Ulumul Quran dan Perkembangannya

Ulumul Quran dan Perkembangannya

Al-qur’anul Karim adalah mu’jizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka kejalan yang lurus. Rasulullah SAW menyampaikan wahyu itu kepada para sahabatnya-orang-orang arab asli- sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka. Apa bila mereka mengalami ketidak jelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakannya kepada Rasulullah SAW .
Bukhari dan Muslim serta yang lainnya meriwayatkan, dari Ibnu mas’ud, dengan menyatakan : “Ketika ayat ini diturunkan, Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” ( Al-An’am:82 ), banyak orang yang merasa resah. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW , ya Rasulullah siapkah diantara kita yang tidak berbuat kedzaliman terhadap dirinya ? Nabi menjawab : kedzaliman disini bukan seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba Allah yang saleh sesunnguhnya kemuysrikan adalah benar-benar kedzaliman yang besar ( Luqman : 13 ) jadi yang dimaksud kedzaliman disini adalah kemusyrikan.”
Rasulullah SAW menafsirkan kepada mereka beberapa ayat seperti yang diriwayatkan oleh muslim dan yang lain, yang bersumber dari Uqbah bin Amir ia berkata : ” aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata diatas mimbar, “dan siapkan untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (Anfal :60 ), ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah”
Para sahabat sangat antusias untuk menerima qur’an dari Rasulullah SAW menghafalnya da memahaminya. Hal itu merupakan siatu kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Anas Ra ” seseorang diantara kami bila telah membaca surah Baqarah dan Ali Imran orang itu menjadi besar menurrt pandangan kami.” Begitu juga mereka selalu berusaha mengamalkan qur’an dan memahami hukum-hukumnya.
Diriwayatkan dari Abu Abdurrrahman as-sulami, ia mengatakan : ” mereka yang membacakan qur’an kepada kami, seperti Ustman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yang lain menceritakan, bahwa mereka bila belajar dari Nabi sepuluh ayat mereka tidak melanjutkannya, sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada didalamnya, mereka berkata ‘kami mempelajari qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.'”
Rasulullah SAW tidak mengizinkan meraka menuliskan sesuatu dari dia selain qur’an, karena kuatir qur’an akan bercampur dengan yang lain.
“Muslim meriwayatkan dari Abu Saad al- Khudri, bahwa Rasulullah SAW berkata: janganlah kamu tulis dari aku; barang siapa menuliskan aku selain qur’an, hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku, dan itu tiada halangan baginya, dan barang siapa sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di api neraka.”
Sekalipun sesudah itu Rasulullah SAW mengizinkan kepada sebagian sahabat untuk menulis hadits, tetapi hal yang berhubungan dengan qur’an tetap didasarkan kepada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah SAW , dimasa kekhalifhan Abu Bakar dan Umar Ra.
Kemudian datang masa kekahalifahan Usman Ra, dan keadaan menghendaki-seperti yang akan kami jelaskan nanti -untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, dan hal itupun terlaksana. Mushaf itu disebut mushaf Imam. Salinan-salinan mushaf ini juga dikirimkan ke beberapa propinsi. Penulisan mushaf tersebut dinamakan ar-Rosmul ‘Usmani yaitu dinisbahkan kepada Usman, dan ini dianggap sebagai permulaan dari ilmu Rasmil Qur’an.
Kamudian datang masa kekalifahan Ali Ra, dan atas perintahnya Abu ‘aswad Ad-Du’ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan memberikan ketentuan harakat pada qur’an. Ini juga disebut sebagai permulaan Ilmu I’rabil Qur’an.
Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna al-qur’an dan penafsiran ayat-ayat yang berbeda diantara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan lama dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah SAW , hal demikian diteruskan oleh murid-murid mereka , yaitu para tabi’in.
Diantara para Mufasir yang termashur dari para sahabat adalah: empat orang khalifah, kemudian Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Ubai bin Kaab, Zaid bin sabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.
Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Masud dan Ubai bin Kaab, dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti merupakan sudah tafsir Quran yang sempurna. Tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi’in, diantara mereka ada satu kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.
Diantara murid Ibnu Abbas dimekah ya ng terkenal ialah, Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘iKrimah bekas sahaya ( maula ) Ibnu Abbas, Tawus bin kisan al Yamani dan ‘Ata’ bin abu Rabah.
Dan terkenal pula diantara murid-murid Ubai bin Kaab, di madinah, Zaid bin Aslam, abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b al Qurazi.
Dari murid-murid Abdullah bin Masud di Iraq yang terkenal ‘Alqamah bin Qais, Masruq al Aswad bin Yazid, ‘Amir as Sya’bi, Hasan Al Basyri dan Qatadah bin Di’amah as Sadusi.
Ibnu Timiyah berkata; “Adapun mengenai ilmu tafsir, orang yang peling tahu adalah penduduk mekkah, karena mereka sahabat Ibnu Abbas, seperti Mujahid, ‘Ata’ bin Abi Rabah, Ikrimah Maula Ibn Abbas dan para sahabat Ibn Abbas lainnya, seperti Tawu, Abusyi Sya’sa’ Said bin Jubair dan lainnya. Begitu juga penduduk Kuffah dari sahabat-sahabat Ibnu Masud, dan mereka itu mempunyai kelebihan dari ilmu tafsir yang lain. Ulama’ penduduk medinah dalam ilmu tafsir diantaranya ialah, Zubair bin Aslam, Malik dan anaknya, Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb, mereka berguru kepadanya.” .
Dan yang diriwayatkan mereka itu semua meliputi ilmu tafsir, ilmu Gharibil Qur’an, ilmu Asbabun Nuzul, ilmu Wakki Wal madani dan imu Nasikh dan Mansukh, tetapi semua ini tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didiktekan.
Pada abad kedua hijri tiba masa pembukuan ( tadwin ) yang dumulai dengan pembukuan hadist denga segala babnya yang bermacam-macam, dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan denag tafsir. Maka sebagian ulama membukuka tafsir Qur’an yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dari para sahabat ataudari para tabi’in.
Diantara mereka yang terkenal adalah, Yazid bin Harun as Sulami, ( wafat 117 H ), Syu’bah bin Hajjaj ( wafat 160 H ), Waqi’ bin Jarrah ( wafat 197 H ), Sufyan bin ‘uyainah ( wafat 198 H), dan Aburrazaq bin Hammam ( wafat 112 H ).
Mereka semua adalah para ahli hadis. Sedang tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namum tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ketangan kita.
Kemudian langkah mereka itu diikuti oleh para ulama’. Mereka menyusun tafsir Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang terkenal diantara mereka ada Ibn Jarir at Tabari ( wafat 310 H ).
Demikianlah tafsir pada mulanya dinukil ( dipindahkan ) melalui penerimaan ( dari muluit kemulut ) dari riwayat, kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadis, selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran at Tafsir bil Ma’sur ( berdasarkan riwayat ), lalu diikuti oleh at Tafsir bir Ra’yi ( berdasarkan penalaran ).
Disamping ilmu tafsir lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan quran, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir.
Ali bin al Madini ( wafat 234 H ) guru Bukhari, menyusun karangannya mengenai asbabun nuzul, Abu ‘Ubaid al Qasim bin Salam ( wafat 224 H ) menulis tentang Nasikh Mansukh dan qira’at.
Ibn Qutaibah ( wafat 276 H ) menyusun tentang problematika Quran ( musykilatul quran ).
Mereka semua termasuk ulama abad ketiga Hijri.
Muhammad bin Khalaf bin Marzaban ( wafat 309 H ) menyusun al- Hawi fa ‘Ulumil Qur’an.
Abu muhammad bin Qasim al Anbari ( wafat 751 H ) juga menulis tentamh ilmu-ilmu qur’an.
Abu Bakar As Sijistani ( wafat 330 H ) menyusun Garibul Qur’an.
Muhammad bin Ali bin al-Adfawi ( wafat 388 H ) menyusun al Istigna’ fi ‘Ulumil Qur’an.
Mereka ini adalah ulama-ulama abad keempat Hijri.
Kemudian kegiatan karang mengarang dalam hal ilmu-ilmu qur’an tetap berlangsung sesudah itu.
Abu Bakar al Baqalani ( wafat 403 H ) menyusun I’jazul Qur’an, dan Ali bin Ibrahim bin Sa’id al Hufi ( wafat 430 H )menulis mengenai I’rabul Qur’an. Al Mawardi ( wafat 450 H ) menegenai tamsil-tamsil dalam Qur’an ( ‘Amsalul Qur’an ). Al Izz bin Abdussalam ( wafat 660 H ) tentang majaz dalam Qur’an.’alamuddin Askhawi ( wafat 643 H ) menulis mengenai ilmu Qira’at ( cara membaca Qur’an ) dan Aqsamul Qur’an. Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu qur’an.
Sedang pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut mengenai ilmu-ilmu Quran semua atau sebagian besarnya dalam satu karangan, maka syaikh Muhammada ‘Abdul ‘azim az-Zarqani menyebutkan didalam kitabnya Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an bahwa ia telah menemukan didalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id yang terkenal dengan Al-Hufi, judulnya al- Burhan fi ‘Ulumil Qur’an yang terdiri atas tiga puluh jilid. Dari ketiga puluh jilid itu terdapat lima belas jilid yang tidak berurutan dan tidak tersusun. Pengarang membicarakan ayat-ayat Qur’an menurut tertib mushaf, dia membicarakan ilmu-ilmu Qur’an yang dikandung ayat itu secara tersendiri. Masing-masing diberi judul sendiri pula. Dan judul yang umum disebutkan dalam ayat, dengan menuliskan al Qaul fi Qaulihi ‘Azza wajalla ( pendapat mengenai firman Allah Azza wa jalla ), lalu disebutnya ayat itu, kemudian dibawah judul itu dicantumkan al Qaul fil I’rab ( pendapat mengenai morfologi ) dibagian ini ia membicarakan ayat dari segi nahwu dan bahasa. Selanjutnya Al Qaul fil Ma’na wat Tafsir ( pendapat mengenai makna dan tafsirannya ) disini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat ( hadis ) dan penalaran. Setelah itu al Qaul fil Waqfi wat Tamam ( pendapat mengenai tanda berhenti dabn tidak) disini ia menjelaskan mengenai waqf ( berhenti ) yang diperbolehkan dan yang tidak. Terkadang qira’at diletakkan dalam judul tersendiri. Yang disebutnya dengan al Qaul fil Qira’at ( pendapat mengenai qira’at ) terkadang ia berbicara tentang hukum-hukum yang diambil dari ayat ketika ayat itu dibacakan.
Dengan metode seperti ini, al Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan ‘Ulumul Qur’an, ilmu-ilmu Qur’an, meskipun pmebukuannya memakai cara tertentu seperti yang disebutka tadi. Ia wafat pada tahun 330 H.
Kemudian Ibnul Jauzi ( wafat 597 H ) mengikutinya denga menulis sebuah kitab berjudul fununul Afnan fi ‘Aja’ibi ‘ulumil Qur’an.
Lalu tampil Badruddin az-Zarkasyi ( wafat 794 H ) menulis sebuah kitab lengkap dengan judul Al-Burhan fii ulumilQur`an .
Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) memberikan beberapa tambahan atas Al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi`ul u`luum min mawaaqi`innujuum. Jalaluddin As-Suyuti ( wafat 911 H ) juga kemudian menyusun sebuah kitab yang terkenal Al-Itqaan fii u`luumil qur`an.
Kepustakaan ilmu-ilmu Quran pada masa kebamgkitan modern tidaklah lebih kecil dari pada nasib ilmu-ilmu yang lain.Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yang positif dalam mmembahas kandungan Qur`an dengan metode baru pula,seperti kitab i`jaazul quran yang ditulis oleh Musthafa Shadiq Ar-Rafi`i, kitab At-Tashwirul fanni fiil qu`an dan masyaahidul qiyaamah fil qur`an oleh Sayyid Qutb, tarjamatul qur`an oleh syaikh Muhammad Musthafa Al-Maraghi yang salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibuddin al-hatib, masalatu tarjamatil qur`an Musthafa Sabri, An-naba`ul adziim oleh DR Muhammad Abdullah Daraz dan muqaddimah tafsir Mahaasilu ta`wil oleh Jamaluddin Al-qasimi.
Syaikh Thahir Al-jazaairy menyusun sebuah kitab dengan judul At-tibyaan fii u`luumil qur`an. Syaikh Muhammad Ali Salamah menulis pula Manhajul furqan fii u`luumil qur`an yang berisi pembahasan yang sudah ditentukan untuk fakultas ushuluddin di Mesir dengan spesialisasi da`wah dan bimbingan masyarakat dan diikuti oleh muridnya, Muhammad Abdul a`dzim az-zarqani yang menyusun manaahilul i`rfaan fii u`lumil qur`an. Kemudian Syaikh Ahmad Ali menulis muzakkiraat u`lumil qur`an yang disampaikan kepada mahasiswanya di fakultas ushuluddin jurusan dakwah dan bumbingan masyarakan.
Akhirnya muncul mahaabisu fii u`lumil qur`an oleh DR Subhi As-Shalih.Juga ustadz Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah “ma`idah” dalam Qur`an.
Pembahasan tersebut dikenal dengan sebutan u`luumul qur`an, dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.
Kata u`lum jamak dari kata i`lmu.i`lmu berarti al-fahmu wal idraak (faham dan menguasai).Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah.
Jadi, yang dimaksud dengan u`luumul qu`ran ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Al-Quran dari segi asbaabu nuzuul.”sebab-sebab turunnya al-qur`an”,pengumpulan dan penertiban Qur`an.pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah,An-Nasikh wal mansukh, Al-Muhkam wal Mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Qur`an terkadang ilmu dinamakan juga ushuulu ttafsir (dasar-dasar tafsir) karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang Mufassir sebagai sandaran dalam menafsirkan Qur`an .

