Pengumpulan dan Penertiban Al-Quran

Pengumpulan dan Penertiban Al-Quran

Yang dimaksud dengan pengumpulan Qur’an ( Jam’ul Qur’an ) oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut:
Pertama : pengumpulan dalam arti Hifdzuhu ( menghafalkannya dalam hati). Jumma’ul Quran artinya huffazuhu ( penghafal-penghafalnya, orang yang menghafalkannya didalam hati). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada Nabi-Nabi senantiasa menggerak-gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Qur’an ketika itu turun kepadanya sebelum jibril selesai membacakannya, karena ingin menghafalkannya:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk Al Qur’an karena hendak cepat-cepat nya . Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyamah:16-19 ).
Ibn Abbas mengatakan: “Rasulullah SAW sangat ingin segera menguasai Qur’an yang diturunkan, ia menggerakkan lidah dan kedua bibirnya karena tajut apa yang turun itu akan terlewatkan. Ia ingin segera menghafalnya. Maka Allah menurunkan: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak cepat-cepat untuk menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya , maksudnya Kami yang mengumpulknnya didadamu, kemudian kami memebacakannya. Apa bila Kami telah selesai memebacakannya, maksudnya ‘ apabila Kami telah menurunkannya kepadamu maka ikitilah bacaan itu, maksudnya ‘ dengarkan dan perhatikanlah ia’, kemudian atas tanggungan Kamilah penjelasannya, yakni menjelaskannya dengan lidahmu.’ Dalam lafal yang lain ia katakan : ‘atas tanggungan Kamilah membacakannya’ maka setelah ayat ini turun bila jibril datang, Rasulullah SAW diam. Dalam lafal lain: ‘ ia mendengarkan’.dan bila jibril telah pergi, barulah ia membacanya sebagaimana diperintahkan Allah.”
Kedua : pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi ( penulisan Qur’an semuanya) baik dengan memisah-misahkan ayat-ayat dan surah-surahnya, atau menertibkan ayat-ayat semata dan setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, atau menertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surah, sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.
Pengumpulan Qur’an dalam Arti Menghafalnya pada Masa Nabi
Rasulullah SAW amat menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu penurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya. Persis seperti yang dijanjikan Allah:
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya ( didadamu) dan ( membuatmu pandai) membacanya ( al-Qiyamah: 17 ).
Oleh sebab itu ia adalah hafiz ( penghafal ) Qur’an pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi kecintaan mereka kepada pokok agama dan sumber risalah.quran diturunkan selama dua puluh tahun lebih. Proses penurunanya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadangturun sampai sepuluh ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab bangsa arab secara kodrati memang mempunyai daya hafal yang k uat. Hal itu umumnya karena mereka buta huruf., sehingga dalam penulisan berita-berita, syair dan silsilah mereka dilakukan dengan catatan dihati mereka.
Dalam kitab sahihnya Bukhari telah mengemukakan adanya tujuh hafiz, melalui tiga riwayat. Mereka adalah: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal bekas budak Abu Huzaifah, Muaz bin Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin Sabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.
1.Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As dikatakan :
” Aku telah mendengar Rasulullah SAW berkata: “Ambilah Qur’an dari empat orang,Abdullah bin Ma’ud, Salim, Muaz dan Ubai bin Kaab.” keempat orang tersebut dua orang kaum muhajirin, yaitu Abdullah bin Masud dan Salim; dan dua orang dari Anshar yaitu; Muaz dan Ubai.
2.Dari Qatadah dikatakan:
“Aku telah bertanya kepada Anas bin Malik: siapakah orang yang hafal Qur’an dimasa Rasulullah SAW ? dia menjawab: ‘empat orang semuanya dari kaum anshar; Ubai bin Kaab , Muaz bin Jabal, Zaid bin sabit, dan Abu zaid. Aku bertanya kepadanya; siapakah Abu Zaid itu ? ia menjawab salah seorang Pamanku.”
3.Dan diriwayatkan pula melalui Sabit, dari Anas yang mengatakan:
“Rasulullah SAW wafat sedang Quran belum dihafal kecuali oleh empat orang: Abu Darda, Muaz bin Jabal, Zaid bin Sabit, dan abu Zaid.”
Abu Zaid yang disebut-sebut diatas penjelasannya terdapat dalam riwayat yang dinukil oleh Ibn Hajar dengan isnad yang memenuhi persyaratan Bukhari. Menurut Anas Abu Zaid yang hafal Qur’an itu namanya Qais bin Sakan. Kata Anas, ‘ia adalah seorang laki-laki dari suku kami, Bani ‘Adi Ibnun Najjar dan termasuk salah seorang paman kami. Ia meninggal dunia tanpa meninggalkan anak, dan kamilah yang mewarisinya.”
Ibn Hajar ketika menuliskan biografi Said bin Ubaid menjelaskan bahwa ia termasuk seorang hafiz dan dijuluki pula dengan al-Qari’ ( pembaca Qur’an).
Penyebutan para hafiz yang tujuh atau delapan ini tidak berarti pembatasan, karena beberapa keterangan dalam kitab-kitab sejarah dan sunan menunjukkan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan Qur’an dan mereka memerintahkan anak-anak dan ister-isteri mereka untuk menghafalkannya. Mereka membacanya dalam salat ditengah malam, sehingga alunan suara mereka terdengar bagai suara lebah. Rasulullah SAW pun sering melewati rumah-rumah orang Anshar dan berhenti untuk mendengarkan alunan suara mereka yang membaca Qur’an dirumah-rumah.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari:
“Bahwa Rasullullah saw. Berkata kepadanya : ” tidakkah engkau melihat aku tadi malam, diwaktu aku mendengarkan engkau membaca Qur’an ? sungguh engkau telah diberi seruling dari seruling Nabi Daud,”
diriwayatkan Abdullah bin Amr berkata :
” Aku telah menghafal Qur’an dan aku telah menamatkannya pada setiap malam. Hal ini sampai kepada Nabi, maka katanya : ” Tamatkanlah dalam waktu satu bulan.”
Abu Musa al-Asyari berkata :
“Rasulullah berkata: “Sesumgguhnya aku mengenal kelembutan alunan suara keturunan Asyari diwaktu malam ketika berada dalam rumah. Aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara bacaan Quran mereka diwaktu malam, sekalipun aku belum pernah melihat rumah mereka diwaktu siang.”
Disamping antusiasme para sahabat untuk mempelajari dan menghafal Qur’an Rasulullah pun mendorong mereka kearah ityu dan memilih orang tertentu yang akan mengajarkan Qur’an kepada mereka. Ubadah bin Samit berkata:
“Apabila ada seseorang yang hijrah ( masuk islam) Nabi menyerahkannya kepada salah seorang diantara kami untuk mengajarinya Qur’an. Dan dimasjid Rasulullah sering terdengar gemuruh suara orang membaca Qur’an, sehingga Rasulullah memerintahkan mereka agar merendahkan suara agar tidaj saling mengganggu.”
Pembatasan tujuh orang sebagaimana disebutkan Bukhari dengan tiga riwayat diatas, diartikan bahwa mereka itilah yang hafal seluruh isi Qur’an diluar kepala dan telah menunjukkan hafalannya dihadapan Nabi. Serta isnad-isnad nya sampai kepada kita. Sedang para hafidz Qur’an lainnya-yang berjumlah banyak-tidak memenuhi hal tersebut; terutama karena para sahabat telah tersebar diberbagai wilayah dan sebagian mereka menghafalkan dari yang lain. Cukuplah sebgai bukti tentang hal ini bahwa para sahabat yang terbunuh dalam pertempuran dalam sumur “Ma’unah” semuanya disebut “qurra” , sebanyak tujuh puluh orang sebagaiman disebutkan dalam hadis, sahih. Al-Qurtubi mengatakan : telah terbunuh tujuh orang qari’ pada perang Yamamah; dan terbunuh pula pada masa nabi sejumlah itu dalam pertempuran dalam sumur Ma’unah.”
Inilah pemahaman para ulama dan pertakwilan mereka terhadap hadis-hadis sahih yang menunjukkan terbatasnya jumlah para hafid Qur’an yaitu hanya tujuh orang seperti yang telah dikemukakan. Dalam mengomentari riwayat Anas yang menyatakan “Tak ada yang hafal Qur’an kecuali empat orang”, al-Mawardi berkata ucapan Anas yang menucapkan bahwa tidak ada yang hafal Qur’an selain empat orang itu tidak dapat diartikan bahwa kenyataannya memang demikian. Sebabmungkin saja Anas tidak mengetahui ada orang lain yang menghafalnya. Bila tidak, maka bagaimana ia mengetahui secara persis orang-orang yang hafal Qur’an sedangkan para sahabat amat banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai wilayah ? pengetahuan Anas tentang orang-orang yang hafal Qur’an itu tidak dapat diterima kecuali kalau ia bertemudengan setiap orang yang menghafalnya dan orang itu menyatakan kepadanya bahwa ia belum sempurna hafalannya dimasa Nabi. Yang demikian ini amat tidak mungkin terjadi menurut kebiasaan. Karena itu bila yang dijadikan rujukan oleh Anas hanya pengetahuannya sendiri maka hal ini tidak berarti bahwa kenyataannya memang demikian. Disamping itu syarat kemutawatiran juga tidak menghendaki agar semua pribadi hafal, bahkan bila kolektifitas sahabat telah hafal – sekalipun secara distributif maka itu sudah cukup
Dengan penjelasan ini al-Mawardi telah menghilangkan keraguan yang mengesankan sedikitnya jumlah huffaz. ( para penghafal Qur’an ) dengan cara meyakinkan dan menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang kuat mengenai pembatasan jumlah hafiz dalam hadis Anas dengan menjelaskan memuaskan.
Abu Ubaid telah menyebutkan dalam kitab al-Qiraat sejumlah qari dari kalangan sahabat. Dari kaum muhajirin, ia menyebutkan: empat orang khalifah, Talhah,S’ad, Ibn Mas’ud, Huzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah as-Sa’ib, empat orang bernama Abdullah, Aisyah, Hafsah, dan Ummu Salamah.; dan dari kaum anshar : ‘ Ubaidah bin Samit , Mu’az, yang dijuluki Abu Halimah, Majma’ bin Jariyah, Fudalah bin Ubaid dan Maslamah bin Mukhallad ditegaskannya bahwa sebagian mereka itu menyempurnakan hafalannya sepeninggalnya Nabi.
Al-Hafiz az-Zahabi menyebutkan dalan tabaqatul qurra’ bahwa jumlah qari’ tersebut adalah jumlah merekayang menunjukkan hafalannya dihadapan Nabi dan sanad-sanadnya sampai kepada kita secara bersambung. Sedangkan sahabat yang hafal Qur’an namun sanadnya tidak sampai kepada kita , jumlah mereka itu banyak.
Deri keterangan -keterangan ini jelaslah bagi kita bahwa para hafiz Qur’an dimasa Rasullulah amat banyak jumlahnya, dan bahwa berpegangan pada hafalan dalam penukilan dimasa itu termasuk ciri khas umat ini. Ibn Jazari guru para qari pada masanya menyebutkan : “Penukilan quran dengan berpergang Pada hafalan- bukannya pada mushaf dan kitab-kitab- merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepada umat ini.”
* * *

Pengumpulan Qur’an dalam Arti Penulisannya pada Masa Nabi
Rasullullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, ‘Ubai bin K’ab dan Zaid bin Sabit, bila ayat turun ia memerintahkan mereka menulisnya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan pada lembar itu membantu penghafalan didalam hati. Disamping itu sebagian sahabatpun menuliskan Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi; mereka menuliskannya pada pelepah kurma , lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Sabit: ” Kami menyusun Qur’an dihadapan Rasulullah pada kulit binatang
Ini menunjukkan betapa besar kesulitan yang dipikul para sahabat dalam menulis Qur’an. Alat-alat tulis tidak cukup tersedia bagi mereka, selain sarana-sarana tersebut. Dan denagn demikian, penulisan Qur’an ini semakin menambah hafalan mereka.
Jibril membacakan Qur’an kepada Rasulullah pada malam-malam bulan ramadan setiap tahunnya Abdullah bin Abbas berkata: “Rasulullah adalah orang paling pemurah, dan puncak kemurahan pada bulan ramadan, ketika ia ditemui oleh jibril. Ia ditemui oleh jibril setiap malam; jbril membacakan Qur’an kepadanya, dan ketika Rasulullah ditemui oleh jibril it ia sangat pemurah sekali.
Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur’an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.
Tulisan-tulisan Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf ; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafalkan seluruh isi Qur’an dimasa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Sabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur’an dihadapan Nabi, diantara mereka yang disebutkan diatas.
Rasulullah berpulang kerahmatullah disaat Qur’an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan diatas; ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan, atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyuruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Disamping itu terkadang pula terdapat ayat yang manasih (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur’an itu tidak menurut tertib nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan ditempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata (pada masa Nabi) Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan diantara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata: “Qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur’an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.”
Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang mengatakan: “Rasulullah telah wafat sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Katabi berkata: ” Rasulullah tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya . Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar
Pengumpulan Qur’an dimasa Nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.

Pengumpulan Qur’an pada Masa Abu Bakar
Abu Bakar menjalankan urusan islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Qur’an. Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qarri’.
Disegi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan ditempat-tempat lain akan membunuh banyak qari’ pula sehingga Qur’an akan hilang dan musnah, Abu Bakar menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umartersebut, kemudian Abu Bakar nenerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qiraat , penulisan pemahaman dan kecerdasannya, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar sebelum itu. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur’an itu. Zaid bin Sabit melalui tugasnya yang berat ini dengan bersadar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis. Kemudian lembaran-lembaran ( kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar. Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran-lembaran itu berpindah ke tangan Umar dan tetap berada ditangannya hingga ia wafat. Kemudian mushaf itu berpindah ketangan Hafsah putri Umar. Pada permulaan kekalifahan Usman, Usman memintanya dari tangan Hafsah.
Zaid bin Sabit berkata: Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban perang Yamamah. Ternyata Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata : ‘Umar telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa perang yamamah telah menelan banyak korban dari kalangan qurra ; dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para qurra itu juga akan terjadi ditempat-tempat lain, sehingga sebagain besar Qur’an akan musnah. Ia menganjurkan agar aku memetrintahkan seseorang untuk menguimpulkan Qur’an. Maka aku katakan kepadanya, bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? tetapi Umar menjawab: dan bersumpah, demi Allah, perbuatan tersebut baik. Ia terus menerus membujukku sehingga Allah membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat dengan Umar.” Zaid berkata lagi: “Abu Bakar berkata kepadaku: ‘ Engkau seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemammpuanmu. Engkau telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Oleh karena itu carilah Qur’an dan kumpulkanlah.” “Demi Allah”, Kata Zaid lebih lanjut”, ” sekiranya mereka memintaju untuk memindahkan gunung, rasanya tidak lebih berat bagiku dari pada perintah mengumpulkan Qur’an. Karena itu aku menjawab: ” Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tridak pernah dilakukan oleh Rasulullah ? Abu Bakar menjawab: ‘demi Allah itu baik, Abu Bakar tetap membujukku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana ia telah membukakan hati Abu Bakar dan Umar. Maka akupun mulai mencari Qur’an. Kukumpulkan ia dari pelepah kurma, dari keping-kepingan batu, dan dari hafalan para penghafal sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surah taubah berada pada Abu Huzaimah al-Anshari; yang tidak kudapatkan pada orang lain, sesungguhya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri� himgga akhir surah. Lembaran-lembaran ( hasil kerjaku) tersebut kemudian disimpan ditangan Abu Bakar higga wafatnya. Sesudah itu berpindah ketangan Umar sewaktu masih hidup, dan selanjutnya berada ditangan Hafsah binti Umar.”
Zaid bin Sabit bertindak sangat teliti, hati-hati. Ia tidak mencukupkan pada hafalan semata tanpa disertai dengan tulisan. Kata-kata Zaid dalam keterangan diatas: “Dan aku dapatkan akhir surah at-Taubah pada Abu Khuzaimah al-Anshari; yang tidak aku dapatkan pada orang lain.” Tidak menghilangkan arti keberhati-hatian tersebut dan tidak pula berari bahwa akhir surah Taubah itu tidak mutawatir. Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya. Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.
Ibn Abu Daud meriwayatkan melalui Yahya bin Abdurrahman bin Hatib, yang mengatakan : ” Umar datang lalu berkata: ‘Barang siapa menerima dari Rasulullah sesuatu dari Qur’an, hendaklah ia menyampaikannya.’ Mereka menuliskan Qur’an itu pada lembaran kertas , papan kayu dan pelepah kurma. Dan Zaid tidak mau menerima dari Qur’an mengenai seseorang sebelum disaksikan oleh dua orang saksi. Ini menunjukkan bahwa Zaid tidak merasa puas hanya dengan adanya tulisan semata sebelum tulisan itu disaksikan oleh orang yang menerimanya secara pendengaran (langsung dari Rasul), sekalipun Zaid sendiri hafal. Ia bersikap demikian ini karena sangat berhati-hati. Dan diriwayatkan pula oleh Ibn Abu Daud melalui Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa Abu Bakar berkata pada Umar dan Zaid: “Duduklah kamu berdua dipintu masjid. Bila ada yang datang kepadamu membawa dua orang saksi atas sesuatu dari kitab Allah, maka tulislah.” Para perawi hadis ini orang-orang terpercaya, seklaipun hadis tersebut munqati,(terputus). Ibn Hajar mengatakan: “Yang dimaksudkan dengan dua orang saksi adalah hafalan dan catatan.”
As-Sakhawi menyebutkan dalam Jamalul qurra, yang dimaksdukan ialah kedua saksi itu menyaksikan bahwa catatan itu ditulis dihadapan Rasulullah; atau dua orang saksi iti menyaksikan bahwa catatan tadi sesuai dengan salah satu cara yang dengan itu Qur’an diturunkan. Abu Syamah berkata: “Maksud mereka adalah agar Zaid tidak menuliskan Qur’an kecuali diambil dari sumber asli yang dicatat dihadapan Nabi, bukan semata-mata dari hafalan. Oleh sebab itu Zaid berkata tentang akhir surah Taubah, ‘aku tidak mendapatkannya pada orang lain,’ sebab ia tidak menganggap cukup hanya didasarkan pada hafalan tanpa adanya catatan.”
Kita sudah mengetahui bahwa Qur’an sudah tercatat sebelum masa itu, yaitu pada masa Nabi. Tetapi masih berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Qur’an diturunkan. Dengan demikian Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf dengan cara seperti ini, disamping terdapat pula mushaf-mushaf pribadi pada sebagian sahabat, seperti mushaf Ali, Ubai dan Ibn Mas’ud. Tetpi mushaf-mushaf itu tidak ditulis dengan cara-cara diatas dan tidak pula dikerjakan dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga tidak dihimpun secara tertib yang hanya memuat ayat-ayat yang bacaannya tidak dimansuk dan secara ijma’ sebagaimana mushaf Abu Bakar. Keistimewaan-keistimewaan ini hanya ada pada himpunan Qur’an yang dikerjakan Abu Bakar. Para ulama berpendapat bahwa penamaan Qur’an dengan “mushaf” itu baru muncul sejak saat itu, disaat Abu Bakar mengumpulkan Qur’an. Ali berkata: “Orang yang paling besar pahalanya dalam hal mushaf ialah Abu Bakar. Semoga Allah mel;impahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar. Dialah orang yang pertama mengumpulkan kitab Allah.”

Pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua. Pengumpulan Qur’an pada Masa Usman
Penyebaran islam bertambah dan para Qurra pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk disetiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka. Cara-cara pembacaan (qiraat) Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan ‘huruf ‘ yang dengannya Qur’an diturunkan. Apa bila mereka berkumpul disuatu pertemuan atau disuatu medan peperangan, sebag ian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini.terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya disandarkan kepada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah sehingga terjadi pembicaraan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya akan mnimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar. Bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan.
Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin al-Yaman. Ia banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Qyr’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan; tetapi masing-masing memepertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qiraat pada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf.
Usman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan Hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Usman memmanggil Zaid bin Sabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Said bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terkahir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraisy itu ditulis dalam bahasa quraisy, karena Qur’an turun dengan logat mereka.
Dari Anas : “Bahwa Huzaifah bin al-Yaman datang kepada Usman, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian armenia dan azarbaijan bersama dengan penduduk Iraq, Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Usman “selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana peerselisihan orang-orang yahudi dan nasrani.’ Usman kemudian mengirim surat kepada Hafsah yang isinya; “sudilah kiranya anda kirimkan lemgbaran-lembaran yang berisi Qur’an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.’ Hafsah mengirimkannya kepada Usman, dan Usman memerintahkan Zaid bin Sabit , Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin ‘As dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam untuk menyalinnya.mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Usman berkata kepada ketiga orang quraisy itu:
“bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari qur’an, maka tulislah dengan logat quraisy karena qur’an diturunkan dengan bahsa quraisy.’
Mereka melakukan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Kemudian Usman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua Qur’an atau mushaf lainnya dibakar. Zaid berkata: ‘Ketika ami menyalin mushaf, saya teringat akan satu ayat dari surah al-Ahzab yang pernah aku dengar dibacakan oleh Rasulullah;maka kami mencarinya, dan aku dapatkan pada Khuzaimah bin Sabit al-Ansari, ayat itu ialah”
“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah�.”(al-Ahzab:23)
lalu kami tempatkan ayat ini pada syrah tersebut dalam mushaf.’
Berbagai ‘Asar atau keterangan para sahabat menunjukkan bahwa perbedaan cara membaca itu tidak saja mengejutkan Huzaifah, tetapi juga mengejutkan para sahabat yang lain. Dikatakan oleh Ibn Jarir : ‘Ya’kub bin Ibrahim berkata kepadaku: Ibn ‘Ulyah menceritakan kepadaku: Ayyub mengatakan kepadaku: bahwa Abu Qalabah berkata: pada masa kekahlifahan Usman telah terjadi seorang guru qiraat mengajarkan qiraat seseorang, dan guru qiraat lain mengajarkan qiraat pada orang lain. Dua kelompok anak-anak yang belajar qiraat itu suatu ketika bertemu dan mereka berselisih, dan hal demikian ini menjalar juga kepada guru-guru tersebut.’ Kata A yyub: aku tidak mengetahui kecuali ia berkata: ‘sehingga mereka saling mengkafirkan satu sama lain karena perbedaan qiraat itu,’ dan hal itu akhirnya sampai pada khalifah Usman. Maka ia berpidato: ‘Kalian yang ada dihadapanku telah berselisih paham dan salah dalam membaca Qur’an. Penduduk yang jauh dari kami tentu lebih besar lagi perselisihan dan kesalahannya. Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur’an pedoman) saj !’ Abu Qalabah berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku, katanya : ‘aku adalah salah seorang diantara mereka yang disuruh menuliskan ,’kata Abu Qalanbah: Terkadang mereka berselisih tentang satu ayat, maka mereka menanyakan kepada seseorang yang telah menerimnya dari Rasulullah. Akan tetapi orang tadi mungkin tengah berada diluar kota, sehingga mereka hanya menuliskan apa yang sebelum dan yang sesudah serta memniarkan tempat letaknya, sampai orang itu datang atau dipanggil. Ketika penulisan mushaf telah selesai, Kahlifah Usman menulis surat keapada semua penduduk daerah yang sisinya: ‘Aku telah melakukan yang demikian dan demikian. Aku telah menghapuskan apa yang ada padaku, maka hapuskanlah apa yang ada padamu.’
Ibn Asytah meriwayatkan melalui Ayyub dari Abu Qalabah , keterangan yang sama. Dan Ibn Hajar menyebutkan dalam al-Fath bahwa Ibn Abu Daud telah meriwayatkannya pula melalui Abu Qalabah dalam al-Masahif.
Suwaid bin Gaflah berkata: ‘Ali mengatakan: ‘Katakanlah segala yang baik tentang Usman. Demi Allah apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Qur’an sudah atas persetujuan kami. Usman berkata : ‘bagaimana pendapatmu tentang qiraat in ? saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qiraatnya lebih baik dari q iraat orang lain. Ini telah mendekati kekafiran. Kami berkata : ‘bagaimana penadapatmu ? ia menjawab : ‘ aku berpendapat agar manusia bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan, kami berkata : baik sekali pendapatmu itu.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat. Dan Usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula pada setiap wilayah yaitu masing-masing satu mushaf. Dan ditahannya satu mushaf untuk dimadinah, yaitu mushafnya sendiri yang dikenal dengan nama “mushaf Imam”. Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat dimana ia mengatakan: ” Bersatulah wahai umat-umat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Qur’an pedoman).” Kemudian ia memerintahkan untuk membakar mushaf yang selain itu. Umatpun menrima perintah dengan patuh, sedang qiraat dengan enam huruf lainnya ditingalkan. Keputusan ini tidak salah, sebab qiraat dengan tujuh huruf itu tidak wajib. Seandainya Rasulullah mewajibkan qiraat dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawatir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa qiraat dengan tujuh huruf itu termasuk dalam katergori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagian dari ketujuh huruf tersebut secara mutawatir dan inilah yang terjadi.
Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah dilakukan oleh Usman: ‘Ia menyatukan umat islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain disobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf ” berlainan “dengan mushaf yang disepakati itu membakar mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan bagitu Usman telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana. Meka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya.sesuai dengn permintaan pemimpinnya yang adil itu; sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya. Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah dimusnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada. Sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya.tetapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri. Dan sekarang tidak ada lagi qiraat bagi kaum muslimin selain qiraat dengan satu huruf yang telah dipilih olah imam mereka yang bijaksana dan tulus hati itu. Tidak ada lagi qiraat dengan enam huruf lainya.
Apa bila sebagian orang lemah pengetahuan berkata : Bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah dibacakan oleh Rasulullah dan diperintahkan pula membaca dengan cara itu ? maka jawabnya ialah : ‘Sesungguhnya perintah Rasulullah kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah). Sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu diwajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajibpula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya, bertianya harus pasti dan keraguan harus dihilangkan dari para qari. Dan karena mereka tidak menyampaikan hal tersebut, maka ini merupakan bukti bahwa dalam masalah qiraat mereka boleh memilih, sesudah adanya orang yang menyampaikan Qur’an dikalangan umat yang penyampaiannya menjadi hujjah bagi sebagian ketujuh huruf itu.
Jika memang demikian halnya maka mereka tidak dipandang telah meninggalkan tugas menyampaikan semua qiraat yangv tujuh tersebut, yang menjadi kewajigan bagi mereka untuk menyampaikannya. Kewajiban mereka ialah apa yang sudah mereka kerjakan itu. Karena apa yang telah mereka lakukan tersebut ternyatasangat berguna bagi islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka sendiri lebih utama dari pada melakukan sesuatu yang malah akan lebih merupakan bencana terhadap islam dan pemeluknya dari pada menyelamatkannya.”
* * *

Perbedaan antara Pengumpulan Abu Bakar dengan Usman
Dari teks-teks diatas jelaslah bahwa pengumpulan (mushaf oleh) Abu Bakar berbeda dengan pengumpulam yang dilakukan Usman dalam motif dan caranya. Motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Qur’an karena banyaknya para huffaz yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban dari para qari. Sedang motif Usman dalam mengumpulkan Qur’an ialah karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Qur’an yang disaksikannnya sendiri didaerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.
Pengumpulan Qur’an yang dilakukan Abu Bakar ialah memindahkan satu tulisan atau catatan Qur’an yang semula bertebaran dikulit-kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya serta terbatas dengan bacaan yang tidak dimansukh dan tidak mencakup ketujuh huruf sebagaimana ketika Qur’an itu diturunkan.
Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya menjadi satu huruf diantar ketujuh huruf itu, untyuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya. Ibnut Tin dan yang lain mengatakan: “Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dan Usmanialah bahwa pengumpulan yang dilakukan Abu Bakar disebabkan oleh kekawatiran akan hilangnya sebagian Qur’an karena kematian para penghafalnya, sebab ketika itu Qur’an belum terkumpul disatu tempat. Lalu Abu Bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya. Sesuatu dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka. Sedang pengumpulam Usman sebabnya banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan, karena kawatir akan timbul bencana , Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu dalam satu mushaf dengan menertibkan surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa quraisy saja dengan alasan bahwa qur’an diturunkan dengan bahasa mereka (quraisy). Sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa selain quraisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja. Al-Haris al-Muhasibi mengatakan: “Yang masyhur dikalangan orang banyak ialah bahwa pengumpul Qur’an itu Usman. Pada hal sebenarnya tidak demikian, Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya.serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat. Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur’an diturunkan. Sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Qur’an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar as-Sidiq.” .
Dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Qur’an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah mushaf yang dikirimkan kepada Usman ke berbagai daerah :
a . Ada yang mengatakan bahwa jumlahnya tujuh buah mushaf yang dikirimkan ke Mekkah, Syam Basyrah, Kuffah, Yaman, Bahrain, dan Madinah. Ibn Abu Daud mengatakan: “Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani berkata: ‘telah ditulis tujuh buah mushaf, lalu dikirimkan ke Mekkah, Syam, Basyrah, Kuffah, Bahrain, Yaman dan sebuah ditahan di Madinah.”
b . Dikatakan pula bahwa jumlahnya ada empat buah masing-masing dikirimkan ke Iraq, Syam,Mesir dan Mushaf Imam, atau dikirimkan ke Kuffah, Basyrah, Syam dan mushaf Imam berkata Abu ‘Amr ad-Dani dalam al-Muqni.” “sebagian besar ulama berpendapat bahwa ketika Usman menulis Mushaf, ia membuatnya sebanyak empat buah salinan dan ia kirimkan kesetiap daerah masing-masing satu buah: ke Kufah , Basyrah, Syam dan ditinggalkan satu buah untuk dirinya sendiri.”
c . Ada juga yang mengatakan bahwa jumlahnya ada lima. As-Suyuti berkata bahwa pendapat inilah yang masyhur.
Adapun lembaran-lembaran yang dikembalikan kepada Hafsah, tetap berada ditangannya hingga ia wafat, setelah itu lembaran-lembaran tersebut dimusnahkan, dan dikatakan pula bahwa lembaran-lembaran tersebut diambil oleh Marwan bin Hakam lalu dibakar.
Mushaf-mushaf yang ditulis oleh Usman itu sekarang hampir tidak ditemukan sebuah pun juga. Keteranagn yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya Fadhailul Qur’an menyatakan bahwa ia menemukan satu buah diantaranya di masjid Damsyik di Syam. Mushaf itu ditulis pada lembaran yang -menurutnya terbuat dari kulit unta. Dan diriwayatkannya pula mushaf Syam ini dibawa ke Inggris setalah beberapa lama berada ditangan kaisar rusia di perpustakaan Leningrad. Juga dikatakn pula bahwa mushaf itu terbakar dalam masjid Damsyik pada tahun 1310 H.
Pengumpulan Qur’an oleh Usman ini disebut dengan pengumpulan ketiga yang dilaksanakan pada 25 H.
Keraguan yang Harus Ditolak
Ada beberapa keraguan yang ditiupkan oleh para pengumbar hawa nafsu untuk melemahkan kepercayaan terhadap Qur’an dan kecermatan pengumpulannya. Disini kami akan kemukakan beberapa hal yang penting diantaranya dan kemudian menwabnya.
1. Mereka berkata, sumber-sumber lama (asar) menunjukkan bahwa ada beberapa bagian Qur’an yang tidak dituliskan dalam mushaf-mushaf yang ada ditangan kita ini. Sebagai bukti (dalil) dikemukakannya:
A Aisyah berkata: “Rasulullah pernah mendengar seseorang membaca Qur’an dimasjid , lalu katanya ‘semoga Allah mengkasihinya. Ia telah mengingatkan aku akan ayt anu dan ayat anu dari surah anu.’ Dalam riwayat lain dikatakan ‘Aku telah menggugurkannya dari ayat ini dan ini.’ Dan ada lagi riwayat yang mengatakan ‘ Aku telah dibuat lupa terhadapnya.’
Arguman ini dapat dijawab bahwa teringatnya Rasulullah akan astu atau beberapa ayat yang ia lupa atau ia gugurkan karena lupa itu hendaknya tidak menimbulkan keraguan dalam hal pengumpulan Qur’an karena riwayat yang mengandung ungkapan “menggugurkan” itu telah ditafsirkan oleh riwayat lain, “Aku telah dibuat lupa terhadapnya” (kuntu unsituha) ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “menggugurkannya” adalah “lupa” sebagaimana ditunjukkan pula oleh kata-kata “telah mengingatkan aku”. Kelupaan atau lupa bisa saja terjadi pada Rasulullah dalam hal yang tidak merusak tablig. Disamping itu ayat-ayat tersebut telah dihafal oleh para sahabat. Hafalan dan pencatatannya pun telah mencapai tingkat mutawatir. Dengan demikian lupa yang dialami Rasulullah sesudah itu tidak mempengaruhi kecermatan dalam pengumpulan Qur’an. Inilah maksud hadis diatas. Oleh sebab itu bacaan orang ini- yang hanya merupakan salah seorang diantara para penghafal yang jumlahnya mencapai tingkat mutawatir-mengingatkan Rasulullah. “ia telah mengingatkan aku akan ayat anu dan ayat anu”.
B.Allah berfirman dalam surah A’la:
“Kami akan membacakan (Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki.”(al-A’la:8-7). Pengecualian dalam ayat ini menunjukkan bahwa ada beberapa ayat yang terlupakan oleh Rasulullah.
Mengenai hal ini dapatlah dijawab bahwa Allah telah berjanji kepada Rasul-Nya untuk membacakan Qur’an dan memeliharanya serta mengamankannya dari kelupaan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Kami akan membacakan (Qur’an) kepadamu (Muhammad), maka kamu tidak akan lupa.” Namun karena ayat ini mengesankan seakan hal itu merupakan suatu keharusan, pada hal Allah berbuat menurut kehendak-Nya secara bebas. “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (al-Anbiya: 23), maka ayat itu segera disusul dengan pengecualian ” Kecuali kalau Allah menghendaki”, untuk menunjukkan bahwa pemberitahuan mengenai pembacaan Qur’an kepada Rasul dan pengamanannya dari kelupaan itu tidak keluar dari kehendak-Nya pula. Sebab bagi Allah tak ada yang tak dapat dilakukan. Syaikh Muhammad Abduh mengemukakan dalam menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : “Oleh karena janji itu dituangkan dalam ungkapan yang menunjukkan keharusan dan kekal, sehingga terkadang memberi kesan bahwa kekuasaan Allah tidak meliputi yang selain itu, dan bahwa yang demikian dipandang telah keluar dari kehendak-Nya, kecuali kalau Allah menghendaki. Sebab, jika Ia berkehendak tak ada atupun yang dapat mengalahkan kehendak-Nya.
Dengan demikian maka yang dimaksudkan disini ialah peniadaan kelupaan secara total. Mereka mengatakan : ‘pengertian demikian seperti halnya perkataan seseorang kepada sahabatnya: ‘Engkau berbagi denganku dalam apa yang aku miliki, kecuali kalau Allah menghendaki. Dengan perkataan ini ia tidak bermaksud mengecualikan sesuatu, karena ungkapan demikian sedikit sekali atau jarang dipergunakan untuk menunjukkan arti nafi (negatif). Dan seperti ini pulalah maksudpengecualian dalam firman-Nya pada surah Hud :
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki ; sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”(Hud : 108). Pengecualian seperti ini menunjukkan bahwa pengabadian dan pengekalan itu semata-mata karena kemurahan dan keluasan karunia Allah. Bukan keharusan dan kewajiban bagi-Nya.
Dan bila Ia berkehendak untuk mencabutnya, maka tidak ada seorangpun dapat menghalangi.
Mengenai riwayat, bahwa Nabi telah melupakan sesuatu sehingga perlu diingatkan, maka seandainya hal itu benar, tetapi ini tidaklah menyangkut kitab dan hukum-hukum Allah yang diturunka kepada Nabi agar disampaikan kepada umat. Dengan demikian segala pendapat yang dilontarkan orang selain dari yang telah kami kemukakan ini merupakan pentusupan dari orang-orang atheis yang merasuku pikiran orang-orang yang lalai. Untuk menodai apa yang telah disucikan oleh Allah. Karena tidak pantas bagi orang yang mengenal kedudukan Rasulullah dan beriman kepada kitabullah berpegangan pada pendapat semacam itu sedikitpun juga,”
II. Mereka mengatakan, dalam Qur’an terdapat sesuatu yang bukan Qur’an, unutyuk pendapatnya ini mereka berdalil dengan riwayat yang menyatakan bahwa Ibn Masud mengingkari surah an-Nas dan al-Falaq termasuk bagian dari Qur’an. Terhadap pendapat ini dapat diajukan jawaban sebagai barikut. Yaitu bahwa riwayat yang diterima dari Ibn Mas’ud itu tidak benar karena bertentangan dengan kesepakatan umat. An-Nawawi mengatakan dalam syarh al-Muhazzab ” Kaum muslimin sepakat bahwa kedua surah (an-Nas dan al- Falaq) itu dan surah Fatihah juga termasuk Qur’an. Dan siapa saja yang mengingkarinya sedikitpun ia adalah kafir. Sedangkan riwayat yang diterima dari Ibn Masud adalah batil, tidak sahih.” Ibn Hazm berpendapat, riwayat tersebut merupakan pendustaan dan pemalsuan atas nama (terhadap) Ibn Masud.
Seandainya riwayat itu benar, maka yang dapat dipahami ialah bahwa Ibn Masud tidak pernah mendengar kedua surah mu’awizatain, yakni surah al-Falaq dan an-Nas itu secara langsung dari Nabi., sehingga ia berhenti, tidak memberikan komentar mengenainya. Selain itu pengingkaran Ibn Masud tersebut tidak dapat membatalkan konsensus (ijma’) kaum muslimin bahwa kedua surah itu merupakan bagian Qur’an yang mutawatir. Argumentasi ini dapat pula dipergunakan untuk menjawab isyu yang menyatakan bahwa mushaf Ibn Masud tidak memuat surah Fatihah, sebab Fatihah adalah Ummul Qur’an, induk Qur’an yang status qur’aniahnya tak seorang pun meragukannya.
III. Segolongan Syi’ah extrim menuduh bahwa Abu Bakat , Umar dan Usman telah mengubah Qur’an serta menggugurkannya beberapa ayat dan surahnya. Mereka ( Abu Bakar cs.)telah mengganti dengan lafal Ummatun hiya arba min ummatin-“Satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan lain” (an-Nahl:92) yang asalnya adalah ‘A’immatun hiya azka min a’immatikum’. “Imam-imam yang lebih suci dari pada Imam-imam kamu” mereka juga menggugurkan dari surah Ahzab ayat-ayat mengenai keutamaan “ahlul bait” yang panjangnya sama dengan surah al-an’am. Dan menggugurkan pula surah mengenai kekuasaan (al-Wilayah) secara total dari Qur’an.
Terhadap golongan ini dapat dikemukakan bahwa tuduhan tersebut adalah batil, omong kosong yang tanpa dasar dan tuduhan yang tanpa bukti. Bahkan membicarakannya merupakan suatu kebodohan. Selain itu, sebagian kaum Syi’ah sendiri cuci tangan dari anggapan bodoh semacam ini. Dan apa yang diterima dari Ali, orang yang mereka jadikan tumpuan (tasyayyu’) bertentangan dengan hal tersebut dan bahkan menunjukkan terjadinya kesepakatan (ijma’) mengenai kemutawatiran Qur’an yang tertulis dalam mushaf, diriwayatkan bahwa Ali mengatakan mengenai pengumpulan Qur’an oleh Abu Bakar; ‘Manusia yang paling berjasa bagi mushaf-mushaf Qur’an adalah Abu Bakar, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya, karena dialah orang pertama yang mengumpulkan kitab Allah.” Ali juga mengatakan berkenaan dengan pengumpulan Qur’an oleh Usman : “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Jauhilah sikap berlebihan (bermusuhan) terhadap Usman dan perkataanmu bahwa dialah yang membakar msuhaf. Demi Allah dia membakarnya berdasarkan persetujuan kami, sahabat-sahabat Rasulullah.” Lebih lanjut ia mengatakan : ” Seandainya yang menjadi penguasa pada masa Usman adalah aku, tentu akupun akan berbuat terhadap mushaf-mushaf itu seperti yang dilakukan Usman.”
Apa yang diriwayatkan Ali sendiri ini telah membungkam para pendusta yang mengira bahwa mereka adalah para pembela Ali, sehingga mereka berani berperang untuk sesuatu yang tidak mereka ketahui karena kefanatikannya yang membuta kepada Ali. Sedang Ali lepas tangan sendiri terhadap mereka.
* * *

