga hadis, sebab hadis itu wahyu Allah jepada Jibril, kemudian kepada Muhammad saw. Secara maknawi saja. Lalu ungkapan itu diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.
`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.`(an-Najm : 3-4 ).
Dan oleh sebab itulah diperbolehkan meriwayatkan hadis menurut maknanya sedang Quran tidak. Demikianlah telah kami perbincangkan perbedaan Quran dengan Hadis Kudsi dan Hadis Nabawi.
Keistimewaan Quran: 1) Qur`an adalah mukjizat; 2) Kepastiannya mutlak; 3) membacanya dianggap ibadah; 4) wajib disampaikan dengan lafalnya. Sedang hadis kudsi, sekalipun ada yang berpendapat lafalnya juga diturunkan, tidaklah demikian halnya.
Hadis nabawi ada dua macam: pertama : yang merupakan ijtihad Rasulullah SAW. Ini bukanlah wahyu. Pengakuan wahyu terhadapnya dengan cara membiarkan, hanyalah bila ijtihad itu benar. Kedua : yang maknanya diwahyukan, sedang lafalnya dari Rasulullah sendiri. Oleh sebab itu ini dapat dinyatakan dengan maknanya saja. Hadis kudis itu menurut pendapat yang kuat, maknanya saja yang diturunkan, sedang lafalnya tidak. Ia termasuk dalam bagian yang kedua ini. Sedang menisbatkan hadis kudsi kepada Allah dalam periwayatannya karena adanya nash syara` tentang itu, sedang hadis-hadis nabawi lainnya tidak.
IV. Cara Wahyu Allah Turun Kepada Para Rasul
Allah memberikan wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak.
Yang pertama : melalui Jibril malaikat pembawa wahyu, dan hal ini akan kami jelaskan nanti.
Yang kedua : tanpa melalui perantaraan. Diantaranya ialah; mimpi yang benar didalam tidur.
1. Mimpi yang benar didalam tidur.
`Dari Aisyah r.a dia berkata : sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya di waktu pagi hari.`
Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah SAW untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Didalam Quran wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surah Kausar diturunkan melalui mimpi. Karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Didalam sahih Muslim, dari Anas r.a ia berkata :
`Ketika Rasulullah SAW disuatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba ia mendekur, lalu mengengkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan kepadanya : Apa yang menyebabkan Engkau tertawa wahai Rasulullah ? Ia menjawab : Tadi telah turun kepadaku sebuah surah; lalu ia membacakan : Bismillahirrahmanirrahim, inna a`taina kal kautsar fashalli lirabbika wanhar, inna syaa niaka huwal abtar.`
Mungkin keadaan mendengkur ini adalah keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun.
Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail.
`Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar . Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar`. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis, . Dan Kami panggillah dia: `Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian, `Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim`. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.`( as-Saffat : 101-112 ).
Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag demikian itu tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu.hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW :
`Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.`
Mimpi yang benar bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firman- Nya:
`Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.`(as-Syuraa : 51 ).
2. Yang lain ialah kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara.
Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s.
`Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: `Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau`.( al-Araaf : 143 ).
`Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.` ( al-Ma`idah : 164 )
Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad saw. Pada malam isra` dan mi`raj. Yang demikian ini yang termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat diatas ( atau dari balik tabir ). Dan didalam Quran macam wahyu ini tidak ada.
3. Cara Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat Kepada Rasul
Wahyu Allah kepada Nabinya itu ada kalanya tanpa perantaraan, seperti yang telah kami sebutkan diatas, misalnya mimpi yang benar diwaktu tidur, dan kalam ilahi dibalik tabir, dalan keadaan jaga yang disadari. Dan ada kalanya melalui perantaraan malaikat wahyu. Wahyu dengan perantaraan malaiakat wahyu inilah yang hendak kami bicarakan dalam topik ini, karena Quran diturunkan dengan wahyu macam ini.
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul
Cara pertama : datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat bauat Rasul. Apa bila wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan mungkin suara itu sekali suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan didalam hadis :
`Apa Allah menghendaki suatu urusan dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai diatas batu-batu licin.` . Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu rasul baru mendengarnya untuk yang pertama kali.