Turunnya Al-Quran Dengan 7 Huruf

Turunnya Al-Quran

Allah menurunkan Qur`an kepada Muhammad untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Qur`an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi.
Turunnya Qur`an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.
Turunnya Qur`an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Sangat menggetarkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia himah Ilahi yang ada dibalik itu. Rasulullah SAW tidak menerima risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka. Oleh karena pun wahyu turun secara berangsur-angsur untuk menguatkan hati Rasulullah SAW dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmatn-Nya.
I. Turunnya Qur`an Sekaligus
Allah berfirman dalam kitabnya yang mulia:
`Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil.`( al-Baqarah: 185 ).
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Quran ) pada malam lailatul qadar.` ( al-Qadr : 1 )
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Qur`an ) pada malam yang diberkahi.` ( ad-Dhukan: 3 ).
Ketiga ayat diatas tidak bertentangan, karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar dalam bulan ramadhan. Tetapi lahir ( zahir ) ayat-ayat itu bertentangan dengan kehidupan nyata Rasulullah SAW , dimana Qur`an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun. Dlam hal ini para ulama mempunyai dua madzab pokok :
1. Madzab pertama yaitu, pendapat Ibn Abbas dan sejumlah ulama serta yang dijadikan pegangan oleh umumnya para ulama.
Yang dimaksud dengan turunnya Qur`an dalam ketiga ayat diatas adalah turunnya Qur`an sekaligus di Baitul `Izzah dilangit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian sesudah itu Qur`an diturunkan kepada rasul kita Muhammad saw. Secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian sejak dia diutus sampai wafatnya. Ia tinggal di mekkah sejak diutus selama tiga belas tahun dan sesudah hijrah tinggal di madinah selama supuluh tahun. Ia tinggal di mekkah selama tiga belas tahun dan selama itu wahyu turun kepadanya, ia wafat dalm usia enam puluh tiga tahun pendapat ini didasarkan pada berita-berita yang sahih dari Ibn Abbas dalam beberapa riwayat. Antara lain:
a. Ibn Abbas berkata: ` Qur`an sekaligus diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar, kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun.` Lalu ia membacakan:
`Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya .`( al-Furqan : 33 ).
`Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.` (al-Isra` : 106 ).
b. Ibn Abbas r.a berkata: ` Qur`an itu dipisahkan dari az-Zikr, lalu diletakkan dai baitul Izzah di langit dunia. Maka jibril mulai menurunkannya kapada Nabi saw.`
c. Ibn Abbas r.a mengatakan : ` Allah menurunkan Qur`an sekaligus kelangit dunia , temmpay turunnya secara beransur-ansur. Lali Dia menurunkannya kepada Rasulnya bagian demi bagian.`
d. Ibn Abas r.a berkata : `Qur`an diturunkan pada malam lailatul qadar, pada bulan ramadhan ke langit dunia sekaligus; lali ia diturunkan secara berangsur-angsur.`
2. Madzab kedua, yaitu yang diriwayatkan oleh as-Sya`bi .
Bahwa yang dimaksud dengan turunnya Quran dalam ketiga ayat diatas adalah permulaan turunnya Qur`an pada Rasulullah SAW permulaan turunnya Quran itu di mulai pada malam lailatul qadar di bulan ramadhan, yangv merupakan mala yang di berkahi. Kemudian turunnya berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selam kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian Qur`an hanya satu macama cara turun, yaitu turun secara bertahap kepada Rasulullah SAW seba yang demikian inilah yang dinyatakan dalam Qur`an :
`Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.` (al-Isra`: 106 )
orang musyrik yang diberi tahu bahwa kitab-kitab samawi terdahulu turun sekaligus, menginginkan agar Qur`an diturunkan sekaligus:
`Berkatalah orang-orang yang kafir: `Mengapa Al Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?`; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil . Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya .` ( al-Furqan : 32-33 )
Dan keistimewaan bulan ramadhan dan malam lailatul qadar yang merupakan malam yang diberkahi itu tidak akan kelihatan oleh manusia kecuali apa bila yang dimaksudkan dari ketiga ayat diatas adalah turunnya Qur`an kepada Rasulullah SAW yang demikian ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam friman Allah mengenai perang badar: `jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan , yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( al-Anfal : 41 ).
Perang badar terjadi pada bulan ramadan. Dan yang demikian ini diperkuat pula oleh hadis yang dijadikan pegangan para penyelidik hadis permulaan wahyu. Aisyah berkata: `Wahyu yang mula-mula diturunkan kepada Rasulullah SAW ialah mimpi yang benar diwaktu tidur. Setiap kali bermimpi ia melihat ada yang datang bagaikan cahaya yang terang dipagi hari. Kemudian ia lebih suka menyendiri. Ia pergi ke gua hira untuk bertahanus beberapa malam, dan untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia kembali kerumah Khadijah, dan Khadijahpun membekali seperti itu biasanya. Sehingga datanglah `kebenaran` kepadanya seaktu ia berada di gua hira`. Malaikat datang kepadanya dan berkata ` bacalah` Rasulullah SAW berkata ` aku tidak panai membaca` lalu malaikat merangkulnya sampai kepayahan. Kemudian ia melepaskan aku, lalu katanya ` bacalah` aku menjawab ` aku tidak pandai membaca` lalu ia merangkulku lagi sampai aku kepayahan. Lalu ia lepaskan aku. Lalu katanya ` bacalah` aku menjawab aku tidak pandai membaca. Lalu ia merangkulku untuk ketiga kalinya, sampai aku kepayahan, lalu ia lepaskan aku lalu katanya ` Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan sampai dengan apa yang belum diketahuianya.`
Para penyelidik menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pada mulanya diberi tahu dengan mimpi di bulan kelahirannya, yaitu bulan Rabi`ul awal. Pemberitahuan dengan mimpi itu lamanya enam bulan. Kemudian ia diberi wahyu dengan keadaan sadar ( tidak dalam keadaan tidur ) pada bula ramadan dengan Iqra`. Dengan demikian maka nas-nas yang terdahuklu itu menunjukkan pada satu pengertian.
3. Madzab ketiga
Bahwa Qur`an diturunkan kelangit dunia selama dua puluh tiga malam lalilatul qadar yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah wahyuj yang diturunkan kelangit dunia pada malam lailatul qadar , untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW sepanjang tahun. Madzab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufasir.. pendapat ini tidak mempunyai dalil.
Adapun madzab kedua yang diriwayatkan dari as-Sya`bi , dengan dali-dalil yang sahih dan dapat diterima,tidaklah bertentang dengan madzab yang pertama yang diriwayatkan dari Ibn Abbas.
Dengan demikian maka pendapat yang kuat ialah bahwa Al-Quran Al-Karim itu dua kali diturunkan:
Pertama: diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar ke baitul Izzah di langit dunia.
Kedua: Dditurunkan kelangit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.
Al-Qurtubi telah menukil dari Muqatil bin Hayyan riwayat tentang kesepakatan ( ijma`) bahwa turunnya Qur`an sekaligus dari lauhul mahfuz ke baitul izzah di langit dunia. Ibn Abbas memandang tidak ada pertentangan antara ke tiga ayat diatas yang berkenaan dengan turunnya Qur`an dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah SAW bahwa Qur`an itu turun selam dua puluh tiga tahun yang bukan bulan ramadan. Dari Ibn Abbas disebutkan bahwa ia ditanya olah `Atiyah bin al-Aswad, katanya ` dalam hatiku terjadi keraguan tentang firman Allah, bulan ramadan itulah bulan yang didalamnya diturunkan Qur`an, dan firman Allah SWT, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam lailatul Qadar, pada hal Qur`an itu ada yang diturunkan pada bulan syawal, Zulkaidah , Zulhijjah, Muharram , Saffar dan Rabi`ul awwal; Ibvn Abbas menjawab ` Qur`an diturunkan berangsur-angsur, sedikit- demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan disepanjang bulan dan hari.`
Para ulama mengisyaratkan bahwa hikmah dari hal itu ialah menyatakan kebesaran Qur`an dan kemuliaan orang kepadanya Quran diturunkan. As-Suyuti mengatkan : ` Dikatakan bahwa rahasia diturunkan Quran sekaligus ke langit dunia ialah untuk memuliakannya dan memuliakan orang yang kepada Qur`an diturtunkan. Yaitu dengan memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa Qur`an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir dan umat yang paling mulia. Kitab itu kini telah diambang pintu dan akan segera diturunkan kepada mereka. Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghenndaki disampaikannya Qur`an kepada meraka secara bertahap sesuai dengan peristiwa-perostiwa yang terjadi, tentulah ia diturunkan kebumi. Sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Tetapi Allah membedakannya dari kitabv-kitab yang sebelumnya. Maka dijadikanlah dua ciri tersendiri: diturunkan secara sekaligus , kemudian diturunkan se cara bertahap, untuk menghormati orang yang menerimanya.` As-Sakhawi mengatakan dalam Jamalul Qurra ` Turunnya Qur`an kelangit dunia sekaligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada yang keturunan Adam dihadapan para malaikat. Serta pemberitahuan kepada malaikat akan perhatian Allah dan rahmat-Nya kepada mereka. Dan dalam pengertian inilah Allah memerintahkan tujuh puluh ribu malaikat untuk mengawal surah Al-ana`m, dan dalam pengertian ini pula Allah memerintahkan Jibril agar mengimlakannya kepada para malaikat pencatat yang mulia, menuliskan dan membacakan kepadanya.`
Dan firman Allah:
`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin , ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.` (as Syuara`: 192-195 ).
Dan firman-Nya:
Katakanlah: `Ruhul Qudus menurunkan Al Qur`an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri `.( an-Nahl: 102 ).
Dan firman-Nya:
`Kitab ini diturunkan Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Bijaksana.` (al-Jasiyah : 2 )
Dan firman-Nya:
`Dan jika kamu dalam keraguan tentang Al Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami , buatlah satu surat yang semisal Al Qur`an itu.` ( al-Baqarah : 23 )
Dan firman-Nya:
`Katakanlah: `Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.` (al-Baqarah: 97 )
Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Al-Quran Al-Karim adalah kalam Allah dengan lafalnya dengan bahasa arab, dan bahwa Jibril telah menurunkannya ke dalam hati Rasulullah SAW dan bahwa turunnya itu bukanlah turunnya yang pertama kali kelngit dunia. Tetapi yang dimaksudkan ialah turunnya Qur`an secara bertahap. Ungkapan (untuk arti menurunkan ) dalam ayat-ayat diatas menggunakan kata tanzil bukan inzal. Ini menunjukkan bahwa turunnya itu secara bertahap dan berangsur-angsur. Ulama bahasa membedakan kata tanzil dan inzal. Tanzil berarti turun secara berangsur-angsur, sedang inzal hanya menunjukkan turun atau menurunkan dalam arti umum.
Quran turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga belas tahun di mekkah menurut pendapat yang kuat, dan sepuluh tahun di madinah. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur itu terdapat dlam firman Allah : `Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`(al-Isra: 106 )
Maksudnya : Kami telah menjadikan turunnya Qur`an itu turun secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan Kami menurunkannya bagian demi bagian sesuai dengan peristiwa dan kejadian-kejadian.
Adapun kitab-kitab samawi yang lain, seperti taurat, injil, dan zabur, turunnya sekaligus. Tidak turun secara berangsur. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya: `Berkatalah orang-orang yang kafir: `Mengapa Al Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?`; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil.` ( al-Furqan : 32 ).
Ayat ini menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi yang dahulu itu turun sekaligus. Dan inilah pendapat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Seandainya kitab-kitab yang terdahulu itu turun secara berangsur.. tentulah orang kafir tidak merasa heran terhadap Qur`an yang turun secara berangsur. Makna kata-kata mereka ` Mengapa Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja` seperti halnya kitab-kitab yang lain. Mengapa ia diturunkan secara bertahap ? mengapa ia diturunkan secara berangsur ? Allah tidak menjawab mereka bahwa ini adalah sunnah-Nya didalam menurunkan kitab samawi sebagaimana Dia menjawab kata-kata mereka:
`Dan mereka berkata: `Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?` (al-Furqan : 7 )
`Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.` (al-Furqan : 20 ), dan seperti Dia menjawab ucapan mereka:
`Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul ?` ( al-Isra`: 94 ) dengan jawaban: `Katakanlah: `Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul`.( al-Isra`: 95 ) dan dengan firman-Nya: `Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu , melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka,` ( al-Anbiya`: 27 ).
Tetapi Allah menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah mengapa Qur`an diturunkan secara bertahap dengan firman-Nya, ` Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu,` maksudnya ialah; demikianlah Kami menurunkan Qur`an secara bertahap dan terpisah-pisah karena suatu hikmah, yaitu untuk memperkuat hati Rasulullah SAW . ` Dan Kami membacakanya kelompok-demi kelompok,` maksudnya : Kami menentukannya seayat- demi seayat atau bagian demi bagian, atau Kami menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya. Karena turunnya yang bertahap sesuai dengan hal itu lebih dapat memudahkan hafalan dan pemahaman yang merupakan salah satu penyebab kemantapan ( didalam hati )
Penelitian terhadap hadis-hadis sahih menyatakan bahwa Qur`an turun menurut keperluan, terkadang turun lima ayat, terkadang sepuluh ayat, terlebih lebih banyak dari itu atau lebih sedikit. Terdapat hadis sahih yang menjelaskan sepuluh ayat telah turun sekaligus berkenaan dengan berita bohong tentang Aisyah. Dan telah turun pula sepuluh ayat dalam permulaan surah Mukminun secara sekaligus dan telah turun pula�..yang tidak mempunyai alasan ( gairu ulid darari ) saja yang merupakan bagian dari satu ayat.
II. Hikmah Turunnya Qur`an Secara Bertahap
Kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya Qur`an secara bertahap dari nash-nash yang berkenaan dengan hal itu. Dan kami meringkaskannya sebagai berikut : 1.
1. Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW .
Rasulullah SAW telah menyampaikan dakwahnya kepada menusia, tetapi ia menhgadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul. Pada dengan hati tulus ia ingin menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehingga dalam hal ini Allah mengatakan:
`Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.` (al-Kahfi: 6 ).
Wahyu turun kepada Rasulullah SAW dari waktu kewaktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap melangkahkan kaki dijalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang dihadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut dimusim panas yang segera akan berakhir.
Allah menjelaskan kepada rasul akan sunnah-sunnah-Nya yang berkenaan dengan para Nabi terdahulu yang didustakan dan dianiaya oleh kaum mereka; tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang pertolongan dari Allah. Dijelaskan pula bahwa kaum Rasulullah SAW mendustakannya hanya karena kecongkakan dan kesombongan mereka, sehingga ia akan menemukan `Sunnah Ilahi` dalam iring-iringan para nabi sepanjang sejarah. Yang demikian ini dapat menjadikan hiburan dan penerang baginya dalam mengahadapi gangguan dan cobaan dari kaumnya dan dalam menhadapi sikap mereka yang selalu mendustakan dan menolaknya.
`Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, , karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah . Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.` (al-Anam: 33-34 ).
`Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan , mereka membawa mu`jizat-mu`jizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.`(Ali-Imran: 184 ).
Qur`an juga memerintahkan Rasul bersabar sebagaimana Rasul-rasul sebelumnya:
`Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.` (al-Ahqaf : 35 )
Jiwa rasul menjadi tentang karena Allah menjamin akan melindunginya dari gangguan orang yang mendustakan, firman-Nya:
`Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.`(al-Muzammil:10-11 )
Demikianlah hikmah yang terkandung dalam kisah para Nabi yang terdapay dalam Qur`an: `Dan kisah rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami terguhkan hatimu.` (Hud : 120 )
Setiap kali penderitaan Rasulullah SAW bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena penganiayaan mereka, maka Qur`an turun untuk melepaskan derita dan menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah mengetahui hal ihwal mereka dan akan membalas apa yang melakukan hal itu.
`Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.` (yaasin: 73)
`Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maba Mengetahui.`(Yunus: 65 )
Demikianlah pula Allah menyampaikan berita gembiara kepadanya dengan ayat-ayat ( yang isinya menjanjikan ) perlindungan, kemengan dan pertolongan:
`Allah memelihara kamu dari gangguan mereka.`(al-Maidah: 67 )
`Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.`(al-Fath: 3 )
`Allah telah menetapkan: `Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang`. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.` (al-Mujadalah: 21 ).
Demikianlah ayat-ayat Qur`an itu turun kepada Rasulullah SAW secara berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa. Didalam kisah para nabi itu terdapat teladan baginya. Dalam nasib yang akan menimpa orang-orang yang mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam janji akan memperoleh pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap kali ia merasa sedih sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia ayat-ayat penghiburpun datang berulang kali sehingga ia berketetapan hati untuk melanjutkan dakwah dan merasa tenteram dengan pertolongan Allah.
Dengan hikmah demikianlah Allah menjawab pertanyaan orang-orang kafir mengapa Qyr`an diturunkan secara bertahap , dengan firman-Nya: `Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil .` (al-Furqan: 32 )
Abu Syamah berkata: ` Apa bila ditanya, apakah rahasia Qur`an diturunkan secara bertahap dan mengapakah ia tidak diturunkan sekaligus ssperti halnya kitab-kitab yang lain ? Kami menjawab : pertanyaan yang demikian ini sudah di jawab oleh Allah. Allah berfirman ` Dan orang-orang kafir berkata: mengapa Qur`an diturunkan kepadanya tidak sekaligus saja ? . mereka bermaksud, mengapa Qur`an tidak diturunkan kepadanya seperti halnya kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum dia. Maka Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya : ` demikianlah ( Kami menurunkannya secara berangsur, untuk memperkuat hatimu dengannya). Sebab apa bila wahyuselalu baru dalam setiap peristiwa, maka pengaruhnya dalam hati menjadi lebih kuat, dan orang yang menerimanya mendapat perhatian. Hal yang demikian menghendakinya seringnya malaikat turun kepadanya. Pembaharuan dan situasi yang dibawanya dari sisi Allah yang Maha Perkasa. Hal ini menimbulkan kegembiraan dihati Rasulullah SAW yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata . itulah sebabnya, Rasulullah SAW sangat bermurah hati di bulan-bulan ramadan karena dalam bulan ini jibril sering menemuinya.` 2.
2. Ttantangan dan Mukjizat.
Orang-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka sering mangajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menentang. Untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal batil yang tak masuk akal, seperti menanyakan tentang hari kiamat :
Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat ( al-Araf : 187 ).
Dan minta disegerakannya azab :
Dan mereka itu meminta kepadamu untuk disegerakan azab (al-Hajj: 47 ).
Maka turunlah Qur`an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan mereka, misalnya firman Allah :
`Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya , yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak suatu kemanfaatanpun dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak membangkitkan.` ( al-Furqan : 3 ).
Maksud ayat tersebut ialah ` Setiap mereka datang kepadamu dengan pertanyaan yang aneh-aneh dari sekian pertanyaan yang sia-sia, Kami datangkan padamu jawaban yang benar dan sesuatu yang lebih baik maknanya dari semua pertanyaan-pertanyaan yang hanya merupakan contoh kesia-siaan saja.`
Disaat mereka keheran-heranan dengan turunnya Qur`an secara berangsur, maka Allah menjelaskan kepada mereka dengan Qur`an yang diturunkan secara berangsur sedangkan mereka tidak sanggup untuk membuat yang serupa dengannya. Akan lbih melihatkan kemukjizatannya dan lebih efektif pembuktiannya dari pada kalau Quran diturunkan sekaligus lalu mereka diminta membuat yang serupa dengannya. Oleh sebab itu ayat diatas datang sesudah pertanyaan mereka. Mengapa Qur`an itu tidak diturunkan kepaanya sekali turun saja ? maksudnya ialah: Setiap mereka datang keadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil yang mereka minta seperti turunnya Al-Quran Al-Karim ur`an sekaligus, Kami berikan kepadamu menurut kebijaksanaan Kami membenarkanmu dan apa yag lebih jelas maknanya dalam melemahkan mereka, yaitu dengan turunnya Al-Quran Al-Karim secara berangsur. Hikmah yang demikian juga telah diisyaratkan oleh keterangan yang terdapat dlam beberapa riwayat dalam hadis Ibn Abbas mengenai turunnya Qur`an : `Apa bila orang-orang musyrik mengadakan sesuatu, maka Allah pun mengadakan jawabannya atas mereka.`
3. Mempermudah Hafalan dan Pemahamannya.
Al-Quran Al-Karim turun ditengah-tengah umat yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis, catatan mereka adalah daya hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya, kemudian menghafal an memehaminya.
`Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,` (al-Jumuah : 2 )
…( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi�( al-araf :157 ).
Umat yang buta huruf itu tidaklah mudah untuk menghafal seluruh Qur`an apa bila Al-Quran Al-Karim diturunkan sekaligus, dan tidak mudah pula bagi mereka untuk memahami maknanya serta memikirkan ayat-ayatnya, jelasnya bahwa Al-Quran Al-Karim secara berangsur itu merupakan bantuan terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahami ayat-ayatnya. Setiap kali turun satu atau beberapa ayat, para sahabat segara menghafalkannya. Memikirkan maknanya dan memahami hukum-hukumnya. Tradisi demikian ini menjadi suatu metode pengajaran dalam kehidupan para Tabi`in.
Abu Nadrah berkata,`Abu Saad al-Khudri mengajar kan Qur`an kepada kami, lima ayat diwaktu pagi, dan lima ayat di waktu petang. Dia memberitahukan bahwa jibril menurunkan Al-Quran Al-Karim lima ayat-lima ayat.`
Dari Khalid bin Dinar dikatakan, `Abul `Aliyah berkata kepada kami `Pelajarilah Qur`an itu lima ayat demi lima ayat; karena Nabi saw mengambil dari jibril lima ayat demi lima ayat.`
Umar berkata, `Pelajarilah Quran itu lima ayat demi lima ayat, karena jibril menurunkan Quran kepada Nabi saw. Lima ayat demi lima ayat.`
4. Kesesuaian dengan Peristiwa-peristiwa Pentahapan dalam Penetapan Hukum.
Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama yang bau ini seandainya Al-Quran Al-Karim tidak menghadapi mereka dengan cara yang bijaksanadan memeberikan kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan dan kerendahan martabat. Setiap kali terjadi suatu peristiwa, diantara mereka , maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang menjelaskan statusnya dan penunjuk serta meletakkan dasar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu. Dan cara ini menjadi obat bagi hati mereka.
Pada mulanya Quran meletakkan dasar-dasar keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-nya, dan hari kiamat, serta apa yang ada dalam hari kiamat itu. Seperti kebangkitan, hisab, balasan, surga dan neraka. Untuk itu,Al-Quran Al-Karim menegakkan bukti-bukti dan alasaan sehingga kepercayaan kepada berhala tercabut dari jiwa orang-orang musyrik dan tumbuh sebagai gantinya akidah Islam.
Al-Quran Al-Karim mengajarkan ahlak mulia yang dapat membersihkan jiwa dan meluruskan kebengkokannya dan mencegah perbuatan yang keji dan munkar. Sehingga dapat terikikir habis akar kejahatan dan keburukan. Ia menjelaskan kaidah-kaidah halal dan haram yang menjadi dasar agama dan menancapkan tiang-tiangnya dalam hal makanan, minuman,harta benda, kehormatan dan nyawa.
Kemudian penetapan hukum bagi umat ini meningkat kepada penanganan penyakit-penyakit sosial yang mudah mendarah daging dalam jiwa mereka sesudah digariskan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan rukun-rukun Islam yang menjadikan hati mereka penuh dengan iman, ikhlas kepada Allah dan hanya meyembah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya.
Demikian pula Al-Quran Al-Karim turun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi bagi kaum muslimin dalam perjuangan mereka yang panjang untuk meninggikan kalimah Allah. Hal-hal tersebut diatas, semuanya mempunyai dalil-dalil berupa nas-nas Al-Quran Al-Karim bila kita meneliti ayat-ayat makki dan madaninya serta kaidah-kaidah perundang-undangannya. Sebagai contoh di mekkah disyariatkan salat; dan prinsip mengenai zakat yang diperbandingkan dengan riba :
`Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan . Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipat gandakan.`( ar-Rum : 38-39 ).
Surah al-an`am yang makki itu turun untuk menjelaskan pokok keimanan dan dalil-dalil tauhid, menghancurkan kemusyrikan, menerangkan tentang makanan yang halal yang haram serta ajakan untuk menjaga kemuliaan harta benda, darah dan kehormatan.
Allah berfirman : `
Katakanlah: `Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan sesuatu yang benar `. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat , dan penuhilah janji Allah . Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.`(al-an`am:151-152 ).
Kemudian setelah itu turunlah perincian hukum-hukum ini. Pokok-pokok hukum perdata (terutama hukum benda) tutrun di mekkah tetapi perincian hukumnya di madinah, seperti ayat tentang utang piutang dan ayat-ayat mengharamkan riba. Asas-asas hubungan kekeluargaan iu turun di mekkah, tetapi penjelasan mengenai hak suami isteri dan kewajiban hidup berumah tangga serta hal-hal yang bertalian dengannya seperti keberlangsungan terus rumah tangga tadi atau keterputusannya dengan perceraian atau dengan kematian, kemudian bagaimana warisannya, maka penjelassan mengenai hal itu semua diterangkan dalam perundang-undangan yang madani. Sedang mengenai zina dasarnya sudah diharamkan di mekkah :
`Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.` (al-Isra: 32 ).
Tetapi hukuman-hukuman yang diakibatkan oleh zina itu turun di medinah. Adapun mengenai pembunuhan dasarnya juga sudah turun di mekkah :
`Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.` (al-Isra:33 ).
Tetapi perincian hukuman tentang pelanggaran terhadap jiwa dan anggota badan itu turun di mekkah. Contoh yang paling jelas mengenai penetapan hukum yang berangsur-angsur itu ialah diharamkannya minuman keras, mengenai hal ini pertama-tama Allah berfirman :
`Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan.`(an-Nahl: 67).
Ayat ini menyebutkan tentang karunia Allah apa bila yang di maksud dengan `sakar` ialah khamr atau minuman keras dan yang dimaksud dengan `rezeki` ialah segala yang dimakan dari kedua pohon tersebut seperti kurma dan kismis-dan inilah pendapat jumhur ulama- maka pemberian predikat `baik` kepada rezeki sementara sakar tidaj diberinya, merupakan indikasi bahwa dalam hal ini pijian Allah hanya ditujukan kepada rezeki dan bukan kepada sakar, kemudian turun firman Allah:
`Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: `Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya`.(al-Baqarah:219).
Ayat ini membandingkan antara manfaat minuman keras (khamr) yang timbul sesudah memminumnya seperti kesenangan dan kegairahan atau keuntungan karena memperdagangkannya, dengan bahaya yang diakibatkannya seperti dosa, bahaya bagi kesehatan tubuh, merusak akal, menghabiskan harta dan membangkitkan dorongan-dorongan untuk berbuat kenistaan dan durhaka. Ayat tersebut menjauhkan khamr dengan cara menonjolkan segi bahayanya dari pada manfaatnya, kemudian turun firman Allah: `Wahai orang-orang yang beriman , janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk.`(an-Nisa`: 43 ).
Ayat ini menunjukkan larangan minuman khamr pada waktu-waktu tertentu bila pengaruh minuman itu akan sampai kewaktu salat, ini mengingat adanya larangan mendekati salat dalam keadaan mabuk, samppai pengaruh minuman itu hilang dan mereka mengetahui apa yang mereka baca dalam salatnya, selanjutnya firman Allah:
`Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu.`(al-Maidah:90-91)
Ini merupakan pengharaman secara pasti dan tegas terhadap minuman dalam segala waktu. Hikmah penetapan hukum dengan sistem bertahap ini lebih lanjut diungkapkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a ketika mengatakan :
`Sesungguhnya yang pertama kali turun dari Qur`an ilah surah Mufassal yang didalamnya disebutkan surga dan neraka, sehingga ketika manusia telah berlari kepada Islam, maka turunlah hukum haram dan halal. Kalau sekiranya yang turun pertama kali adalah `jJanganlah kamu meminum khamr` tentu meraka akan menjawab: ` Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.` Dan kalau sekiranya yang pertama kali turun ialah ; janganlah kamu berzina, tentau mereka akan menjawab: `Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.`
Demikianlah pentahapan dalam mendidik umat ini sesuai degan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat tersebut. Rasulullah SAW pernah meminta pertimbangan para sahabatnya mengenai tawanan perang badar. Maka Umar berkata: `Potong saja leher mereka` sedang Abu Bakar berkata: `Menurut pandangan kami, sebaiknya Anda memaafkan mereka dan meminta tebusan dari mereka` dan Rasulullah SAW pun mengambil pendapat Abu Bakar. Maka turunlah Firman Allah :
`Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.`(al-Anfal: 67-68 ).
Kaum mualimin merasa kagum atas besarnya jumlah pasukan mereka pada perang Hunain, sehingga seseorang diantara mereka berkata :
`Kami pasti tidak akan dikalahkan oleh pasukan kecil.` Mereka pun menerima pelajaran yang berat dalam hal itu, dan turunlah firman Allah: `Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak, dan peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah , maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`(at-Taubah: 25-27).
Ketika Abdullah bin Ubai pemimpin orang-orang munafik meninggal dunia, Rasulullah SAW diundang untuk menyembahyangkannya. Ia pun memenuhinya, namun ketika ia berdiri, Umar berkata ` apakah engakau hendak melakukan salat atas Abdullah bin Ubai, musuh Allah yang mengatakan begini begitu ?` Umar menyebutkan peristiwa-peristiwa yang dilakukan Abdullah, sedang Rasulullah SAW tersenyum saja. Kemudian ia berkata kepada Umar, ` Sebenarnya dalam hal ini saya sudah diberi kebebasan unutuk memilih. Sebab telah dikatakan kepadaku, :` Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka . Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.(at-Taubah:80), sekiranya aku tahu bahwa jika aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali dia diampuni, tentu aku akan memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali; kemudian Rasulullah SAW menyembahkannya juga, dan berjalan bersama Umar dan ia berdiri diatas kuburannya hingg selesai penguburan. Umar berkata ` Aku heran terhadap diriku dan keberanianku kepada Rasulullah SAW padahal Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Demi Allah tidak lama kemudian turunlah kedua ayat ini: `Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya�..(at-Taubah: 84 ). Maka sejak itu Rasulullah SAW tidak lagi melakukan salat atas seorang munafik pun sampai ia di penggil Allah Azza Wajalla.`
Ketika beberapa orang diantara kaum mukminin yang sejati tidak ikut dalam perang Tabuk dan mereka tetap tinggal di madinah, sedang Rasulullah SAW tidak mendapatkan alasan bagi ketidak ikutan mereka, beliau menjauhi dan mengucilkan mereka sehingga mereka merasa hidupnya menjadi sempit. Kemudian turunlah ayat-ayat Qur`an untuk menerima tobat mereka:
`Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.`(at-Taubah: 117-118).
Yang demikian ini juga diisyaratkan oleh keterangan yang diriwayatkan dari Ibn Abbas mengenai turunnya Qur`an : `Qur`an diturunkan jibril dengan membawa jawaban atas pertanyaan para hamba dan perbuatam mereka.`
5. Bukti Yang Pasti Bahwa Al-Quran Al-Karim Diturunkan Dari Sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.
Qur`an yang turun secara berangsur kepada Rasulullah SAW dalam waktu lebih dari dua puluh tahun ini ayat-ayatnya turun dalam selang waktu tertentu, dan selama ini orang membacanya an mengkajinya surah demi surah. Ketika ia melihat rangkaiannya begitu padat, tersusun cermat sekali dengan makna yang saling bertaut, dengan gaya yang begitu kuat, serta ayat demi ayat dan surah demi surah saling terjalin bagaikkan untaian mutiara yang indah yang belum ada bandigannya dalam perkataan manusia :
`Alif laam raa, suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,` (Hud: 1 ).
Seandainya Qur`an ini perkataan manusia yang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian, tentulah didalamnya terjadi ketidak serasian dan saling bertentangan satu dengan yang lainnya, serta sulit terjadi keseimbangan.
`Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ? Kalau kiranya Al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.`(an-Nisa`:82 ).
Hadis-hadis Rasulullah SAW sendiri yang merupakan puncak kefasihan yang paling bersastra sesudah Quran tidaklah tersusun dalam sebuah buku dengan ungkapan yang lancar serta satu dengan yang lain saling berkait dalam satu kesatuan dan ikatan seperti halnya Al-Quran Al-Karim atau dalam bentuk susunan yang serasi dan harmoni yang mendekatinya sekalipun, apalagi ucapandan perkataan manusia lainnya.
`Katakanlah: `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain`.(al-Isra: 80 )
III. Faedah Turunnya Qur`an secara Berangsur-angsur dalam Pendidikan dan Pengajaran
Proses belajar mengajar itu berlandaskan dua asas; perhatian terhadap tingkat pemikiran siswa dan pengembangan potensi akal, jiwa dan jasmaninya dengan apa yang dapat membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.
Dalam hikmah turunnya Qur`an secara bertahap itu kita melihat adanya suatu metode yang berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan kedua asas tersebut seperti yang kami sebutkan tadi, sebab turunnya Qur`an it telah meningkatkan pendidikan umat Islam secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa manusia , meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian dan menyempurnakan existensinya sehingga jiwa itu tumbuh dengan tegak diatas pilar-pilar yang kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan umat manusia seluruhnya dengan izin Tuhan.
Pentahapan turunnya Al-Quran Al-Karim itumerupakan bantuan yang paling baik bagi jiwa manusia dalam rangka menghafal , memehami, mempelajari, memikirkan makna-maknanya dan mengemalkan apa yang dikandungnya.
Diantara celah-celah turunnya Al-Quran Al-Karim yang pertama kali didapatkan perintah untuk belajar dengan alat tulis:
`Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaran kalam.`(al-Alaq:1-5)
Demikian pula dengan turunnya ayat-ayat tentang riba dan warisan dalam sistem harta kekayaan, atau turunnya ayat-ayat tentang peperangan untuk membedakan secara tegas antara Islam dengan kemusyrikan. Diantara itu semua terdapat pentahapan pendidikan yang mempunyai berbagai cara dan sesuai engan tingkat perkembangan masyarakat Islam yang sedang dan senantiasa berkembang, dari lemah menjadi kuat dan tangguh.
Sistem belajar mengajar yang tidak memperhatikan tingkat pemikiran siswa dalam tahap-tahap pengajaran, bentuk bagian-bagaian ilmu diatas yang bersifat menyeluruh serta perpindahannya dari yang umum ke yang khusus; atau tidak memperhatikan pertumbuhan aspek-aspek kepribadian yang bersifat intelektual, rohani dan jasmani, maka ia adalah sistem pendidikan yang gagal yang tidak akan memberi hasil ilmu pengetahuan kepada umat, selain hanya menambah kebekuan dan kemunduran.
Guru yang tidak memeberikan kepada para siswanya porsi materi ilmiah yang tidak sesuai, yang hanya menambah beban kepada mereka diluar kesanggupannya untuk menghafal dan memahami, atau berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang tidak dapat mereka jangkau, atau dengan mereka sesuatu yang tidak memeprhatika keadaan mereka dalam menghadapi keganjilan perilaku atau kebiasaan buruk mereka sehingga dia berlaku kasar dan keras. Serta menangani urusan tersebut dengan tergesa-gesa dan gugup, tidak bertahap dan tidak bijaksana- maka guru yang berlaku demikian in adalah guru yang gagal pula. Dia telah mengubah proses belajar mengajar menjadi kesesatan yang mengerikan dan menjadikan ruang belajar menjadi ruang yang tidak disenangi.
Begitu pula dengan buku pelajaran, buku yang tidak tersusun judul-judul dan fasal-fasalnya serta tidak bertahap penyajian pengetahuannya dari yang mudah ke yang sukar, juga bagian-bagiannya tidak tersusun secara baik dan serasi, dan gaya bahasanya pun tidak jelas dalam menyampaikan apa yang dimaksud- maka buku yang demikian ini tidak akan dibaca dan dimanfaatkan oleh siswa.
Petunjuk Ilahi tentang turunnya Al-Quran Al-Karim secara bertahap merupakan contoh yang baik dalam menyusun kurikulum pengajaran, memilih metode yang baik dan menyusun buku pelajaran.