Tertib Ayat
Qur’an terdiri atas surah-surah dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Ayat adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surah dari Qur’an. Surah ialah sejumlah ayat Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan, tertib atau urutan ayat-ayat Qur’an ini adalah tauqifi, ketentuan dariRasulullah, sebagian ulama meriwayatkan bahwa pendapat ini adalah ijma’ diantaranya az-Zarkasyi dalam al-Burhan dan Abu Ja’far Ibnuz Zubeir dlam munasabahnya ia mengatakan : ” Tertib ayat-ayat didalam surah-surah itu berdasarkan tauqifi dari Rasulullah dan atas perintahnya, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” As-Syuti telah memutuskan hal itu, ia berkata : ” Ijma’ dan nas-nas yang serupa menegaskan, tertib ayat-ayat itu dalah taufiqi, tanpa diragukan lagi.” Jibril menurunkan beberapa ayat kepada Rasulullah dan menunjukkan kepadanya tempat dimana ayat-ayat itu harus diletakkan dalam surah atau ayat0ayat yang turun sebelumnya. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya ditempat tersebut. Ia mengatakan kepada mereka : “Letakkanlah ayat ini pada surah yang didalamnya disebutkan begini dan begini.” Atau ” Letakkanlah ayat ini ditempat anu.” Susunan dan penempatan ayat tersebut sebagaiman yang disampaikan para sahabat kepada kita. Usman bin ‘Abil ‘As berkata:
“Aku tengah duduk disamping Rasulullah, tiba-tiba panadangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya ‘Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini ditempat anu dari surah ini : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat�..(an-Nahl: 90)
Usman berhenti ketika mengumpulkan Qur’an pada tempat setiap ayat dari sebuah surah dalam Qur’an dan, sekalipun ayat itu telah mansukh hukumnya, tanpa mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa penulisan ayat dengan tertib seperti ini adalah tauqifi.
Ibnuz Zubair berkata: “Aku mengatakan kepada Usman bahwa ayat : Dan orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dengan meninggalkan isteri-isteri�..(al-Baqarah: 234) telah dimansukh oleh ayat lain, tetapi mengapa anda menuliskannya atau membiarkannya dituliskan ? ia menjawab: ‘Kemenakanku; aku tidak mengubah sesuatu pun dari tempatnya.”
Terdapat sejumlah hadis yang menunjukkan keutamaan beberapa ayat dari surah-surah tertentu. Ini menunjukkan bahwa tertib ayat-ayat bersifat tauqifi. Sebab jika tertibnya dapat diubah, tentulah ayat-ayat itu tidak akan didukung oleh hadis-hadis tersebut.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ dalam hadis marfu’ : “Barang siapa hafal sepuluh ayat dari awal surah kahfi, Allah akan melindunginya dari Dajjal.” Dan dalam redaksi lain dikatakan: “Barang siapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surah kahfi�” juga terdapat hadis-hadis lain yang menunjukkan letak ayat tertentu pada tempatnya. Umar berkata: ” Aku tidak menanyakan pada Nabi tentang kalalah, asmpai-sampai Nabi menekankan jarinya kedadaku, dan mengatakan : ‘Tidak cukup bagimu ayat yang diturunkan pada musim panas, yang terdapat pada akhir surah an-Nisa’?
Disamping itu terima pula bahwa Rasulullah telah membaca sejumlah surah dengan tertib ayat-ayatnya dalam salat atau dalam khutbah jumat, seperti surah Baqarah, Ali imran dan Annisa’. Juga hadis sahih mengatakan bahwa Rasulullah membaca surah A’raf dalam salat maghrib dan dalam salat subuh hari jum’at membaca surah Alif Lam Mim, Tanzilul Kitabi La Raibafihi” (as-Sajdah) dan Hal Ata Alal Insani (ad-Dahr) juga membaca surah Qaf pada waktu Kutbah. Surah Jumu’ah dan surah Munafikun dalam salat jum’at.
Jibril selalu mengulangi dan memeriksa Qur’an yang telah disampaikannya kepada Rasulullah sekali setiap tahun, pada bulan ramadhan dan pada tahun terakhir kehidupannya sebanyak dua kali. Dan pengulangan Jibril terakhir ini seperti tertib yang dikenal sekarang ini.
Dengan demikan tertib ayat-ayat Qur’an seperti yang ada dalam mushaf yang beredar diantara kita adalah tauqifi. Tanpa diragukan lagi. As-Suyuti setelah menyebutkan hadis-hadis berkenaan dengan surah-surah tertentu mengemukakan : ‘Pembacaan surah-surah yang dilakukan Nabi dihadapan para sahabat itu menunjukkan bahwa tertib atau susunan ayat-ayatnya adlah tauqifi. Sebab, para sahabat tidak akan menyusunnya dengan tertib yang berbeda dengan yang mereka denar dari bacaan Nabi. Maka sampailah tertib ayat seperti demikian kepada tingkat mutawatir.”
* * *

Tertib Surah
Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surah-surah Qur’an.
A.Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan jibril kepadanya atas perintah Tuhan. Dengan demikian, Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya. Seperti yang ada ditangan kita sekarang ini. Yaitu tertib mushaf Usman yang tak ada seorang sahabatpun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma’) atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apa pun.
Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surah secara tertib didalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surah aufassal (surah-surah pendek) dalam satu rakaat. Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, bahwa ia mengatakan tentang surah Bani Isra’il, Kahfi, Maryam, Taha dan Anbiya': “surah-surah itu termasuk yang diturunkan dimekkah dan yang pertama-tama aku pelajari.” Kemudian ia menyebutkan surah-surah itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini.
Telah diriwayatkan melalui Ibn wahhab, dari Su;laiman bin Bilal, ia berkata : “Aku mendengar Rabbi’ah ditanya orang, ‘ Mengapa surah baqarah dan Ali Imran di dahulukan, pada hal sebelum kedua surah itu telah diturunkan delapan puluhsekian surah makki, sedang keduanya diturunkan di madinag ?’ dia menjawab : ‘ Kedua surah itu memang didahulukan dan Qur’an dikumpulkan menurut pengetahuan dari orang yang mengumpulkannya.’ Kemudian katanya: ‘ Ini adalah sesatu yang mesti terjadi dan tidak perlu dipertanyakan.”
Ibn Hisyar mengatakan : ‘ tertib surah dan letak ayat-ayat pada tempat-tampatnya itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan: ‘Letakkanlah ayat ini ditempat ini.’ Hal tersebut telah diperkuat oleh nukilan atau riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini didalam mushaf.”
B.Dikatakan bahwa tertib surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, mengingat adanya perbedaan tertib didalam mushaf-mushaf mereka. Misalnaya mushaf Ali disusun menurut tertb nuzul, yakni dimulai dengan Iqra’, kemudian Muddassir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dst hingga akhir surah Makki dan madani.
Dalam mushaf Ibn Masu’d yang pertama ditulis adaslah surah Baqarah, Nisa’ dan Ali-‘Imran.
Dalam mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, Niasa’ dan Ali-Imran.
Diriwayatkan Ibn Abbas berkata: “Aku bertanya kepada Usman :Apakah yang mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk katergori masani dan bar’ah yang termasuk Mi’in untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan diantara keduanya Bismillahirrahmanirrahim, dan kamupun meletakkannnya pada as-Sab’ut Tiwal (tujuh surah panjang) ? Usman menjawa: ‘Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang mempunyai bilangan ayat. Apa bila ada ayat turun kepadnya, ia panggil beberapa orang penulis wahyu dan mengatakan: ‘ Letakkanlah ayat ini pada surah yang didalamnya terdapat ayat anu dan anu.” Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di madinah. Sedang surah Bara’ah termasuk yang terakhir diturunkan. Surah Anfal serupa dengan surah yang turun dalam surah Bara’ah, sehingga aku mengira bahwa surah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Bara’ah adalah sebagian dari surah Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku tuliskan Bismillahirrahmanirrahim serta aku meletakkannya pula pada as Sab’ut Tiwal.”
C.Dikatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-‘abut Tiwal, al hawamin dan al mufassal pada masa hidup Rasulullah.
Diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah berkata: bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali Imran.”
Diriwayatkan pula, ” Bahwa jika hendak pergi ketempat tidur, Rasululah mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya lalu membaca Qul huwallahu ahad dan mu’awwizatain.”
Ibn Hajar mengatakan: “Tertib sebagain surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai bersifat Tauqifi.” Untuk mendukung pendapatnya ia kemukakan hadis Huzaifah as Saqafi yang didalamnya antara lain termuat: “Rasulullah berkata kepada kami, ‘telah datang kepadaku waktu untuk membaca hizb(bagian) dari Qur’an, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai.’ Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah: bagaimana kalian membuat pembagian Qur’an ? mereka menjawab: kami membaginya menjadi tiga surah , lima surah, tujuh surah, sembilan, sebelas , tiga belas surah dan bagian al Mufassal dari Qaf samapi kami khatam.”
Kata Ibn Hajaar : ” Ini menunjukkan bahwa tertib surah-surah seperti terdapat dalam mushaf sekarang adalah tertib surah pada masa Rasulullah.” Dan katanya: “Nmun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufassal, bukan yang lain.”
Apa bila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua, yang menyatakan tertib surah-surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai terib mushaf mereka yang khusus, merupakan ihtiyar mereka sebelum Qur’an dikumpulkan secara terib. Ketika pada masa Usman Qur’an dikumpulkan , ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada suatu huruf ( logat) dan umatpun menyepakatinya, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditnggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad , tentu mereka tetap berpegang pada mushafnya masing-masing.
Mengenai hadis tentang surah al-Anfal dan Taubah yang diriwayatkan dari Ibn Abbas diatas, isnadnya dalam setiap riwayat berkisar pada Yazid al Farsi yang oleh Bukhari dikategorikan dalam kelompok du’afa’. Disamping itu dalam hadis inipun tedapat kerancuan mengenai penempatan basmalah pada permulaan surah, yang mengesankan seakan-akan Usman menetapkannya menurut pendapatnya sendiri dan meniadakannya juga menurut pendapatnya sendiri. Oleh karena itu dalam komentarnya terdapat hadis tersebut dalam musnad Imam Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir, menyebutkan: “Hadis itu tak ada asal mulanya” paling jauh hadis itu hanya menunjukan ketidak tertiban kedua surah tersebut.
Sementara itu, pendapat ketiga yang menyatakan sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya bersifat ijtihadi, dalil-dalilnya hanya berpusat pada nas-nas yang menunjukkan tertib tauqifi. Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menunjukkan tertin ijtihadi. Sebab, ketetapan yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti bahwa selain itu adalah hasil ijtihad. Disamping itu pula yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.
Dengan demikian bahwa tertib surah itu bersifat tauqifi seperti halnya tertib ayat-ayat. Abu Bakar Ibnul Anbari menyebutkan: “Alah telah menurunkan Qur’an seluruhnya kelangit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surah turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi dimana surah dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah , seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat Qur’an , seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barang siapa mendahulukan sesuatu surah atau mengakhirinya, ia telah merusak tatanan Qur’an.”
Al- kirmani dalam al Burhan mengatakan : “Tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada lauh mahfuz, Qur’an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan dihadapan Jibril setiap tahun apa yang dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan dihadapan Jibril menurut tertb ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali. Dan ayat yang terakhir kali turun ialah : Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah (albaqarah : 28). Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakkan ayat ini diantara ayat riba dan ayat tentang utang piutang.
As Suyuti cenderung pada pendapat Baihaqi yang mengatakan: “Qur’an pada masa Nabi surah dan ayat-ayatnya telah tersusun menurut tertib ini kecuali anfal dan bara’ah, karena hadis Usman.”
* * *

Surah-surah dan Ayat-ayat Qur’an
Surah-surah Qur’an itu ada empat bagian: 1) at-Tiwal, 2) al-Mi’un, 3) al-Masani, 4) al-Mufassal. Berikut ini kita kemukakan secara singkat pendapat terkuat mengenai keempat bagian itu:
1).at-Tiwal ada tujuh surah yaitu : Baqarah, ali Imran, Nisa’, Ma’idah, an’Am, A’raf, dan yang ketujuh- ada yang mengatakan Anfal dan Bara’ah sekaligus karena tidak dipisah dengan basmalah diantara keduanya. Dan dikatakan pula bahwa yang ketujuh ialah surah Yunus.
2).al-Mi’un, yaitu surah-surah yang ayat-ayatnya lebih dari seratus atau sekitar itu.
3).al-Masani, yaitu surah-surah yang jumlah ayatnya dibawah al-Mi’un. Dinamakan masani karena surah itu dibaca berulang-ulang lebih banyak dari at-Tiwal dan al-Mi’un.
4).al-Mufassal, dikatakan bahwa surah-surah ini dimulai dari surah Qaf, ada pula yang mengatakan dimulai dari surah Hujurat, juga ada yang mengatakan dimulai dari surah yang lain. Mufassal dibafau menjadi tiga: Tiwal, Ausat, dan qisar. Mufassal Tiwal dimulai dari surah Qaf atau Hujurat sampai dengan ‘Amma atau Buruj. Mufassal ausat dimulai dari surah ‘Amma atau Buruj sampai dengan Duha atau Lam yakun, dan mufassal qisar dimulai dari Duha atau Lam Yakun sampai dengan Qur’an surah terakhir.
Dinamakan mufassal karena banyaknya fasl (pemisahan) diantara surah-surah tersebut dengan basmalah.
Jumlah surah Qur’an ada seratus empat belas surah, dan dikatakan pula ada seratus tiga belas surah. Karena surah Bara’ah dan Anfal dianggap satu surah. Adapun ayatnya sebanyak 6.200 lebih namun kelebihan ini masih diperselisihkan. Ayat terpanjang adalah ayat tentang utang piutang. Sedang surah terpanjang adalah Baqarah. Pembagian seperti ini dapat mempermudah orang unutuk menghafalnya, mendorong mereka untuk mengkaji dan mengingatkan pembaca surah bahwa ia telah engambil bagian yang cukup dan jumlah yang memadai dari pokok-pokok agama dan hukum-hukum syariat.