Cara kedua : Malaikat menjelma kepada rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan dari pada yang sebelumnya. Karena ada kesesuaian antara pembicara dan pendengar. Rasul meraa senang sekali mendengar dari utusan pembawa wahyu itu. Karena merasa seperti manusia yang berhadapan saudaranya sendiri.
Keadan jibril menempakkan diri sebagai seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia untuk melepaskan sifat kerohaniannya, dan tidak berarti pula bahwa dzatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan bahwa ia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk meyenangkan Rasulullah SAW sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama- tatkala wahyu turun seperti dencingan lonceng- tidak menyenangkan karena keadaan demikian menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah yang seimbang dengan tingkat kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibn Khaldun : ` Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya, sedang dalam keadaan lain, sebaliknya, malaikat berubaha dari yang rohani semata menjadi manusia jasmani.`
Keduanya itu tersebut dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mu`minin r.a bahwa haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal itu dan jawab Nabi :
` Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan`.
Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa kepayahan , dia berkata :
`Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi Rasulullah`.
Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang didisyaratkan didalam ayat : `Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana`.(as-Syuraa : 51).
Mengenai hembusan didalam hati, telah disebutkan didalam hadis Rasulullah SAW :
`Roh kudus telah menghembuskan kedalanm hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.`
hadis ini tidak menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri, hal ini mungkin dapat dikembalikkan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut didalan hadis Aisyah. Mungkin malaikat datang pada beliau dalam keadaan yang menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Dan kemungkinan pula bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adsalah wahyu selain Qur`an.
V. Keraguan Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu.
Orang-orang jahiliyah baik yang lam atau yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.
1. Pertama
Meraka mengira bahwa Qur`an dari pribadi Muhammad; dengan menciptakan maknanya dan dia pula yang menyusun ` bentuk gaya bahasanya` ; Qur`an bukanlah wahyu. Ini adalah sangkaan yang batil. Apa bila Rasulullah SAW mengendaki kekuasaan atas dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain, dapat saja menisbahkan Qur`an kepada dirinya sendiri. Karena hal itu cukup untuk mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya. Karena dia juga salah seorang dari meraka yang dapat mendatangkan apa yang mereka tidak sanggupi.
Tidak pula dapat dikatakan bahwa dengan menisbahkan Qur`an pada wahyu Ilahi, ia menginginkan untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya. Sebab dia juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya pribadi, yaitu yang dinamakan hadis nabawi, yang juga wajkib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikannya sebagai kalam Allah ta`ala.
Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW termsuk pemimpin yang menempuh cara-cara bersdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu ditolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah SAW , kejujuran dan perilakunya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawan sendiri.
Orang-orang munafik menuduh isterinya, Aisyah dengan tuduha berita bohong, pada hal Aisyah isteri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung kehormatan dan kemuliaannya. Sedang wahyupun datang terlambat, Rasulullah SAW dan para sahabat merasa sedih sekali. Beliau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan memusyawarahkannya. Dan satu bulan pun telah berlalu, akan tetapi akhirnya ia hanya dapat mengatakan kepadanya :
` Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apa bila engkau benar-benar bersih, maka Allah akan membersihkanmu, dan apa bila engkau telah berbuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada Allah.`
Keadaan berlangsung secara demikian hinggga turunlah wahyu yang menyatakan kebersihan isterinya itu. Maka apakah yang menghalanginya untuk mengatakan kata-kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Qura`n kata-katanya sendiri. Tetapi dia tidak mau berdusta kepada manusia dan juga kepada Allah.
`Seandainya dia mengadakan sebagian perkataan atas Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya . Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi , dari pemotongan urat nadi itu.`( al-Haqqah : 44-47 ).
Ada segolongan orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan. Diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Allah yang mencela dan mempersalahkan tindakannya itu :
`Semoga Allah mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka , sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?` ( at-Taubah :43).
Seandainya teguran ini datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak aka di ungkapkannya.
Begitu pula teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan perang Badar. `Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.` (al-Anfal : 67-68 ).
Begitu juga adanya teguran karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum r.a yang buta. Karena menekuni salah seorang pembesar Quraisy untuk diajak masuk Islam.
`Dia bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanyaTahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya , atau dia mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa`at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup , maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada atasmu kalau dia tidak membersihkan diri . Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera , sedang ia takut kepada , maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan ! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,`( `Abasa : 1-11 ).