Turunnya Al-Quran Dengan 7 Huruf

Turunnya Al-Quran Dengan 7 Huruf

Orang Arab mempunyai aneka ragam lahjah (dialek) yang timbul dari fitrah mereka dalam langgam, suara dan huruf-huruf sebagaimana diterangkan secara komprehensip dalam kitab-kitab sastra. Setiap kabilah mempunyai irama sendiri dalam mengucapkan kata-kata yang tidak dimiliki oleh kabilah-kabilah lain. Namun kaum quraisy mempunyai faktor-faktor yang menyebabkan bahasa mereka lebih unggul diantara cabang-cabang bahasa arab lainnya. Antara lain karena tugas mereka menjaga Baitullah, menjamu para jema’ah haji, memakmurkan masjidil Haram dan menguasai perdagangan. Oleh sebab itu, semua suku bangsa arab menjadikan bahasa quraisy sebagai bahasa induk bagi bahasa-bahasa mereka karena adanya karak teristik-karakteristik tersebut. Dengan demikian wajarlah jika Qur’an diturunkan dalam logat quraisy, kepada Rasul yang quraisy pula untuk mempersatukan bangsa arab dan mewujudkan kemukjizatan Qur’an ketika mereka gagal mendatangkan satu surah yang seperti Qur’an.
Apa bila orang arab berbeda lahjah (dialek) dalam pengungkapan sesuatu makna dengan perbedaan tertentu, maka Qur’an yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad , menyempurnakan makna kemukjizatannya karena ia mencakup semua huruf dan wajah qiraah pilihan diantara lahjah-lahjah itu. Dan ini merupakan salah satu sebab yang memudahkan mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.
Nash-nash sunah cukup banyak mengemukakan hadis mengenai turunnya Qur’an dengan tujuh huruf, diantaranya :
Dari Ibn Abbas, ia berkata : “Rasulullah berkata: ‘Jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.”
Dari Ubai bin Ka’ab: “Ketika Nabi berada di dekat parit Bani Ghafar, ia didatangi jibril seraya berkata: ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan sau huruf’ . Dia menjawab : ‘Aku mohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya, karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu’. Kemudian jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf,’ Nabi menjawab : ‘Aku memohonkan kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya, umatku tidak kuat melaksanakannya.’ Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu mengatakan : ‘Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf,’ jawab Nabi : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan Maghfirh-Nya, sebab umatku tidak kuat melaksanakannya.’ Kemudian jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya seraya berkata : ‘ Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf,’ dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka tetap benar.”‘
Dari Umar bin Khatab ia berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membacakan surah al Furqan di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Raulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat dia salat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Begitu salam, aku tarik selendangnya dan bertanya : “Siapakah yang membacakan (mengajarkan bacaan) surah itu kepadamu?. Dia menjawab: ‘Rasulullah yang membacakannya kepadaku.’ Lalu aku katakan kepadanya: ‘Dusta kau ! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang kau dengar tadi engkau membacanya ( tapi tidak seperti bacaannu).’ Kemudian aku bawa dia ke hadapan Rasulullah, dan aku menceritakan kepadanya bahwa ‘ Aku telah mendengar orang ini membaca surah al Furqan dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surah al Furqan kepadaku.’ Maka Rasulullah berkata : ‘ Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah surah tadi, wahai Hisyam, Hisyam pun membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka kata Rasululah: ‘Begitulah surah itu diturunkan.’ Ia berkata lagi : ‘Bacalah wahai Umar, lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah; begitulah surah itu diturunkan.’ Dan katanya lagi : ‘Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu, diantaranya.'”
Hadis-hadis yang berkenaan dengan hal itu amat banyak jumlahnya dan sebagian besar telah diselidiki oleh Ibn Jarir didalam pengantar tafsirnya. As-Suyuti menyebutkan bahwa hadis-hadis tersebut diriwayatkan dari dua puluh orang sahabat. Abu ‘Ubaid al Qasim bin Salam menetapkan kemutawatiran hadis mengenai turunnya Qur’an dengan tujuh huruf.
Perbedaan Pendapat Tentang Pengertian Tujuh Huruf
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan tujuh huruf ini dengan perbedaan yang bermacam-macam. Sehingga Ibn Hayyan mengatakan : ‘Ahli ilmu berbeda pendapat tentang arti kata tujuh huruf menjadi tiga puluh lima pendapat.” Namun kebanyakan pendapat itu bertumpang tindih. Disini kami akan kemukakan beberapa pendapat diantaranya yang dianggap paling mendekati kebenaran.
1. Pendapat Pertama
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa Arab mengenai satu makna; dengan pengertian jika bahasa mereka berbeda-beda dalam mengungkapkan satu makna, maka Qur’an pun diturunkan dengan sejumlah lafal sesuai dengan ragam bahasa tersebut tentang makna yang satu itu. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka Qur’an hanya mendatangkan satu lafaz atau lebih saja.
Kemudian mereka berbeda pendapat juga dalam menentukan ketujuh bahasa itu. Dikatakan bahwa ketujuh bahasa itu adalah bahasa Quraisy, Huzail, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yaman.
Menurut Ibnu Hatim as-Sijistani, Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy, Huzail, Tamim, Azad, Rabi’ah, Haazin, dan Sa’d bin Bakar. Dan diriwayatkan pula pendapat lain.”
2. Pendapat Kedua
Suatu hukum berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dengan nama Qur’an diturunkan, dengan pengertian bahwa kata-kata dalam Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi. Yaitu bahasa paling fasih diantara kalangan bangsa arab. Meskipun sebagian besarnya dalam bahasa Quraisy. Sedang sebagian yang lain dalam bahasa Huzail, Saqif, Hawazin , Kinanah, Tamim atau Yaman; karena itu maka secara keseluruhan Qur’an mencakup ketujuh macam bahasa tersebut.
Pendapat ini berbeda dengan pendapat sebelumnya, karena yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam pendapat ini adalah tujuh huruf yang bertebaran di berbagai surah Qur’an. Bukan tujuh bahasa yang berbeda dalam kata tetapi sama dalam makna.
Berkata Abu ‘Ubaid: “Yang dimaksud bukanlah setiap kata boleh dibaca dengan tujuh bahasa, tetapi tujuh bahasa yang bertebaran dalam Qur’an. Sebagiannya bahasa Quraisy, sebagian yang lain bahasa Huzail, Hawazin ,Yaman dan lain-lain.” Dan katanya pula : ‘Sebagian bahasa-bahasa itu lebih beruntung karena dominan dalam Qur’an.”
3. Pendapat Ketiga
Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh wajah, yaitu: amr (perintah), nahyu (larangan), wa’d (janji), wa’id (ancaman), jadal (perdebatan), qasas (cerita), dan matsal (perumpamaan). Atau amr, nahyu, halal, haram,muhkam, mutasyabih dan amtsal.
“Dari Ibn Masu’ud Nabi berkata : “Kitab umat terdahulu diturunkan dari satu pintu dan dengan satu huruf. Sedang Qur’an diturunkan melalui tujuh pintu dengan tujuh huruf, yaitu : zajr (larangan), amr, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amsal.”
4. Pendapat Keempat
Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah : tujuh macam hal yang diantaranya terjadi ihtilaf (perbedaan), yaitu:
1. Ihtilaful asma'(perbedaan kata benda):
Yaitu dalam bentuk mufrad, muzakkar dan cabang-cabangnya, seperti tasniyah, jamak dan ta’nis. Misalnya firman Allah وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (al-Mukminun:8) dibaca (وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ) dengan bentu mufrad dan dibaca pula (وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ) dengan bentuk jamak. Sedangkan rasamnya dalam bentuk mushaf adalah : لأمَانَتِهِمْ yang memungkinkan kedua qiraat itu karena tidak adanya alif yang disukun. Tetapi kesimpulan akhir dari kedua macam qiraat itu adalah sama. Sebab bacaan dengan bentuk jamak dimaksudkan untuk arti istigraq (keseluruhan) yang menunjukkan jenis-jenisnya, sedang bacaan dengan bentuk mufrad, dimaksudkan untuk jenis yang menunjukkan makna banyak. Yaitu semua jenis amanat yang mengandung bermacam-macam amanat yang banyak jumlahnya.
2. Perbedaan dalam segi I’rab (harakat akhir kata),
Seperti firman Allah : ماهذا بشرا (Yusuf :31). Jumhur membacanya dengan nasab (accusative), dengan alasan bahwa kata (ما) berfungsi seperti kata (ليس) dan ini adalah bahasa penduduk hijaz yang dalam bahasa inilah Qur’an diturunkan, sedang Ibn Mas’ud membacanya dengan rafa’ (nominatif) (ماهذا بشرُ) sesuai dengan bahasa Bani Tamim, karena mereka tidak memfungsikan (ما) seperti (ليس) . juga seperti firman-nya: (فتلقى آدم من ربه كلمات) (al-Baqarah:37) ayat ini dibaca dengan menasabkan (آدمَ) dan merafa’kan (كلماتُ) فتلقى آدم من ربه كلماتُ
3. Perbedaan dalam tasrif
Seperti firmanNya : ربنا باعد بين أسفارنا (Saba': 19), dibaca dengan menasabkan ربُّنا karena menjadi munada’ mudhaf dan باعِد dibaca dengan bentuk perintah (fi’il amar). Lafaz dibaca pula dengan rafa’ sebagai mubtada’ dan باعَدَ dengan membaca fatah huruf ‘ain sebagai fi’il madi yang kedudukannya menjadi khabar atau sebutan, juga dibaca بعَّدَ dengan membaca fathah dan mentasdjidkan huruf ‘ain dan merafa’kan lafaz ربُّنا.
4. perbedaan dalam taqdhim (mendahulukan) dan takhir (mengakhirkan)
Baik terjadi pada huruf seperti firmanNya : “Afalam baias” (ar Ra’d:31) yang dibaca juga “Afalam yakyas” maupun didalam kata seperti firmanNya: “Fayaqtuluna wayuqtalun” (at Taubah:111) dimana yang pertama “Fayaqtuluna” dimabni failkan (dibaca dalam bentuk aktif) dan yang kedua “Wayuqtaluna” dimabni maf’ulkan (dibaca dalam bentuk pasif) disamping dibaca pula dengan sebaliknya. Yaitu yang pertama dimabni maf’ulkan dan yang kedua di mabni fa’ilkan. Adapun qiraat “Wajaat sakratul haqqi bilmaut” (Qaf: 19) sebagai ganti dari firmanNya: “Wajaat sakratul mauti bil haqqi” adalah qiraat ahad dan syaz yang tidak mencapai derajat mutawatir.
5. Perbedaan dalam segi ibdal (penggantian)
Baik penggantian huruf dengan huruf, seperti “Wandzur ilal ‘idzami kaifa nunsyizuha” (al Baqarah : 259) yang dibaca dengan huruf za dan mendamahkan nun, disamping dibaca pula dengan huruf ra dan memfatahkan nun, maupun penggantian lafaz dengan lafaz, seperti firmanNya: “Kal’ihnil manfus” (al Qari;ah: 5) yang dibaca oleh Ibn Masud dan lain-lain dengan “Kasshufil manfus”. Terkadang pula penggantian ini terjadi pada sedikit perbedaan mahraj atau tempat keluar huruf. Seperti firmanNya: ” Thalhin mandhudin” (al Waqi’ah: 29) yang dibaca dengan “thal ‘in” karena mehraj ha’ dan ‘ain itu sama dan keduanya termasuk huruf halaq.
6. Perbedaan karena ada penambahan dan pengurangan.
Ihtilaf dengan penambahan (ziyadah) misalnya firman Allah: “Wa ‘aaddalahum jannatin tajri tahtahal anhar” (at Taubah:100) yang dibaca juga “Min tahtihal anhar” dengan tambahan “Min” , keduanya merupakan qiraat yang mutawatir. Mengenai perbedaan karena adanya pengurangan (naqs) seperti dalam firmanNya: “Qaalut takhadallahu waladan” (al Baqarah:116) tanpa huruf wawu sedang para jumhur ulama membacanya ” Waqaalut takhadallahu waladan” dengan wawu. Perbedaan dengan adanya penambahan dalam qiraat ahad (orang perorangan) dapat diwakili dalam qiraat Abbas “Wakaana amaamahum malikun ya khudzu kulla safiinatin shaalihatin ghadban” (al Kahfi: 79) dengan penambahan “shaalihatin” dan penggantian kata “amaa ma” dari kata “wara a” , sedang qiraat jumhur ialah “Wakaa na wara a ahum malikun ya khudzu kulli safiinatin ghadban”, demikian pula perbedaan karena pengurangan dapat diberi contoh dengan qiraat “Wadzdzakara wal untsa” sebagai ganti ayat yang lazim dibaca ” Wamaa khalaqadz dzakara wal untsa” (al Lail:3)
7. Perbedaan lahjah seperti bacaan tafkhim (menebalkan) dan tarqiq (menipiskan), fatah dan imalah , idzhar dan idgham, hamzah dan tashil, isyman dll.
Seperti membaca imalah dan tidak imalah dalam firmanNya: “Hal ataaka hadiitsu muusa” (Ta ha:9) yang dibaca dengan mengimalahkan kata “ataa” dan “muusa” , membaca tarqiq ra dalam firmanNya : “Khabiiran basyiran” , mentafkhimkan huruf lam dalam kata “Aththalaaq” mentashilkan hamzah dalam firmanNya “Qad aflaha” (al Mukminun: 1) dan mengisyamkan huruf gin dengan di dhamahkan bersama kasrah dalam firmanNya “Wagiidhal maa u” (Hud:44) dan seterusnya.
5.Pendapat Kelima
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah (maksudnya bukan bilangan antara enam dan delapan), tetapi bilangan tersebut hanya sebagai lambang kesempurnaan menurut kebiasaan orang arab. Dengan demikian, maka kata tujuh adalah isyarat bahwa bahasa dan susunan Qur’an merupakan batas dan sumber utama bagi perkataan semua orang arab yang telah mencapai puncak kesempurnaan tertinggi. Sebab lafaz sab’ah (tujuh) dipergunakan pula untuk menunjukkan jumlah banyak dan sempurna dalam bilangan satuan , seperti kata tujuh puluh’ dalam bilangan bilangan puluhan, dan ‘tujuh ratus’ dalam ratusan. Tetapi kata-kata itu tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bilangan tertentu.
6. Pendapat Keenam
Segolongan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf tersebut adalah qiraat tujuh.
Tarjih dan Analisis
Pendapat terkuat dari semua pendapat tersebut ialah pendapat pertama (A) yaitu bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dalam mengungkapkan satu makna yang sama misalnya: aqbil, Ta’ala, halumma, ‘ajal dan asra’. Lafaz-lafaz yang berbeda ini digunakan untuk menunjukkan satu makna yaitu perintah untuk menghadap. Ppendapat ini dipilih oleh Sufyan bin ‘Uyainah, Ibn Jarir, Ibn Wahb, dan lainnya. Ibn ‘Abdil Barr menisbahkan pendapat ini kepada sebagian besar ulama dan dalil bagi pendapat ini ialah apa yang terdapat dalam hadis Abu Bakrah berikut:
“Jibril mengatakan: ‘Wahai Muhammad, bacalah Qur’an dengan satu huruf .’ lalu Mikail mengatakan: ‘Tambahkanlah’ Jibril berkata lagi ;’ dengan dua huruf’ jibril terus menambahnya hingga sampai enam atau tujuh huruf. Lalu ia berkata ‘ Semua itu obet penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat rahmat, dan ayat rahmat tidak ditutup dengan ayat azab, seperti kata-kata halumma, ta’ala, aqbil, izhab, asra’ dan ‘ajal.'”
Berkata Ibn ‘A bdil Barr : “Maksud hadis ini hanyalah sebagai contoh huruf-huruf yang dengannya qur’an diturunkan. Ketujuh huruf itu mempunyai makna yang sama pengertiannya, tetapi berbeda bunyi ucapannya. Dan tidak satupun diantaranya yang mempunyai makna saling bermusuhan/berlawanan atau satu segi yang berbeda makna dengan segi lain secara kontradiktif dan berlawanan, seprti rahmat yang merupakan lawan dari azab.”
Pendapat pertama ini didukung pula oleh banyak hadis antara lain:
“Seorang laki-laki membaca Qur’an didekat Umar bin Khatab, umar marah kepadanya . orang itu berkata : ‘Sungguh aku telah membacanya dihadapan Rasulullah, tetapi ia tidak marah kepadaku,’ kata perawi: ‘Maka keduanya berselisih dihadapan Nabi. Orang itu berkata: ‘Wahai Rasulullah bukankah engkau membacakan kepadaku ayat itu begini dan begini ? Nabi menjawab : ‘Ya’ ! perawi menjelaskan ; dengan jawaban ini timbullah ketidak puasan dihati Umar, dan Nabi mengetahui hal itu dari wajahnya. Lalu beliau menepuk-nepuk dada Umar sambil berkata : ‘jauhilah syetan’ ucapan ini di ulanginya sampai tiga kali. Kemudian katanya pula: ‘Wahai Umar Qur’an itu seluruhnya adalah benar, selama ayat rahmat tidak dijadikan azab atau ayat azab tidak dijadikan rahmat.'”
Dari Busyr bib Sa’ad; ” Abu Juhaim al Ansary mendapat berita bahwa dua orang lelaki berselisih tentang sesuatu ayat Qur’an. Yang satu mengatakan, ayat itu dirterima dariRasulullah, dan yang lain pun mengatakan demikian, lalu keduanya menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah. Maka kata Rasulullah : “Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka janganklah kamu saling berdebat tentang Qur;an karena perdebatan mengenainya merupakan suatu kekafiran; sesungguhnya Allah telah menyuruh aku agar membaca Qur’an atas tujuh huruf
Dari A’masy ia berkata : “Anas membaca ayat ini Inna naasyiatal laili hiya asyaddu wath an waashwabu qiila (al Muzammil: 6) maka orang-orang pun mengatakan kepadanya : ‘Wahai Abu Hamzah, kalimat itu adalah : aqwamu. Ia menjawab : aqwamu, ashwabu, dan ahya u itu sama saja.”
Dari Muhamamad bin Sirin, ia berkata: “Saya mendapat berita bahwa jibril dan Mikail datang kepada Nabi. Jibril berkata : Bacalah Qur’an dengan dua huruf ! ‘ lalu Mikail berkata kepadanya : ‘Tambahkanlah.’ Kata perawi: permintaan itu terus diulangi hingga Qur’an boleh dibaca dengan tujuh huruf. Muhammad berkata : ‘Ketujuh huruf itu tidak berselisih mengenai halal dengan yang haram, dan tidak pula tentang perintah dengan larangan. Tetapi ia hanya seperti kata-katamu : Ta’ala, halumma dan aqbil.’ Selanjutnya ia jelaskan, menurut qiraat kami ayat ini dibaca : In kanat illa shai hatun wa hidatun ( Yasin : 29, 53) , tetapi dalam qiraat Ibn Masu’d dibaca : in kanat illa zaqyatan wahidatan.'”
Pendapat kedua (B) – yang menyatakan bahwa yang dimaksdu dengan tujuh huruf ialah macam bahasa dari bahasa-bahasa arab dengan mana Qur’an diturunkan;” dengan pengertian bahwa kalimat-kalimatnya secara keseluruhan tidak keluar dari tujuh bahasa tadi, karena itu maka himpunan Qur;an telah mencakupnya- dapat dijawab bahwa bahasa arab itu lebih banyak dari tujuh macam, disamping itu Umar bin Khattab dan Hisyam bin Hakim keduanya adalah Quraisy yang mempunyai bahasa yang sama dan kabilah yang sama pula, tetapi qiraat (bacaan) kedua orang itu berbeda, dan mustahil Umar mengingkari bahasa Hisyam (namun ternyata Umar mengingkarinya). Semua itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf bukanlah apa yang mereka kemukakan, tetapi hanyalah perbedaan lafaz-lafaz mengenai makna yang sama. Dan itulah pendapat yang kita kukuhkan;
Setelah mengemukakan dalih-dalih untuk membatalkan pendapat kedua ini Ibn Jarir at Tabari mengatakan: “Tujuh huruf yang dengannya Qur’an diturunkan adalah tujuh dialek bahasa dalam satu huruf dan satu kata karena perbedaan lafal tetapi sama maknanya. Misalnya (هلم،أقبل ، تعال ، إليّ ، قصدي ، نحوي ، قربي) dan lain sebagainya yang lafal-lafalnya berbeda karena perbedaan ucapan tetapi maknanya sama, meskiopun lisan berlainan dalam menjelaskannya. Hal ini seperti yang kita riwayatkan tadi dari Rasulullah dan para sahabat, bahwa yang demikian itu seperti kata-kata : (هلم،أقبل ، تعال) atau seperti kata-kata ما ينظرون إلا زقية – إلا صيحة
Tabari akan menjawab pertanyaan yang mungkin akan muncul, ” Dimanakah kita jumpai didalam kitab Allah satu huruf yang dibaca dengan tujuh bahasa yang berbeda-beda lafaznya. Tetapi sama maknanya ?” dengan mengatakan : “Kami tidak mendakwakan hal itu, masih ada sekarang ini, ia juga menjawab pertanyaan yang diandaikan lainnya, “Mengapa pula huruf-huruf yang enam itu tidak ada ?” ia menerangkan” : ‘Umat islam disuruh untuk menghafalkan Qur’an, dan diberi kebebasan untuk memilih dalam bacaan dan hafalannya salah satu dari ketujuh huruf itu sesuai dengan keinginanya sebagaimana diperintahkan. Namun pada masa Usman keadaan menuntut agar bacaan itu ditetapkan dengan satu huruf saja karena dikawatirkan akan timbul fitnah. Kemdian hal ini diterima secara bulat umat islam, suatu umat yang dijamin bebas dari kesesatan.”
Pendapat ketiga (C) – yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah tujuh macam hal (makna), yaitu : amr, nahyu, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan masal-dijawab, bahwa dzahir hadis-hadis tersebut menunjukkan tujuh huruf itu adalah suatu kata yang dapat dibaca dengan dua atau tiga hingga tujuh macam sebagai keleluasaan bagi umat; padahal sesuatu yang satu, tidak mungkin dinyatakan halal dan haram didalam satu ayat, dan keleluasanpun tidak dapat direfleksikan dalam pengharaman yang halal. Penghalalan yang haram atau pengubahan sesuatu makna dari makna-makna tersebut.
Dalam hadis-hadis terdahulu ditegaskan bahwa para sahabat yang berbeda bacaan itu meminta keputusan kepada Nabi. Lalu setiap oranb diminta menyampaikan bacaannya masing-masing, kemudian Nabi membenarkan semua bacaan mereka meskipun bacaan-bacaan itu berbeda dengan yang lain, sehingga keputusan Nabi ini menimbulkan keraguan disebagian mereka. Maka kepada mereka yang masih ragu terhadap keputusan itu Rasululah berkata :Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membaca Qur’an dengan tujuh huruf.”
Kita maklum, jika perselisihan dan sikap saling meragukan itu menyangkut tentang penghalalan,pengharaman, janji, ancaman, dan lain sebagainya. Yang ditunjuk oleh bacaan mereka, maka mustahil Rasulullah akan membenarkan semuanya dan memerintahkan setiap orang untuk pada bacaannya masing-masing sesuai dengan qiraat yang mereka bacakan itu. Sebab jika hal demikian dapat dibenarkan, berarti Allah yang maha terpuji telah memerintahkan dan memfardukan untuk melakukan suatu perbuatan tertentu dalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan kefarduannya.” Melarang dan mencegah untuk melakukan sesuatu itu, dalam bacaan oranag yang bacaannyamenunjukkan larangan dan cegahan; serta membolehkan secara mutlak untuk melakukannya, dalam arti memberikan keleluasaan bagi siapa saja diantara hamba-hambanya untuk melakuakan atau meninggalkannya didalam bacaan orang yang bacaannya menunjukkan pilihan.
Pendapat demikain, jika memang ada berarti menetapkan apa yang telah ditiadakan Allah yang maha terpuji dari Qur’an dan hukum kitabnya. Allah berfirman :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Aqur’an ? kalau sekiranya Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak dijalannya (an Nisa': 82)
Peniadaan hal tersebut (kontradiksi dalam Qur’an) oleh Allah yang maha terpuji dalam kitabNya yang muhkam merupakan bukti paling jelas bahwa Dia tidak menurunkan kitabnya melalui lisan Muhammad kecuali dengan satu hukum yang sama bagi semua mahluknya, bukan dengan hukum-hukum yang berbeda bagi mereka
Pendapat keempat (D)- yang vmenyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang didalamnya terjadi ihtilaf dijawab bahwa pendapat ini meskipun telah populer dan diterima, tetapi tidak dapat tegak dihadapan bukti-bukti dan argumentasi pendapat pertama yangn menyatakan dengan tegas sebagai perbedaan dalam beberapa lafal yang mempunyai makna yang sama. Disamping itu disamping itu sebagian dari perubahan atau perbedaan ayang meraka kemukakanpun hanya terdapat dalam qiraat-qiraat ahad. Pada hal tidak diperselisihkan lagi, bahwa segala sesuatu yang berupa Qur’an itu haruslah mutawatir. Begitu juga bagian besar dari perbedaan-perbedaan itu hanya mengacu pada bentuk kata atau cara pengucapannya yang tidak menimbulkan perbedaan lafal, seperti perbedaan dalam segi qiraat, tasrif, tathim, tarhib, fathah, imalah, idzhar, idgham dan isyman. Perbedaan semacam ini tidak termasuk perbedaan yang bermacam-macam dalam lafal dan makna;” sebab cara-cara yang berbeda dalam mengucapkan suatu lafaz tidak mengeluarkannya dari statusnya sebagai lafal yang satu.
Para pendukung pendapat keempat memandang bahwa mushaf-mushaf Usmani mencakup ketujuh huruf tersebut seluruhnya. Dengan pengertian bahwa mushaf-mushaf itu mengandung huruf-huruf yang dimungkinkan oleh bnetuk tulisannya. Misalnya ayat al mu’minun ayat 8. ayat ini dapat dibaca dengan bentuk jama’ dan mufrad. Dalam rasm Usmani ditulis Li amanatihim secara bersambung tetapi dengan menggunakan alif kecil (harakat berdiri). Begitu juga ayat Saba’ : 19, dalam rasm Usmani tertulis “Ba’da” secara bersambung dengan alif kecil diatasnya pula. Dan bagitu seterusnya?.
Apa yang mereka kemukakan sebagai salah satu macam ihtilaf ini tidak dapat dibenarkan.
Perbedaan karena penambahan dan pengurangan misalnya dalam firman-Nya surah Taubah :100 yang dibaca pula Min Tahtihal Anhaar dengan tambahan Min dan Firman Nya surah al Lail ayat 3 yang juga dibaca Wadzdzakaro Wal untsa dengan penambahan kata Maa halaq.
Perbedaan karena terdapat taqdim dan ta’khir misalnya dalam firmanNya (Qaf:19) yang dibaca juga dengan Wajaat sakratul haqqi bilmaut sedang perbedaan dengan sebab ibdal (pengertian) seperti dalam firmanNya Watakunuljibalukalihnil manfus yang dibaca Watakunul jibalu kassufil manfus.
Andaikata huruf-huruf ini masih terdapat dalam mushaf-mushaf Usmani tentulah mushaf tersebut tidak dapat meredam pertikaian dalam hal perbedaan bacaan. Sebab meredam pertikaian hanya dapat dicapai dengan cara mempersatukan umat pada satuhuruf dari ketujuh huruf yang dengannya Qur’an diturunkan. Kalaulah tidak demikian , tentu perbedaan bacaan akan tetap ada dan juga tidak akan ada perbedaan antara motif pengumpulan mushaf yang dilakukan Usman dengan pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar. Akan tetapi sebagai sumber menunjukkan bahwa pengumpulan Qur’an yang dilakukan Usman adalah penyalinan kembali Qur’an menurut satu huruf diantara ketujuh huruf itu untuk menyeragamkan kaum muslim pada satu mushaf. Usman berpendapat bahwa memebaca Qur’an dengan ketujuh huruf itu hanyalah untuk menghilangkan kesempitan dan kesulitan dimasa-masa awal, dan kebutuhan akan hal itupun sudah berakhir. Maka kuatlah motifnya untuk menghilangkan segala unsur yang menjadi faktor perbedaan bacaan, dengan mengumpulkan dan menyeragamkan umat pada satu huruf saja. Dan kebijaksanaan Usman ini kemudian disepakati oleh para sahabat. Maka dengan adanya kesepakatan ini terjadilah ijma’. Pada masa Abu Bakar dan Umar para sahabat tidak memerlukan pembukuan Qur’an seperti yang dibukukan Usman sebab pada masa keduanya tidak terjadi perselisihan tentang Qur’an sperti yang terjadi pada masa Usman. Dengan demikian maka Usman telah melakukan suatu kebijaksanaan besar.” Menghilangkan perselisihan., mempersatulkan dan menetramkan umat.
Pendapat kelima (E) yang menyatakan bilangan tujuh itu tidak diartikan secara harfiah, dapat dijawab, bahwa nas-nas hadis menunjukkan hakikat bilangan tersebut secara tegas seperti jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesaknya agar huruf itu ditambah, dan iapun menambahkannya kepadaku sampai tujuh huruf dan sesungguhnya Tuhanku mengutusku untuk membaca Qur’an dengan satu huruf. Lalu berulang-ulang aku meminta kepadanya untuk memberi kemudahan kepada umatku. Maka ia mengutusku untuk membaca Qur’an dengan tujuh huruf jelaslah hadis-hadis ini menunjukkan hakikat bilangan tertentu tyang terbatas pada tujuh.
Pendapat keenam (F) yang menyatakan maksud tujuh huruf adalah tujuh qiraat, dapat dijawab bahwa Qur’an itu bukanlah qiraat. Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Muhammad sebagai bukti risalah dan mukjizat. Sedang qiraat adalah perbedaan dalam cara mengucapkan lafal-lafal wahyu tersebut, seperti meringankan (takhfif), memberatkan (tasqil) membaca panjang dan sebagainya. Berkata Abu Syamah: ‘Suatu kaum mengira bahwa qiraat tujuh yang ada sekarang ini itulah yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam hadis.” Asumsi ini sangat bertentangan kesepakatan ahli ilmu dan yang beranggapan ser[eti ini hanyalah sebagian orang-orang bodoh saja.
Lebih lanjut at Tabary mengatakan : “adapun perbedaan bacaan seperti merafa’kan sesuatu huruf, menjarkan, menasabkan, mensukunkan, mengharakatkan, dan memindahkannya ketempat lain dalam bentuk yang sama, semua itu tidak termasuk dalam pengertian ucapan Nabi, “Aku diperintah untuk membaca Qur’an dengan tujuh huruf.’ Sebab sebagaimana diketahui tidak ada satu huruf pun dari huruf-huruf Qur’an yang perbedaan bacaannya, menurut pengertian ini, menyebabkan seseorang dipandang telah kafir karena meragukannya, berdasarkan pendapat salah seorang ulama-padahal mensinyalir keraguan tentang huruf itu sebagai suatu kekafiran-itu termasuk salah satu segi yang dipertentangkan oleh mereka yang berselisih seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat.'”
Nampaknya apa yang menyebabkan mereka terperosok kedalam kesalahan ini ialah adanya kesamaan “bilangan tujuh” (dalam hadis ini dengan qiraat yang populer), sehingga permasalahannya menjadi kabur bagi mereka; Ibn ‘Imar berkata: “Orang yang menginterprestasikan qiraat tujuh terhadap kata “sab’ah” dalam hadis ini telah melakukan apa yang tidak sepantasnya dilakukan dan membuat kesulitan bagi orang awam dengan mengesankan kepada setiap orang yang berwawasan sempit bahwa qiraat-qiraat itulah yang dimaksudkan oleh hadis. Alangkah baiknya andaikata qiraat yang masyhur itu kurang dari tujuh atau lebih, tentu kekaburan dan kesalahan ini tidak perlu terjadi.'”
Dengan pembicaraan ini , jelaslah bahwa pendapat pertama (A) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah tujuh bahasa dari bahasa orang arab mengenai satu makna yang sama adalah pendapat yang sesuai dengan zahir nas-nas dan didukung oleh bukti-bukti yang sahih.
“Dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata: “Rasulullah berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar membaca Qur’an dengan satu huruf, lalu aku berkata : ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku.’ Kemudian ia memerintahkanku dengan firmanNya, Bacalah dengan dua huruf. Kemudian aku berkata lagi: “Wahai Tuhanku ringankanlah umatku. Maka Ia pun memerintahkan kepadaku untuk membacanya dengan tujuh huruf dari tujuh pintu surga. Semuanya obet penawar dan memadai.'”
At Tabari berkata ” Yang dimaksud dengan tuuh huruf ialah tujuh macam bahasa, seprti yang telah kita katakan, dan tujuh pintu surga adalah makna-makna yang terkandung didalamnya, yaitu : amr, nahyu,targib, tarhib, kisah dan masal, yang jika seseorang mengamalkannya sampai dengan batas-batasnya yang telah ditentukan, maka ia berhak masuk surga. Alhamdulillah, tidak ada satu pendapatpun dari orang-orang terdahulu yang bertentangan dengan apa yang kita katakan ini, sedikitpun juga. Sedangkan makna ‘semuanya syafin (obat penawar) dan kafin (memadai) adalah sebagaimana difirmankan Allah Yang Maha Terpuji tentang sifat-sifat Qur’an:
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(Yunus: 57) jadi , Qur’an dijadikan oleh Allah sebagai obat penawar bagi orang-orang mukmin, yang dengan nasehat-nasehatnya mereka sembuhkan segala penyakit yang menimpa hati mereka yaitu bisikan setan dan getaran-getarannya. Karena itulah maka Qur’an telah memadai dan mereka tidak memerlukan lagi nasehat yang lain, dengan penjelasan-penjelasan ayat-ayat Nya itu.”
Hikmah Turunnya Qur’an dengan Tujuh Huruf
Dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Untuk memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa yang ummi, tidak bisa baca tulis, yang setiap kabilahnya mempunyai dialek masing-masing, namun belum terbiasa menghafal syari’at, apa lagi mentradisikannya. Hikmah ini ditegaskan oleh beberapa hadis antara lain dalam ungkapan berikut :
Ubai berkata : “Rasulullah bertemu dengan jibril di ahjarul Mira’, sebuah tempat di Kuba’, lalu berkata : ‘Aku ini diutus kepada umat yang ummi, diantara mereka ada anak-anak , pembantu, kakek-kakek tua dan nenek-nenek jompo.’ Maka kata jibril : ‘Hendaklah mereka membaca Qur’an dengan tujuh huruf.”
“Allah memerintahkan aku untuk membacakan Qur’an bagi umatmu dengan satu huruf. Lalu aku mengatakan: ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan bagi umatku.”
“Allah memerintahkan engkau untuk membacakan Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf. Nabi menjawab : ‘Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirahNya, umatku tidak akan sanggup melakukan perintah itu.”
2. Bukti kemukjizatan Qur’an bagi naluri atau watak dasar kebahasan orang arab. Qur’an mempunyai banyak pola susunan bunyi yang sebanding dengan segala macam cabang dialek bahasa yang telah menjadi naluri bahasa orang-orang arab, sehingga setiap orang arab dapat mengalunkan huruf-huruf dan kata-katanya sesuai dengan irama yang telah menjadi watak dasar mereka dan lahjah kaumnya, dengan tetap keberadaan Qur’an sebagai mukjizat yang ditantangkan Rasulullah kepada mereka. Dan mereka tidak mampu menghadapi tantangan tersebut. Sekalipun demikian, kemukjizatan itu bukan terhadap bahasa melainkan terhadap naluri kebahasaan mereka itu sendiri.
3. Kemukjizatan Qur’an dalam aspek makna dan hukum-hukumnya. Sebab perubahan-perubahan bentuk lafaz pada sebagian huruf dan kata-kata memberikan peluang luas untuk dapat disimpulkan dari padanya bebagai hukum. Hal inilah yang mentebabkan Qyr’an relevan untuk setiap masa. Oleh karena itu, para fuqaha dalam istinbat (penyimpulan hukum) dan ijtihad berhujjah dengan qiraat bagi ketujuh huruf ini.