Kaidah-kaidah Yang Diperlukan Para Mufassir

Kaidah-kaidah Yang Diperlukan Para Mufassir

Untuk menerjuni suatu ilmu apa-pun seseorang perlu mengetahui dasar-dasar umum dan ciri-ciri khasnya. Ia terlebih dahulu harus mempunyai pengetahuan yang sukup tentang ilmu tersebut dan ilmu-ilmu lain sebagai penunjang yang diperlukan dalam kadar yang dapat membantunya mencapai tingkat ahli dalam disiplin ilmu tersebut, sehingga disaat memasuki detail permasalahannya ia telah memiliki dengan lengkap kunci pemecahannya. Oleh karena Al-Quran Al-Kariem diturunkan dalam bahasa arab yang jelas, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an dengan bahasa arab agar kamu memahaminya” (Yusuf: 2), maka kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami Quran terpusat pada kaidah-kaidah bahasa, pemahaman asas-asasnya, penghayatan uslub-uslubnya dan penguasaan rahasia-rahasianya. Dan untuk hal ini semua telah tersedia banyak pembahasan secara rinci dan kajian yang lengkap yang bertebaran dalam berbagai cabang ilmu bahasa arab, namun disini kami hanya akan mengemukakan secara singkat beberapa hal penting yang harus diketahui lebih dahulu.
Damir (kata ganti)
Damir mempunyai kaidah-kaidah kebahasaan tersendiri yang disimpulkan oleh para ahli bahasa dari Al-Quran Al-Kariem, sumber-sumber asli bahasa arab, hadis Nabawi dan dari perkataan orang-orang arab yang kata-katanya dapat dijadikan pedoman (hujjah), baik yang berupa puisi (nazam) maupun prosa (nasar). Ibn al Anbari telah menyusun sebuah kitab terdiri 12 jilid yang khusus membahas damir-damir yang terdapat dalam Qur’an
Pada dasarnya, damir diletakkan untuk mempersingakat perkataan, ia berfungsi untuk mengggantikan penyebutan kata-kata yang banyak dan menempati kata-kata itu secara sempurna. Tanpa merubah makna yang dimaksud dan tanpa pengulangan. Sebagai contoh, damir “hum” pada ayat “A’addallahu lahum maghfiratan waajran adziiman” telah menggantikan dua puluh kata. Jika kata-kata itu diungkapkan bukan dalam bentuk damir, yaitu kata-kata yang terdapat pada permulaan ayat : (al Ahzab : 35)
Setiap damir gaib (kata ganti orang pertama) memerlukan tempat kembali atau penjelas, yaitu kata-kata yang digantikannya dan menurut kaidah bahasa tempat kembali itu harus mendahuluinya. Ahli nahwu mmemberikan alasan bagi ketentuan ini, bahwa damir mutakalim (orang pertama) dan damir mukhatab (orangf kedua) telah dapat diketahui maksudnya secara jelas melalui keadaan yang dilingkupinya, tidak demikian halnya dengan damir gaib. Karena itu menurut kaidah ini tempat kembali damir tersebut harus mendahuluinya agar apa yang dimaksud dengannya dapat diketahui lebih dahulu itulah sebabnya para ahli nahwu menetapkan, ” damir gaib” tidak boleh kembali kepada lafaz yang terkemudian dalam pengucapan dan kedudukannya.” Dari kaidah ini dikecualikan beberapa hal yang didalamnya damir kembali kepada tempat kembali yang tidak disebutkan karena apa yang dimaksudnya telah ditunjukkan oleh sebuah qarinah (indikasi) yang ada pada lafaz yang mendahulinya atau oleh keadaan lain melingkupi suasana pembicaraan.
Ibn Malik dalam kitabnya at Tashil menyatakan, ” kaidah menetapkan tempat kembali (marji’) damir gaib itu haris didahulukan. Marji’ ialah lafaz yang terdekat dengannya, kecuali bila dalil yang menunjukkan lain. Terkadang marji’ untuk dijelaskan lafaznya dan terkadang pula tidak dijelaskan karena adanya indikator, baik yang inderawi maupun yang diketahui melalui penalaran (‘ilmi), yang menunjukkan kapada damir, atau karena telah disebutkannya sesuatu yang merupakan bagian marji’, keseluruhannya, imbangannya, atau yang menyertainya, dalam bentuk apa apun jua : ” dengan demikian damir gaib adalah lafaz yang telah disebutkan sebelumnya dan harus sesuai dengannya. Inilah yang banyak dan umum , seperti dalam firmanNya: (Hud : 42) atau yang mendahuluinya itu mengandung apa yang dimaksud oleh damir, seperti dalam firmanNya ( al Maidah : 8) damir “Huwa” disini kembalinkepada keadilan, al adlu yangvterkandung dalam lafadz I’dilu jadi arti selengkapnya keadilan itu lebih dekat kepada ketaqwaan. Atau lafadz yang mendahuluinya itu mrnunjukkan kepada damir berdasarkan kelaziman, keniscayaan (iltizam) seperti (al Baqarah: 178). Damir pada kata “Ilaihi” kembali kelafaz ‘al ‘afi (orang yang memaafkan) yang harus ada karena adanya lafaz ‘ufiya’ (dimaafkan)
Marji’ damir kadang-kadang terletak sesudah damir itu sendiri, namun hal ini hanya dalam pengucapannya, tidak dalam kedudukan (jabatan katanya) seperti dalam (Taha : 67). Tetapi ada juga yang terletak kemudian dalam pengucapan meupun kedudukannya sebagaimana terdapat dalam damir sya’n, damir qisah, ni’ma dan bi’sa, misalnya firman Allah : ( al Ikhlas : 1) , ( al Anbiya: 97) , ( al Kahfi: 50) , dan (al A’raf: 177). Selain itu ada pula lafaz yang datang sesudah damir menunjukkan marji’ damir itu, seperti pada firman Allah: ( al Waqi’ah: 83). Damir rafa’ yang tersimpan disini ditunjukkan oleh lafaz ” al hulqum”, yang jika dinyatakan dengan lengkap akan berbunyi : ‘falau laa idzaa balaghatir ruuhul hulquum’.
Marji’ adakalanya dapat dipahami dari konteks kalimat, seperti pada : (ar Rahman: 26), maksud lafaz “‘alaiha” ialah ”alal ardi’ , (al Qadar: 1) yakni “Anzalna al qur’an” , (Abasa: 1) yakni “Nabi saw” dan ( Hud : 13) damir “wawu” pada lafaz ‘yaquuluun’ kembali kepada “orang-orang musyrik” dan damir fa’il lafaz “iftara” kembali kepada “Nabi”, sedang damir maf’ulnya kembali kepada “al Qur’an”.
Damir terkadang kembali kepada lafadz, bukan kepada makna, seperti dalam firmanNya (Fatir : 11), damir pada ” umurihi” kembali kepada lafaz “mu’ammar” namun yang dimaksud adalah “mu’ammar” yang lain. Berkata al Farra': yang dimaksud ialah mu’ammar yang lain bukan mu’ammar yang pertama , tetapi ia dikinayahkan dengan damir seakan- akan ia adalah mu’ammar yang pertama. Hal ini jika lafaz itu ditampakkan maka sama persis dengan lafaz pertama, sehingga akan berbunyi ” wa al yunqasu min ‘umuri mu’ammar” . jadi jelaslah bahwa damir pada “min ‘umurihi” kembali kepada lafaz “mu’ammar” yang lain, bukan mu’ammar pertama. Ini tidak ubahnya dengan perkataan “‘indi dirhamun wa nisfuhu” (aku mepunyai satu dirham dan separuhnnya) maksudnya separuh dirham yang lain.
Damir terkadang kembali kepada makna saja, seperti pada : (an Nisa; 176), damir pada “kanata” tidak didahului oleh lafaz tasniyah sebagai marji’nya, hal itu karena kata “kalalah” dapat dipakai untuk mufrad, tasniyah atau jamak. Jadi pen-tasniyah-han damir yang kembali kepada kalalah itu didasarkan kepada maknanya. Juga seperti : (an Nisa': 4). Damir pada kata “minhu” kembali kepada makna “as Saduqat” sebab lafaz ini semakna dengan “as Sidaq” atau “ma us diqa” (sesuatu yang dijadikan mahar) . ayat ini seakan akan berbunyi ‘wa utun nisa a shidaa qahunna aw maa ashdaq tumuu hunna” (berikanlah mahar kepada para wanita atau apa yang kamu jadikan sebagai mahar bagi mereka).
Terkadang damir itu disebutkan terlebih dahulu dan kemudian di beri predikat (kahabar) dengan lafaz yang menjelaskannya, seperti : ” in hiya illa hayaa tunad dunyaa” (al An’am: 29), juga terkadang ia ditasniyahkan padahal ia kembali pada salah satu dari dua hal yang telah disebutkan, misalnya : ‘yakhruju minhuma lu’lu’u wal marjaanu’ (ar Rahman: 22). Mutiara dan marjan keluar dari salah satu dua laut, yaitu laut yang asin, bukan laut yang tawar. Keluarnya mutiara dan marjan dari salah satu laut dua ini dipandang keluar dari keduanya. Inilah pendapat az Zujaj dan yang lain.
Damir terkadang juga kembali sesuatu yang ada hubungan erat dengannya, seperti pada ayat “Lam yal bisyuu illa asysyiyatan aw duhaha” (an Naziat: 46) yang dimaksud dengan damir “ha” pada lafaz “duhaha” ialah “duha yau miha” (waktu duha hari itu), bukan ” duha al asyiyah” (waktu duha sore itu), karena waktu sore tidak mempunyai waktu duha.
Selain itu, dalam penggunaan damir mula-mula yang diperhatikan adalah segi lafaz, namun kemudian segi maknalah yang diperhatikan. Ini seperti terlihat pada (al Baqarah : 8). Damir pada “yaqulu” dimufradkan berdasarkan pada lafaz “man” kemudian pada lafaz ” wa ma hum” dijamkkan berdasarkan pada maknanya.
Ta’rif dan Tankir ( Isim Ma’rifah dan Nakirah)
A. Penggunaan isim nakirah
Penggunaan isim nakirah ini mempunyai beberapa fungsi, diantaranya: 1.
untuk menunjukkan satu, seperti pada surah (Yasin :20). “rajulun” maksudnya adalah seorang laki-laki 2.
untuk menunjukkan macam, seperti surah ( al Baqarah: 96), yakni sesuatu macam dari kehidupan, yaitu mencari tambahan untuk masa depan, sebab keinginan itu bukan terhadap masa lalu atau masa sekarang. 3.
untuk menunjukkan “satu” dan “macam” sekaligus. Misalnya pada surah (an Nur: 45). Maksudnya setiap macam dari dari segala macam binatang itu berasal dari suatu macam air dan setiap individu (satu) binatang itu berasal dari satu nutfah. 4.
untuk membesarkan (memuliakan) keadaan, seperti: (al Baqarah: 279). Maksud “harbin” ialah peperangan yang besar atau dahsyat. 5.
untuk menunjukkan arti banyak, seperti pada ayat “a inna lana la ajran” (asy-Syuara':42). Maksud ‘ajran’ ialah pahala yang banyak. 6.
untuk membesarkan dan menunjukkan banyak (gabungan no 4 dan 5) misalnya : (Fatir: 4). Maksudnya rasul-rasul yang mulia dan banyak jumlahnya. 7.
untuk meremehkan, misalnya (‘Abasa: 18). Yakni dari sesuatu yang hina, rendah dan teramat remeh. 8.
untuk menyatakan sedikit, seperti dalam surah ( Bara’ah: 72). Maksudnya keridhaan yang sedikit dari Allah itu lebih besar dari pada surga, karena keridahaan itu pangkal dari segala kebahagiaan.
B. Penggunaan isim ma’rifah
Penggunaan isim ma’rifah (ta’rif) mempunyai beberapa fungsi yang berbeda sesuai dengan macamnya. 1.
ta’rif dengan isim damir (kata ganti) karena keadaan menghendaki demikian, baik damir mutakallim, mukhattab maupun gaib 2.
ta’rif dengan ‘alamiah (nama) berfungsi untuk : a)
menghadirkan pemilik nama itu dalam hati pendengar dengan cara menyebutkan namanya yang khas. b)
Memuliakan seperti pada ayat : “Muhammadun Rasulullah” (al Fath: 29) c)
Menghinakan seperti pada ayat; “tabbat yada abi lahabiwa tab” (al lahab : 1) 3.
ta’rif dengan isim isyarah (kata tunjuk) berfungsi untuk ” a)
menjelaskan bahwa sesuatu yang ditunjuk itu dekat, seperti (Luqman: 11) b)
menjelaskan keadaannya dengan menggunakan “kata tunjuk jauh” seperti (al Baqarah: 5) c)
menghinakan dengan memakai kata tunjuk dekat, seperti ; (al Ankabut: 64) d)
memuliakan den gan memakai kata tunjuk jauh, seperti pada ‘Dzalikal kitabula raiba fihi” (al Baqarah: 2) e)
mengingatkan (tanbih) bahwa sesuatu yang ditunjuk (musayar ilaihi) yang diberi beberapa sifat itu sangat layak dengan sifat yang disebutkan sesudah isim isyarah tersebut. Misalnya: (al Baqarah: 2-5) 4.
ta’rif dengan isim mausul (kata ganti penghubung) berfungsi: a)
karena tidak disukainya menyebutkan nama sebenarnya untuk menutupinya atau disebabkan hal lain, seperti pada firman Allah (al Ahqaf : 17) dan firmanNya : (Yusuf : 23 ) b)
untuk menunjukkan arti umum, seperti firmsn Allah ( al Ankabut : 69) c)
untuk meringkas kalimat, seperti ( al Ahzab : 69) andai kata nama-nama orang yang mengatakan itu disebutkan tentulah pembicaraan (kaimat) itu menjadi panjang. 5.
ta’rif dengan alif lam (al ) berfungsi : a)
untuk menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui karena telah disebutkan ( ma’had zikr) seperti (an Nur : 35) b)
untuk menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui bagi pendengar seerti (al Fath : 8) c)
sesuatu yang sudah diketahui karena ia hadir saat itu seperti (al Maidah : 3) d)
untuk mencakup semua satuannya (istighratul afrad), seperti (al ‘Asr: 2). Ini diketahui karena ada pengecualian sesudahnya e)
untuk menghabiskan segala karakteristik jenis seperti :dzalikal kitab” (al Baqarah :2). Maksudnya kitab yang sempurna petunjuknya dan mencakup semua isi kitab yang diturunkan dengan segala karakteristiknya. f)
Untuk menerangkan esensi, hakikat dan jenis seperti dalam surah (al Anbiya : 30)
Pengulangan Kata Benda (isim)
Apa bila sebuah isim disebutkan dua kali maka dalam hal ini ada empat kemungkinan: kedua-duanya ma’rifah, kedua-duanya nakirah, yang pertama nakirah sedang yang kedua ma’rifah, dan yang pertama ma’rifah sedang yang kedua nakirah.
1) apa bila kedua-duanya ma’rifah maka pada umumnya yang kedua ialah hakikat yang pertama. Misalnya (al Fatihah : 6-7)
2) jika kedua-duanya nakirah, maka yang kedua biasanya bukan yang pertama. Misalnya ( ar Rum :54). “Du’f” pertama adalah nutfah (sperma), “Du’f” kedua tufuliyah (masa bayi). Sedang “Du’f” yang ketiga adalah ‘syaikhukhah (masa lanjut usia)
kedua macam ini telah terkumpul pada surah (al Insyirah: 5-6). Oleh karen aitu dalam sebuah riwayat Ibn Abbas berkata “satu ‘Usr” (kesulitan) tidak akan mengalahkan dua “Yusr (kemudahan) . hal ini karena kata ‘usr’ yang kedua di ulnagi dengan al (ma’rifah) , maka ia adalag ‘usr’ yang pertama, sedang kata ‘yusr’ yang kedua bukan ‘yusr’ yang pertama karena ia diulangi tanpa ‘al’.
3) jika yang pertama nakirah dan yang kedua adalah ma’rifah maka yang kedua adalah hakikat yang pertama, karena itulah yang sudah diketahui. Misalnya dalam surah (al Muzammil: 15-16)
4) jika yang pertama ma’rifah sedang yang kedua nakirah, maka apa yang dimaksudkan bergantung pada qarinah. Terkadang qarinah menunjukkan bahwa keduanya itu berbeda seperti pada firman Nya: (ar Rum: 55). Terkadang pula ia menunjukkan bahwa keduanya sama, seperti (az Zumar: 27-28)
Mufrad dan Jamak
Sebagian lafaz dalam Qur’an dimufradkan untuk sesuatu makna tertentu dan dijamakkan untuk sesuatu isyarat khusus, lebih diutamakan jamak dari mufrad atau sebaliknya. Oleh karena itu dalam Qur’an sering dijumpai sebagian lafaz yang hanya dalam bentuk jamaknya dan ketika diperlukan bentuk mufradnya maka yang digunakan adalah kata sinonim (muradifnya). Misalnya : kata “al lubb” yang selalu disebutkan dalam bentuk jamak, albab, seperti terdapat pada surah (az Zumar : 21). Kata ini tidak pernah digunakan dalam Qur’anbentuk mufradnya, namun muradifnya disebutkan, yaitu lafadz “al qalb” seperti (Qaf: 37). Dan kata “al kub” tidak pernah dipakai bentuk mufradnya, tetapi selalu bentuk jamaknya, “al akwab” misalnya (al Gasyiyah:14)
Sebaliknya ada sejumlah lafaz yang hanya datang dalam bentuk mufradnya dusetiap tempatdalam Qur’an. Dan ketika hendak dijamakkan maka ia dijamakkan dalam bentuk yang menarik yang tiada bandingannya, seperti terdapat pada surah (at Talaq: 12). Allah tidak berfirman ” wasab ‘a ardin”, karena yang demikian adalah kasaar dan merusak keteraraturan susunan kalimat.
Termasuk kelompok ini ialah “assama ‘u” ia terkadang disebutkan dalam bentuk jamak dan terkadang dalam bentuk mufrad, sesuai dengan keperluan. Jika yang dimaksudkan adalah “bilangan” maka ia didatangkan dalam bentuk jamak yang menunjukkan betapa sangat besar dan luasnya, seperti dalam surah (al Hasyr : 1). Dan jika yang dimaksudkan adalah “arah” maka ia didatangkan dalam bentuk mufrad, seperti (al mulk: 16)
Lafadz “ar-rih” juga termasuk kategori ini, ia disebutkan dalam bentuk jamak dan mufrad. Pemakaian bentuk jamak dalam konteks rahmat sedang bentuk mufrad dalam bentuk azab. Disebutkan hikmahnya ialah bahwa ” riya hurrahmah” atau angin rahmat itu bermacam-macam sifat dan manfaatnya-dan terkadang sebagiannya berhadapan dengan sebagian yang lain-diantaranya ada angin semilir yang bermanfaat bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu dalam konteks rahmat ini ia dijamakkan, ” riyaahun”. Sedang dalam konteks azab “rih” atau angin itu datang dari satu arah, tanpa ada yang menentang atau menolaknya.
Ibn Abi Hatim dan yang lain meriwayatkan , Abu Ka’ab berkata : ‘Segala sesuatu yang disebut dengan ‘Arriyah” dalam Qur’an ialah rahmat, sedang yang disebut dengan “ar-rih” adalah azab.oleh karena itu tersebutlah dalam sebuah hadis ” Allahumma ij’alha riyahan wa la taj ‘alha rihan”. Jika tidak demikian maka hal itu karena ada hikmah lain.”
Termasuk kelompok ini adalah lafaz “an nur” yang senantiasa di mufradkan dan lafaz “az zumulat” yang senantiasa jamak. Juga lafaz “sabil al haqq” yang selalu di mufradkan dan “sabil al batil” yang selalu jamak. Ini karena jalan (sabil) menuju kebenaran itu hanya satu sedang jalan menuju kebatilan banyak sekali dan bercabang-cabang. Dengan alasan seperti ini lafaz “walliyul mu’minin” dimufradkan dan “auliya’ul kafirin” dijamakkan, seperti terlihat dalam : (al Baqarah 257) dan ( al An’am: 153)
Lafaz ” al masyriq” dan “al maghrib” juga termasuk kelompok ini. Keduanya disebutkan dalam bentuk mufrad, tasniyah dan jamak. Pemakaian bentuk mufrad karena mengingat arahnya dan untuk mengisyaratkan kearah timur dan barat, seperti dalam ayat : “rabbul masyriqaini warabbul maghribaini” (ar Rahman : 17) . sedang bentuk jamak digunakan mengingat keduanya ialah tempat terbit dan tempat terbenam setiap hari, seperti dalam ayat : “fala uqsimu birabbil masyariqi wal magharibi” ( al Ma’arij: 40)
Mengimbangi Jamak dengan Jamak atau dengan Mufrad
Mengimbangi jamak dengan jamak terkadang dimaksudkan bahwa setiap satuan dari jamak yang satu diimbangi dengan satuan jamak yang lain. Misalnya dalam surah ( Nuh: 7). Maksudnya, setiap orang dari mereka menutupi badannya dengan bajunya masing-masing. Dan seperti (al Baqarah: 233). Maksudnya masing-masing ibu menyusui anaknya sendiri.
Terkadang dimaksudkan pula bahwa isi jamak itu ditetapkan atau diberlakukan bagi setiap individu yang terkena hukuman, seperti: (an Nur : 4). Maksudnya ialah deralah setiap orang dari mereka sebanyak bilangan tersebut. Disamping itu terkadang kedua maksud tersebut dapat diterima, namun dalam hal ini perlu ada dalil yang menenyukan salah satunya.
Adapun mengimbangi jamak dengan mufrad maka pada umumnya tidak dimaksudkan untuk menunjukkan keumuman mufrad tersebut, tetapi kadang-kadang hal demiakin dapat saja terjadi. Misalnya (al Baqarah : 1840. maksudnya ialah setiap orang yang tidak sanggup berpuasa wajib memberikan makanan kepada seorang miskin setiap hari.
Kata-kata yang Dikira Mutaradif (sinonim), tetapi Bukan
Diantaranya adalah “al khauf” dan “al khasyyah”. Makna “al khasy yah” berarti lebih tinggi dari “al khauf”, karena al khasyyah terambil dari kata-kata ‘syajarah khasyyah’ artinya pohon yang kering. Jadi arti al khasyyah ialah totalitas rasa takut. Sedangkan “al khauf” terambil dari kata-kata ‘naqah khaufa’ , artinya unta betina yang berpenyakit, yakni mengandung kekurangan, bukan berarti sirna sama sekali. Disamping itu “al khasyah” adalah rasa takut yang timbul karena agungnya pihak yang ditakuti meskipun pihak yang mengalami takuut itu seorang kuat. Dengan demikian, ‘al khasyyah’ adalah al kauf atau rasa takut yang disertai rasa hormat (ta’zim); sedang al khauf adalah rasa takut yang timbul karena lemahnya pihak yang merasa takut kendatipun pihak yang ditakuti itu hal yang kecil. Dilihat dari akar katanya , al khasyyah terdiri dari kha’, syin dan ya’ yang didalam tasyrifnya menunjukkan sifat keagungan dan kebesaran, seperti ‘asy syaikh’ berarti pemimpin besar, dan ‘al khaisy’ berarti pakaian yang tebal. Oleh karena itu, kata “al khasyyah” sering digunakan berkenaan dengan hak Allah, seperti dalam surah (Fatir: 28), (al Ahzab: 39). Adapun ‘al khauf’ dalam ayat surah (an Nahl: 50) digunakan untuk mensifati para malaikat sesudah menyebutkan kekuatan dan kehebatan mereka. Maka pemakaian kata alkhauf disini untuk menjelaskan bahwa sekalipun pa ra malaikat itu besar-besar dan kuat tetapi dihadapan Allah mereka lemah. Ungkapan itu kemudian disambung dengan “fauqahum” yang berarti Allah itu diatas mereka. Hal ini menunjukkan akan kebesaranNya. Dengan demikan terkumpullah dua unsur makna yang terkandung oleh “al khasyyah” tanpa merusak arti kehebatan para malaikat yaitu “khauf” dan penghormatan mereka kepada Tuhan.