Yang dikenal dlam peri kehidupan Rasulullah SAW bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas dlam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia ucapan yang benar dan kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masyarakatnya sendiri pun telah menyaksikannya ketika mengajak mereka pada permulaan dakwah, ia berkata pada mereka : ` Bagaimana pendapatmu sikaranya aku beritahukan kepadamu bahwa pasukan berkuda dibalik lembah ini akan menyerangmu, percayakah kamu kepadaku ? mereka menjawab: `ya` kami tidak pernah melihat Engkau berdusta.`
Peri hidupnya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Dari Abdullah bin Sallam r.a dia berkata : ` Ketika Rasulullah SAW datang kemadinah, orang-orang mengerumininya. Mereka mengatakan : `Rasulullah sudah datang,Rasulullah sudah datang.` Lalu aku datang dalam kerumunan orang banyak itu untuk melihatnya. Ketika aku melihat Rasulullah SAW tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta.`
Orang yang memiliki sifat-sifat agung yang dihiasi oleh tanda-tanda kejujuran tidak pantas diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah yang membuat Qur`an
`Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`( Yunus : 15 ).
2. Kedua
Orang-orang jahiliyah dahulu dan sekarag, menyangka bahwa Rasulullah SAW mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham ( inspirasi ), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf. Sehingga Qur`an itu tidak lain dari pada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retirikanya.
Apakah yang sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran dan perasaan didalam Quran itu ?
Segi berita yang merupakan bagian terbesar dalam Quran tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya berdaarkan kepada penerimaan dan pengajaran. Qur`an telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu, golongan-golongan dan perisiwa sejarah dengan kejadian-kejadiannya yang benar dan cermat, seperti halnya yang disaksikan oleh saksi mata. Sekalipun masa yang dilalui oleh sejarah itu sudah amat jauh. Bahkan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak dapat memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwperistiwa diatas dengan segala macam kurun waktunya sehingga belaiu dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu, dan menyampaikan beritanya. Demikian pula beliautidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara perinci dan kemudian menyampaikan beritanya.
`Dan tidaklah kamu berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Mad-yan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul.`( al-Qashas:44-45 ).
`Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu ; tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak kaummu sebelum ini.`( Hud :49 ).
`Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur`an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.`( Yusuf : 3).
Dan diantaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angaka hitungan yang tidak diketahui kecuali oleh orang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya, didalam kisah Nabi Nuh : `Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.`(al-Ankabut : 29 ).
Hal ini sesuai denga apa yang terdapat dalam kitab Kejadian dalam Taurat. Dan dalam kisah Ashabul Kahfi ( penghuni Gua ) :
`Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.` ( al-Kahfi : 25 ).
Hitungan itu menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari, sedang sembilan tahun yang disebutkan diatas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan tahun bulan. Dari manakah Muhammada memperoleh angka-angka yang benar ini, seandainya bukan karena wahyu yang diberikan kepadanya, sebab ia adalah seorang buta huruf yang hidup dikalangan bangsa yang buta huruf pula. Tidak tahu tulis manulis dan berhitung ? orang-orang jahiliyah lebih pintar menentang Muhammad dari pada orang-orang jahiliyah modern. Sebab orang jahiliyah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapatkan berita ini dari kesadaran dirinya seperti dikataka orang-orang jahiliyah modern. Tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad mempelajri berita itu dan kemudian dituliskan :
`Dan mereka berkata: `Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.`(al-Furqaan : 5 ).
Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun-akan kami jelaskan nanti-jadi dari manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika diwaktu usianya telah empat puluh tahun. `Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.` (an-Najm : 4 ).
Itulah mengenai segi berita dalam Quran, adapun ilmu-ilmu lain yang ada didalamnya, bagian akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terperinci tentang permulaan mahluk dan kesudahannya. Kehidupan akhirat dan apa yang ada didalamnnya seperti surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala azabnya dan lain sebagainya. Seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.
`Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.` (al-Mudatsir : 31 ).
`Tidaklah mungkin Al Qur`an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya , tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.` ( Yunus : 37 ).
Begitu juga ketentuan-ketentuan yang memberi keputusan tentang berita-berita yang akan datang yang berlaku pada sunnatullah yang bersifat sosial mengenai kelemahan dan kekuatan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat didalam Qur`an :
`Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.`(an-Nur : 55 ).
`Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.` (al-Hajj: 40-41 ).
`Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri,` (al-Anfal : 53 ).
Dapat ditambahkan pula bahwa AlQur`anul Karim telah menceritakan tentang Rasulullah bahwa dia hanyalah mengikuti wahyu :
`Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur`an kepada mereka, mereka berkata: `Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?` Katakanlah: `Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku`(al-A`raf : 203 ).
Dan bahwa ia adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dab tidak pulaberkuasa atas dirinya sedikitpun.
`Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: `Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa`.( al-Kahfi : 110 ).
`Katakanlah: `Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira `.(al-A`raf : 188 ).
Rasulullah SAW tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang berselisih yang datang mengahdapnya untuk meminta keputusan, meskipun dia mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.
` Rasulullah SAW telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi didekat pintu kamar beliau. Ia mendatangi mereka dan berkata : ` Aku hanyalah seorang manusia; sedang kamu meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu puhak dari kamu akan lebih baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya. Yang kuputuskan dengan memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang muslim itu adalah sepotong api neraka. Dia boleh mengambilnya dan boleh pula meninggalkannya.`
Dr Muhammada Abdullah Daraz mengatakan : `Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang atheis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiyah yang baru. Tetapi hal itu sebenarnya tidak lah baru; ini adalh pendapat jahiliyah yang kuno; tidak berbeda sedikitpun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka melukiskan Nabi saw. Sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas dan perasaa yang dalam, maka dari beliau adalah seorang penyair.
Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang berbicara kepadanya. Apa yag dilihat dan didengarnya itu tidak lain dari pada gambaran khayal dan perasaannya sendiri saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun mereka tidak bisa berlama-lama mempertahankan alsan-alasan ini, mereka terpaksa harus meninggalkan istilah ` gerak hati` ( al-wahyun-nafsi ), ketika mereka melihat bahwa didalam Quran terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita akan datang. Mereka mengatakan : mungkin berita-berita itu dia peroleh dari para ahli ketika ia berdagang. Dengan demikian berati ia diajar oleh seorang manusia. Jadi manakah yang baru menurut pendapat ini semua ? bukankah hal itu hanyalah omongan biasayang menyerupai omongan kaum jahiliyah Quraisy ? demikianlah atheisme dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang kotor, bahkan amat. Dan itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah `maju` dimasa kini. Padahal ia hanyalah sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh hati yang sudah membatu dimasa jahiliyah pertama.
`�Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa.` ( al-Baqarah : 118 ).
Namun demikian kalau ada orang heran, yang mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang menyebutkan bahwa dia ( Muhammad ) adalah orang yang jujur dan terpercaya. Dan bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi. Sebab mimpi-mimpinya yang kuat itu menunjukkan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau menjadi saksi kecuali apa yanh dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. `karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah`.(al-An`am ; 33 ).
Apa bila ini alasan Rasulullah SAW dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengar, maka alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga tidak kaumnya sebelum itu. Sedang menurut sangkaan mereka dia telah mendengarnya sebelumnya ? dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia mengada-ada, agar tuduham mereka itu sempurna. Tetapi mereka tidak mau menyatakan kata-kata itu, sebab meraka mendakwakan diri mereka sendiri sebagai orang yang subyektif dan bijaksana. Ingatlah sebenarnya mereka telah mengatakannya tetapi mereka sendiri tidak merasa.
3. Ketiga
Orang-orang jahiliyah dahulu dan modern menyangka bahwa Muhammad telah menerima ilmu-ilmu Quran dari seorang guru. Yang demikian itu adalah benar, akan tetapi guru yang menyampaikan Quran itu adalah malaikat wahyu, dan bukan guru dari golongannya dan golongan lain.