Tentang Wahyu

Tentang Wahyu

I. Kemungkinan dan Terjadinya Wahyu.
Perkembangan ilmiyah telah maju dengan pesat, da cahayanya pun telah menyapu segala keraguan yang selama ini merayap pada diri manusia mengenai roh yang ada dibalik materi. Ilmu materialistis yang meletakkan sebagian besar dari apa yang ada dibawah percobaan dan experimen percaya terhadap alam gaib yang ada dibalik dunia nyata ini. Dan percaya pula bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam dari pada alam nyata. Dan bahwa sebagian besar penemuan modern yang membimbing pemikiran manusia menyembunyikan rahasia yang samar yang hakikatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya dapat diamati. Hal yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara pengingkaran terhadap agama dengan keimanan. Dan itu sesuai denga firman Allah :
`Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quraan itu adalah benar.`( Fushilat :53 ). dan firman-Nya :
`Dan tidakkah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.` ( al-isra': 85 ).
Pembahasan psiologik dan rohani kini mempunyai tempat yang penting dalam ilmu pengetahuan. Dan hal itupun didukung dan diperkuat oleh perbedaan manusia dalam kecerdasan, kecenderungan dan naluri mereka. Diantara inteligensia itu ada yang istimewa dan cemerlang sehingga dapat menemukan segala yang baru. Tetapi ada pula yang dungu dan sukar memahami urusan yang mudah sekalipun. Diantara dua posisi ini, terdapat sekian banyak tingkatan, demikian pula halnya dengan jiwa.ada yang jernih dan cemerlang. Dan ada pula yang kotor dan kelam.
Dibalik tubuh manusia ada roh yang merupakan rahasia hidupnya. Apa bila tubuh itu kehabisan tenaga dan jaringan-jaringan mengalami kerusakan jika tidak mendapatkan makanan menurut kadarnya., maka demikian pula dengan roh. Ia memerlukan makanan yang dapat menimbulkan tenaga rohani agar ia dapat memelihara sendi-sendi dan ketentuan-ketentuan lainnya.
Bagi Allah bukan hal yang jauh dalam memilih dari antara hamba-Nya sejumlah jiwa yang dasarnya begitu jernih dan kodarat yang lebih bersih yang siap menerima sinar Ilahi dan wahyu dari langit serta hubungan dengan mahluk yang lebih tinggi; agar kepadanya diberikan risalah Ilahi ya g dapat memenuhi keperluan manusia. Mereka mempunyai ketinggian rasa, keluhuran budi dan kejujuran dalam menjalankan hukum. Mereka itulah para Rasul dan Nabi Allah. Maka tidaklah aneh jika berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit.
Manusia kini menyaksikan adanya hipnitisma yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu menimbulkan pengaruh. Ini mendekatkan orang kepada pemahaman tentang gejala wahyu. Orang yang berkemauan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang kemauannya lemah. Sehingga yang lemah ini tertidur pulas dan ia dikemudikan menurut kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengelirlah itu semua kedalam hati dan mulutnya. Apa bila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana dengan yang lebih kuat dari manusia itu ?
Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa ole gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat sipembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telepon, sekalipun yang satu berada diujung timur dan yang lain diujung barat. Dan terkadang pula keduanya bisa saling melihat dalm percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk disekitarnya tidak mendengar apa-apa selain dengingan yang seperti suara lebah, persis seperti dengingan diwaktu turun wahtyu.
Siapkah diantara kita yang tidak pernah mengalami percakapan dengan diri sendiri. Dalam keadaan sadar atau tidur yang terlintas dalam pikirannya tanpamelihat orang yang diajak bicara dihadapannya ?
Yang demikian ini serta contoh-contoh lain yang serupa cukup menjelaskan kepada kita tentang hakikat wahyu.
Orang yang sezaman dengan wahyu itu menyaksikan wahyu dan menukilkannya secara mutawatir dengan segala persayaratannya yang meyakinkan kepada generasi-generasi sesudahnya. Umat manusia pun menyaksikan pengaruhnya didalam kebudayaan bangsanya serta dalam kemampuan pengikutnya. Manusia akan tetap menjadi mulia selama tetap berpegang kepada keyakinan itu. Dan akan hancur dan hina apa bila mengabaikannya. Kemungkinan terjadinya wahyu serta kepastiannya sudah tidak diragukan lagi. Serta perlunya manusia kembali kepada petunjuk wahyu demi menyiram jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur dan kesegaran rohani.
Rasul kita Muhammad saw. Bukanlah rasul pertama yang diberi wahyu. Allah juga telah memberikan wahyu kepada rasul-rasul sebelum itu seperti yang diwahyukankepadanya:
`Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung`( an-nisaa :163-164 ).
Dengan demikian maka wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw itu bukanlah suatu hal yang menimbulkan rasa heran. Oleh sebab itu Allah mengingkari rasa heran itu bagi orang-orang yang berakal.
`Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: `Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka`. Orang-orang kafir berkata: `Sesungguhnya orang ini benar-benar adalah tukang sihir yang nyata`.( Yunus : 2).
II. Arti Wahyu
Dikatakan wahaitu ilaih dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraa yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu adalah kata masdar ( infinitif ); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu ; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha yaitu pengertian isim maf`ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi :
1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu nabi Musa :
`Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa `susuilah dia �( al-Qasas :7 ).
2. Ilham yang berupa naluri pada binatang seperti wahyu kepada lebah :
`Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: `Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia`( an-Nahl : 68 ).
3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Quran :
`Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang`.( Maryam : 11 ).
4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dlam diri manusia.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu`.( al-An`am : 121 ).
`Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.`( al-An`am :112 ).
5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan :
`Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman`.( al- Anfal : 12 ).
Sedang wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara` mereka definisikan sebagai ` kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi`. Definisi ini menggunakan pengertian maf`ul, yaitu al muha ( yang diwahyukan ). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalatut tauhid sebagai ` pengetahuan yang didapati seseoranng dari dalam dirinya dengan disertai keinginan pengetahan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal sepeti itu serupa dengan rasa lapar, haus sedih da senang.`
Definisi diatas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau khasyaf. Tetapi penbedaannya dengan ilham diakhir definisi meniadakan hal ini.
III. Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat
1. Didalam Al- Quranul Karim terdapat nash mengenai kalam Allah kepada para malaikatnya :
`Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: `Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.` Mereka berkata: `Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya .`( al-Baqarah : 30 ).
Juga terdapat nash tentang wahyu Allah kepada mereka :
`Ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : `Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman`.( al-Anfal : 12 ).
Disamping itu ada pula nash tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya.
`Demi malaikat yang mebagi-bagi urusan.`( ad-dzariyat : 4 ).
`Dan demi malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia.` ( an-Naziat : 5 ).
Nash-nash diatas dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu. Hal itu diperkuat oleh hadis dari Nawas bin Sam`an r.a yang mengatakan : Rasulullah SAW berkata :
`apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langitpun tergetarlah dengan getaran- atau Dia mengatakan dengan goncangan-yang dahsyat karena takut kepada Allah Azza wa jalla. Apa bila penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama sekali mengangkat muka diantara mereka itu adalah jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu, kepada jibril menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian jibril berjalan melintasi para malikat, setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah kepadanya malaikat langit itu; apa yang telah dikatakan oleh Tuhan kita wahai jibril ? jibril menjawab : Dia mengatakan yang hak. Dan Dialah yang maha tinggi lagi Maha Besar. Para malikatpun mengatakan seperti apa yang dikatakan jibril. Lalu jibril menyampaikan wahyu itu seperti apa yang diperintahkan Allah azza wajalla.`
hadis ini menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara, dan para malikatnya mendengar-Nya. Dan pengaruh wahyu itupun sangat dahsyat; apa bila pada lahirnya- didalam perjalanan jibril untuk menyampaikan wahyu-hadis diatas menunjukkan turunnya wahyu khusus mengenai Quran, akan tetapi hadis tersebut juga menjelaskan cara turunnya wahyu secara umum. Pokok permasalahan itu terdapat didalam hadis sahih :
`Apa bila Allah memutuskan suatu perkara dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena pengaruh oleh firman-Nya, bagaikan mata rantai diatas batu yang licin.`
2.Telah nyata pula bahwa Quran telah dituliskan dilauhil mahfudz, berdasarkan firman Allah :
`Bahkan ia adalah Quran yang mulia yang tersimpan dilauhil mahfudz.` (al-Buruj : 21-22 ).
Demikian pula bahwa Quran itu diturunkan sekaligus ke baitul izzah yang berada dilangit dunia pada malam lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
`Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada malam lailatul qadar.`(al-Qadar:1)
`Sesungguhnya Kami menurunkannya-Quran- pada suatu malam yang diberkahi.`(ad-Dukhan : 3 ).
`Bulan Ramadhan -bulan yang didalamnya diturunkan Quran.`( al-Baqarah : 185 ).
Didalam sunnah terdapat hal yang menjelaskan nuzul ( turunnya ) Quran yang menunjukkan bahwa nuzul itu bukan lah nuzul kedalan hati Rasulullah SAW .
Dari Ibnu Abbas dengan hadis mauquf : ` Quran itu diturunkan sekaligus kelangit dunia pada mala lailatul Qadar. Kemudian setelah itu diturunkan selama dua puluh tahun, lalu Ibnu Abbas membacakan: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penyelesaiannya.`(al-Furqan : 33). `Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`( al-Israa: 106 ).
Dan dalam satu riwayat :
`Telah dipisahkan Quran dari az-Zikr lalu diletakkan dibaitul Izzah dilangit dunia; kemudian jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw.`
Oleh sebab itu para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Quran kepada jibril dengan beberapa pendapat :
• Bahwa Jibril menerimanya secara mendengar dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
• Bahwa Jibril menghafalnya dari lauhul mahfudz.
• Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau lafal Muhammad saw.
Pendapat yang pertama itulah yang benar, dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh ahlussunnah wal jama`ah. Serta diperkuat oleh hadis Nawas bin Sam`an diatas.
Menisbahkan Quran kepada Allah itu terdapat dalam beberapa ayat :
`Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quraan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui`.(an-Naml : 6 ).
`Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.`( at-Taubah : 6).
`Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: `Datangkanlah Al Qur`an yang lain dari ini atau gantilah dia `. Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`(Yunus : 15 ).
Quran adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedang pendapat kedua diatas itu tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya Quran dilauhul mahfudz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Quran.
Dan pendapat yang ketiga lebih sesuai denga hadis, sebab hadis itu wahyu Allah jepada Jibril, kemudian kepada Muhammad saw. Secara maknawi saja. Lalu ungkapan itu diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.
`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.`(an-Najm : 3-4 ).
Dan oleh sebab itulah diperbolehkan meriwayatkan hadis menurut maknanya sedang Quran tidak. Demikianlah telah kami perbincangkan perbedaan Quran dengan Hadis Kudsi dan Hadis Nabawi.
Keistimewaan Quran: 1) Qur`an adalah mukjizat; 2) Kepastiannya mutlak; 3) membacanya dianggap ibadah; 4) wajib disampaikan dengan lafalnya. Sedang hadis kudsi, sekalipun ada yang berpendapat lafalnya juga diturunkan, tidaklah demikian halnya.
Hadis nabawi ada dua macam: pertama : yang merupakan ijtihad Rasulullah SAW. Ini bukanlah wahyu. Pengakuan wahyu terhadapnya dengan cara membiarkan, hanyalah bila ijtihad itu benar. Kedua : yang maknanya diwahyukan, sedang lafalnya dari Rasulullah sendiri. Oleh sebab itu ini dapat dinyatakan dengan maknanya saja. Hadis kudis itu menurut pendapat yang kuat, maknanya saja yang diturunkan, sedang lafalnya tidak. Ia termasuk dalam bagian yang kedua ini. Sedang menisbatkan hadis kudsi kepada Allah dalam periwayatannya karena adanya nash syara` tentang itu, sedang hadis-hadis nabawi lainnya tidak.
IV. Cara Wahyu Allah Turun Kepada Para Rasul
Allah memberikan wahyu kepada para rasul-Nya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak.
Yang pertama : melalui Jibril malaikat pembawa wahyu, dan hal ini akan kami jelaskan nanti.
Yang kedua : tanpa melalui perantaraan. Diantaranya ialah; mimpi yang benar didalam tidur.
1. Mimpi yang benar didalam tidur.
`Dari Aisyah r.a dia berkata : sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi pada Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur, beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya di waktu pagi hari.`
Hal itu merupakan persiapan bagi Rasulullah SAW untuk menerima wahyu dalam keadaan sadar, tidak tidur. Didalam Quran wahyu diturunkan ketika beliau dalam keadaan sadar, kecuali bagi orang yang mendakwakan bahwa surah Kausar diturunkan melalui mimpi. Karena adanya satu hadis mengenai hal itu. Didalam sahih Muslim, dari Anas r.a ia berkata :
`Ketika Rasulullah SAW disuatu hari berada diantara kami didalam masjid, tiba-tiba ia mendekur, lalu mengengkat kepala beliau dalam keadaan tersenyum. Aku tanyakan kepadanya : Apa yang menyebabkan Engkau tertawa wahai Rasulullah ? Ia menjawab : Tadi telah turun kepadaku sebuah surah; lalu ia membacakan : Bismillahirrahmanirrahim, inna a`taina kal kautsar fashalli lirabbika wanhar, inna syaa niaka huwal abtar.`
Mungkin keadaan mendengkur ini adalah keadaan yang dialaminya ketika wahyu turun.
Di antara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail.
`Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar . Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: `Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!` Ia menjawab: `Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar`. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis, . Dan Kami panggillah dia: `Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian, `Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim`. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.`( as-Saffat : 101-112 ).
Mimpi yang benar itu tidaklah khusus bagi para rasul saja, mimpi yag demikian itu tetap ada pada kaum mukminin, sekalipun mimpi itu bukan wahyu.hal itu seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW :
`Wahyu telah terputus, tetapi berita-berita gembira tetap ada, yaitu mimpi orang mukmin.`
Mimpi yang benar bagi para nabi diwaktu tidur itu merupakan bagian pertama dari sekian macam cara Allah berbicara seperti yang disebutkan didalam firman- Nya:
`Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.`(as-Syuraa : 51 ).
2. Yang lain ialah kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara.
Yang demikian itu terjadi pada Nabi Musa a.s.
`Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa: `Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau`.( al-Araaf : 143 ).
`Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.` ( al-Ma`idah : 164 )
Demikian pula menurut pendapat yang paling sah, Allah pun telah berbicara secara langsung kepada Rasul kita Muhammad saw. Pada malam isra` dan mi`raj. Yang demikian ini yang termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat diatas ( atau dari balik tabir ). Dan didalam Quran macam wahyu ini tidak ada.
3. Cara Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat Kepada Rasul
Wahyu Allah kepada Nabinya itu ada kalanya tanpa perantaraan, seperti yang telah kami sebutkan diatas, misalnya mimpi yang benar diwaktu tidur, dan kalam ilahi dibalik tabir, dalan keadaan jaga yang disadari. Dan ada kalanya melalui perantaraan malaikat wahyu. Wahyu dengan perantaraan malaiakat wahyu inilah yang hendak kami bicarakan dalam topik ini, karena Quran diturunkan dengan wahyu macam ini.
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul
Cara pertama : datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat bauat Rasul. Apa bila wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini maka ia mengumpulkan semua kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan mungkin suara itu sekali suara kepakan sayap-sayap malaikat, seperti diisyaratkan didalam hadis :
`Apa Allah menghendaki suatu urusan dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemercingnya mata rantai diatas batu-batu licin.` . Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu rasul baru mendengarnya untuk yang pertama kali.
Cara kedua : Malaikat menjelma kepada rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan dari pada yang sebelumnya. Karena ada kesesuaian antara pembicara dan pendengar. Rasul meraa senang sekali mendengar dari utusan pembawa wahyu itu. Karena merasa seperti manusia yang berhadapan saudaranya sendiri.
Keadan jibril menempakkan diri sebagai seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia untuk melepaskan sifat kerohaniannya, dan tidak berarti pula bahwa dzatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan bahwa ia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk meyenangkan Rasulullah SAW sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama- tatkala wahyu turun seperti dencingan lonceng- tidak menyenangkan karena keadaan demikian menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah yang seimbang dengan tingkat kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibn Khaldun : ` Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya, sedang dalam keadaan lain, sebaliknya, malaikat berubaha dari yang rohani semata menjadi manusia jasmani.`
Keduanya itu tersebut dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mu`minin r.a bahwa haris bin Hisyam r.a bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal itu dan jawab Nabi :
` Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan`.
Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah SAW berupa kepayahan , dia berkata :
`Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin, lalu malaikat itu pergi. Sedang keringatpun mengucur dari dahi Rasulullah`.
Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang didisyaratkan didalam ayat : `Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana`.(as-Syuraa : 51).
Mengenai hembusan didalam hati, telah disebutkan didalam hadis Rasulullah SAW :
`Roh kudus telah menghembuskan kedalanm hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.`
hadis ini tidak menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri, hal ini mungkin dapat dikembalikkan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut didalan hadis Aisyah. Mungkin malaikat datang pada beliau dalam keadaan yang menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Dan kemungkinan pula bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adsalah wahyu selain Qur`an.
V. Keraguan Orang-orang yang Ingkar terhadap Wahyu.
Orang-orang jahiliyah baik yang lam atau yang modern selalu berusaha untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.
1. Pertama
Meraka mengira bahwa Qur`an dari pribadi Muhammad; dengan menciptakan maknanya dan dia pula yang menyusun ` bentuk gaya bahasanya` ; Qur`an bukanlah wahyu. Ini adalah sangkaan yang batil. Apa bila Rasulullah SAW mengendaki kekuasaan atas dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu ia menisbahkan semua itu kepada pihak lain, dapat saja menisbahkan Qur`an kepada dirinya sendiri. Karena hal itu cukup untuk mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya. Karena dia juga salah seorang dari meraka yang dapat mendatangkan apa yang mereka tidak sanggupi.
Tidak pula dapat dikatakan bahwa dengan menisbahkan Qur`an pada wahyu Ilahi, ia menginginkan untuk menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu ia dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya. Sebab dia juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya pribadi, yaitu yang dinamakan hadis nabawi, yang juga wajkib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikannya sebagai kalam Allah ta`ala.
Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW termsuk pemimpin yang menempuh cara-cara bersdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu ditolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah SAW , kejujuran dan perilakunya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawan sendiri.
Orang-orang munafik menuduh isterinya, Aisyah dengan tuduha berita bohong, pada hal Aisyah isteri yang sangat dicintainya. Tuduhan yang demikian itu menyinggung kehormatan dan kemuliaannya. Sedang wahyupun datang terlambat, Rasulullah SAW dan para sahabat merasa sedih sekali. Beliau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan memusyawarahkannya. Dan satu bulan pun telah berlalu, akan tetapi akhirnya ia hanya dapat mengatakan kepadanya :
` Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apa bila engkau benar-benar bersih, maka Allah akan membersihkanmu, dan apa bila engkau telah berbuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada Allah.`
Keadaan berlangsung secara demikian hinggga turunlah wahyu yang menyatakan kebersihan isterinya itu. Maka apakah yang menghalanginya untuk mengatakan kata-kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Qura`n kata-katanya sendiri. Tetapi dia tidak mau berdusta kepada manusia dan juga kepada Allah.
`Seandainya dia mengadakan sebagian perkataan atas Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya . Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi , dari pemotongan urat nadi itu.`( al-Haqqah : 44-47 ).
Ada segolongan orang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan. Diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Allah yang mencela dan mempersalahkan tindakannya itu :
`Semoga Allah mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka , sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?` ( at-Taubah :43).
Seandainya teguran ini datang dari perasaannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika ternyata pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak aka di ungkapkannya.
Begitu pula teguran kepadanya karena ia menerima tebusan tawanan perang Badar. `Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.` (al-Anfal : 67-68 ).
Begitu juga adanya teguran karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum r.a yang buta. Karena menekuni salah seorang pembesar Quraisy untuk diajak masuk Islam.
`Dia bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanyaTahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya , atau dia mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa`at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup , maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada atasmu kalau dia tidak membersihkan diri . Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera , sedang ia takut kepada , maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan ! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,`( `Abasa : 1-11 ).
Yang dikenal dlam peri kehidupan Rasulullah SAW bahwa dia sejak kecil merupakan teladan yang khas dlam hal budi pekerti yang baik, perilaku yang mulia ucapan yang benar dan kejujuran dalam kata dan perbuatan. Masyarakatnya sendiri pun telah menyaksikannya ketika mengajak mereka pada permulaan dakwah, ia berkata pada mereka : ` Bagaimana pendapatmu sikaranya aku beritahukan kepadamu bahwa pasukan berkuda dibalik lembah ini akan menyerangmu, percayakah kamu kepadaku ? mereka menjawab: `ya` kami tidak pernah melihat Engkau berdusta.`
Peri hidupnya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Dari Abdullah bin Sallam r.a dia berkata : ` Ketika Rasulullah SAW datang kemadinah, orang-orang mengerumininya. Mereka mengatakan : `Rasulullah sudah datang,Rasulullah sudah datang.` Lalu aku datang dalam kerumunan orang banyak itu untuk melihatnya. Ketika aku melihat Rasulullah SAW tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta.`
Orang yang memiliki sifat-sifat agung yang dihiasi oleh tanda-tanda kejujuran tidak pantas diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah yang membuat Qur`an
`Katakanlah: `Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.`( Yunus : 15 ).
2. Kedua
Orang-orang jahiliyah dahulu dan sekarag, menyangka bahwa Rasulullah SAW mempunyai ketajaman otak, kedalaman penglihatan, kekuatan firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui ilham ( inspirasi ), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf. Sehingga Qur`an itu tidak lain dari pada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retirikanya.
Apakah yang sebenarnya didasarkan pada kecerdasan, penalaran dan perasaan didalam Quran itu ?
Segi berita yang merupakan bagian terbesar dalam Quran tidak diragukan oleh orang yang berakal bahwa apa yang diterimanya hanya berdaarkan kepada penerimaan dan pengajaran. Qur`an telah menyebutkan berita-berita tentang umat terdahulu, golongan-golongan dan perisiwa sejarah dengan kejadian-kejadiannya yang benar dan cermat, seperti halnya yang disaksikan oleh saksi mata. Sekalipun masa yang dilalui oleh sejarah itu sudah amat jauh. Bahkan sampai pada kejadian pertama alam semesta ini. Hal demikian tentu tidak dapat memberikan tempat bagi penggunaan pikiran dan kecermatan firasat. Sedang Muhammad sendiri tidak semasa dengan umat-umat dan peristiwperistiwa diatas dengan segala macam kurun waktunya sehingga belaiu dapat menyaksikan kejadian-kejadian itu, dan menyampaikan beritanya. Demikian pula beliautidak mewarisi kitab-kitabnya untuk dipelajari secara perinci dan kemudian menyampaikan beritanya.
`Dan tidaklah kamu berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah mengadakan beberapa generasi, dan berlalulah atas mereka masa yang panjang, dan tiadalah kamu tinggal bersama-sama penduduk Mad-yan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, tetapi Kami telah mengutus rasul-rasul.`( al-Qashas:44-45 ).
`Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu ; tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak kaummu sebelum ini.`( Hud :49 ).
`Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur`an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.`( Yusuf : 3).
Dan diantaranya ialah berita-berita yang cermat mengenai angka-angaka hitungan yang tidak diketahui kecuali oleh orang terpelajar yang sudah sangat luas pengetahuannya, didalam kisah Nabi Nuh : `Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.`(al-Ankabut : 29 ).
Hal ini sesuai denga apa yang terdapat dalam kitab Kejadian dalam Taurat. Dan dalam kisah Ashabul Kahfi ( penghuni Gua ) :
`Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi.` ( al-Kahfi : 25 ).
Hitungan itu menurut ahli kitab adalah tiga ratus tahun matahari, sedang sembilan tahun yang disebutkan diatas ialah perbedaan perhitungan antara tahun matahari dengan tahun bulan. Dari manakah Muhammada memperoleh angka-angka yang benar ini, seandainya bukan karena wahyu yang diberikan kepadanya, sebab ia adalah seorang buta huruf yang hidup dikalangan bangsa yang buta huruf pula. Tidak tahu tulis manulis dan berhitung ? orang-orang jahiliyah lebih pintar menentang Muhammad dari pada orang-orang jahiliyah modern. Sebab orang jahiliyah lama itu tidak mengatakan bahwa Muhammad mendapatkan berita ini dari kesadaran dirinya seperti dikataka orang-orang jahiliyah modern. Tetapi mereka mengatakan bahwa Muhammad mempelajri berita itu dan kemudian dituliskan :
`Dan mereka berkata: `Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.`(al-Furqaan : 5 ).
Muhammad tidak menerima pelajaran dari seorang guru pun-akan kami jelaskan nanti-jadi dari manakah berita-berita ini datang kepadanya secara seketika diwaktu usianya telah empat puluh tahun. `Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.` (an-Najm : 4 ).
Itulah mengenai segi berita dalam Quran, adapun ilmu-ilmu lain yang ada didalamnya, bagian akaid saja mengandung perkara-perkara yang begitu terperinci tentang permulaan mahluk dan kesudahannya. Kehidupan akhirat dan apa yang ada didalamnnya seperti surga dengan segala kenikmatannya, neraka dengan segala azabnya dan lain sebagainya. Seperti malaikat dengan segala sifat dan pekerjaannya. Pengetahuan ini tidaklah memberikan tempat bagi kecerdasan akal dan kekuatan firasat semata.
`Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.` (al-Mudatsir : 31 ).
`Tidaklah mungkin Al Qur`an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya , tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.` ( Yunus : 37 ).
Begitu juga ketentuan-ketentuan yang memberi keputusan tentang berita-berita yang akan datang yang berlaku pada sunnatullah yang bersifat sosial mengenai kelemahan dan kekuatan, naik dan turun, mulia dan hina, bangun dan runtuh yang terdapat didalam Qur`an :
`Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.`(an-Nur : 55 ).
`Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.` (al-Hajj: 40-41 ).
`Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri,` (al-Anfal : 53 ).
Dapat ditambahkan pula bahwa AlQur`anul Karim telah menceritakan tentang Rasulullah bahwa dia hanyalah mengikuti wahyu :
`Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Qur`an kepada mereka, mereka berkata: `Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?` Katakanlah: `Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku`(al-A`raf : 203 ).
Dan bahwa ia adalah manusia yang tidak mengetahui perkara yang gaib dab tidak pulaberkuasa atas dirinya sedikitpun.
`Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: `Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa`.( al-Kahfi : 110 ).
`Katakanlah: `Aku tidak berkuasa menarik kemanfa`atan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira `.(al-A`raf : 188 ).
Rasulullah SAW tidak sanggup memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dua orang yang berselisih yang datang mengahdapnya untuk meminta keputusan, meskipun dia mendengarkan kata-kata mereka berdua. Maka tentu saja dia tidak sanggup untuk mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan datang.
` Rasulullah SAW telah mendengar suatu perselisihan yang terjadi didekat pintu kamar beliau. Ia mendatangi mereka dan berkata : ` Aku hanyalah seorang manusia; sedang kamu meminta kepadaku untuk diadili. Mungkin salah satu puhak dari kamu akan lebih baik dalam menyampaikan alasan, sehingga aku mengira bahwa dialah yang benar, lalu aku memutuskan hal itu dengan memenangkannya. Yang kuputuskan dengan memberikan kemenangan kepadanya dari hak seorang muslim itu adalah sepotong api neraka. Dia boleh mengambilnya dan boleh pula meninggalkannya.`
Dr Muhammada Abdullah Daraz mengatakan : `Pendapat inilah yang diramaikan oleh orang-orang atheis masa kini dengan nama wahyu nafsi. Mereka mengira bahwa dengan nama ini mereka telah memberikan kepada kita pendapat ilmiyah yang baru. Tetapi hal itu sebenarnya tidak lah baru; ini adalh pendapat jahiliyah yang kuno; tidak berbeda sedikitpun baik dalam garis besarnya maupun dalam perinciannya. Mereka melukiskan Nabi saw. Sebagai seorang lelaki yang mempunyai imajinasi yang luas dan perasaa yang dalam, maka dari beliau adalah seorang penyair.
Kemudian mereka menambahkan bahwa kata hatinya mengalahkan inderanya, sehingga ia berkhayal bahwa dia melihat dan mendengar seseorang berbicara kepadanya. Apa yag dilihat dan didengarnya itu tidak lain dari pada gambaran khayal dan perasaannya sendiri saja. Yang demikian itu suatu kegilaan dan ilusi. Namun mereka tidak bisa berlama-lama mempertahankan alsan-alasan ini, mereka terpaksa harus meninggalkan istilah ` gerak hati` ( al-wahyun-nafsi ), ketika mereka melihat bahwa didalam Quran terdapat segi berita, baik berita masa lalu maupun berita akan datang. Mereka mengatakan : mungkin berita-berita itu dia peroleh dari para ahli ketika ia berdagang. Dengan demikian berati ia diajar oleh seorang manusia. Jadi manakah yang baru menurut pendapat ini semua ? bukankah hal itu hanyalah omongan biasayang menyerupai omongan kaum jahiliyah Quraisy ? demikianlah atheisme dalam pakaiannya yang baru itu mempunyai bentuk yang kotor, bahkan amat. Dan itulah yang menjadi sumber segala gagasan yang sudah `maju` dimasa kini. Padahal ia hanyalah sisa-sisa hidangan yang diwariskan oleh hati yang sudah membatu dimasa jahiliyah pertama.
`�Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa.` ( al-Baqarah : 118 ).
Namun demikian kalau ada orang heran, yang mengherankan lagi adalah kata-kata mereka yang menyebutkan bahwa dia ( Muhammad ) adalah orang yang jujur dan terpercaya. Dan bahwa dia beralasan menisbahkan apa yang dilihatnya sebagai wahyu ilahi. Sebab mimpi-mimpinya yang kuat itu menunjukkan sebagai wahyu ilahi. Dia tidak mau menjadi saksi kecuali apa yanh dilihatnya. Demikianlah Allah menceritakan kepada kita tentang pendahulu-pendahulu mereka. `karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah`.(al-An`am ; 33 ).
Apa bila ini alasan Rasulullah SAW dalam menyatakan apa yang dilihat dan didengar, maka alasannya dalam pengakuannya bahwa dia tidak mengetahui berita-berita itu, juga tidak kaumnya sebelum itu. Sedang menurut sangkaan mereka dia telah mendengarnya sebelumnya ? dengan demikian, mereka hendak mengatakan bahwa dia mengada-ada, agar tuduham mereka itu sempurna. Tetapi mereka tidak mau menyatakan kata-kata itu, sebab meraka mendakwakan diri mereka sendiri sebagai orang yang subyektif dan bijaksana. Ingatlah sebenarnya mereka telah mengatakannya tetapi mereka sendiri tidak merasa.
3. Ketiga
Orang-orang jahiliyah dahulu dan modern menyangka bahwa Muhammad telah menerima ilmu-ilmu Quran dari seorang guru. Yang demikian itu adalah benar, akan tetapi guru yang menyampaikan Quran itu adalah malaikat wahyu, dan bukan guru dari golongannya dan golongan lain.
Muhammada saw. Tumbuh dan hidup dalam keadaan buta huruf dan tak seorang pun diantara merak yang membawa simbol ilmu dan pengajaran, ini adalah kenyataan yang disaksikan oleh sejarah, dan tidak dapat diragukan. Bahwa dia mempunyai guru yang bukan dari masyarakatnya sendiri. Dalam sejarah tidaj ada kalangan peneliti yang dapat memberikan kata sepakat yang patut dijadikan saksi bahwa, Muhammad telah menemui seorang ulama yang mengajarkan agama kepadanya sebelum ia menyatakan kenabiannya. Memang benar bahwa dimasa kecil ia pernah bertemu dengan Bahira yang rahib itu, dipasar Busyra disyam. Dan di mekkah bertemu dengan Waraqah bin Naufal setelah wahyu pertama turun kepadanya. Dan setelah hijrahbia bertemu ulama-ulama yahudi dan nasrani. Tetapiyang pasti ia tidak pernah mengadakan pembicaraan dengan mereka, sebelum ia menjadi Nabi. Sedang setelah ia menjadi nabi, merekalah yan bertanya kepadanya untuk dijadikan bahan perdebatan, sehingga mereka yang mengambil manfaat dan belajar kepadanya. Dan sekiranya Rasulullah SAW yang belajar sedikitpun dari salah seorang diantara mereka, sejarah tidak akan diam, sebab dia tidak ada perangainya yang buruk yang diremehkan orang, terutama oleh mereka yang yang memang menentang Islam. Dan apa yang disebutkan dalam sejarah mengenai rahib dari Syam atau Waraqah bin Naufal merupakan sambutan gembira tentang kenabiannya atau sebagai pengakuan
Orang dapat menanyakan kepada mereka yang menyangka bahwa Muhammad saw diajar oleh seorang manusia: siapa nama gurunya itu ? ketika itu juga kita akan melihat jawaban yang kacau balau yang mereka-reka, bahwa gurunya itu seorang ` pandai besi Romawi` bagaiman dapat diterima akal bila ilmu-ilmu Al-Quran Al-Karim itu datangnya dari yang tidak dikenal oleh mekkah sebagai orang yang pandai dan mendalami kitab-kitab ? bahkan hanya seorang pandai besi yang sehari-harinya hanya menepuni palu dan landasan besi, orang awam denga lidah asing, yang dalam bacaanya dalam bahasa arab pun hanya mericau saja.
`Sesungguhnya Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya ( Muhammad ). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan bahwa Muhammad belajar kepadanya bahsa asing, sedang Quran dalam bahasa arab yang jelas. ( an-Nahl : 103 )
Orang-orang arab sebenarnya ingin sekali menolak Quran karena dendam mereka kepada Muhammad tetapi mereka tidak sanggup, tidak menemukan jalan dan usaha mereka jadi sia-sia. Lalu kenapa orang-orang atheis kini mencar-cari jalan dalam bekas-bekas sejarah, sekalipun kegagaln itu telah berlalu 13 abad lebih ? dengan ini, jelasl;ah bahwa Quran tidak mengandung unsur manusia baik oleh pembawanya atau oleh orang lain. Ia diturunkan oleh Tuhan yang maha bijaksana dan maha terpuji.
Pertumbuhan Rasulullah SAW dilingkungan yang buta huruf dan jahiliyah, dan perilakunya ditengah-tengah kaumnya itu merupakan bukti yang kuat bahwa Allah telah mempersiapkannya untuk membawa risalahnya. Allah mewahyukankepadanya Quran ini untuk menjadi petunjuk bagi umatnya.
`Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.` ( as-Syuraa : 52-53)
Al Ustadz Muhammad Abduh dalam risalatut Tauhid berkata : ` diantara tradisi yang dikenal adalah bahwa seorang yatim yang fakir dan buta huruf seperti dia , jiwanya akan diwarnai oleh apa yang dilihatnya sejak awal pertumbuhan sampai masa tuanya, serta akalnya pun akan terpengaruh oleh apa yang didengar dari orang-orang yang bergaul dengannya, terutama apa bila mereka kerabat dan satu suku. Sementara itu dia tidak memiliki kitab yang dapat memberinya petunjuk, tidak pula guru dan penolong yang akan memberi pelajaran dan melindunginya. Seandainya tradisi berjalan seperti biasa, tentulah dia akan tumbuh dalam kepercayaan mereka dan mengikutu aliran mereka pula hingga mencapai usia dewasa. Setelah itu, barulah ia berpikir dan mempertimbangkan, lalu menentang mereka, bila ada dalil yang menunjukkan kepadanya atas kesesatan mereka. Hal serupa itu juga telah ditentukan oleh bebrapa orang yang semasa dengan dia.
Tetapi keadaannya tidak demikian . sejak kecil ia sudah amat membenci penyembahan berhala. Dia dibimbing oleh akidah yang berssih dan ahlak yang baik. Firman Allah menyatakan :
`Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung , lalu Dia memberikan petunjuk.`( ad Dhuha : 7 ).
Ayat ini tidak mengandung pengertian bahwa dia berada dalam penyembahan berhala sebelum mendapat petunjuk tauhid, atau berada dalam jalan yang tidak lurus sebelum berahlak yang agung. Sekali-kali tidak ! semua itu tentu hanya kebohongan yang nyata. Tetapi yang dia maksudkan ialah kebingungan yang mencekam hati orang-orang yang ikhlas, yang mengharapkan keselamatan bagi umat manusia, mencari jalan keluar dari kehancuran dan petunjuk dari kesesatan. Dan Allah telah memberi petunjuk kepada nabi-nya atas apa yang dicarinya, dengan dipilihnya dia untuk menyampaikan risalahnya serta menentukan syariat-Nya.
VI. Kesesatan Ahli Ilmu Kalam
Para ahli ilmu kalam telah tenggelam dalam cara-cara filsuf dalam menjelaskan kalam Allah sehingga mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan lurus. Mereka membagi kalam Allah menjadi dua bagian : kalam nafsi yang kekal yang ada pada dzat Allah, yang tidak berupa huruf, suara, tertib dan tidak pula bahasa. Dan kalam lafdzi ( verbal ) yaitu yang diturunkan oleh para nabi a.s., yang diantaranya adalah empat buah kitab. Para ahli ilmu kalam ini semakin terbenam dalam perselisihan skolastik yang mereka adakan; apakah Quran dalam pengertian kalam lafdzi mahluk atau bukan ? mereka memperkuat pendapat bahwa Quran dalam pengertian kalam lafdzi diatas adalah mahluk. Dengan demikian meraka telah keluar dari jalan para mujtahid dahulu dalam hal yang tidak ada nasnya dalam kitab dan sunnah. Mereka juga menggarap sifat-sifat Allah denga anlisis filosofis yang hanya menimbulkan keraguan dalam akidah tauhid.
Sedang madzab ahlussunah waljamaah menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah ditetapkan oleh Allah atau oleh Rasulullah SAW dalam hadis sahih yang datang dari nabi. Bagi kita sdah cukup beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat diantara sekian sifat Allah, Allah berfriman :
` Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung` (an-Nisa`: 164 ).
Demikian pula Al-Quran Al-Karim -wahyu yang diturunkan kepada Muhammad- adalah kalamulllah, bukan mahluk sebagaimana tersirat dalam ayat : `Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,`(at-Taubah : 6 ).
Penetapan mengenai apa yang dinisbahkan oleh Allah sendiri atau oleh Rasulullah SAW, sekalipun sifat itu juga ditetapkan pada hamba-hamba Allah, tidaklah mengurangi kesempurnaan kesucian-Nya dan membuat-Nya serupa dengan hamba-hamba-Nya. Dengan demikian kesamaan dalam nama itu tidak menharuskan kesamaan apa yang dikandung oleh nama itu. Amat berbeda antara Khalik dan mahluk dalam hal dza, sifat dan perbuatannya. Zat Khalik adalah maha sempurna, sifatnya paling tinggi dan perbuata-Nya pun paling sempurna dan tinggi. Apa bila kalam itu merupakan sifat kesempurnaan mahluk, bagaimana sifat ini ditiadakan dari Khalik ? kita menerima apa yang diterima oleh sahabat Rasulullah SAW para ulama tabi`in, para ahli hadis dan fiqih yang hidup dimasa-masa yang dinyatakan baik, sebelum lahir segala macam bidat ( bid`ah ) para ahli ilmu kalam. Kita beriman kepada apa yang datang dari Allah atau sahih dari Rasulullah SAW mengenai sifat-sifat dan perbuatan Allah baik yang ditetapkan atau tidak, tanpa dikurangi, diserupakan dimisalkan ataupun ditakwilkan. Kita tidak berhak menetapkan pendapat kita sendiri mengenai hakikat dzat Allah ataupun sifat-sifat-Nya :
`Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.` ( as-Syura : 11 ).