Diantaranya pula ialah “as sabil” dan “at tariq”. Yang pertama banyak dipakai dalam kebaikan sedang yang kedua hampir tidak pernah dipakai pada kebaikan kecuali bila disertai sifat atau idafah yang menunjukkan makna dimaksud. Misalnya dalam surah (al Ahqaf : 30). Menurut ar Raghib dalam mufradatnya, “as sabil” adalah “at tariq” atau jalan yang didalamnya terdapat kemudahan. Jadi lebih khusus dari “at tariq”.
Demiakian pula “madda” dan “a madda” ar Ragib dalam menjelaskan , kata “imdad”-bentuk masdar dari amadda- banyak dipakai pada hal-hal yang disenangi, seperti pada ayat : ‘wa amdadna humbifakihatin’ (at Tur: 22), sedang ‘madda’ dipergunakan pada sesuatu yang tidak disenangi, misalnya pada ; ‘wanamuddulahu minal ‘adzabi madda’ (Maryam;79).
Pertanyaan dan Jawaban.
Pada dasarnya jawaban itu harus sesuai dengan pertanyaan. Namun ia terkadang menyimpang dari apa yang dikehendaki pertanyaan. Hal ini untuk mengingatkan bahwa jawaban itulah yang seharusnya ditanyakan. Jawaban seperti ini disebut ‘uslub al hakim’. Sebagai contoh firman Allah ; (al Baqarah: 189). Mereka menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang bulan, mengapa pada mulanya ia tampak kecil seperti benang, kemudian bertambah sedikit demi sedikit hingga purnama, kemudian menyusut lagi terus-menerus sampai kembali seperti semula. Jawaban yang diberikan kepada mereka berupa penjelasan mengenai hikmahnya, untuk mengingatkan mereka bahwa yang lebih pentingditanyakan ialah hal tersebut, bukan apa yang mereka tanyakan itu. Terkadang sebuah jawaban lebih umum dari apa yang ditanyakan, kerana memang hal itu dianggap perlu, misalnya pada surah (al An’am ayat 64) sebagai jawaban bagi pertanyaan surah (al An’am ayat 63). Terkadang pula lebih sempit dari pertanyaan karena keadaan menghendaki demikian, seperti ayat dalam surah ( Yunus ayat ;15) sebagai jawaban bagi “I’ti biqurani ghairi hadza aw baddilhu’. Hal ini mengingatkan bahwa mengganti lebih mudah dari pada menciptakan. Jika mengganti saja tidak mempu tentulah menciptakan lebih tidak mampu lagi.
Kata “su’al” bila dipakai untuk meminta sesuatu pengertian, maka terkadang ber muta’addi kepada maf’ul kedua secara langsung, dan terkadang dengan menggunakan kata bantu ” ‘an” . misalnya ” wayas alunaka ‘anir ruhi” (al Baqarah: 85) . dan bila dipergunakan untuk meminta sesuatu benda atau yang serupa ,ia muta’addi kepada maf’ul kedua itu secara langsung atau dengan kata bantu ‘min’ , namun cara pertama lebih banyak berlaku. Misalnya “was alu ma anfaqtum” (al Mumtahanah: 10) dan “wasalullaha min fadlihi” (an Nisa’ : 32).
Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah
Jumlah ismiyah atau kalimay nominal menunjukkan arti subut (tetap) dan istimrar ( terus-menerus), sedang jumlah fi’liyah atau kalimat verbal menunjukkan arti tajaddud (timbulnya sesuatu) dan hudus (temporal). Masing-masing kalimat ini mempunyai tempat tersendiri yang tidak bisa ditempati oleh yang lain. Misalnya tentang infaq yang diungkapkan dengan kalimat verbal. Seperti dalam ayat “alladzina yunfiquna fissarai wadhdharai” (Ali Imran: 134).
Disini tidak digunakan kalimat nominal. Namun dalam masalah keimanan digunakanlah kalimat nominal, seperti dalam surah (al Hujurat: 15). Hal ini karena infaq merupakan suatu perbuatan yang bersifat temporal yang terkadang ada dan terkadang tidak ada. Lain halnya dengan keimanan. Ia mempunyai hakikat yang tetap berlangsung selama hal-hal yang menghendakinya masih ada.
Yang dimaksud tajaddud dalam fi’il madi (kata kerja masa lampau) ialah perbuatan itu timbul tenggelam. Terkadang ada dan terkadang tidak ada. Sedang dalam fi’il mudari’ (kata kerja masa kini atau masa akan datang), perbuatan itu terjadi berulang-ulang. Fi’il atau kata kerja yang tidak dinyatakan secara jelas dalam hal ini sama halnya dengan fi’il yang dinyatakan secara jelas. Karena itu para ulama berpendapat, salam yang disampaikan oleh Ibrahim a.s lebih berbobot (ablag) dari pada yang disampaikan para malaikat kepada Ibrahim, seperti yang tersurat dalam surah ( az Zariyat : 25). Kata ‘salaman’ dinasabkan karena ia masdar yang menggantikan fi’il. Asalnya “tusallimu ‘alaika salaman” . ungkapan ini menunjukkan bahwa pemberian salam dari mereka baru terjadi saat itu. Berbeda dengan jawabannya, “qala salamun ‘alaikum”. Lafaz ‘salamun’ dirafa’kan karena menjadi mubtada’ (subyek) yang khabar (predikat) nya tidak disebutkan. Kalimat itu lengkapn ya ialah “‘alaikum salamun” yang menunjukkan tetapnya salam. Disini nampaknya Ibrahim bermaksud membalas salam mereka dengan cara yang lebih baik dari yang mereka sampaikan kepadanya. Demi melaksanakan etika yang diajarkan Allah swt . Disaping juga merupakan penghormatan Ibrahim kepada mereka.
‘Ataf
‘Ataf terbagi atas tiga macam :
1.’Ataf kepada lafaz, dan inilah yang pokok bagi ‘ataf.
2.’Ataf kepada mahall (kedudukan kata). Misalnya dalam ayat “innalladzina amanu walladzina hadush shabiun” (al Maidah: 69). Menurut al Kisa’I lafaz “as sabi un” di;atafkan kepada mahall inna dan isimnya yang kedudukannya adalah marfu’ karena permulaan kalimat.
3.’Ataf kepada makna. Misalnya dalam ayat “laula akhkhartani ila ajalin qaribin fa ashshaddaqa wa akun” (al Munafiqun: 10). Dalam qiraah selain Abu ‘Amr lafaz “akun” dijazmkan. Menurut al Khalil dan Sibawaih lafaz tersebut di’atafkan kepada sesuatu yang dianggap ada(tawahhum) karena makna “Laula akhkhartani�.fa assaddaqa ” sama dengan “Akhkhirni�assaddaq” (tangguhkanlah aku�tentu aku akan bersedekah). Seakan-akan dikatakan: “In akhkhartani��assaddaq wa akun��.” (jika engkau menangguhkan aku �.tentu aku akan bersedekah dan termasuk�.). demikian pula al Farisi menyatakan sebagai qiraah Qubul : “Innahu manyastaqi wayashbir” (Yusuf: 90), dengan membaca sukun “ra”, sebab “man” mauusl mengandung makna syarat.
Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya meng’atafkan khabar(kalimat berita) kepada insya’ (bukan kalimat berita). Sebagian besar mereka tidak membolehkan, sedang golongan lain membolehkannya. Dengan mengambil contoh ayat “wabasysyiril mu’minina” (as Saff: 13) yang di ‘atafkan kepada ‘tu’minun’ yang terdapat dalam surah ( as Saff : ayat 10-11). Golongan yang tidak membolehkan mengatakan lafaz “tu’minun” sama maknanya dengan lafza “a minu” . dengan demikian ia adalah kalimat khabar yang bermakna insya’. Maka sah lah meng’atafkan kalimat insya’, “wabasysyir” kepadanya, seakan-akan dia katakan ; “aminu wajahidu yutsabbitkumullahu wayanshurukum wabasysyir ya rasulullahil mu’minina bidzalika” (beriman dan berjihadlah, pasti Allah akan memantapkan dan menolongmu. Dan berilah kabar gembira, wahai Rasulullah, orang-orang beriman dengan hal itu). Faedah penggunaan kalimat kabarditempat kalimat perintah (amr, insya’) ini untuk memberi pengertian tentang kewajiban mentaati perintah itu, seakan-akan kalimat tersebut berbentuk perintah, yakni “taatilah”. Karena itu ia memberitahukan tentang keimanan dan jihad yang sudah ada.
Para ulama berbeda pendapat tentang meng’atafkan kepada dua ma’mul dari dua ‘amil. Golongan yang membolehkan berdalil dengan firman Allah pada surah (al Jasiyah : 2-5). Lafaz ” wakhtilafillaili wannahar ��.ayatun liqaumin ya’qiluna” di’atafkan kepada dua ma’mul dari dua ‘amil, baik ketika dirafa’kan maupun ketika di nasabkan. Ketika dinasabkan kedua ‘amil itu “inna” dan “fi” yang kedua-duanya digantikan oleh “wawu” ini me-jarr-kan lafaz ” ikhtilafillaili wannahar” dan menesabkan lafaz “ayatin”. Dan ketika dirafa’kan kedua ;amil itu adalah ibtida’ (permulaan kalimat) dan “fi”. Maka “wawu” dalam hal ini merafa’kam lafaz “ayatun” dan menjarkan “ikhtilafin”. Pendapat ini dikemukakan oleh az Zamakhsyari.
Demikian pula mereka berbeda pendapat tentang meng’atafkan kepada damir yang majrur tanpa mengulangi huruf jarr. Golongan yang membolehkan mengajukan argumentasi dengan qiraah hamzah : “wattaqullahal ladzina tasa aluna bihi wal arhami” (an Nisa; 1). Yang menjarrkan lafaz “al arham” karena di’atafkan kepada damir, mereka juga berhujjah dengan firmanNya surah ( al Baqarah: 217) dengan lafaz ” al masjid’ majrur karena di’atafkan kepada damir pada lafaz “bihi”.
Perbedaan antara al – Ita’ dengan al- I’ta’
Terdapat perbedaan antara al- Ita’ (��� ���� ( dengan al-I’ta’ ( ������� ) didalam Qur’an. Al Juwaini menjelaskan lafaz “al ita'” labih kuat dari “al I’ta'” dalam menetapkan maf’ulnya. Karena “al I’ta'” mempunyai pola kata mautawa’ah . Dikatakan : “A’tani fa’athautu” ( ia memberikan [sesuatu] kepadaku maka akupun menerimanya). Sedang tentang “al ita'” tidak dapat dikatakan ” atani fa ataitu” , karena kalimat ini akan berarti ‘ ia memberikan (sesuatu) kepadaku maka akupun memberikannya”. Tetapi hendaklah dikatakan ” a tani fa akhadtu” ( ia memberika [sesuatu] kepadaku maka akupun menerimanya)
Fi’il atau kata kerja yang mempunyai pola mutawa’ah lebih lemah pengaruh maknanya terhadap maf’ul (obyek) dari pada fi’il yang tidak mempunyainya. Dalam hal yang pertama dapat kita katakan ; “fatha’tuhu fan qatha’a” ( aku memotongnya maka ia pun terpotong), disini nampak jelas bahwa perbuatan pelaku, berhasil tidaknya, bergantung pada keadaan obyeknya; terpengaruh atau tidak. Jika tidak terpengaruh maka ia dipandang tidak ada. Oleh karena itu mak sah dikatakan “fatha’ tuhu faman qatha’a” (aku memotongnya tetapi ia tidak terpotong). Sedang dalam fi’il yang tidak mempunyai pola mutawa’ah tidak sah kita menyatakan demiakian. Karena itu tidak boleh dikatakan ” dharabtuhu fan dharaba aw mandharaba” (aku pukul dia maka ia pun terpukulatau tidak terpukul), juga tidak boleh dikatakan ” fataltuhu fanqatala aw manqatala” ( aku membunuhnya maka iapun terbunuh atau tidak terbunuh), sebab fi’il atau perbuatan seperti ini bila telah dilakukan pelaku maka pasti ada pengaruh konkrit terhadap obyeknya, mengingat bahwa perbuatan pelaku dalam hal fi’il yang tak mempunyai pola mutawa’ah ini tidak bergantung pada keadaan obyeknya. Dengan demikian maka “al ita'” lebih kuat (intens) dari pada “al I’ta'”.
Mengenai hal diatas terdapat bukti-bukti konkrit dalam Qur’an, diantaranya :
-Surah (al Baqarah: 269). Penggunaan kata ” al ita'” (yu’ti, yu’ta, utiya ) dalam ayat ini mengingat bahwa bila hikmah telah tetap pada tempatnya, maka ia akan menetap disitu selamanya.
-Surah (al Hijr: 87)
-Surah (al Kausar: 1). Penggunaan kata “al I’ta'” (a’thainaka) dalam ayat ini karena sesudah al kausar masih terdapat banyak tempat lain yang lebih tinggi mengingat bahwa perpindahan didalam surga itu hanya kepada yang lebih besar. Demikian pula pada firman Allah surah ( At Taubah: 29). Penggunaan kata “al I’ta'” (yu’tu) disini karena jizyah itu bergantung pada sikap kita (kaum muslimin), menerima atau tidak, selain mereka (non muslim0 pun tidak membayarkannya dengan hati rela melainkan karena terpaksa. Dalam kaitannya dengan kaum muslimin tentang zakat digunakanlah kata “al ita'” ini mengandung isyaratbahwa seorang mukmin seharusnya membayar zakat itu dengan kesadaran sendiri secara ikhlas tidak seperti pembayaran jizyah.
Lafaz Fa’ala
Lafaz fa’ala digunakan untuk menunjukkan beberapa jenis perbuatan, bukan satu perbuatan saja. Jadi pemakaian lafaz ini digunakan untuk meringkas kalimat. Misalnya ayat : “labi’sama kanu yaf’alun” (al Ma’idah : 79), arti lafaz “fa’ala” (yaf’alun ) dalam ayat ini mencakup segala kemungkaran yang mere ka lakukan. Dan ayat ” fain lam taf’alu walan taf’alu” (al Baqarah: 24). Maksudnya jika kamu tidak mendatangkan sebuah surahpun yang sama dengan Qur’an dan kamu tidak akan dapat mendatangkannya��.apa bila lafaz fa’ala itu digunakan dalam firman Allah maka ia menunjukkan “ancaman keras” misalnya : “alam tara kaifa fa’ala rabbuka biash habil fil” (al Fil; 1) dan : “watabayyana lakum kaifa fa’alna bihim” (Ibrahim: 45).
Lafaz Kana
Seringkali lafaz kana dalam Qur’an digunakan berkenaan dengan dzat Allah dan sifat-sifatNya. Para ahli nahwu dan yang lain berbeda pendapat tentang lafaz tersebut, apakah ia menunjukkan arti inqita’ (terputus) sebagai berikut:
Pertama, “kana” menunjukkan arti “inqita'” sebab ia adalah fi’il atau kata kerja yang memberika arti tajaddud, temporal.
Kedua, “kana” tidak menunjukkan arti inqita’ melainkan arti dawam (kekal, abadi). Ini pendapat yang dipilih Ibn Mu’ti yang mengatakan dalam al fiyahnya : “wakana lil madhil ladzi man qatha’a ( “kana” menunjukkan peristiwa masa lampau yang tidak terputus)
Mengenai firman Allah : ‘wakanasy syaithanu lirabbihi kafuran (al Isra': 270 ar Ragib menyatakan, lafaz “kana” disni menunjukkan bahwa setan sejak diciptakan senantiasa tetap berada dalam kekafiran.
Ketiga ‘kana” adalah suatu kata yang menunjukkan adanya sesuatu pada masa lampau secara samar-samar, yang didalamnya tidak ada petunjuk mengenai ketiadaan yang mendahuluinya atau keterputusannya yang datang kemudian. Misalnay firman Allah ” wakanallahu gafurar rahiman” (al Ahzab: 50). Pendapat ini dikemukakan oleh az Zamakhsyari ketika menafsirkan firmanNya : ‘kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi” (Ali Imran : 110) dalam al Kasysyaf.
Ibn ‘Atiyah menyebutkan dalam tafsir surah Fatihah, apa bila “kana” digunakan berkenaan dengan sifatsifat Allah, maka ia tidak mengandung unsur waktu.
Diantara pendapat-pendapat tersebut, yang benar adalah pendapat Zamakhsyari. Yaitu bahwa ‘kana’ menunjukkan arti betapa eratnya hubungan makna kalimat yang mengikutinya dengan masa lampau, bukan arti yang lain, dan lafaz ‘kana’ sendiri tidak menunjukkan terputus atau kekalnya makna tersebut. Dan jika menunjukkan makna demikian maka hal itu disebabkan ada ‘dalil’ lain. Dengan makna inilah semua firman Allah yang menggunakan lafaz ‘kana’ dalam Qur’an baik tentang sifat-sifatNya atau lainnya, harus diartikan, misalnya :
-� ��� ���� ����� ����� (an Nisa': 148)
���� ���� ����� �����- (an Nisa': 130)
���� ���� ����� �����- (al Ahzab: 159)
���� ��� ������� �� ���� – ( al Anbiya’ : 81) dan
���� ������ ���� ��- (al Anbiya': 78)
Apa bila firman Allah berbicara tentang sifat-sifat manusia dengan lafaz ‘kana’, maka yang dimaksud adalah menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bagi mereka sudah merupakan garizah (naluri) dan tabiat yang tertanam dalam jiwa. Misalnya firman Allah (al Isra': 11) dan firman Nya (al Ahzab: 72)
Abu Bakar ar Razi telah mengkaji dengan seksama penggunaan ‘kana’ dalam qur’an yang menyimpulkan makna-makna yang terkandung dalam penggunaannya itu. Ia menjelaskan didalam Qur’an terdapat lima macam ‘kana’ 1.
Dengan makna azali dan abadi, misalnya firman Allah “wakanallahu ‘aliman hakiman” (an Nisa'; 170) 2.
dengan makna terputus (terhenti) misalnya firman Allah (an Naml: 48). Inilah makna yang asli diantara makna-makna ‘kana’ , hal itu sebagaimana perkataan “kana zaidun shalihan aw faqiran aw maridhan aw nahwahu” ( adalah si Zaid itu seorang saleh, seorang fakir, seorang yang sakit, atau lainnya). 3.
dengan makna masa sekarang, seperti dalam ayat : “kuntum khaira ummatin” (Ali Imran: 110) dan “innash shalata kanat ‘alal mu’minina kitaban mauqutan” (an Nisa': 103) 4.
dengan makna masa akan datang, seperti dalam ayat “wayakhafuna yauman kana syarruhu mustathiran” (ad Dhar: 7) 5.
dengan makna sara (menjadi), seperti dalam ayat “wakana minal kafirin” (al Baqarah: 34).
‘kana ‘ jika terdapat dalam kalimat negatif, maka maksudnya adalah untuk membantah atau menafikkan kebenaran berita, bukan menafikkan terjadinya berita itu sendiri. Oleh karenanya ia ditafsirkan dengan “ma sahha wamas taqam” ( tidak sah dan tidak benar), seperti dalam :
-surah (al Anfal : 67)
-surah (at Taubah : 17)
-surah (an Nur : 16)
Lafaz Kada
Para ulama mempunyai beberapa pendapat tentang lafaz ‘kada’ : 1.
‘Kada’ sama dengan fi’il lainnya baik dalam hal nafi’ (negatif, meniadakan) maupun dalam hal isbat (positif , menetapkan). Positifnya ialah positif dan negatifnya ialah negatif, sebab maknanya ialah muqarabah (hampir, nyaris). Jadi makna kalimat ‘kada yaf’alu’ adalah qarabal fi’la ( ia menghampiri pekerjaan itu, hampir mengerjakan) dan makna kalimat ” ma kada yaf ‘alu” adalah “lam yuqa ribhu” ( ia tidak menghampiri pekerjaan itu, hampir tidak mengerjakannya). Predikat (khabar) “kada” selalu negatif, tetapi dalam kalimat positif kenegatifannya itu dipahami dari makna “kada” itu sendiri. Sebab berita tentang “hampirnya sesuatu” menurut kebiasannya, berarti sesuatu tersebut tidak terjadi. Jika tidak demiakian tentu tidak akan diberitakan “kehampirannya”. Apa bila “kada” itu dinegatifkan maka ketidak hampiran berbuat menghendaki, secara akal, bahwa perbuatan itu tidak terjadi. Hal sebagaimana ditunjukkan oleh ayat “ldza akhraja yadahu lam yakad yaraha” (An Nur: 40). Karena itu ayat ini lebih intens dari kalimat “lam yaraha” (ia tidak melihatny), sebab orang yang tidak melihat mungkin ia telah hampir melihatnya. 2.
“Kada” berbeda dengan fi’il-fi’il lainnya baik dalam hal positif maupun negatif. Positifnya adalah negatif, dan negatifnya adalah positif. Atas dasar ini mereka berkata “kada” jika dipositifkan maka sebenarnya menunjukkan negatif, dan jika dinegatifkan maka sebenarnya menunjukkan positif. Jika dikatakan ” kada yaf’alu” maka artinya ‘ia tidak melakukan’ berdasarkan firman Allah “wa inkadu layaftinunaka” (dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu��al Isra : 73, sebab pada kenyataannya mereka tidak memalingkan Muhammad. Dan jika dikatakan “lam yakad yaf’al” maka artinya “ia melakukan”, berdasarkan ayat : ‘fadza bakhuha wama kadu yaf’alun’ (kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melakukannya. Al Baqarah : 71 3.
“Kada” yang dinegatifkan kadang menunjukkan terjadinya sesuatu dengan susah payah dan sulit, seperti dalam surah al Baqarah : 71 diatas.
dibedakan antara yang berbentuk mudari’, “yakadu” dengan yang berbentuk madi, “kada” menegatifkan bentuk mudari’ menunjukkan arti negatif, nemun menegatifkan yang berbentuk madi menunjukkan arti positif. Yang pertama dapat dilihat dalam ayat “lam yakad yaraha” mengingat ia tidak melihatnya sedikitpun. Sedang yang kedua didasarkan pada ayat : fadzabakhuha wama kadu yaf’alun” . hal ini karena mereka melakukan penyembelihan tersebut.