Muhammada saw. Tumbuh dan hidup dalam keadaan buta huruf dan tak seorang pun diantara merak yang membawa simbol ilmu dan pengajaran, ini adalah kenyataan yang disaksikan oleh sejarah, dan tidak dapat diragukan. Bahwa dia mempunyai guru yang bukan dari masyarakatnya sendiri. Dalam sejarah tidaj ada kalangan peneliti yang dapat memberikan kata sepakat yang patut dijadikan saksi bahwa, Muhammad telah menemui seorang ulama yang mengajarkan agama kepadanya sebelum ia menyatakan kenabiannya. Memang benar bahwa dimasa kecil ia pernah bertemu dengan Bahira yang rahib itu, dipasar Busyra disyam. Dan di mekkah bertemu dengan Waraqah bin Naufal setelah wahyu pertama turun kepadanya. Dan setelah hijrahbia bertemu ulama-ulama yahudi dan nasrani. Tetapiyang pasti ia tidak pernah mengadakan pembicaraan dengan mereka, sebelum ia menjadi Nabi. Sedang setelah ia menjadi nabi, merekalah yan bertanya kepadanya untuk dijadikan bahan perdebatan, sehingga mereka yang mengambil manfaat dan belajar kepadanya. Dan sekiranya Rasulullah SAW yang belajar sedikitpun dari salah seorang diantara mereka, sejarah tidak akan diam, sebab dia tidak ada perangainya yang buruk yang diremehkan orang, terutama oleh mereka yang yang memang menentang Islam. Dan apa yang disebutkan dalam sejarah mengenai rahib dari Syam atau Waraqah bin Naufal merupakan sambutan gembira tentang kenabiannya atau sebagai pengakuan
Orang dapat menanyakan kepada mereka yang menyangka bahwa Muhammad saw diajar oleh seorang manusia: siapa nama gurunya itu ? ketika itu juga kita akan melihat jawaban yang kacau balau yang mereka-reka, bahwa gurunya itu seorang ` pandai besi Romawi` bagaiman dapat diterima akal bila ilmu-ilmu Al-Quran Al-Karim itu datangnya dari yang tidak dikenal oleh mekkah sebagai orang yang pandai dan mendalami kitab-kitab ? bahkan hanya seorang pandai besi yang sehari-harinya hanya menepuni palu dan landasan besi, orang awam denga lidah asing, yang dalam bacaanya dalam bahasa arab pun hanya mericau saja.
`Sesungguhnya Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya ( Muhammad ). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad belajar kepadanya bahsa asing, sedang Quran dalam bahasa arab yang jelas. ( an-Nahl : 103 )
Orang-orang arab sebenarnya ingin sekali menolak Quran karena dendam mereka kepada Muhammad tetapi mereka tidak sanggup, tidak menemukan jalan dan usaha mereka jadi sia-sia. Lalu kenapa orang-orang atheis kini mencar-cari jalan dalam bekas-bekas sejarah, sekalipun kegagaln itu telah berlalu 13 abad lebih ? dengan ini, jelasl;ah bahwa Quran tidak mengandung unsur manusia baik oleh pembawanya atau oleh orang lain. Ia diturunkan oleh Tuhan yang maha bijaksana dan maha terpuji.
Pertumbuhan Rasulullah SAW dilingkungan yang buta huruf dan jahiliyah, dan perilakunya ditengah-tengah kaumnya itu merupakan bukti yang kuat bahwa Allah telah mempersiapkannya untuk membawa risalahnya. Allah mewahyukankepadanya Quran ini untuk menjadi petunjuk bagi umatnya.
`Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.` ( as-Syuraa : 52-53)
Al Ustadz Muhammad Abduh dalam risalatut Tauhid berkata : ` diantara tradisi yang dikenal adalah bahwa seorang yatim yang fakir dan buta huruf seperti dia , jiwanya akan diwarnai oleh apa yang dilihatnya sejak awal pertumbuhan sampai masa tuanya, serta akalnya pun akan terpengaruh oleh apa yang didengar dari orang-orang yang bergaul dengannya, terutama apa bila mereka kerabat dan satu suku. Sementara itu dia tidak memiliki kitab yang dapat memberinya petunjuk, tidak pula guru dan penolong yang akan memberi pelajaran dan melindunginya. Seandainya tradisi berjalan seperti biasa, tentulah dia akan tumbuh dalam kepercayaan mereka dan mengikutu aliran mereka pula hingga mencapai usia dewasa. Setelah itu, barulah ia berpikir dan mempertimbangkan, lalu menentang mereka, bila ada dalil yang menunjukkan kepadanya atas kesesatan mereka. Hal serupa itu juga telah ditentukan oleh bebrapa orang yang semasa dengan dia.