Tentang Al-Quran

Tentang Al-Quran

Diantara kemurahan Allah kepada manusia bahwa Dia tidak saja memberikan sifat yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka kearah kebaikan, tetapi juga dari waktu kewaktu Dia mengutus sweorang Rasul kepada manusia dengan membawa al kitab dari Allah dan menyuruh mereka beibadah hanya kepada Allah saja. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar yang demikian menjadi bukti bagi manusia.
`Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( An-Nisa`: 165 )
Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai dengan wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh kaum setiap Rasul saat itu. Sampai perkembangan itu mencapai kematangannya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad muncul dipermukaan bumi ini. Maka diutuslah beliau disaat manusia sedang mengalami kekosongan para Rasul, untuk menyempurnakan ` bangunan` saudara-saudara pendahulunya ( para rasul )dengan syriatnya yang universal dan abadi serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu al-quranl karim.
`Perumpamaan aku dengan nabi sebelum aku adalah bagaikan orang yang membangun sebuah rumah, dibuat dengan baik dan diperindahkanya rumah itu, kecuali letak sebuah bata disudutnya. Maka orang-orang pun mengelilingi rumah itu, mereka mengaguminya dan berkata: seandainya bukan karena satu batu bata ini, tentulah rumah itu sudah sempurna. Maka akulah batu bata itu, dan akaulah penutup para nabi.` .
Qur`an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya, banyak nash yang msnunjukkan hal itu, baik didalam qur`an maupun didalam sunnah.
`Katakanlah: `Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua`,( Al A`raf :158 ).
`Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam , Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,( Al-Furqan : 1 )
`Setiap nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sedang aku diutus untuk segenap manusia,` .
Sesudah Muhammad saw. Tidak akan ada lagi kerasulan lain.
`Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi`.(Al Ahzab : 40 ).
Maka tidaklah aneh apabila quran dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaam berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi.
`Dia telah mensyari`atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : `Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya`.( Asyuraa: 13 ).
Rasulullah SAW juga telah menantang orang-orang arab dengan quran, padahal quran diturunkan dengan bahasa mereka dan mereka pun ahli dalam bahasa itu dan retorikanya. Namun ternyata mereka tidak mampu membuat apapun seperti quran, atau membuat sepuluh surah saja, bahkan satu surah pun sepertu quran. Maka terbuktilah kemukjizatan quran dan terbukti pula kerasulan Muhammad. Allah telah menjaga kerasulannya da menjaga pula penyampaiannya yang beruntun. Tentang jibril yang membawa quran itu diantaranya dilukiskan :
`Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin`,( Asyuraa : 193 ).
Dan diantara sifat quran dan sifat orang yang diturunkan kepadanya quran itu adalah :
`Sesungguhnya Al Qur`aan itu benar-benar firman utusan yang mulia , yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai `Arsy, yang dita`ati di sana lagi dipercaya. Dan temanmu itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib`.(at-taqwir : 19-24 ).
`Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, Sesungguhnya Al-Quraan ini adalah bacaan yang sangat mulia, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan`.(al waqiah :77-79 ).
Keistimewaan yang demikian ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab yang terdahulu, karena kitab-kitab itu diperuntukkan bagi satu waktu tertentu, maka benarlah Allah dengan firman-Nya:
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al Hijr : 9 )
Risalah quran disamping ditujukan kepada manusia juga ditujukan kepada jin.
`Dan ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan lalu mereka berkata: `Diamlah kamu `. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya memberi peringatan. Mereka berkata: `Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih`.( al-Ahqaf : 29-31 ).
Dengan keistimewaan itu Quran dengan memecahkan problem-problem kemanusiaan diberbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani sosial, ekonomi maupun politik dengan pemecahan yang bijaksana, karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan maha terpuji. Pada setiap problem itu Quran meletakkan sentuhan yang mujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula buat setiap zaman. Dengan demikian Quran selalu memperoleh kelayakannya disetiap waktu dan tempat, karena Islam adalah agama yang abadi. Alangkah menariknya apa yang dikatakan oleh seorang juru dakwah abad ke 14 ini:
`Islam adalah suatu sitem yang lengkap, ia siap mengatasi setiap segala gejala kehidupan, ia adalah negara dan tanah air, atau pemerintah dan bangsa, ia adalah moral dan potensi atau rahmat dan keadilan. Ia adalah pengetahuan dan undang-undang atau ilmu dan keputusan. Ia adalah materi dan kekayaan, atau pendpatan dan kesejahteraan. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan ide. Begitu pula ia adalah aqidah yang benar dan ibadah yang sah.`
Manusia yang kini tersiksa hati nuraninya dan ahlaknya sudah rusak, tidak mempunyai pelindung lagi dari kejatuhannya kejurang kehinaan selain dari pada Quran. `Allah berfirman: `Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta`.( Taha : 123-124 ).
Kaum muslimin sendirilah yang membangun obor ditengah-tengah sistem-sistem dan prinsip-prinsip lain. Mereka harus menjauhkan diri dari segala kegemerlapan yang palsu. Mereka harus membimbing manusia yang kebingungan dengan Quran sehingga terbimbing kepantai keselamatan. Seperti halnya kaum muslimin dahulu mempunyai negara dengan mempunyai Quran, maka tidak boleh tidak pada masa kini pun mereka harus memiliki negara dengan Quran juga.
Definisi Quran
Qara`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qira`ah , yaitu masdar (infinitif) dari kata qara` qira`atan, qur`anan. Allah berfirman:
`Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu`. (Al;-Qiyamah :17-18).
Qur`anah berarti qiraatun (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata itu adalah masdar menurut wazan (tashrif, konjugasi)`fu`lan` dengan vokal `u` seperti `gufran` dan `syukran`.Kita dapat mengatakan qara`tuhu , qur`an, qira`atan wa qur`anan, artinya sama saja.Di sini maqru` (apa yang dibaca) diberi nama Qur`an (bacaan); yakni penamaan maf`ul dengan masdar.
Qur`an dikhususkan nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w, sehingga Qur`an menjadi nama khas kitab itu, sebagai nama diri. Dan secara gabungan nama itu dipakai nama qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang yang membaca ayat al-Qur`an, kita boleh mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an.
`Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat `. (al-Araf :204)
Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama qur`an di antara nama-nama kitab Allah itu karena kitab ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya, bahkan mencakup inti dari semua ilmu.
Akan hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri` (an-Nahl:89).
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab`(al-An`am : 38 ).
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata Quran itu pada mulanya tidak berhamzah sebagai kata jadian, mungkin ia dijadikan sebagai suatu nama bagi kalam yang diturunkan kepada Nabi saw., dan bukanya kata jadian dari Qara`a atau mungkin juga karena ia berasal dari kata qarana asy-sya`ia bisy-syai`i yang berarti memperhubungkan sesuatu dengan yang lain, atau juga berasal dari kata qaraa`in ( saling berpasangan ) karena ayat-ayatnya satu dengan yang lain saling menyerupai. Dengan demiian maka huruf Nun itu asli. Namun pendapat ini masih diragukan. Yang benar ialah pendapat yang pertama.
Qur`an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagaian serta ketentuan-ketentuannya secara khusus, mempunyai genus, diferensia, dan propium, sehingga definisi qur`an mempunyai batasan yang benar-benar konkrit. Definisi untuk Qur`an yang konkrit ialah menghadirkannya dalam fikiran atau dalam realita seperti misalnya kita menunjuk sebagai Quran kepada yang tertulis didalam mushaf atau terbaca dengan lisan. Untuk itu kita katakan Quran adalah: Apa yang ada diantara dua jilid buku, atau kita katakan juga; Quran adalah bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahirabbil alamin��sampai dengan minal jinnati wannas.
Para ulama menyebutkan definisi Quran yang mendekati makananya dan membedakannya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa: `Quran adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Muhamad saw. Yang pembacanya merupakan suatu ibadah`. Dalam deinisi `kalam` merupakan kelompok jenis yang meliputi segal kalam. Dan dengan menghubungkannya dengan Allah ( kalamullah ) berarti tidak semua masuk dalam kalam manusia, jin dan malaikat.
Dan dengan kata-kata `yang diturunkan` maka tidak termasuk kalam Allah yang sudah khusus menjadi milik-Nya.
`Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu `.(al-Kahfi: 109).
`Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut , ditambahkan kepadanya tujuh laut sesudah nya, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana`.( Luqman: 27 ).
Dan membatasi apa yag diturunkan itu hanya `kepada Muhammad saw` Tidak termasuk yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya seperti taurat, injil dan yang lain.
Sedangkan `yang pembacanya merupakan suatu ibadah` mengecualikan hadis ahad dan hadis-hadis qudsi bila kita berpendapat bahwa yang diturunkan dari Allah itu kata-katanya -sebab kata-kata `pembacanya sebagai ibadah` artinya perintah untuk membecanya di dalam shalat dan lainnya sutau ibadah. Sedangkan qiraat ahad dan hadis-hadis qudsi tidak demikian halnya.
Nama dan Sifatnya
Allah menamakan Quran dengan beberapa nama, diantaranya:
1. Qur`an
`Al Qur`an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus`.( al-Israa:9)
2. Kitab
`Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu`.(al-Anbiyaa: 10)
3. Furqan
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam`,(al-Furqan: 1)
4. Zikr
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.( al-Hijr :9)
5. Tanzil
`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam`,(as-Syuaraa:192 ).
Quran dan alkitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammada Daraz berkata: ` ia dinamakan Quran karena ia `dibaca` dengan lisan, dan dinamakan al- kitab karena ia `ditulis` dengan pena. Kedua kata ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya`.
Penamaan Quran dengan kedua nama ini memberikan isyarat bahwa selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan. Dengan demikian, apa bila diantara salah satunya ada yang melenceng, maka yang lain akan meluruskannya, kita tidak dapat menyandarkan hanya dengan haflan seseorang sebelum hafalannya sesuai dengan tulisan yang telah disepakati oleh para sahabat, yang dinukilkan kepada kita dari generasi kegenerasi menurut keadaan sewaktu dibuatnya pertama kali. Dan kita pun tidak dapat menyandarkan hanya kepada tulisan penulis sebelum tulisan itu sesuai dengan hafalan tersebut berdasarkan isnad yang sahih dn mutawatir.
Dengan penjagaan yang ganda ini oleh Allah telah ditanamkan kedalam jiwa umat Muhammad untuk mengikuti langkah Nabi-Nya. Maka Quran tetap terjaga dalam benteng yang kokoh. Hal itu tidak lain untuk mewujudkan janji Allah yang menjamin terpeliharanya Quran seperti di firmankan-Nya :
`Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya`.(al-Hijr :9 ).
Dengan demikian Quran tidak mengalami penyimpangan, perubahan dan keterputusan sanad seperti terjadi pada kitab-kitab terdahulu.
Penjagaan ganda ini diantaranya menjelaskan bahwa kitab-kitab samawi lainnya diturunkan hanya untuk waktu itu, sedang Quran diturunkan untuk membetulkan dan menguji kitab-kitab yang sebelumnya. Karena itu Quran mencakup hakikat yang ada didalam kitab-kitab terdahulu dan menambahnya dengan tambahan yang dikehendaki Allah. Quran menjalankan fungsi-fungsi kitab-kitab sebelumnya, tetapi kitab-kitab itu tidak dapat menempati posisinya. Allah telah menakdirkan untuk menjadikannya sebagai bukti sampai hari kiamat. Dan apa bila Allah mengehndaki suatu perkara, maka Dia akan mempermudah jalannya ke arah itu. Karena Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Inilah alasan yang paling kuat.
Allah telah melukiskan Quran dengan beberapa sifat, diantaranya ;
6. Nur (cahaya ) :
`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang`.(an-nisaa : 174 )
7. Huda ( petunjuk ), Syifa` ( obat ), Rahmah ( rahmat ),dan Mauizah ( nasehat ) :
`Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman`.( Yunus : 57 ).
8. Mubin ( yang menerangkan ) :
`Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan`.( al-Maidah :15 ).
9. Mubarak ( yang diberkati ) :
`Dan ini adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya`.(al- An`am ;92 ).
10. Busyra ( kabar gembira ) :
`Katakanlah: `Yang membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman`.(al-Baqarah :97 ).
11. `Aziz ( yang mulia ) :
`Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quraan ketika Al Quraan itu datang kepada mereka, , dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia`.( Fushilat : 41 ).
12. Majid ( yang dihormati ) :
`Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur`an yang mulia`,( al-Buruuj ; 21 ).
13. Basyr ( pembawa kabar gembira ) :
`Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan`.( Fushilat ; 3-4 ).
Perbedaan antara Quran dengan Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi
Definisi Quran telah dikemukakan pada halaman terdahulu. Dan untuk mengetahui perbedaan antara definisi Quran dengan hadis kudsi dan hadis nabawi, maka disini kami kemukakan dua definisi berikut ini :
1. Hadis Nabawi
Hadis ( baru ) dalam arti bahasa lawan qadim ( lama ). Dan yang dimaksud hadis ialah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengarannya atau wahyu, baik dalam keadaan jaga taupun dalam keadaan tidur. Dalam pengertian ini Quran juga dinamai hadis.
`Hadis (kata-kata ) siapakah orang yang lebih benar perkataan dari pada Allah`?(an-nisaa : 87 ).
Begitu pula apa yang terjadi pada manusia diwaktu tidurnya juga dinamakan hadis.
`�.dan Engkau telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil dari hadis-hadis-maksudnya mimpi`. (Yusuf : 101 ).
Sedang menurut istilah pengertian hadis ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi saw. Baik berupa perkataan, perbuatan persetujuan atau sifat.
Yang berupa perkataan seperti perkataan Nabi saw. :
`Sesungguhnya sahnya amal itu disertai dengan niat. Dan setiap orang bergantung pada niatnya�.`
yang berupa perbuatan ialah seperti ajaranya pada sahabat mengenai bagaimana caranya mengerjakan shalat, kemudian ia mengatakan :
`Shalatlah seperti kamu melihat aku melakukan shalat`.
juga mengenai bagaimana ia melakukan ibadah haji, dalam hal ini Nabi saw. Berkata :
`Ambilah dari padaku manasik hajimu`.
Sedang yang berupa persetujuan ialah seperti ia menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan ataupun perbuatan, dilakukan dihadapannya atau tidak, tetapi beritanya sampai kepadanya. Misalnya mengenai makanan baiwak yang dihidangkan kepadanya, dan persetujuannya dalam sebuah riwayat, Nabi saw, mengutus seseorang dalam suatu peperangan. Orang itu membaca suatu bacaan dalam salat yang diakhiri dengan qul huwallahu ahad. Setelah pulang mereka menyampaikannya kepada Nabi, lalu kata Nabi : tanyakan kepadanya mengapa ia bernuat demikian !` mereka pun menanyakannya. Dan orang itu menjawab. ` kalimat itu adalah sifat Allah dan aku senang membacanya`. Maka jawab Nabi :
`katakan kepadanya, Allah pun senang kepadanya`.
Dan yang berupa sifat adalah riwayat seperti : `bahwa Nabi saw. Itu selalu bermuka cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula bernicara kotor dan tidak juga suka mencela��..`.
2. Hadis Kudsi
Kita telah mengetahui hadis secara etimologis. Sedangkan qudsi ( kudsi ) dinisbahkan sebagai kata quds, nisbah ini mengesankan rasa hormat, karena materi kata itu menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam arti bahasa. Maka kata taqdis berarti menyucikan Allah. Taqdis sama dengan tathiir, dan taqddasa sama dengan tatahhara (suci, bersih ) Allah berfirman dengan kata-kata malaikat-Nya :
`��pada hal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan diri kami karena Engkau.` (al-Baqarah : 30 )
yakni membersihkan diri untuk-Mu.
Hadis kudsi ialah hadis yang oleh Nabi saw, disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka rasul menjadi perawi kalam Allah ini dari lafal Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah SAW dengan disandarkan kepada Allah, dengan mengatakan :
`Rasulullah SAW mengataklan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`, atau ia mengatakan:
`Rasulullah SAW mengatakan : Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah Ta`ala.`
Contoh yang pertama :
`Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulullah SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla, tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafakah, baik di waktu siang atau malam hari�.`
Contoh yang kedua :
`Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW berkata : ` Allah ta`ala berfriman : Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku.bila menyebut-KU didalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya didalam diri-Ku. Dan bila ia menyebut-KU dikalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya didalam kalangan orang banyak lebih dari itu�.`
3. Perbedaan Quran dengan Hadis Kudsi
Ada beberapa perbedaan antara Quran dengan hadis kudsi,yang terpenting diantaranya ialah :
a. Al-Quranul Kariam adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafalnya. Dan dengan itu pula orang arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Quran itu, atau sepuluh surah yang serupa itu, bahakan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena Quran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat.. sedang hadis kudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.
b. Al- Quranul karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: Allah ta`ala telah berfirman, sedang hadis kudsi-seperrti telah dijelaskan diatas-terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah; sehingga nisbah hadis kudsi kepada Allah itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Maka dikatakan : `Allah telah berfirman atau Allah berfirman.` Dan terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW tetapi nisbahnya adalah nisbah kabar, karena Nabi yang menyampaikan hadis itu dari Allah, maka dikatakan : Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannaya.
c. Seluruh isi Quran dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang hadis-hadis kudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Ada kalanya hadis kudsi itu sahih, terkadang hasan ( baik ) dan terkadang pula da`if (lemah).
d. Al-Quranaul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadis kudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW . hadis kudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Leh sebab itu, menurut sebagian besar ahli hadis diperbolehkan meriwayatkan hadis kudsi dengan maknanya saja.
e. Membaca Al-Quranul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca didalam salat. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`(al-Muzammil : 20).
Nilai ibadah membaca Quran juga terdapat dalam hadis :
`Barang siapa membaca satu huruf dari Quran, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf`.
Sedang hadis kudsi tidak disuruhnya membaca didalam salat. Alllah memberikan pahala membaca hadis kudsi secara umum saja. Maka membaca hadis kudsi tidak akan memperoleh pahala sperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca Quran bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.
4. Perbedaan Hadis Kudsi dan Hadis Nabawi
Hadis nabawi itu ada dua :
a. Tauqifi.
Yang bersifat tauqifi yaitu : yang kandungannya diterima oleh Rasulullah SAW dari wahyu, lalu ia menjelaskan kepada manusia dengan kata-katanya sendiri. Bagian ini, meskipun kandungannya dinisbahkan kepada Allah, tetapi dari segi pembicaraan lebih dinisbahkan kepada Rasulullah SAW , sebab kata-kata itu dinisbahkan kepada yang mengatakannya, meskipun didalamnya terdapat makna yang diterima dari pihak lain.
b. Taufiqi.
Yang bersifat taufiqi yaitu : yang disimpulkan oleh Rasulullah SAW menurut pemahamannya terhadap Quran, kerena ia mempunyai tugas menjelaskan Quran atau menyimpulkannya dengan pertimbangan dan ijtihad. Bagian kesimpulannyang bersifat ijtihad ini, diperkuat oleh wahyu jika ia benar, dan jika terdapat kesalahan didalamnya, maka turunlah wahyu yang membetulkannya. Bagian ini bukanlah kalam Allah secara pasti.
Dari sini jelaslah bahwa hadis nabawi dengan kedua bagiannya yang tauqifi dan taufiqi dengan ijtihad yang diakui oleh wahyu itu bersumber dari wahyu. Da inilah makna dari firman Allah tentang Rasul kita Muhammad saw. :
`Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan`.(an-najm :3-4).
Hadis kudsi itu maknanya dari Allah, ia disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui salah satu car penurunan wahyu, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW , inilah pendapat yang kuat. Dinisbahkannya hadis kudsi kepada Allah SWT adalah nisbah mengenai isinya, bukan nisbah mengenai lafalnya. Sebab seandainya hadis kudsi itu lafalnya juga dari Allah, maka tidak ada lagi perbedaan antara hadis kudsi dengan Quran; dan tentu pula gaya bahsanya menuntut untuk ditantang, serta membacanya pun diangggap ibadah.
Mengenai hal ini timbul dua macam ketaskaan ( syubhah ) :
Pertama: bahwa hadis nabawi ini juga wahyu secara maknawi, yang lafalnya dari Rasulullah SAW , tetapi mengapa hadis nabawi tidak kita namakan juga hadsi kudsi ? jawabnya ialah bahwa kita merasa pasti tentang hadis kudsi bahwa ia diturunkan maknanya dari Allah karena adanya nash syara` yang menisbahkannya kepada Allah, yaitu kata-kata Rasulullah SAW ; Allah Ta`ala telah berfirman, atau Allah Ta`ala berfirman. Itulah sebabnya kita namakan hadis itu adalah hadis qudsi. Hal ini berbeda dengan hadis-hadis nabawi, kerena hadis nabawi tidak memuat nash tentang hal seperti ini. Disamping itu bisa jadi isinya diberitahukan ( kepada Nabi ) melalui wahyu ( yakni secara tauqifi ) namun mungkin juga disimpulkan melalui ijtihad ( yaitu secara taufiqi ), dan oleh sebab itu kita namakan masing-masing dengan nabawi sebagai terminal nama yang pasti. Seandainya kita mempunyai bukti untuk membedakan mana wahyu tauqifi, tentulah hadis nabawi itu kita namakan pula hadis kudsi.
Kedua : Bahwa apa bila lafal hadis kudsi itu dari Rasulullah SAW maka dengan alasan apakah hadis itu dinisbahkan kepada Allah melalui kata-kata Nabi ` Allah Ta`ala telah berfirman` atau ` Allah Ta`ala berfirman`?.
Jawabnya ialah bahwa hal yang demikian ini biasa terjadi dalam bahasa arab, yang menisbahkan kalam berdasarkan kandungannya bukan berdasar lafalnya. Misalnya ketika kita mengubah sebait syair menjadi prosa, kita katakan ` sipenyair berkata demikian` . juga ketika kita menceritakan apa yang kita dengar dari seseorang kita pun mengatakan `si fulan berkata demikian` . begitu juga Quran menceritakan tentang Nabi Musa, Fir`aun dan sebagainya isi kata-kata mereka dengan lafal mereka dan dengan gaya bahasa yang bukan pula gaya bahasa mereka, tetapi dinisbatkan kepada mereka.
`Dan ketika Tuhanmu menyeru Musa : `Datangilah kaum yang zalim itu, kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?` Berkata Musa: `Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah kepada Harun . Dan aku berdosa terhadap mereka , maka aku takut mereka akan membunuhku`.Maka datanglah kamu berdua kepada Fir`aun dan katakanlah olehmu: `Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil beserta kami`.Fir`aun menjawab: `Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu . dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. Berkata Musa: `Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah kamu telah memperbudak Bani Israil`.Fir`aun bertanya: `Siapa Tuhan semesta alam itu?` Musa menjawab: `Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya , jika kamu sekalian mempercayai-Nya`.(asy-syuara` : 10-24 )