Ayat Yang Turun Pertama dan Terakhir

Ayat Yang Turun Pertama dan Terakhir

Ungkapan bahwa Rasulullah SAW menerima Qur`an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Qur`an dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup manusia, menghbungka langit dan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama- dan pokok-yaitu Qu`an- akan memverikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan penyesuaiannya denga keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan pembahasan mengenai apa yang pertama kali turu8n dan yang dan apa yang terakhir kali. Demikian pula pembicaraan mengenai apa yang pertama kali dan terakhir kali turun itu memerlukan pembahasan mengenai segala peundang-undangan ajaran-ajaran Islam, seperti makanan, minuman, peperangan, dan lain sebagainya.
Dalam hal apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang terakhir kali, para ulama mempunyai banyak pendapat, yang akan kami ringkaskan dan pertimbangkan didalam pembahasan berikut ini.
I. Yang Turun Pertama Kali.
1. Pendapat yang paling sahih mengenai yang pertama kali turun ialah firman Allah :
`Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaran kalam , Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.` (al-`Alaq : 1-5 ).
Pendapat ini didasarkan pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh dua syeikh ahli hadis dan yang lain, dari Aisyah r.a yang mengatakan :
` Sesungguhnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar diwaktu tidur. Dia melihat dimimpi itu datangnya bagaikan terangnya dipagi hari. Kemudian dia suka menyendiri, dia pergi kegua Hira` untuk beribadah beberapa malam. Untuk itu ia membawa bekal, kemudian ia pulang kepada Khadijah r.a maka Khadijah membekali seperti bekal yang dulu. Di gua Hira` dia dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datan kepadanya dan mengatakan : ` Bacalah` Rasulullah SAW menceritakan, maka akupun menjawab `aku tidak pandai membaca` . malaikat tersebut kemudian memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi ` Bacalah`! maka akupun menjawab `Aku tidak pandai membaca`. Kemudian dia merangkulku dengana kedua kali, sehingga aku merasa amat payah. Kemudian ia lepaskan lagi, dan berkata ` Bacalah` Aku menjawab ` aku tidak pandai membaca` maka ia merangkulku untuk ketiga kali, sehinggga aku kepayahan, kemudian ia berkata ` Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan�` samapi dengan �.` Apa yang tidak diketahuinya`, ( Hadis ).
2. Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah firman Allah : yaa ayyuhal mudatsir ( wahai orang yang berselimut ).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadis :
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman; dia berkata : Aku telah bertanya kepada Abu Jabir bin Abdullah; yang manakah diantara Qur`an itu yang turun pertama kali ? dia menjawab : Yaa ayyuhal mudassir. Aku bertanya lagi : ataukah Iqra` Bismi rabbik ? dia menjawab : Aku katakan kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada kami : ` Sesungguhnya aku berdiam diri di gua hira`. Maka ketika habis masa diamku, aku turun dan aku telusuri lembah. Aku lihat kemuka, kebelakang, kekanan dan kekiri. Lalu aku lihat kelangit, kemudian aku melihat jibril yang amat menakutkan. Maka aku pulang ke Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan ` Wahai orang yang berselimut; bangkitlah lalu berilah peringatan.`
Mengenai hadis Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah al Mudassirlah yang turun secara penuh sebelum surah Iqra` selesai diturunkan. Karena yang turun pertama sekali dari surah Iqra` itu hanya permulaan saja. Hal yang demikian uga diperkuat oleh hadis Abu Salamah dari Jabir yang terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim. Jabir r.a berkata : `Aku telah mendengar Rasulullah SAW ketika ia berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu, `Ketika kau berjalan, aku mendengar suaradari langit. Lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku dia gua hira` itu duduk diantara kursi langit dan bumi. Lalu aku pulang dan aku katakan : Selimuti aku ! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan : Yaa ayyuhal mudassir.`
Hal ini menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian dari pada kisah di gua hira`. Atau Mudassir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya. Akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Dengan demikian maka ayat Qur`an yang pertama kali turun secara mutlak ialah Iqra` dan surah yang pertama diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Yaa ayyuhal mudassir, dan surah yang pertama turun untuk risalah ialah Yaa ayyuhal mudassir dan untuk kenabiannya ialah Iqra`.
3. Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun ialah surah Fatihah.
Mungkin yang dimaksudkan ialah surah yang pertama kali turun secara lengkap.
4. Disebutkan juga bahwa yang pertama kali turun adalah Bismillahirrahmanirrahim
Karena basmalah itu turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil pendapat diatas hadis-hadis mursal. Pendapat pertama yng didukung oleh hadis Aisyah itulah pendapat yang kuat dan mashur.
Azzarkasyi telah menyebutkan didalam kitabnya al-Burhaan, hadis Aisyah yang menyebutkan bahwa yang pertama kali turun adalah Iqra` Bismirabbikal ladzi khalaq dan hadis Jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun ialah Yaa ayyuhal mudassir kum faandzir. Kemudian ia berkata : ` sebagian besar ulama` menyatukan keduanya itu, bahwa Jabir mendengar Nabi menyebutkan kisah permulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya, sedang bagian pertamanya dia tidak mendengar. Maka dia ( jabir ) menyangka bahwa surah yang didengarnya itu adalah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan. Memang surah mudassir itu adalah surah pertama. Yang diturunkan setelah surah Iqra` dan setelah terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam sahih Bukhari dan Muslim dari Jabir r.a bahwa Rasulullah SAW dikala itu sedang membicarakan masalah terhentinya wahyu, didalam hadis itu dia berkata : ` Ketika Aku berjalan, aku mendengar suaradari langit, lalu ku angkat kepalaku. Tiba-tiba yang datang kepadaku malaikat yang kulihat ketika aku di gua Hira` duduk diatas kursi yang terletak diantara langit dan bumi. Sehingga aku pun terasa ketakutan sekali, kemudian aku pulang dan berkata : selimuti aku ! lalu Allah menurunkan ` Wahai orang yang berselimut;bangkitlah lalu berilah peringatan.`
Dalam hadis ini ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua hira` sebelum saat itu. Didalam hadis Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya Iqra` itu di gua Hira`. Dan bahwa Iqra` itu wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah iti wahyu terhenti. Sedang dalam hadis Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah turunnya Yaa ayyuhal mudasir.
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa `Iqra` adalah wahyu yang pertama kali diturunkan secara mutlak, dan bahwa `Mudassir` diturunkan sesudah Iqra`
Demikian juga Ibnu Hibban mengatakan dalam sahihnya :
`Diantar dua hadis ini tidak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan ialah Iqra` bismirabbikalladzi khalaq di gua hira`. Ketika kembali kepada Khadijah r.a dan Kadhijah menyiramkan air dingin kepadanya. Allah menrunkannya dirumah Khadijah ini : Yaa ayyuhal mudassir.. maka jelaslah bahwa ketika turun kepada beliau Iqra`; ia pulang lalu berselimut, kemudian Allah menurunkan Yaa ayyuhal mudassir`.
Juga ada dikatakan bahwa yang pertama kali turun ialah surah fatihah. Hadis yang menunjukkan hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu Maesaroh; dia berkata : ` Rasulullah SAW mendengar suara, ia berlari. Ia menyebutkan turunnya malaikat kepadanya serta kata-kata malaikat itu : `Katakanlah : `Alhamdulillahirabbil `alamiin`�.dan seterusnya.
Qadi dalam kitabnya al-Intisar mengetakan bahwa hadis ini munqati. Maka tetap kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun ialah Iqra` bismi rabbik, dan sesudah itu pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama kali turun itu adalah Yaa ayyuhal mudassir. Cara menyatukan pendapat-pendapat diatas bahwa ayat yang pertama kali turun itu Iqra` bismi rabbik, dan ayat mengenai perintah tabligh ( untuk penyampaian ) yang pertama kali turun ialah Yaa ayyuhal mudassir. Sedang surah yang pertama kali turun ialah al-Fatihah. Hal yang demikian ini sepeti yang terdapat didalam hadis :
` Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah shalat.` 1 dan ` Yang pertama kali diputuskan mengenai seorang hamba adalah mengenai urusan darah.` 2
Penyatuan kedua hadis itu adalah: ` Yang pertama kali seorang hamba diadili dalam hal kedzaliman yang terjadi sesama hamba Allah adalah urusan darah; sedang yang pertama kali dihisab dari seorang hamba dalam hal kewajiban-kewajiban badaniah adalah salat.`
Juga dikatakan bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah Yaa ayyuhal Mudassir. Dan yang pertama kali turun mengenai kenabian adalah Iqra` bismi rabbik. Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah Iqra` bismirabbik itu menunjukkan kenabian Muhammad saw. Sebab kenabian itu adalah wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat dengan penugasan khusus. Sedang firman Allah Yaa ayyuhal mudassir,qum faandzir itu menunjukkan kerasulannya, sebab kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang dengan perantaraan malaikat dengan penugasan umum. 3
II. Yang Terakhir Kali di Turunkan
1. Dikatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan itu adalah ayat mengenai riba.
Ini didasarkan pada hadis yan dikeluarkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas, yang mengatkan : ` Ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat mengenai riba`. Yang dimaksdukan ialah firman Allah :
`Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba.` ( al-Baqarah : 278 ).
2.Dan dikatakan pula bahwa ayat Qur`an yang terakhir turun adalah firman Allah :
`Dan peliharalah dirimu dari hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.` (al-Baqarah : 281 ).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh an-Nasa`i dan lain-lain, dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair: ` Ayat Qur`an terakhir turun ialah : `Dan peliharalah dirimu dari hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.` ( al-Baqarah : 281 ).
3. Juga dikatakan bahwa yang terakhir turun ialah ayat mengenai utang
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Said bin al-Musayyab: ` Telah sampai kepadanya bahwa ayat Qur`an yang paling muda di arsy ialah ayat mengenai utang.` Yang dimaksudkan ialah ayat :
`Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.`( al-Baqarah : 282 ).
Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat tersebut diatas diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya didalam mushaf. Ayat mengenai riba, ayat pelihara dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari kemudian ayat mengenai utang, karena ayat-ayat itu masih satu kisah. Setiap perawi mengabarkan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagi yang terakhir kali, dan itu memang benar. Dengan demikian maka ketiga ayat itu tidak saling ber tentangan.
4. Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan ialah ayat mengenai kalalah.
Bukahri dan Muslim meriwayatkan dari Brra` bin `azib ; dia berkata : ` ayat yangvterakhir kali turun ialah :
`Mereka meminta fatwa kepadamu . Katakanlah : `Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah ( an-Nisa`: 176 ).
Ayat yang terakhir kali turun menurut hadis Barra` ini adalah berhubungan dengan masalah warisan.
5. Pendapat lain menyatakan bahwa, yang terakhir turun adalah firman Allah :
`Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri�` sampai dengan akhir surah.
Dalam al-Mustadrak disebutkan, dari Ubai bin Ka`ab yang mengatakan : `Ayat terakhir kali diturunkan : sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri�.` ( at-Taubah : 128-129 ) sampai akhir surah. Mungkin yang dimaksudkan adalah ayat terakhir yang diturunkan dari surah at-Taubah. Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa hadis ini memberitahukan bahwa surah ini adalah surah yang diturunkan terkhir kali , karena ayat ini mengisyaratkan wafatnya Rasulullah SAW sebagaiman dipahami oleh sebagian sahabat. Atau mungkin surah ini adalah surah yang terakhir kali diturunkan.
6. Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali turun adalah surah al-Maidah.
Ini didasarkan pada riwayat Tirmizi dan Hakim. Dari Aisayah r.a tetapi menurut pendapat kami, surah itu surah yang terakhir kali turun dalam hal halal dan haram. Sehingga tak satu hukum pun yang dinasikh didalamnya.
7. Juga dikatakan bahwa yang terkhir kali turun ialah firman Allah :
`Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya : `Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.` ( al-Imran : 195 ).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih melalui Mujahid, dari Ummu salamah; dia berkata: ` Ayat yang terakhir kali turun adalah ayat ini: ` Maka Tuhanmu memperkenankan permohonan mereka: `Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kaummu�` sampai akhir ayat tersebut.
Hal itu disebabkan dia ( Ummu Salamah ) bertanya : Wahai Rasulullah , aku Melihat Allah menyebutkan kaum lelaki akan tetapi tidak menyebutkan kaum perempuan. Maka turunlah ayat :
`Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain,`(an-nisa` : 32 )
dan turun pula
` Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim.` ( al-Ahzab: 35 ).
Serta ayat ini : ` Maka Tuhan mereka�.` Ayat ini adalah yang terakhir diturunkan dari ketiga ayat diatas. Ia ayat terakhir yang diturunkan yang didalamnya tidak hanya disebutkan kaum lelaki secara khusus.
Dari riwayat itu jelaslah bahwa ayat tersebut yang terakhir kali turun diantar ketiga ayat diatas. Dan yang terakhir turun dari ayat-ayat yang didalamnya disebutkan kaum perempuan.
8. Ada juga dikatakan bahwa ayat terakhir yang turun ialah ayat :
`Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu`min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.` ( an-Nisa`: 93 ).
Ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Bukhari dan yang lain dari Ibbn Abbas yang mengatakan : ` Ayat ini ( Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam) adalah ayat yang terakhir diturunkan dan tidaj di nasikh oleh apa pun.`
Ungkapan ` Ia tidak di nasikh oleh apa pun` iti menunjukkan bahwa ayat itu ayat yang terakhir turun dalam hal hukum membunuh seorang mukmin dengan sengaja.`
9. Dari Ibn Abbas dikatakan ; Surah terakhir yang diturunkan ialah:
Apa bila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.`
Pendapat-pendapat ini semua tidak mengandung sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah SAW masing-masing merupakan ijtihad dan dugaan. Mungkin pula bahwa masing-masing mereka itu memberi tahukan mengenai apa yang terakhir diturunkan dalam hal perundang-undangan tertentu. Atau dalam hal surah terakhir yang diturunkan secara lengkap seperti setiap pendapat yang telah kami kemukakan diatas. Adapun firman Allah : `Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.` (al-Maidah : 3 ) maka ia diturunkan di Arafah tahun haji perpisahan ( wada` ).
Pada lahirnya ia menunjukkannpenyempurnaan kewajiban dan hukum. Telah pula diisyaratkan diatas, bahwa riwayat mengenai tutrunnya ayat riba, ayat utang piutang, ayat kalalah dan yang lain itu, setelah ayat ketiga surah al-Maidah. Oleh karena itu para ulama menyatakan kesempurnaan agama didalam ayat ini. Allah telah mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka dengan menempatkan mereka dinegeri suci dan membersihkan orang-orang musyrik dari padanya serta menghajikan mereka dirumah suci. Tanpa disertai oleh seorang musyrik pun; padahal sebelumnya orag-orang musyrik berhaji pula dengan mereka. Yang demikian itu termasuk nikmat yang sempurna, ` dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku.`
Qadi Abu bakar al Baqalani dalam intisar ketika mengomentari berbagai riwayat mengenai yang terakhir kali diturunkan menyebtkan : : pendapat-pendapat ini sama sekali tidak di sandarkan kepada Nabi saw. Boleh jadi pendapat itu diucapkan orang ksrena ijtihad atau dugaan saja. Mungkin masing-masing menreitahukan mengenai apa yang terakhir kali didengarnya dari Rasulullah SAW pada saat ia wafat atau tak seberapa lama sebelum ia sakit. Sedang yang lain mungkin tidak secara langsung mendengar dari Nabi. Mungkin juga ayat itu yang dibaca terakhir kali oleh Rasulullah SAW bersama-sama dengan ayat yang turun diwaktu itu. Sehingga disuruh untuk menuliskan sesudahnya, lalu dikiranya ayat itulah yang terakhir diturunkan menurut tertib urutannya.` 4
III. Yang Mula-Mula Ditutrunkan Menurut Persoalannya
Para ulama juga membicarakan ayat-ayat yang mula-mula diturunkan berdasarkan persoalan-persoalan tertentu. Diantaranya :
1.Yang pertama kali turun mengenai makanan
ayat pertama yang diturunkan di mekkah adalah satu ayat dalam surah al-An`am:
`Katakanlah: `Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang`.(al-an`am : 145 ).
Kemudian satu ayat dalam surah an-Nahl :
`Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni`mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.` ( an-Nahl : 114-115 ).
Lalu satu ayat dalam surah al-Baqarah :
`Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disebut selain Allah . Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(al-Baqarah : 173 ).
Selanjutnya satu ayat dalam surah al-Ma`idah :
`Diharamkan bagimu bangkai, darah , daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah , adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( al-Ma`idah : 3 ).
2.Yang pertama kali diturunkan dalam hal minuman.
Ayat yang pertama kali diturnkan mengenai khamar adalah satu ayat dalam surah al-Baqarah:
`Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: `Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya.` ( al-Baqarah : 219 ).
Kemudian satu ayat dalam surah an-Nisa`:
`Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.` ( an-Nisa`: 43 ).
Lalu satu ayat dalam surah al-Ma`idah :
`Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu.`( al-Ma`idah : 90-91 )
Dari Ibn Umar ia berkata: ` Telah diturunkan tiga ayat mengenai Khamer, yang pertama mereka bertanya kepadamu tentang khamar�..dikatakan kepada mereka : kahamar itu diharamkan, maka mereka bertanya: ` Wahai Rasulullah biarkan kami memanfaatkannya seperti dikatakan Allah` Rasulullah diam,lalu turun ayat ini; ` Janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk. Maka dikatakan kepada mereka bahwa khamar itu diharamkan. Tetapi mereka berkata: Wahai Rasulullah kami tidak akan meminumnya menjelang waktu salat.` Maka Rasulullah pun diam pula, lalu turunlah ayat ini.: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar dan berjudi, maka kata Rasulullah SAW kepada mereka` khamar sudah di haramkan.`
3.Yang pertama kali diturunkan mengenai perang.
Dari Ibn Abbas dikatakan ` Ayat yang pertama kali diturunkan mengenai perang adalah:
`Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,( al-Hajj : 39 ). 6
VI. Faedah pembahasan ini
Pengetahuan mengenai ayat-ayat yang pertama kali dan terakhir kali diturunkan itu mempunyai banyak faedah. Yang terpenting diantaranya ialah.
• Menjelaskan perhatian yang diperoleh Al-Quran Al-Karim guna menjaganya dan menentukan ayat-ayatnya para sahabat telah menghayati Qur`an ini ayat- demi ayat. Sehingga mereka mengerti kapan dan dimana ayat itu diturunkan, mereka telah menerima ayat-ayat dari Rasulullah SAW yang diturunkan kepadanya dengan sepenuh hati, hati-hati dan percaya bahwa Al-Quran adalah dasar agama, penggerak iman dan sumber kemuliaan dan kehormatannya. Dan ini membawa akibat positif yaitu bahwa Al-Quran Al-Karim selamat dari perubahan dan kekacau balauan `Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.` ( al-hijr: 9)
• Sejarah sumbernya yang pokok. Ayat-ayat Quran dapat Mwngwtahui rahasia perundang-undangan Islam menurut mengatasi persoalan kejiwaan manusia dengan petunjuk Ilahi, dan mengantarnya dengan cara-cara yang bijaksana dan menempatkan mereka ketingkat kesempurnaan. Ia dapat bertahan dalam menetapkan hukum-hukum, sehingga dengan demikian cara hidup mereka menjadi benar dan urusan masyarakat berada pada jalan yang lurus.
• Membedakan yang nasikh dan yang mansukh, kadang terdapat dua ayat atau lebih dalam satu masalah, tetapi ketentuan hukum dalam satu ayat berbeda dengan ayat lain, apa bila diketahui mana yang pertama kali diturunkan kemudian menasakh ( menghapus ) ketentuan ayat yang diturunkan sebelumnya.