Tetapi keadaannya tidak demikian . sejak kecil ia sudah amat membenci penyembahan berhala. Dia dibimbing oleh akidah yang berssih dan ahlak yang baik. Firman Allah menyatakan :
`Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung , lalu Dia memberikan petunjuk.`( ad Dhuha : 7 ).
Ayat ini tidak mengandung pengertian bahwa dia berada dalam penyembahan berhala sebelum mendapat petunjuk tauhid, atau berada dalam jalan yang tidak lurus sebelum berahlak yang agung. Sekali-kali tidak ! semua itu tentu hanya kebohongan yang nyata. Tetapi yang dia maksudkan ialah kebingungan yang mencekam hati orang-orang yang ikhlas, yang mengharapkan keselamatan bagi umat manusia, mencari jalan keluar dari kehancuran dan petunjuk dari kesesatan. Dan Allah telah memberi petunjuk kepada nabi-nya atas apa yang dicarinya, dengan dipilihnya dia untuk menyampaikan risalahnya serta menentukan syariat-Nya.
VI. Kesesatan Ahli Ilmu Kalam
Para ahli ilmu kalam telah tenggelam dalam cara-cara filsuf dalam menjelaskan kalam Allah sehingga mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan lurus. Mereka membagi kalam Allah menjadi dua bagian : kalam nafsi yang kekal yang ada pada dzat Allah, yang tidak berupa huruf, suara, tertib dan tidak pula bahasa. Dan kalam lafdzi ( verbal ) yaitu yang diturunkan oleh para nabi a.s., yang diantaranya adalah empat buah kitab. Para ahli ilmu kalam ini semakin terbenam dalam perselisihan skolastik yang mereka adakan; apakah Quran dalam pengertian kalam lafdzi mahluk atau bukan ? mereka memperkuat pendapat bahwa Quran dalam pengertian kalam lafdzi diatas adalah mahluk. Dengan demikian meraka telah keluar dari jalan para mujtahid dahulu dalam hal yang tidak ada nasnya dalam kitab dan sunnah. Mereka juga menggarap sifat-sifat Allah denga anlisis filosofis yang hanya menimbulkan keraguan dalam akidah tauhid.
Sedang madzab ahlussunah waljamaah menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah ditetapkan oleh Allah atau oleh Rasulullah SAW dalam hadis sahih yang datang dari nabi. Bagi kita sdah cukup beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat diantara sekian sifat Allah, Allah berfriman :
` Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung` (an-Nisa`: 164 ).
Demikian pula Al-Quran Al-Karim -wahyu yang diturunkan kepada Muhammad- adalah kalamulllah, bukan mahluk sebagaimana tersirat dalam ayat : `Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,`(at-Taubah : 6 ).
Penetapan mengenai apa yang dinisbahkan oleh Allah sendiri atau oleh Rasulullah SAW, sekalipun sifat itu juga ditetapkan pada hamba-hamba Allah, tidaklah mengurangi kesempurnaan kesucian-Nya dan membuat-Nya serupa dengan hamba-hamba-Nya. Dengan demikian kesamaan dalam nama itu tidak menharuskan kesamaan apa yang dikandung oleh nama itu. Amat berbeda antara Khalik dan mahluk dalam hal dza, sifat dan perbuatannya. Zat Khalik adalah maha sempurna, sifatnya paling tinggi dan perbuata-Nya pun paling sempurna dan tinggi. Apa bila kalam itu merupakan sifat kesempurnaan mahluk, bagaimana sifat ini ditiadakan dari Khalik ? kita menerima apa yang diterima oleh sahabat Rasulullah SAW para ulama tabi`in, para ahli hadis dan fiqih yang hidup dimasa-masa yang dinyatakan baik, sebelum lahir segala macam bidat ( bid`ah ) para ahli ilmu kalam. Kita beriman kepada apa yang datang dari Allah atau sahih dari Rasulullah SAW mengenai sifat-sifat dan perbuatan Allah baik yang ditetapkan atau tidak, tanpa dikurangi, diserupakan dimisalkan ataupun ditakwilkan. Kita tidak berhak menetapkan pendapat kita sendiri mengenai hakikat dzat Allah ataupun sifat-sifat-Nya :
`Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.` ( as-Syura : 11 ).

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s