Qiraat Al-Quran Dan Para Ahlinya

Qiraat Al-Quran Dan Para Ahlinya

Qiraat adalah jamak dari qira�ah, yang berarti �bacaan�, dan ia adalah masdar (verbal noun) dari qara�a. Menurut istilah ilmiah, qiraat adalah salah satu mazhab (aliran) pengucapan Qur�an yang dipilih oleh salah seorang imam ahli qiaraat sebagai suatu mazhab yang berbeda dengan mazhab lainnya.
Qiraat ini ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah. Periode qurra (ahli atau imam qiraat) yang mengajarkan bacaan Qur�an kepada orang-orang menurut cara mereka-mereka masing adalah dengan berpedoman kepada masa para sahabat. Diantara para sahabat yang terkenal mengajar qiraat ialah Ubai ra, Ali bin Abi Thalib ra, Zaid ra, Ibn Masud ra dan Abu Musa al Ansary ra serta masih banyak lagi yang lainnya. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan tabi`in di berbagai negeri belajar qiraat. Mereka itu semuanya bersandar kepada Rasulullah.
Az Zahabi menyebutkan di dalam kitab Tabaqatul Qurra, bahwa sahabat yang terkenal sebagai guru dan ahli qiraat Qur�an ada tujuh orang, yaitu :
1. Usman bin Al-`Affan ra
2. Ali bin Abi Thalib ra
3. Ubai bin Kaab ra
4. Zaid bin Haritsah ra
5. Abu Darda ra
6. Abu Musa al Anshary ra.
7. Ibnu Mas`ud ra.
Lebih lanjut ia menjelaskan, segolongan besar sahabat mempelajari qiraat dari Ubai, diantaranya Abu Hurairah, Ibn Abbas, dan Abdullah bin Sa`id, Ibn Abbas belajar pula kepada Zaid. Kemudian kepada para sahabat itulah sejumlah besar tabi�in disetiap negri mempelajari qiraat.
Diantara para tabi�in tersebut ada yang tinggal di Madinah yaitu Ibnul Musayyab, �Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman dan �Ata�- keduanya putra Yasar-, Muaz bin Haris yang terkenal dengan Muaz al Qari�, Abdurrahman bin Hurmuz al A�raj, Ibn Syihab az Zuhri, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam.
Yang tinggal di Mekkah ialah : Ubaid bin Umar, �Ata�, bin Abu Rabah, Tawus, Mujahid, Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.
Tabi�in yang tinggal di Kuffah ialah : Alqamah, al Aswad, Masruq, Ubaidah, Amr, bin Syurahbil, al Haris bin Qais, Amr bin Maimun, Abu abdurahman as Sulami, Said bin Jubair, an Nakha�i, dan as Sya�bi.
Yang tinggal di Basyrah ialah : Abu Aliyah, Abu Raja�, Nasr bin �Asim, Yahya bin Ya�mar, al Hasan, Ibn Sirin dan Qatadah.
Sedang yang tinggal di Syam ialah : al Mughirah bin Abu Syihab al Makhzumi-murid Usman, dan Khalifah bin Sa�d- sahabat Abu Darda�.
Pada permulaan abad pertama Hijrah dimasa tabi�in, tampilah sejumlah ulama yang membulatkan tenaga dan perhatiannya terhadap masalah qiraat secara sempurna karena keadaan menuntut demikian, dan menjadikannya sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana mereka lakukan terhadap ilmu-ilmu syariat yang lainnya, sehingga mereka menjadi imam dan ahli qiraat yang diikuti dan dipercaya. Bahkan dari generasi ini dan generasi sesudahnya terdapat tujuh orang terkenal sebagai imam yang kepada mereka dihubungkan;ah (dinisbahkanlah) qiraat hingga sekarang ini.
Para qiraat tersebut di madinah ialah : Abu Ja�far Yazid bin Qa�qa�, kemudian Nafi� bin Abdurrahman, ahli qiraat di mekkah ialah : Abdullah bin Kasir dan Humaid bin Qais al A�raj. Di Kufah ialah : Asim bin Abu Najud, Sulaiman al A�masy, kemudian Hamzah dan kemudian al Kisa�i. Di Basrah ialah : Abdullah bin Abu Ishaq,, Isa Ibn Amr, , Abu A�mar �Ala�, Asim al Jahdari dan Ya;kub al Hadrami. Dan di Syam ialah : Abdullah bin Amir, Ismail bin Abdullah bin Muhajir, kemudian Yahya bin Haris dan kemudian Syuraih bin Yazid al Hadrami.
Ketujuh orang yang terkenal sebagai ahli qiraat diseluruh dunia diantara nama-nama tersebut ialah Abu �Amr, Nafi� , Asim, Hamzah, al Kisa�I, Ibn �Amir dan Ibn Kasir.�
Qiraat-qiraat itu bukanlah tujuh huruf- sebagaimana yang dimaksdkan dalam hadis pada bab diatas- menurut pendapat yang paling kuat. Meskipun kesamaan bilangan diantara keduanya mengesankan demikian. Sebab qiraat-qiraat hanya merupakan madzhab bacaan qur�an para imam, yang secara ijma� masih tetap exis dan digunakan umat hingga kini. Dan sumbernya adalah perbedaan langgam, cara pengucapan dan sifatnya, seperti : tafkhim, tarqiq, imalah, idgham, izhar, isyba�, madd, qasr, tasydid, takhfif dan lain sebagainya. Namun semuanya itu hanya berkisar dalam satu huruf, yaitu huruf quraisy.
Sedangkan maksud tujuh huruf adalah berbeda dengan qiraat, seperti yangvtelah kita jelaskan. Dan persoalannya sudah berakhir sampai pada pembacaan terakhir ( al �Urdah al �Akhirah), yaitu ketika wilayah expansi bertambah luas dan ikhtilaf tentang huruf-huruf itu menjadi kekhawatiran bagi timbulnya fitnah dan kerusakan, sehingga para sahabata pada masa Usman terdorong untuk mempersatukan umat islam pada satu huruf, yaitu huruf quraisy, dan menuliskan mushaf-mushaf dengan huruf tersebut sebagaimana telah kita jelaskan.
Popularitas Tujuh Imam Qiraat
Imam atau guru qiraat itu cukup banyak jumlahnya, namun yang populer hanya tujuh orang. Qiraat tujuh orang imam ini adalah qiraat yang telah disepakati. Akan tetapi disamping itu para ulama memilih pula tiga orang imam qiraat yang qiraatnya dipandang sahih dan mutawatir. Mereka adalah Abu Ja�far Yazin bin Qa�qa� al Madani, Ya�kub Bin Ishaq al Hadrami dan Khalaf bin Hisyam. Ketiga imam terakhir ini dan tujuh imam diatas dikenal dengan imam qiraat. Dan qiraat diluar yang sepuluh ini dipandang qiraat syaz. Seperti qiraat Yazidi, Hasan, A�masy, Ibn Jubair dan lain-lain. Meskipun demikian, bukan berarti tidak satupun dari qiraat sepuluh dan bahkan qiraat tujuh yang masyhur itu terlepas dari kesyazan, sebab didalam qiraat-qiraat tersebut masih terdapat juga beberapa kesyazan sekalipun hanya sedikit.
Pemilihan qurra (ahli qiraat) yang tujuh itu dilakukan oleh para ulama terkemudian pada abad ketiga hijri. Bila tidak demikian maka sebenarnya para imam yang dapat mempertanggungjawabkan ilmunya itu cukup banyak jumlahnya. Pada abad permulaan kedua umat islam di Basrah memilih qiraat Ibn �Amr dan Ya�kub; di Kufah orang-orang memilih qiraat Hamzah dan �Asim; di Syam mereka memilih qiraat Ibn �Amir; di mekkah mereka meilih qiraat Ibn Kasir, dan di madinag memilih qiraat Nafi�. Mereka itulah tujuh orang qari, tetapi pada permulaan abad ke tiga Abu Bakar bin Mujahid menetapkan nama al Kisa�I dan membuang nama Ya�kub dari kelompok tujuh huruf tersebut.
Berkata as Suyuti : �Orang pertama yang menyusun kitab tentang qiraat ialah Abu Ubaid al Qasim bin Salam, kemudian Ahmad bin Jubair al Kufi, kemudian Ismail bin Ishaq al Maliki, murid Qalun, kemudian Abu Ja�far bin Jarir at Tabari, kemudian Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Umar ad Dajuni. Kemudian Abu Bakar bin Mujahid. Kemudian pada masa Ibn Mujahid ini dan sesudahnya, tampulah para ahli yang menyusun buku mengenai berbagai macam qiraat, baik yang mencakup qiraat maupun tidak, secara singkat maupun panjang lebar. Imam-imam qiraat itu sebenarnya tidak terhitung jumlahnya. Hafizul islam Abu Abdullah Az Zahabi telah mentusun tabaqat (sejarah hidup) mereka, kemudian diikuti pula oleh Hafizul Qurra Abul Khair bin Jaziri.�
Imam Ibn Jaziri didalam an Nasyr mengemukakan, Imam pertama yang dipandang telah menghimpun bermacam-macam qiraat dalam satu kitab adalah Abu Ubaid al Qasim Ibn Salam. Menurut perhitunganku, ia mengumpulkan dua puluh lima orang ulama ahli qiraat selain yang tujuh itu. Ia wafat pada 224. kemudian al Jaziri mengatakan pula, sesudah itu, Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Abbas bin Mujahid merupakan orang pertama yang membatasi hanya pada qiraat tujuh imam saja. Ia wafat pada 324. selanjutnya ia mengatakan, kami mendapat berita dari sebagian orang yang tidak berpengetahuan bahwa qiraat yang benar ialah qiraat-qiraat yang berasal dari tujuh imam. Bahkan dalam pandangan sebagian besar orang yang jahil, qiraat-qiraat yang benar itu hanyalah yang terdapat didalam asy- Syatibiyyah dan at-Taisir.
Sebab-sebab mengapa hanya tujuh imam qiraat saja yang masyhur pada hal masih banyak imam-imam qirat lain yang lebih tinggi kedudukannya atau setingkat dengan mereka dan jumlahnya pun lebih dari tujuh, ialah karena sangat banyaknya periwayat qiraat mereka. Ketika semangat dan perhatian para generasi sesudahnya menurun, mereka lalu berupaya untuk membatasi hanya pada qiraat yang sesuai dengan khat mushaf serta dapat mempermudah penghafalan dan pen-dabi-tan qiraatnya. Langkah yang ditempuh generasi penerus ini ialah memperhatikan siapa diantara ahli qiraat itu yang lebih populer kredibilitas dan amanahnya, lamanya waktu dalam menekuni qiraat adan adanya kesepakatn untuk diambil serta dikembangkan qiraatnya. Kemudian dari setiap negeri dipilihlah seorang imam. Tetapi tanpa mengabaikan penukilan qiraat imam diluar yang tujuh orang itu, seperti qiraat Ya�kub al Hadrami, Abu Ja�far al Madani, Syaibah bin Nassa� dsb.
Para penulis kitab tentang qiraat telah memberikan andil besar dalam membatasi qiraat pada jumlah tertentu, sebab pembatasannya pada sejumlah imam qiraat tertentu tersebut, merupakan faktor bagi popularitas mereka padahal masih banyak qari-qari lain yang lebih tinggi kedudukannya dari mereka. Dan ini menyebabkan orang menyangka bahwa para qari� yang qiraat-qiraatnya dituliskan itulah imam-imam qiraat terpercaya. Ibn Jabr al Makki telah menyusun sebuah kitab tentang qiraat, yang hanya membatasi hanya pada lima orang qari saja. Ia memilih seorang Imam dari setiap negeri, dengan pertimbangan bahwa mushaf yang dikirimkan Usman kenegeri-negeri itu hanya lima buah. Sementara itu seebuah pendapat mengatakan bahwa Usman mengirimkan tujuh buah mushaf; lima buah seperti ditulis oleh al makki ditambah satu mushaf ke Yaman dan satu mushaf lagi ke Bahrain. Akan tetapi kedua mushaf terakhir ini tidak terdengar kabar beritanya. Kemudian Ibn Mujahid dan lainnya berusaha untuk menjaga bilangan mushaf yang disebarkan Usman tersebut. Maka dari mushaf Bahrain dan mushaf Bahrain itu mereka mencantumkan pula ahli qiraatnya untuk menyempurnakan jumlah bilangan (tujuh). Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa berpegang pada qiraat tujuh ahli qiraat itu, tanpa yang lain, tidaklah berdasarkan pada asar maupun sunah.sebab jumlah itu hanyalah hasil usaha pengumpulan oleh beberapa orang terkemudian, yang kemudian kumpulan tersebut tersebar luas. Seandainya Ibn Mujahid menuliskan pula qari itupun akan terkenal pula. Abu Bakar Ibnul Arabi berkata : Penentuan ketujuh orang qari ini tidak dimaksudkan behwa qiraat yang boleh dibaca itu hanya terbatas tujuh sehingga qiraat yang lainnya tidak boleh dipakai, seperti qiraat Abu Ja�fa, Syaibah, al A�masyi dll. Karena para qari ini pun kedudukannya sama dengan tujuh atau bahkan lebih tinggi,� pendapat ini dikatakan pula oleh banyak ahli qiraat lainnya.
Abu Hayyan berkata : � Dalam kitab karya Ibn Mujahid dan orang yang mengikutinyasebenarnya tidak terdapat qiraat yang masyhur, kecuali sedikit sekali. Sebagai misal Abu Amr Ibnul A�la, ia terkenal mempunyai tujuh belas perawi-kemudian disebutkanlah nama-nama mereka itu. Tetapi dalam kitab Ibn Mujahid hanya disebutkan al Yazidi, dan dari al Yazidi inipun diriwayatkan oleh sepuluh orang perawi. Maka bagaimana ia dapat merasa cukup dengan hanya menyebutkan as Susi dan ad Dauri, padahal keduanya tidak mempunyai kelebihan apa-apa dari yang lain ? sedang para perawi itu sama dalam tingkat ke-dabit-an, keahlian dan kesetaraannya untuk diambil.� Dan katanya pula:� aku tidak mengetahui alasan sikap Ibn Mujahid ini selain dari kurangnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya,�
Macam-macam Qiraat, Hukum dan Kaidahnya
Sebagian ulama menyebutkan bahwa qiraat itu ada yang mutawatir, ahad dan syaz. Menurt mereka, qiraat mutawatir ialah qiraat yang tujuh, sedang qiraat ahad ialah tiga qiraat yang menggenapkannya menjadi sepuluh qiraat ditambah qiraat pra sahabat, dan selain itu adalah qiraat syaz. Dikatakan, bahwa qiraat yang sepuluh adalah dalam hal ini baik dalam qiraat yang termasuk qiraat tujuh, qiraat sepuluh maupun lainnya adalah dabit atau kaidah tentang qiraat yang sahih. Abu Syamah dalam al Mursyidul Wajiz mengungkapkan, tidak sepantasnya kita tertipu oleh setiap qiraat yang disandarkan kepada salah satu ahli qiraat tujuh dengan menyatakannya sebagai qiraat yang sahih (benar) dan seperti itulah qiraat tersebut diturunkan kecuali bila qiraat itu telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam dabit. Dengan begitu, maka seorang penyusun tidak seyogyanya hanya memindahkan (menukil) qiraat yang dikatakannya berasal dari seorang imam tersebut tanpa menukil qiraat dari yang lain, atau khusus hanya menukilkan qiraat dari imam tujuh orang saja. Tetapi hendaknya ia menukilkan semua qiraat berasal dari qurra lain. Cara demikian ini tidak mengeluarkan sesuatu qiraat dari kesahihannya. Sebab, yang menjadi pedoman ialah terpenuhinya sifat-sifat atau syarat-syarat , bukan siapa yang kepadanya qiraat itu dihubungkan. Hal ini karena qiraat yang dihubungkan kepada stiap qari yang tujuh atau yang lain itu, ada yang disepakati (mujma� �alaih) da ada pula yang syaz. Hanya saja karena popularitas qari yang tujuh dan banyaknya qiraat mereka yang telah disepakati kesahihannya maka jiwa merasa lebih tenteram dan cenderung menerima qiraat yang berasal darimereka melebihi qiraat yang bersumber dari qari-qari lainnya.
Menurut mereka, dabit atau kaidah qiraat yang sahih adalah sebagai berikut:
1. Kesesuaian qiraat tersebut sesuai dengan kaidah bahasa arab sekalipun dalam satu segi, baik segi itu fasih ataupun lebih fasih, sebab qiraat adalah sunah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan pada isnad, bukan ra�yu (penalaran).
2. Qiraat sesuai dengan salah satu mushaf Usmani, sekalipun hanya mendekati saja. Sebab dalam penulisan mushaf-mushaf itu para sahabat teah bersungguh-sungguh dalam membuat rasm (cara ppenulisan mushaf) sesuai dengan bermacam-macam dialek qiraat yang mereka ketahui. Misalnya mereka akan menuliskan �asshiratha� dalam ayat �ihdinassirathalmustaqim� (al Fatihah: 6) dengan shad sebagai ganti dari sin. Mereka tidak menuliskan sin yakni �assiratha�. Meskipun dalam satu segi berbeda dalam satu rasm. Namun qiraat dengan sin pun telah memenuhi atau sesuai dengan bahasa asli lafaz tersebut yang dikenal, sehingga kedua bacaan itu dianggap sebanding. Dan bacaan isymam untuk itupun dimungkinkan pula.
Yang dimaksud dengan sesuai yang hanya sekadar mendekati saja (muwafaqah ihtimaliyah) adalah seperti contoh diatas. Misal yang lainnya seperti �Maalikiyaumiddin� (al Fatihah: 4), lafal �Maliki� dituliskan dalam semua mushaf dengan membuang �Alif�, sehingga dibaca �ãÇ ááÆ � sesuai dengan rasm secara tahqiq (jelas) dan dibaca pula �Maliki� sesuai dengan rasm secara ihtimal (kemungkinan). Dan demikian pula contoh yang lain.
Contoh qiraat-qiraat yang berbeda tetapi sesuai dengan rasm secara tahqiq adalah �Ta�lamuun�, dengan �Ta� dan �Ya�. Juga �Yaghfirlakum� dengan �Ya� dan �nun� dan lain-lain. Kekosongan rasm dari titik dan dan syakal baik ketika dihilangkan maupun ketika ditetapkan merupakan bukti betapa tingginya para sahabat dalam ilmu ejaan khususnya dan dalam pemahaman yang cemerlang terhadap kajian setiap ilmu.
Dalam menentukan qiraat yang sahih tidak disyaratkan qiraat itu harus sesuai dengan semua mushaf, cukup dengan apa yang tedapat dalam sebagian mushaf saja. Misalnya qiraat Ibn �Amr �Wabizzuburi wabalkitabi� (Ali-�Imran: 184) dengan menetapkan �Ba� pada kedua lafaz itu, qiraat ini dipandang sahih karena yang demikian ditetapkan pula dalam mushaf Syami.
3.Qiraat itu harus sahih isnadnya, sebab qiraat merupakan sunah yang diikuti yang didasarkan pada keselamatan penukilan dan kesahihan riwayat. Sering kali ahli bahasa arab mengingkari sesuatu qiraat hanya karena qiraat itu tidak sejalan dengan aturan atau lemah menurut kaidah bahasa, namun demikian para imam qiraat tidak menanggung beban apapun atas keingkaran mereka itu.
Itulah syarat-syarat yang ditentukan dalan dabit bagi qiraat yang sahih. Apa bila ketiga syarat ini yang terpenuhi, yaitu: 1) sesuai dengan bahasa arab 2) sesuai degan rasm mushaf dan 3) sahih sanadnya, maka qiraaat tersebut adalah qiraat yang sahih. Dan bila salah satu syarat atau lebih tidak terpenuhi maka qiraat itu dinamakan qiraaat yang lemah, syaz atau batil.
Yang mengherankan ialah bahwa sebagian ahli nahwu masih juga menyalahkan qiraat sahih yang telah memenuhi ayarat-syarat tersebut, hanya semata-mata qiraat tersebut bertentangan dengan kaidah ilmu nahwu yang mereka jadikan tolok ukur bagi kesahihan bahasa. Seharusnya qiraat yang sahih itu dijadikan sebagai hakim atau pedoman bagi kaidah-kaidah nahwu dan kebahasaan, bukan sebaliknya, menjadikan khaidah ini sebagai pedoman bagi qur�an. Hal ini karena qur�an adalah sumber pertama dan pokok bagi pengambilan kaidah-kaidah bahasa, sedang qur�an sendiri didasarkan pada kesahihan, penukilan dan riwayat yang menjadi landasan para Qari; bagaimanapun juga adanya. Ibn Jaziri ketika memberikan komentar terhadap syarat pertama kaidah qiraaat yang sahih ini menegaskan, kata-kata dalam kaidah diatas meskipun hanya dalam satu segi, yang kami maksudkan adalah satu segi dari ilmu nahwu, baik segi itu fasih maupun lebih fasih, disepakati maupun diperselisihkan. Sedikit berlawanan dengan kaidah nahwu tidaklah mengurangi kesahihan, sesuatu qiraat jika qiraat tersebut telah tersebar luas, populer dan diterima para imam berdasarkan isnad yang sahih, sebab hal terakhir inilah yang menjadi dasar terpenting dan sendi paling utama. Memang, tidak sedikit qiraat yang diingkari oleh ahli nahwu atau sebagian besar mereka, tetapi keingkaran mereka iti tidak perlu dihiraukan. Seperti mensukunkan �Baari� kum� dan �Ya� murkum� mengkhafadkan �Walarham� , menasabkan �Liyujzi ya qauman� dan memisahkan antara mudhaf dengan mudhaf ilaih, seperti dalam ayat �Qatlu aula dahum syuraka ihim� dan sebagainya;
Berkata Abu �Amr ad Dani, para imam qiraat tidak memperlakukan sedikitpun huruf-huruf qur�an menurut aturan yang paling populer dalam dunia kebahasaan dan paling sesuai dengan kaidah bahasa arab, tetapi menurut yang paling mantap (tegas) dan sahih dalam riwayat dan penukilan. Karena itu bila riwayat itu mentap maka, aturan kebahasaan dan popularitas bahasa tidak bisa menolak atau mengingkarinya, sebab qiraat adalah sunah yang harus diikuti dan wajib diterima seutuhnya serta dijadikan sumber acuan. Zaid bin Sabit berkata� qiraat adalah sunah muttaba�ah, sunah yang harus diikuti.
Baihaqi menjelaskan maksud perkataan tersebut ialah bahwa mengikuti orang-orang sebelum kita dalam hal qiraat qur�an merupakan sunah atau tradisi yang harus diikuti, tidak boleh menyalahi mushaf dan merupakan imam dan tidak pula menyalahi qiraat-qiraat yang masyhur, meskipun tidak berlaku dalam bahasa arab. Sebagian utama menyimpulkan macam-macam qiraat menjadi enam macam :
1. Mutawatir ; yaitu qiraat yang dinukil oleh sejumlah besar periwayat yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, dari sejumlah orang yang seperti itu dan sanadnya bersambung hingga penghabisannya, yakni Rasulullah. Dan inilah yang umum dalam hal qiraat.
2. Masyhur, yaitu qiraat yang sahih sanadnya, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasm Usmani serta terkenal pula dikalangan para ahli qiraat, sehingga karenanya tidak dikategorikan qiraat yang salah atau syaz. Para ulama menyebutkan bahwa qiraat semacam ini termasuk qiraat yang dapat diapakai atau digunakan.
3. Ahad, yaitu qiraat yang sahih sanadnya tetapi menyalahi rasm Usmani, menyalahi kaidah bahasa arab atau tidaj terkenal seperti halnya qiraat masyhur yang telah disebutkan. Qiraat macam ini tidak termasuk qiraat yang dapat diamalkan bacaannya. Diantara contohnya ialah seperti yang diriwayatkan dari Abu Bakrah, bahwa Nabi membaca �Mutta kiina �ala rafa rifa khudrin wa aba qariya hisanin� (ar Rahman : 76) dan yang diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ia membaca �Laqad ja akum rasulun min anfusikum� (at Taubah :128), dengan membaca fathah huruf �Fa�.
4. Syaz, yaitu qiraat yang tidak sahih sanadnya, sepeti qiraat arab �Malaka yaumad daini� (al Fatihah: 4), dengan bentuk fi�l madi dan menasabkan �Yauma�.
5. Maudu,� yaitu qiraat yang tidak ada asalnya.
6. Mudraj, yaitu yang ditambahkan kedalam qiraat sebagai penafsiran, seerti qiraat Ibn Abbas; � Laisa �alaikum junahun an tabtaghu fadlan min rab bakum fi mawasimil hajja faidzak fad tum min �arafatin � (al Baqarah :198). . kalimat �fi mawasimil hajja� adalah penafsiran yang disisipkan kedalam ayat.
Keenam macam terakhir ini tidak boleh diamalkan bacaannya. Jumhur berpendapat bahwa qiraat yang tujuh itu mutawatir. Dan yang tidak mutawatir, seperti Masyhur, tidak boleh dibaca didalam maupun diluar salat.
An-Nawawi dalam kitab beliau Al-Majmu` Syarh Al Muhazzab berkata: �qiraat yang syaz tidak boleh dibaca baik di dalam maupun diluar salat, karena ia bukan qur�an. Qur�an yang ditetapkan dengan sanad yang mutawatir, sedang qiraat yang syaz tidak mutawatir. Orang yang berpendapat selain ini adalah salah satu jahil. Seandainya seseorang menyalahi pendapat ini dan membaca dengan qiraat yang syaz, maka ia harus diingkari baik bacaab itu didalam maupun diluar salat. Para fuqaha bagdad sepakat bahwa orang yang membaca qur�an dengan qiraat yang syaz harus disusruh bertobat. Ibn Abdil Barr menukilkan �ijma� kaum muslimin bahwa qur�an tidak boleh dibaca dengan qiraat yang syaz dan juga tidak syah salat di belakang orang yang membaca qur�an dengan qiraat-qiraat yang syaz itu.��
1. Menunjukkan betapa terjaga dan terpeliharanya kitab Allah dari perubahan dan penyimpangan pada hal kitab ini mempunyai sekian banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
2. Meringankan umat islam dan memudahkan mereka untuk membaca qur�an.
3. Bukti kemukjizatan qur�an dari segi kepadatan makna (I�jaz)nya, karena setiap qiraat menunjukkan sesuatu hukum syara� tertentu tanpa perlu pergulangan lafaz. Misalnya ayat �Wam sahu bi ru�u sikum wa arjulikum ila ka�baini� (al Midah:6) dengan m,enasbkan dan mengkhafadkan kata �Waarjulikum�. Dalam qiraat yang menasabkan dalam penjelasan qiraat dengan jar (khafad) menjelaskan hukum dengan alasan lafaz itu di �athafkan kepada ma;mul fi�il masaha �Wa am sahu biru�usikum waarjulikum� dengan demikian, maka kita dapat menyimpulkan dua hukum tanpa berpanjang lebar kata. Inilah sebagian makna kemukjizatan qur�an dari segi kepadatan maknanya.
4. Penjelasan terhadap apa yang mungkin masih global dalam qiraat lain.misalnya, lafaz �yathhurna� dalam ayat �Wala taq rabu hunna hatta yathhurna� (al Baqarah: 222), yang dibaca dengan tasydid, �yaththharna� dan takhfif �yath hurna�.
Qiraat dengan tasydid menjelaskan makna qiraat dengan tahfif, sesuai dengan pendapat jumhur ulama. Karena itu isteri yang haid tidak halal dicampuri oleh suaminya. Karena telah suci dari haid, yaitu terhentinya darah haid, sebelum isteri tersebut bersuci dari air.
Dan qiraat �Fam dzu ila dzikrillah� menjelaskan arti yang dimaksud qiraat �Fas aw� yaitu pergi, bukan berjalan cepat- dalam firmanNya : �Ya ayyuhall ladzina amanu idza nu diya ti lissalati min yaumil jum�ati fas aw ila dzikrillah� ( al Maidah: 38) sebagai ganti kata �Aidiya huma� juga menjelaskan tangan mana yang harus dipotong.
Demikian pula qiraat �Wallahu akhun aw ukhtun min umma falikulla wahidin min humas sudusu� (an Nisa; 12) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan saudara dalam ayat tersebut adalah saudara laki-laki seibu. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa dengan adanya perbedaan qiraat, maka timbulah perbedaan dalam hukumnya.
Berkata Abu Ubaidah dalam fada�ilul qur�an, : maksud qiraat yang syaz ialah ; menafsirkan qiraat yang masyhur dan menjelaskan makna-maknanya. Misalnya qiraat Aisyah dan Hafsah �Washalatil wustha shalatil ashri�(al Bqarah:238). Qiraat Ibn Maus�ud � Faqtha�u aimana huma� (al Maidah:38), dan qiraat Jabir �Fainnallaha min ba�di ikri hinna lahunna ghafururrahim (an Nur: 33) katanya pula : huruf-huruf (qiraat) ini dan yang serupa dengannya telah menjadi penafsiran qur�an.
Qiraat- penafsiran- ini adalah diriwayatkan dari tabi�in dan kemudian dianggap baik. Maka bagaimana pula bila yang demikian itu diriwayatkan dari tokoh-tokoh sahabat dan bahkan kemudian menjadi bagian dari suau qiraat ? tentu hal ini lebih baik dan labih kuat dari pada sekedar tafsir. Setidak-tidaknya, manfaat yang dapat dipetik dari huruf-huruf ini ialah pengetahuan tentang ta�wil yang benar (sahih).
Ketujuh imam qiraat yang masyhur dan disebutkan secara khusus oleh Abu Bakar bin Mujahid karena menurutnya mereka adalah ulama yang terkenal hafalan, ketelitian dan cukup lama menekuni dunia qiraat serta telah disepakati untuk diambil dan dikembangkan qiraatnnya adalah :
1. Abu �Amirbin �Ala
Beliau seorang guru besar para perawi. Nama lengkapnya adalah Zabban bin �Ala bin �Amr Al Mazini Al Basri. Ada yang mengataklan bahwa namanya adalah Yahya. Juga dikatakan bahwa nama aslinya adalah Kunyah-nya itu. ia wafat di Kufah 154 H. dan dua orang perawinya adalah ad Dauri dan as Susi.
Ad-Dauri adalah Abu Umar Hafs bin Umar bin Abdul Aziz adDauri anNahwi. Ad Dauri nama tempat di Bagdad. Ia wafat pada 264 H.
As-Susi adalah Abu Syu�aib Salih bin Ziyad bin Abdullah asSusi. Ia wafat pada 261 H.
2. Ibn Kasir.
Nama lengkapnya Abdullah bin Kasir al Makki. Dia termasuk seorang tabi�in dan wafat dimekkah tahun 120 H. dua orang perawinya ialah al Basyi dan qunbul.
Al Bazi adalah Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Abu Baza, muadzin di mekkah dia diberi kunyah Abu Hasan. Dan wafat di mekkah pada 250 H.
Sedang Qunbul adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Khalid bin Said al Makki al Makhzumi, ia diberi kunyah Abu Amr dan diberi julukan (panggilan) Qunbul. Dikatakan bahwa ahlul bait di Mekah ada yang dikenal dengan nama Qanabailah. Ia wafat di mekkah pada 291 H.
3. Nafi� al Madani.
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwain Nafi� bin Abdrrahman bin Abu Nua�im al Laisi, berasal dari sifahan, dan wafat di madinah pada 169 H. Dua orang perawinya ialah Qalun dan Warasy.
Qalun ialah Isa bin Munya al Madani. Ia adalah seorang guru bahasa arab yang mempunyai kunyah Abu Musa dan mempunyai julukan Qalun. Diriwayatkan bahwa Nafi� memberinya nama panggilan Qalun karena keindahan suaranya. Sebab kata Qalun dalam bahasa rumawi berarti baik. Ia wafat dimedinah pada 220 H.
Sedang Warasy ialah �Usman bin Said al Misry. Ia diberi kunyah Abu Said dan diberi julukan Warasy karena teramat putihnya. Ia wafat di Mesir 198 H.
4. Ibn Amir asy Syami.
Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Amir al Yahsubi, seorang qadi (hakim) didamaskus pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik. Nama panggilanya adalah Abu Imran, ia termasuk seorang tabi�in. wafat didamaskus pada 118 H. Dua orang perawinya ialah Hisyam dan Ibn Zakwan.
Hisyam ialah Hisyam bin Imar bin Nusair, qadi Damaskus. Ia diberi kunyah Abul Walid. Dan wafat pada 245 H.
Sedang Ibn Zakwan adalah Abdullah bin Ahmad bin Basir bin Zakwan al Qurasyi ad Dimasyqi. Ia diberi kunyah Abu Amr. Dilahirkan pada 173 H. dan wafat di Damaskus pada 242 H.
5. `Asim al Kufi.
Ia adalah Asim bin Abu Najud, dan dinamakan pula Abu Bahdalah, Abu Bakar. Ia termasuk seorang tabi�in, dan wafat di kufah pada 128 H. dua orang perawinya ialah Syu�bah dan Hafs.
Syu�bah ialah Abu Bakar Syu�bah bin Abbas bin Salim al Kufi. Wafat 193 H.
Sedang Hafs adalah Hafs bin Sulaiman bin Mughirah al Bazzaz al Kufi. Nama pangilannya adalah Abu Amr, ia adalah orang terpercaya. Menurut Ibn Muin, ia lebih pandai qiraatnya dari pada Abu Bakar. Wafat pada 180 H.
6. Hamzah AlKufi.
Ia adalah Hamzah bin Habib bin Imarah Az Zayyat al Fardi at Taimi. Ia diberi kunyah Abu Imarah. Dan wafat di Halwan pada masa pemerintahan bu Ja�far al Mansyur tahun 156 H. Dua orang perawinya ialah Khalaf dan Khalad.
Khalaf ialah Khalaf bin Hisyam al Bazzaz. Ia diberi kunyah Abu Muhhamad. Wafat dibagdad 229 H. Sedang Khalad adalah Khalad bin Walid,dn dikatakan pula Ibn Khalid as Sairafi al Kufi. Ia diberi kunyah Abu �Isa, wafat 220 H.
7. Al Kisa�i Al-Kufi
Beliau adalah Ali bin Hamzah. Seorang imam ilmu nahwu di Kufah. Ia diberi kunyah Abul Hasan. Dinamakan dengan al Kisai karena ia memakai �kisa� disaat ihram. Ia wafat di Barnabawaih, sebuah perkampungan di Ray, dalam perjalanan menuju Khurasan bersama arRsyid pada 189 H. Dua orang perawinya adalah Abul Haris dan Hafs ad Dauri.
Abul haris adalah al Lais bin Khalid al Bagdadi, wafat pada 240 H.
Sedang Hafs ad Dauri adalah juga perawi Abu Amr yang telah disebutkan terdahulu.
Adapun ketiga imam qiraat yang menyempurnakan imam qiraat tujuh, menjadi sepuluh ialah :
8. Abu Ja�far al Madani.
Beliau adalah Yazid bin Qa�qa�, wafat dimadinah pada 128 H. dan dikatakan pula 132 H. Dua orang perawinya ialah Ibn Wardan dan Ibn Jimaz.
Ibn Wardan adalah Abul Haris Isa bin Wardan al Madani, wafat dimadinah pada awal 160 H. Sedang Ibn Jimaz adalah Abur Rabi� Sulaiman bin Muslim bin Jimas al Madani, wafat pada akhir 170 H.
9. Ya`kub al Basyri.
Beliau adalah Abu Muhhammad Ya;kub bin Ishaq bin Zaid al Hadrami, wafat di basrah pada 205 H, tetapi dikatakan pula 185 H. Dua orang perawinya ialah Ruwais dan Rauh.
Ruwais adalah Abu Abdullah Muhammad bin Mutawakkil al Lu�lu�I al Basyri. Ruwais adalah julukannya, wafat di Basrah pada 238 H.
Sedang Rauh adalah Abul Hasan Rauh bin Abdul Mu�min al Basri an Nahwi, wafat pada 234 H atau 235 H.
10. Khalaf.
Beliau adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Sa�lab al Bazar al Baghdadi, ia wafat pada 229 H, tetapi dikatakan pula bahwa tahun kewafatannya tidak diketahui. Dua orang perawinya ialah Ishaq dan Idris.
Ishaq adalah Abu Ya;kub Ishaq bin Ibrahim bin Usman al Waraq al Marwazi kemudian al Bagdadi. Wafat pada 286 H.
Sedang Idris adalah Abul Hasan Idris bin Abdul Karim al Bagdadi al Haddad. Ia wafat pada hari Idul adha 292 H.
Sebagian ulama menambahkan pula empat qiraat kepada yang sepuluh itu, keempat qiraat itu adalah :
1. Qiraat al Hasanul Basri, maula (mantan sahaya) kaum anshar dan kaum tabi�in besar yang terkenal dengan kezuhudannya.wafat pada 110 H.
2. Qiraat Muhammad bin Abdurrahman yang dikenal dengan Ibn Muhaisin, wafat pada 123 H. dan ia adalah syaikh. Guru Abu Amr.
3. Qiraat Yahya bin Mubarak al Yazidi an Nahwi dari Bagdad. Ia mengambil qiraat dari Abu Amr dan Hamzah, dan ia adalah syaikh atau guru ad Dauri dan as Susi. Wafat pada 202 H.
4. Qiraat Abul Faraj Muhammad bin Ahmad asy Syanbusy, wafat 388 H.