Hukum Wanita Bepergian / Mabit

Hukum Wanita Bepergian / Mabit

Wanita yang sudah akil baligh memang tidak diperkenankan untuk keluar rumah lebih dari tiga hari kecuali ditemani oleh mahram atau suaminya. Larangan ini bersifat umum dan jelas berdasarkan sabda Rasulullah SAW :
`Tidak halal bagi wanita muslim bepergian lebih dari tiga hari kecuali bersama mahramnya`.
Para ulama berbeda pendapat bila tujuannya adalah untuk pergi haji. Dalam masalah mahram bagi wanita dalam pergi haji, ada dua pendapat yang berkembang.
1. Pendapat Pertama : Mengharuskan ada mahram secara mutlak.
Seorang wanita yang sudah akil baligh tidak diperbolehkan bepergian lebih dari tiga hari kecuali ada suami atau mahram bersamanya. Hal itu sudah ditekankan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu dalam sabda beliau.
Dari Ibnu Abbas ra berkata bahwa Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,`Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali bila ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya. Ada seorang yang berdiri dan bertanya,`Ya Rasulullah SAW, istriku bermaksud pergi haji padahal aku tercatat untuk ikut pergi dalam peperangan tertentu. Rasulullah SAW bersabda,`Pergilah bersama istrimu untuk haji bersama istrimu`. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad.)
Hal itu juga diungkapkan oleh Ibrahim An-Nakha`i ketika seorang wanita bertanya via surat bahwa dia belum pernah menjalankan ibadah haji karena tidak punya mahram yang menemani. Maka Ibrahim An-Nakha`i menjawab bahwa anda termasuk orang yang tidak wajib untuk berhaji. Kewajiban harus adanya mahram di atas adalah sebuah pendapat yang dipegang dalam mazhab Hanafi dan para pendukungnya. Juga pendapat An-Nakha`i, Al-Hasan, At-Tsauri, Ahmad dan Ishaq.
2. Pendapat Kedua : Tidak mengharuskan secara mutlak
Seorang wanita boloeh bepergian untuk haji asal ada mahram atau suami atau ada sejumlah wanita lain yang tsiqah (dipercaya). Ini adalah pendapat yang didukung oleh Imam Asy-Syafi`i ra. Bahkan dalam satu pendapat beliau tidak mengharuskan jumlah wanita yang banyak tapi boleh satu saja wanita yang tsiqah. Bahkan dalam riwayat yang lain seorangwnaita boleh pergi haji sendirian tanpa mahram asal kondisinya aman.
Namun semua itu hanya berlaku untuk haji atau umrah yang sifatnya wajib. Sedangkan yang sunnah tidak berlaku hal tersebut. Pendapat ini didasarkan pada sabda Nabi yang menyebutkan bahwa suatu ketika akan ada wanita yang pergi haji dari kota Hirah ke Mekkah dalam keadaan aman. Rasulullah SAW bersabda,
`Wahai Adi, bila umurmu panjang wanita di dalam haudaj (tenda di atas punuk unta) bepergian dari kota Hirah hingga tawaf di Ka`bah tidak merasa takut kecuali hanya kepada Allah saja`. (HR. Bukhari)
Selain itu pendapat yang membolehkan wanita haji tanpa mahram juga didukung dengan dalil bahwa para istri nabi pun pergi haji di masa Umar setelah diizinkan oleh beliau. Saat itu mereka ditemani Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. (HR. Bukhari).
Ibnu Taymiyah sebagaimana yang tertulis dalam kitab Subulus Salam mengatakan bahwa wnaita yang berhaji tanpa mahram, hajinya syah. Begitu juga dengan orang yang belum mampu bila pergi haji maka hajinya syah.
Karean itu bila memang tidak terlalu penting dan lengkap persyaratannya, sebaiknya para akhwat tidak diprogram dengan acara yang menginap, apalagi di luar kota. Kecuali dengan pertimbangan yang betul-betul matang sekali dan dengan alasan yang sangat kuat pada kasus tertentu.

Hukum Khitan Untuk Wanita

Hukum Khitan Untuk Wanita

Kita menyadari bahwa hukum khitan itu berbeda-beda tergantung dari siapa yang mengistimbath hukumnya. Para fuqaha sebagai kalangan yang memiliki otoritas dalam mengeluarkan hukum-huukm fiqih dari dalil-dalil yang rinci baik dari alquran dan sunnah ternyata tidak satu kadta dalam menentukan hukum khitan ini.
Kita melihat ada beberapa titik perbedaan pendapat yang bila kita sarikan akan terbagi menjadi beberapa pendapat, yaitu :
1. Pendapat pertama :
Khitan Hukumnya sunnah bukan wajib Pendapat ini dipegang oleh mazhab Hanafi
(lihat Hasyiah Ibnu Abidin : 5-479;al-Ikhtiyar 4-167), mazhab Maliki (lihat As-syarhu As-shaghir 2-151)dan Syafi`i dalam riwayat yang syaz (lihat Al-Majmu` 1-300).
Menurut pandangan mereka khitan itu hukumnya hanya sunnah bukan wajib, namun merupakan fithrah dan syiar Islam. Bila seandainya seluruh penduduk negeri sepakat untuk tidak melakukan khitan, maka negara berhak untuk memerangi mereka sebagaimana hukumnya bila seluruh penduduk negeri tidak melaksanakan azan dalam shalat.
Khusus masalah mengkhitan anak wanita, mereka memandang bahwa hukumnya mandub (sunnah), yaitu menurut mazhab Maliki, mazhab Hanafi dan Hanbali.
Dalil yang mereka gunakan adalah hadits Ibnu Abbas marfu` kepada Rasulullah SAW,
`Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita.` (HR Ahmad dan Baihaqi).
Selain itu mereka juga berdalil bahwa khitan itu hukumnya sunnah bukan wajib karena disebutkan dalam hadits bahwa khitan itu bagian dari fithrah dan disejajarkan dengan istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak. Padahal semua itu hukumnya sunnah, karena itu khitan pun sunnah pula hukumnya.
2. Pendapat kedua,
Khitan itu Hukumnya Wajib Bukan Sunnah
Pendapat ini didukung oleh mazhab Syafi`i (lihat almajmu` 1-284/285 ; almuntaqa 7-232), mazhab Hanbali (lihat Kasysyaf Al-Qanna` 1-80 dan al-Inshaaf 1-123).
Mereka mengatakan bahwa hukum khitan itu wajib baik baik laki-laki maupun bagi wanita. Dalil yang mereka gunakan adalah ayat Al-Quran dan sunnah :
`Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus` (QS. An-Nahl : 123).
Dan hadits dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
`Nabi Ibrahim as. berkhitan saat berusia 80 dengan kapak`. (HR. Bukhari dan muslim).
Kita diperintah untuk mengikuti millah Ibrahim as. karena merupakan bagian dari syariat kita juga`.
Dan juga hadits yang berbunyi,
`Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah` HR. HR As-Syafi`i dalam kitab Al-Umm yang aslinya dri hadits Aisyah riwayat Muslim).
3. Pendapat ketiga :
Wajib bagi laki-laki dan mulia bagi wanita.
Pendapat ini dipengang oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, yaitu khitan itu wajib bagi laki-laki dan mulia bagi wanita tapi tidak wajib. (lihat Al-Mughni 1-85)
Diantara dalil tentang khitan bagi wanita adalah sebuah hadits meski tidak sampai derajat shahih bahwa Rasulullah SAW pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi sebagai pengkhitan anak wanita. Rasulullah SAW bersabda,:
`Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.
Jadi untuk wanita dianjurkan hanya memotong sedikit saja dan tidak sampai kepada pangkalnya. Namun tidak seperti laki-laki yang memang memiliki alasan yang jelas untuk berkhitan dari sisi kesucian dan kebersihan, khitan bagi wanita lebih kepada sifat pemuliaan semata. Hadits yang kita miliki pun tidak secara tegas memerintahkan untuk melakukannya, hanya mengakui adanya budaya seperti itu dan memberikan petunjuk tentang cara yang dianjurkan dalam mengkhitan wanita.
Sehingga para ulama pun berpendapat bahwa hal itu sebaiknya diserahkan kepada budaya tiap negeri, apakah mereka memang melakukan khitan pada wanita atau tidak. Bila budaya di negeri itu biasa melakukannya, maka ada baiknya untuk mengikutinya. Namun biasanya khitan wanita itu dilakukan saat mereka masih kecil.
Sedangkan khitan untuk wanita yang sudah dewasa, akan menjadi masalah tersendiri karena sejak awal tidak ada alasan yang terlalu kuat untuk melakukanya. Berbeda dengan laki-laki yang menjalankan khitan karena ada alasan masalah kesucian dari sisa air kencing yang merupakan najis. Sehingga sudah dewasa, khitan menjadi penting dilakukan.