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabih

Perbedaan Muhkam dan Mutasyabih

Allah menurunkan Qur’an kepada hambanya agar ia menjadi pemberi peringatan bagi semesta alam. Ia menggariskan bagi mahluk Nya itu akidah yang benar dan prinsip-prinsip yang lurus dalam ayat-ayat yang tegas keterangannya dan jelas ciri-cirinya. Itu semua merupakan karuniaNya kepada umat manusia. Diman ia menetapkan bagi mereka pokok-pokok agama untuk menyelamatkan akidah mereka dan menerang kan jalan lurus yang harus mereka tempuh. Ayat-ayat tersebut adalah ummul kitab yang tidak diperselisihkan lagi pemahamannya demia menyelamatkan umar islam dan menjaga existensinya. FirmanNya :
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (Fushilat: 3)
pokok-pokok agam tersebut dibeberapa tempat dalam Qur’an terkadang datang dengan lafaz, ungkapan dan uslib (gaya bahasa) yang berbeda-beda tetapi maknanya tetap satu. Maka sebagiannya serupa dengan sebagian yang lain tetapi maknnya cocok dan serasi. Tak ada kontradiktif didalamnya. Adapun mengenai masalah cabang (furu’) agama yang bukan masalah pokok, ayat-ayatnya ada yang bersifat umum dan samar-samar (mutasyabih) yang memberikan peluang bagi para mujtahid yang handal ilmunya untuk dapat mengembalikannya kepada yang tegas maksudnya (muhkam) dengan cara mengembalikan masalah cabang kepada masalah pokok, dan yang bersifat partikal (juz’I) kepada yang bersifat universal (kulli), sementara itu beberapa hati yang memperturutkan hawa nafsu tersesat dengan ayat yang mutasyabih ini. Dengan ketegasasn dan kejelasan dalam masalah pokok dan keumuman dalam masalah cabang tersebut, maka islam menjadi agam abadi bagi umat manusia yang menjamin baginya kebaikan dan kebahagiaan didunia dan akhirat, disepanjang masa dan waktu.
Muhkam dan Mutasyabih dalam Arti Umum
Menurut bahasa muhkam berasal dari kata-kata : “hakamtud dabbata wa ahkamtu” yang artinya saya menahan binatang itu. Kata al hukm berarti memutuskan antara dua hal atau perkara. Maka hakim adalah orang yang mencegah yang dzalim dan memisahkan antara dua pihak yang bersengketa, serta memisahkan antara yang hak dan yang batil dan antara kebenaran dan kebohongan. Dikatakan : “hakamtus safiha wa ahkamtuhu” artinya saya memegang kedua tangan orang dungu, juga dikatakan : ” hakamtud dabbata wa ahkamtuha” artinya saya memasang “hikmah” pada binatang itu. Hikmag dalam ungkapan ini berarti kendali yang dipasang pada leher, ini mengingat bahwa ia berfungsi untuk mencegahnya agar tidak bergerak secara liar. Dari pengertian inilah lahir kata hikmah, karena ia dapat mencegah pemiliknya dari hal-hal yang tidak pantas.
Muhkam berarti (sesuatu) yang dikokohkan. Ihkam al kalam berarti mengokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat. Jadi kalam muhkam adalah perkataa yang seperti itu sifatnya.
Dengan pengertian inilah Allah mensifati Qur’an bahwa seluruhnya ialah muhkam sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya : Alif laam raa, suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,(hud :1)
“Alif lam ra inilah ayat-ayat Qur’an yang mengandung hikmah (Yunus: 1)
qur’an itu seluruhnya muhkam, maksudnya Qur’an itu kata-katanya kokoh, fasih (indah dan jelas) dan membedakan antara yang hak dan yang batil dan antara yang benar dan yang dusta. Inilah yang dimaksud dengan al ihkam al ‘amm atau muhkam dalam arti umum.
Mutasyabih secara bahasa berarti tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Dan syubhah ialah keadaan dimana salah satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan diantara keduanya secara konkrit maupun abstrak. Allah berfirman dalam surah ( al Baqarah: 25). Maksudnya sebagian buah-buahan dari surga itu serupa dengan sebagian yang lain dalam hal warna, tidak dalam hal rasa dan hakikat. Dikatakan pula mutasyabih adalah mutamasil (sama) dalam perkataan dan keindahan. Jadi, tasyabuh al kalam adalah kesamaan dan kesesuaian perkataan, karena sebagiannya membetulkan sebagian yang lain.
Dengan pengertian inilah Allah mensifati Qur’an bahwa seluruhnya adalah mutasyabih, sebagaiman ditegaskan dalam ayat (az Zumar: 23)
Dengan demikian, maka Qur’an itu seluruhnya mutasuabih. Maksudnya Qur’an itu sebagian kandungannya serupa dengan sebagian yang lain dalam kesempurnaan dan keindahannya, dan sebagiannya membenarkan sebagian yang lain serta sesuai pula maknanya. Inilah yang dimaksud dengan mutasyabuh al ‘amm atau mutasyabih dalam arti umum.
Masing-masing muhkam dan mutasyabih dengan pengertian secar mutlak atau umum sebagaimana diatas ini tidak menafikkan atau kontradiksi satu dengan yang lain, jadi pernyataan Qur’an itu seluruhnya ‘muhkam’ adalah dengan pengertian itqan(kokoh, indah) yakni ayat-ayatnya serupa dan sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Hal ini karena “kalam yang muhkam dan mutqan” berarti makna-maknanya sesuai sekalipun lafaz-lafaznya berbeda-beda. Jika Qur’an memerintahkan sesuatu hal maka ia tidak akan memerintahkan kebalikannya diempat lain, tetapi ia akan memerintahkannya pula atau yang serupa dengnnya. Demiakian pula dalam hal larangan dan berita. Tidak ada pertentangan dan perselisihan dalam Qur’an. FirmanNya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(an Nisa': 82)
Muhkam dan Mutasyabih dalam Arti Khusus
Dalam Qur’an etrdapat ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih dalam arti khusus, sebagaimana disinyalir dalam firman Allah : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain mu-tasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.”(Ali Imran : 7)
Mengenai pengert ian muhkam dan mutasyabih terdapat banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting diantaranya sebagai berikut : 1.
Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang mutasyabih hanya diketahui maksudnya oleh Allah sendiri. 2.
Muhkam adalah ayat yang hanya mengandung satu wajah, sedang mutasyabih mengandung banyak wajah. 3.
Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, tanpa memerluan keterangan lain, sedang mutasyabih tidak demikian. Ia memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat lain.
Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam Qur’an dengan ayat-ayat nasikh, ayat-ayat tentang halal, haramm hudud (hukuman) kewajiban, janji dan ancaman. Sementara untuk ayat-ayat mutasyabih mereka mencontohkan dengan ayat-ayat tentang asma’ Allah dan sifat-sifatNya, antara lain : dalam surah : (Taha : 5), (al Qasas: 88), ( al fath: 10), ( al An’am: 18), (al Fath: 22), (al Fath : 6), (al Bayyinah: 8), (Ali imran: 31)
Dan masih banyak lagi ayat lainnya. Termasuk didalamnya permulaan beberapa surah yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah dan hakikat hari kemudian serta ‘ilmus sa’ah.
Perbedaan Pendapat Tentang Kemungkinan Mengetahui Mutasyabih
Sebagaimana terjadi perbedaan pendapat tentang pengertian muhkam dan mutasyabih dalam arti khusus, perbedaan pendapat mengenai kemungkinan maksud ayat yang mutasyabih pun tidak dapat dihindarkan. Sumber perbedaan pendapat ioni berpangkal pada masalah waqaf dalam ayat : “Warra sikhuna fil ‘ilmi”. Apakah kedudukan lafaz ini sebagai mubtada’ yang khabarnya ialah “Yaquuluun” , dengan wawu, diperlakukan sebagai huruf ‘isti’naf (permulaan) dan waqaf dilakukan pada lafaz ” Wama ya’lamu ta’wilahu illallahu” ataukah ia ma’tuf, sedag lafaz “wayaquluna” menjadi hal yang waqafnya pada lafaz ” warra sikhuna fil ‘ilmi”.
Pendapat pertama diikuti oleh sejumlah ulama. Diantaranya Ubai bin Ka’ab, Ibn Masud, Ibn Abbas, sejumlah sahabat, tabi’in dan yang lainnya. Mereka beralasan antara lain dengnan keerangan yang diriwayatkan oleh al Hakim dalam mustadraknya, bersumber dari Ibn Abbas, bahwa ia membaca: ” wama ya’lamu ta’wilahu illallahu wayaqulur rasikhuna fil ‘ilmi amanna bihi”
Dan dengan qiraat Ibn Masud : “wainna ta’wiluhu illa ‘indallahi warrasikhuna fil ‘ilmi yaquluna amanna bihi” terhadap orang-orang yang mengikuti mutasyabih dan menyifatrinya sebagai orang-orang yang hatinya ‘condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah”
“Dari Aisyah ia berkata ; “Rasulullah SAW membaca ayat ini ‘huwalladzi anzala ‘alaikal kitab’ sampai dengan ‘ulul albab’ . kemudian berkata ‘apa bila kamu melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disinyalir oleh Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.”
Pendapat kedua (yang menyatakan ‘wawu’ sebagai huruf ‘ataf) dipilih oleh segolongan ulama lain yang dipelopori oleh Mujahid.
Diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata : ‘saya telah membacakan mushaf kepada Ibn Abbas mulai dari fatihah sampai tamat. Saya pelajari sampai paham setiap ayatnya dan aya tanyakan kepadanya tentang tafsirannya.
Pendapat ini dipilih juga oleh an Nawawi, dalam syarh muslimnya ia menyatakan : ‘inilah pendapat yang paling sahih, karena tidak mungkin Allah menyeru kepada hamba-hambaNya dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui maksudnya oleh mereka.
Kompromi antara Dua Pendapat dengan Memahami Makna Takwil
Dengan merujuk kepada makna takwil (at ta’wil) maka akan jelaslah bahwa antara kedua pendapat diatas itu tidak terdapat pertentangan, karena lafaz takwil digunakan untuk menunjukkan tiga makna;
1.Memalingkan sebuah lafaz dari makna yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada suatu dalil yang menghendakinya. Inilah pengertian takwil yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama mutaakhirin.
2.Takwil dengan makna tafsir (menerangkan, menjelaskan) yaitu pembicaraan untuk menafsirkan lafaz-lafaz agar maknanya dapat dipahami.
3.Takwil adalah hakikat (substansi) yang kepadanya pembicaraan dikembalikan. Maka takwil dari apa yang diberitakan Allah tentang zat dan sifat-sifatNya ialah hakikat zatNya itu sendiri yang kudus dan hakikat sifzt-sifatNya. Dan takwil dari apa yang diberitakan Allah tentang hari kemudian adalah substansi yang ada pada hari kemudian itu sendiri. Dengan makna inilah diartikan ucapan Aisyah ;
“Rasulullah SAW mengucapkan didlaam ruku’ dan sujudnya “subhanaka allahumma rabbana wabihamdika. Allahumaghfirli” bacaan ini sebagai takwil beliau terhadap Qur’an yakni firman Allah ” fasabbih bi hamdi rabbika wastaghfirhu, innahu kana tawwaba.” (an Nasr :3)
golongan yang mengatakan bahwa waqaf dilakukan pada lafaz “wama ya’lamu ta’wilahu illallah” dan menjadikan ” warrasikhuna fil ‘ilmi” sebagai isti’naf (permulaan kalimat) mengatakan takwil dalam ayat ini ialah takwil dengan pengertian yang ketiga, yakni hakikat yang dimaksud dari sesuatu perkataan. Karena itu hakikat zat Allah, esensiNya kaifiyat nama dan sifatNya serta hakikat hari kemudian, semua itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah sendiri.
Sebaliknya golongan yang mengatakan “waqaf” pada lafaz ” warra sikhuna fil ‘ilmi” dengan menjadikan “wawu” sebagai huruf ‘ataf, bukan isti’naf, mengartikan kata takwil tersebut dengan arti kedua yakni tafsir, sebagaimana dikemukakan mujahid, seorang tokoh ahli tafsir terkemuka. Mengenai Mujahid ini as Sauri berkata : “jika datang kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah tafsir itu bagimu.” Jika dikatakn, ia mengetahui yang mutasyabih, maka maksudnya ialah mengetahui tafsirannya.
Dengan pembahasan ini jelaslah bahwa pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut. Dan masalahnya ini hanya berkisar pada perbedaan arti takwil.
Dalam Qur’an terdapat lafaz-lafaz mutasyabih yang makna-maknanya serupa dengan makna yang kita ketahui didunia, akan tetapi hakikatnya tidaklah sama. Misalnya sifat-sifat Allah dan asma Nya. Meskipun serupa dengan nama-nama hamba dan sifat-sifatnya dalam hal lafaz dan makna kulli (unuversal)nya akan tetapi hakikat khaliq dan sifat-sifatnya itu sama sekali tidak sama dengan hakikat mahluk dan sifat-sifatnya. Para ulama peneliti memahami betul makna lafaz-lafaz tersebut dan dapat membeda-bedakannya. Namun hakikat sebenarnya merupakan takwil yang hanya diketahui Allah. Oleh karena itu ketika ditanyakan kepada Malik dan ulama salaf lainnya tentang makna istiwa’ dalam firman Allah “Arrahmanu ‘alal ‘arsyis tawa” mereka menjawab : ‘maksud istiwa’ (bersemayam) telah kita ketahui, namun mengenai bagaimana caranya kita tidak mengetahuinya. Iman kepadanya ialah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah. Rabbi’ah bin Abdurrahman, guru Malik jauh sebelumnya pernah berkata: ‘Arti istiwa’ sudah kita ketahui, tetapi bagaimana caranya tidak kita ketahui, hanya Allah lah yang mengetahui apa sebenarnya. Rasulpun hanya menyampaikan sedang kita wajib mengimaninya,” jadi jelaslah bahwa arti istiwa’ itu sendiri sudah diketahui tetapi caranyalah yang tidak diketahui.
Demikain halnya berita-berita dari Allah tentang hari kemudian. Didalamnya terdapat lafaz-lafaz yang makna-maknanya serupa dengan apa yang kita kenal, akan tetapi hakikatnya tidaklah sama.misalnya diakhirat terdapat mizan (timbangan), jannah (taman) dan nar (api). Dan didalam taman itu teradapat ‘sungai-sungai air yang tidak berubah warna dan rasanya, sungai-sungai khamr yang lezat rasanya bagi para peminumnya dan sungai-sungai madu yang disaring.” (al Qital: 15) . “Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak , dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.”(al Ghasiyah : 13-16).
Berita-berita itu harus kita yakini dan kita imani. Disamping juga harus diyakini bahwa yang gaib itu lebih besar dari pada yang nyata, dan segala yang ada diakhirat adalah berbeda dengan apa yang ada didunia. Namun hakikat perbedaan ini tidak kita ketahui karena termasuk takwil yang hanya diketahui oleh Allah.
Takwil yang Tercela
Takwil yang tercela adalah takwil dengan pengertian pertama, memalingkan lafaz dengan makna rajih kepada makna marjuh karena ada dalil yang menyertainya. Takwil semacam ini banyak dipergunakan oleh sebagian besar ulama mutaakhirin, dengan tujuan ubtuk labih memahasucikan Allah swt dari keserupaanNya dengan mahluk seperti mereka sangka. Dugaan ini sungguh batil karena dapat menjatuhkan mereka kedalam kekhawatiran yang sama dengan apa yang mereka takuti, atau bahkan lebih dari itu. Misalnya ketika mentakwilkan ‘tangan’ (al yad) dengan kekuasaan (al qudrah). Maksud merekla adalah untuk menghindarkan penetapan ‘tangan’ bagi Khalik mengingat mahluk pun memiliki tangan. Oleh karena lafaz al yad ini bagi mereka menimbulkan kekaburan maka ditakwilkannya dengan al qudrah. Hal semacam ini mengandung kontradiktif, karena memaksa mereka untuk menetapkan sesuatu makna yang serupa dengan makna yang mereka sangka harus ditiadakan, mengingat mahluk pun mempunyai kekuasaan, al qudrah pula. Apa bila qudrah yang mereka tetapkan hak dan mungkin. Maka penetapan tangan bagi Allah pun hak dan mungkin. Sebaliknya jika penetapan ‘tangan’ dianggap batil dan terlarang karena menimbulkan keserupaan menurut dugaan mereka, maka penetapan ‘kekuasaan’ juga batil dan terlarang. Dengan demikian, maka tidak dapat dikatakan bahwa lafaz ini ditakwilkan, dalam arti dipalingkan dari makna yang rajih kepada makna yang marjuh.
Celaan terhadap para panakwil yang datang dari para ulama salaf dan lainnya itu ditujukan kepada mereka yang menakwilkan lafaz-lafaz yang kabur maknanya bagi mereka, tetapi tidak menurut takwil yang sebenarnya, sekalipun yang demi kian tidak kabur bagi orang lain.