Adab Pergaulan Laki-laki dan Wanita

Adab Pergaulan Laki-laki dan Wanita

Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai manusia. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai anak perempuan, istri, ibu dan anggota masyarakat.
Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan istrinya (surat al-Baqarah: 35)
Aturan Pergaulan
Sebenarnya pertemuan antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan, hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Namun, kebolehan itu tidak berarti bahwa batas-batas diantara keduanya menjadi lebur dan ikatan-ikatan syar`iyah yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap diri kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan kita pun tidak perlu memindahkan budaya Barat kepada kita. Yang harus kita lakukan ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Batas-batas hukum tersebut antara lain:�
1. Menahan pandangan dari kedua belah pihak.
Artinya, tidak boleh melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak berlama-lama memandang tanpa ada keperluan. Allah berfirman:
`Katakanlah ke pada orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.` Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…`(an-Nur: 30-31)
2. Pihak wanita harus mengenakan pakaian yang sopan yang dituntunkan syara`
. Yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Jangan yang tipis dan jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allah berfirman:
`… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …` (an-Nur: 31 )
Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa perhiasan yang biasa tampak ialah muka dan tangan.
Allah berfirman mengenai sebab diperintahkan-Nya berlaku sopan:
`… Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …` (al-Ahzab: 59)
Dengan pakaian tersebut, dapat dibedakan antara wanita yang baik-baik dengan wanita nakal. Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya, sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk menghormatinya.
3.Mematuhi adab-adab wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:
a. Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allah berfirman:
`… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.` (al-Ahzab: 32)�
b.Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang. Firman Allah
`… Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…` (an-Nur: 31)
Hendaklah mencontoh wanita yang diidentifikasikan oleh Allah dengan firman-Nya:
`Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan …` (al-Qashash: 25)�
c. Dalam gerak, jangan berjingkrak atau berlenggak-lenggok, seperti yang disebut dalam hadits:
`(Yaitu) wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki cenderung kepada kerusakan (kemaksiatan).(HR Ahmad dan Muslim)
Jangan sampai ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita jahiliah tempo dulu atau pun jahiliah modern.
4. Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di rumah, bukan di jalan dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.
5. Jangan berduaan (laki-laki dengan perempuan) tanpa disertai mahram.
Banyak hadits sahih yang melarang hal ini seraya mengatakan, `Karena yang ketiga adalah setan.`
Jangan berduaan sekalipun dengan kerabat suami atau istri. Sehubungan dengan ini, terdapat hadits yang berbunyi:
`Jangan kamu masuk ke tempat wanita.` Mereka (sahabat) bertanya, `Bagaimana dengan ipar wanita.` Beliau menjawab, `Ipar wanita itu membahayakan.` (HR Bukhari)
Maksudnya, berduaan dengan kerabat suami atau istri dapat menyebabkan kebinasaan, karena bisa jadi mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.
Pertemuan itu sebatas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah, atau melalaikannya dari kewajiban sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak.
Menutup Aurat
Kita tahu bahwa semua bagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena itu dia harus menutupinya dan haram dibuka. Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang lebih kuat.
Karena dibolehkannya membuka kedua anggota tersebut –seperti kata ar-Razi– adalah karena ada suatu kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh karena itu orang perempuan diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka, justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran. Ar-Razi selanjutnya berkata: `Oleh karena membuka muka dan kedua tapak tangan itu hampir suatu keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahwa kedua anggota tersebut bukan aurat.`
Kholwah
Kholwah adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah). Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya.
Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut :
`Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.` (Riwayat Ahmad)
`Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.`
Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat
Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang, perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.
`Katakanlah kepada orang-orang mu`min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya (an-Nur: 30-31)
Menundukkan Pandangan
Yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.
Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.
Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.
Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Sayyidina Ali :
`Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.` (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)
Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata. Sabda beliau : `Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.` (Riwayat Bukhari)
Tabarruj
Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan :
`Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.` (Ahzab: 33)
sebagai berikut: -
Mujahid berkata: Perempuan ke luar dan berjalan di hadapan laki-laki.�
Qatadah berkata: Perempuan yang cara berjalannya dibikin-bikin dan menunjuk-nunjukkan.
Muqatil berkata: Yang dimaksud tabarruj, yaitu melepas kudung dari kepala dan tidak diikatnya, sehingga kalung, kriul dan lehernya tampak semua.
Cara-cara di atas adalah macam-macam daripada tabarruj di zaman jahiliah dahulu, yaitu: bercampur bebas dengan laki-laki, berjalan dengan melenggang, kudung dan sebagainya tetapi dengan suatu mode yang dapat tampak keelokan tubuh dan perhiasannya.
Jahiliah pada zaman kita sekarang ini ada beberapa bentuk dan macam tabarruj yang kalau diukur dengan tabarruj jahiliah, maka tabarruj jahiliah itu masih dianggap sebagai suatu macam pemeliharaan.

Suara Wanita
Ada pendapat yang mengatakan bahwa suara wanita itu aurat, karenanya tidak boleh wanita berkata-kata kepada laki-laki selain suami atau mahramnya. Sebab, suara wanita dengan tabiatnya yang merdu dapat menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat. Namun bila ditanyakan dalil yang dapat dijadikan acuan dan sandaran, sebenarnya tidak ada.
Sebaliknya Al-Qur`an juga menceritakan kepada kita percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s. dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan kaumnya yang laki-laki. Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih.
Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur`an diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul (tunduk / lunak / memikat dalam berbicara).

Pria Memandang Wanita dan Sebaliknya
Pandangan pertama (secara tiba-tiba) adalah tidak dapat dihindari sehingga dapat dihukumi sebagai darurat. Adapun pandangan berikutnya (kedua) diperselisihkan hukumnya oleh para ulama.
Yang dilarang dengan tidak ada keraguan lagi ialah melihat dengan menikmati (taladzdzudz) dan bersyahwat, karena ini merupakan pintu bahaya dan penyulut api. Sebab itu, ada ungkapan, `memandang merupakan pengantar perzinaan.` Dan bagus sekali apa yang dikatakan oleh Syauki ihwal memandang yang dilarang ini, yakni: `Memandang (berpandangan) lalu tersenyum, lantas mengucapkan salam, lalu bercakap-cakap, kemudian berjanji, akhirnya bertemu.`
Adapun melihat perhiasan (bagian tubuh) yang tidak biasa tampak, seperti rambut, leher, punggung, betis, lengan (bahu), dan sebagainya, adalah tidak diperbolehkan bagi selain mahram, menurut ijma. Ada dua kaidah yang menjadi acuan masalah ini beserta masalah-masalah yang berhubungan dengannya.
Pertama, bahwa sesuatu yang dilarang itu diperbolehkan ketika darurat atau ketika dalam kondisi membutuhkan, seperti kebutuhan berobat, melahirkan, dan sebagainya, pembuktikan tindak pidana, dan lain-lainnya yang diperlukan dan menjadi keharusan, baik untuk perseorangan maupun masyarakat.
Kedua, bahwa apa yang diperbolehkan itu menjadi terlarang apabila dikhawatirkan terjadinya fitnah, baik kekhawatiran itu terhadap laki-laki maupun perempuan. Dan hal ini apabila terdapat petunjukpetunjuk yang jelas, tidak sekadar perasaan dan khayalan sebagian orang-orang yang takut dan ragu-ragu terhadap setiap orang dan setiap persoalan.
Karena itu, Nabi saw. pernah memalingkan muka anak pamannya yang bernama al-Fadhl bin Abbas, dari melihat wanita Khats`amiyah pada waktu haji, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita itu. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah saw., `Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?` Beliau saw. menjawab, `Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.`
Kekhawatiran akan terjadinya fitnah itu kembali kepada hati nurani si muslim, yang wajib mendengar dan menerima fatwa, baik dari hati nuraninya sendiri maupun orang lain. Artinya, fitnah itu tidak dikhawatirkan terjadi jika hati dalam kondisi sehat, tidak dikotori syahwat, tidak dirusak syubhat (kesamaran), dan tidak menjadi sarang pikiran-pikiran yang yimpang.
Diantara hal yang telah disepakati ialah bahwa melihat kepada aurat itu hukumnya haram, baik dengan syahwat maupun tidak, kecuali jika hal itu terjadi secara tiba-tiba, tanpa sengaja, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih dari Jarir bin Abdullah, ia berkata:
`Saya bertanya kepada Nabi saw. Tentang memandang (aurat orang lain) secara tiba-tiba (tidak disengaja). Lalu beliau bersabda, `Palingkanlah pandanganmu.“ (HR Muslim)
Lantas, apakah aurat laki-laki itu? Bagian mana saja yang disebut aurat laki-laki? Kemaluan adalah aurat mughalladhah (besar/berat) yang telah disepakati akan keharaman membukanya di hadapan orang lain dan haram pula melihatnya, kecuali dalam kondisi darurat seperti berobat dan sebagainya. Bahkan kalau aurat ini ditutup dengan pakaian tetapi tipis atau menampakkan bentuknya, maka ia juga terlarang menurut syara`.
Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa paha laki-laki termasuk aurat, dan aurat laki-laki ialah antara pusar dengan lutut. Mereka mengemukakan beberapa dalil dengan hadits-hadits yang tidak lepas dari cacat. Sebagian mereka menghasankannya dan sebagian lagi mengesahkannya karena banyak jalannya, walaupun masing-masing hadits itu tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum syara`.
Sebagian fuqaha lagi berpendapat bahwa paha laki-laki itu bukan aurat, dengan berdalilkan hadits Anas bahwa Rasulullah saw. pernah membuka pahanya dalam beberapa kesempatan. Pendapat ini didukung oleh Muhammad Ibnu Hazm.
Menurut mazhab Maliki sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka bahwa aurat mughalladhah laki-laki ialah qubul (kemaluan) dan dubur saja, dan aurat ini bila dibuka dengan sengaja membatalkan shalat.
Para fuqaha hadits berusaha mengkompromikan antara hadits-hadits yang bertentangan itu sedapat mungkin atau mentarjih (menguatkan salah satunya). Imam Bukhari mengatakan dalam kitab sahihnya `Bab tentang Paha,` diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Jurhud, dan Muhammad bin-Jahsy dari Nabi saw. bahwa paha itu aurat, dan Anas berkata, `Nabi saw. pernah membuka pahanya.` Hadits Anas ini lebih kuat sanadnya, sedangkan hadits Jurhud lebih berhati-hati.

Salon Khusus Muslimah

Salon Khusus Muslimah

I. Islam Menganjurkan Keindahan
Agama Islam menganjurkan bagi ummatnya untuk selalu tampak indah dengan cara sederhana dan layak, yang tidak berlebih-lebihan. Bahkan Islam menganjurkan di saat hendak mengerjakan ibadat, supaya berhias diri disamping menjaga kebersihan dan kesucian tempat maupun pakaian.
Allah swt. Berfirman:
`… Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap memasuki) masjid …` (Q.s.Al-A`raaf: 31)
Bila Islam sudah menetapkan hal-hal yang indah, baik bagi laki-laki maupun wanita, maka terhadap wanita, Islam lebih memberi perhatian dan kelonggaran, karena fitrahnya, sebagaimana dibolehkannya memakai kain sutera dan perhiasan emas, dimana hal itu diharamkan bagi kaum laki-laki.
Salon adalah salah satu bentuk jasa yang tujuannya adalah memperbagus dan mempercantik penampilan pisik seseorang. Dan bila salon khusus wanita, tentunya para pekerjanya adalah wanita dan begitu juga dengan konsumennya. Sehingga tidak ada masalah dalam melihat aurat atau memegang rambut dan kepala.
Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam mengelola salon adalah hal-hal yang dilarang oleh Rasulullah SAW untuk melakukannya. Karena bila memang termasuk praktek yang dilarang, maka bentuk usaha itupun juga tidak halal dan berpengaruh juga pada kehalalan uang yang dihasilkan.
II. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah :
1. Pewarna Rambut (hitam)
Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.
Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:
`Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.` (Riwayat Bukhari)
Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.
Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam? Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.
Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:
`Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.` (Riwayat Muslim)
Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: `Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.`
Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.
Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.
Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:
`Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.` (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)
Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.
Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.
`Sesungguhnya sebaik-baik alat yang kamu pergunakan untuk mengubah warna ubanmu adalah hinna` dan katam` (HR at-Tirmidzi dan Ashabus Sunnan)
Hinna` adalah pewarna rambut berwarna merah sedangkan katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan.
Namun demikian, untuk tujuan tertentu dibolehkan untuk mengecat rambut putih dengan warna hitam, meski para ulama berbeda pendapat dalam rinciannya:
a. Ulama Hanabilah, Malikiyah dan Hanafiyah menyatakan bahwasanya mengecat dengan warna hitam dimakruhkan kecuali bagi orang yang akan pergi berperang karena ada ijma yang menyatakan kebolehannya.
b. Abu Yusuf dari ulama Hanafiyah berpendapat bahwasanya mengecat rambut dengan warna hitam dibolehkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: `Sesungguhnya sebaik-baiknya warna untuk mengecat rambut adalah warna hitam ini, karena akan lebih menarik untuk istri-istri kalian dan lebih berwibawa di hadapan musuh-musuh kalian` (Tuhfatul Ahwadzi 5/436)
c. Ulama Madzhab Syafi`i berpendapat bahwasanya mengecat rambut dengan warna hitam diharamkan kecuali bagi orang-orang yang akan berperang. Hal ini didasrkan kepada sabda Rasulullah SAW: `Akan ada pada akhir jama orang-orang yang akan mengecat rambut mereka dengan warna hitam, mereka tidak akan mencium bau surga` (HR. Abu Daud, An-Nasa`I, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
2. Memakai rambut palsu atau menyambung rambut
Dari riwayat Said bin Musayyab, salah seorang sahabat Nabi saw. ketika Muawiyah berada di Madinah setelah beliau berpidato, tiba-tiba mengeluarkan segenggam rambut dan mengatakan, `Inilah rambut yang dinamakan Nabi saw. Azzur yang artinya atwashilah (penyambung), yang dipakai oleh wanita untuk menyambung rambutnya, hal itulah yang dilarang oleh Rasulullah saw. Dan tentu hal itu adalah perbuatan orang-orang Yahudi. Bagaimana dengan Anda, wahai para ulama, apakah kalian tidak melarang hal itu? Padahal aku telah mendengar sabda Nabi saw. yang artinya, `Sesungguhnya terbinasanya orang-orang Israel itu karena para wanitanya memakai itu (rambut palsu) terus-menerus`.` (H.r. Bukhari).
Termasuk perhiasan perempuan yang terlarang ialah menyambung rambut dengan rambut lain, baik rambut itu asli atau imitasi seperti yang terkenal sekarang ini dengan nama wig.
Imam Bukhari meriwayatkan dari jalan Aisyah, Asma`, Ibnu Mas`ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah sebagai berikut:
`Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.`
Bagi laki-laki lebih diharamkan lagi, baik dia itu bekerja sebagai tukang menyambung seperti yang dikenal sekarang tukang rias ataupun dia minta disambungkan rambutnya, jenis perempuan-perempuan wadam (laki-laki banci) seperti sekarang ini.
Persoalan ini oleh Rasulullah s.a.w, diperkeras sekali dan digiatkan untuk memberantasnya. Sampai pun terhadap perempuan yang rambutnya gugur karena sakit misalnya, atau perempuan yang hendak menjadi pengantin untuk bermalam pertama dengan suaminya, tetap tidak boleh rambutnya itu disambung.
Aisyah meriwayatkan:
`Seorang perempuan Anshar telah kawin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugurlah rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya, tetapi sebelumnya mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.` (Riwayat Bukhari)
Asma` juga pernah meriwayatkan:
`Ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi s.a.w.: Ya Rasulullah, sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga gugurlah rambutnya, dan saya akan kawinkan dia apakah boleh saya sambung rambutnya? Jawab Nabi: Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya.` (Riwayat Bukhari)
Said bin al-Musayib meriwayatkan:
`Muawiyah datang ke Madinah dan ini merupakan kedatangannya yang paling akhir di Madinah, kemudian ia bercakap-cakap dengan kami. Lantas Muawiyah mengeluarkan satu ikat rambut dan ia berkata: Saya tidak pernah melihat seorangpun yang mengerjakan seperti ini kecuali orang-orang Yahudi, dimana Rasulullah s.a.w. sendiri menamakan ini suatu dosa yakni perempuan yang menyambung rambut (adalah dosa).`
Dalam satu riwayat dikatakan, bahwa Muawiyah berkata kepada penduduk Madinah:
`Di mana ulama-ulamamu? Saya pernah mendengar sendiri Rasulullah s.a.w. bersabda: Sungguh Bani Israel rusak karena perempuan-perempuannya memakai ini (cemara).` (Riwayat Bukhari)
Rasulullah menamakan perbuatan ini zuur (dosa) berarti memberikan suatu isyarat akan hikmah diharamkannya hal tersebut. Sebab hal ini tak ubahnya dengan suatu penipuan, memalsu dan mengelabui. Sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu; dan samasekali antipati terhadap orang yang menipu dalam seluruh lapangan muamalah, baik yang menyangkut masalah material ataupun moral. Kata Rasulullah s.a.w.:
`Barangsiapa menipu kami, bukanlah dari golongan kami.` (Riwayat Jamaah sahabat)
Al-Khaththabi berkata: Adanya ancaman yang begitu keras dalam persoalan-persoalan ini, karena di dalamnya terkandung suatu penipuan. Oleh karena itu seandainya berhias seperti itu dibolehkan, niscaya cukup sebagai jembatan untuk bolehnya berbuat bermacam-macam penipuan. Di samping itu memang ada unsur perombakan terhadap ciptaan Allah. Ini sesuai dengan isyarat hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas`ud yang mengatakan `… perempuan-perempuan yang merombak ciptaan Allah.`
Yang dimaksud oleh hadis-hadis tersebut di atas, yaitu menyambung rambut dengan rambut, baik rambut yang dimaksud itu rambut asli ataupun imitasi. Dan ini pulalah yang dimaksud dengan memalsu dan mengelabui. Adapun kalau dia sambung dengan kain atau benang dan sabagainya, tidak masuk dalam larangan ini. Dan dalam hal inf Said bin Jabir pernah mengatakan:
`Tidak mengapa kamu memakai benang.
Yang dimaksud [tulisan Arab] di sini ialah benang sutera atau wool yang biasa dipakai untuk menganyam rambut (jw. kelabang), dimana perempuan selalu memakainya untuk menyambung rambut. Tentang kebolehan memakai benang ini telah dikatakan juga oleh Imam Ahmad.
3. Merias dengan riasan yang bertentangan dengan batasan Islam.
Seperti bedak tebal dan gincu merah menyala yang membangkitkan syahwat laki-laki. Begitu juga dengan pakaian yang tidak menutup aurat dan baju yang ketat mencetak bentuk tubuh.
4. Membuat tahi lalat palsu, memangkur gigi dan memotong alis
Salah satu cara berhias yang berlebih-lebihan yang diharamkan Islam, yaitu mencukur rambut alis mata untuk ditinggikan atau disamakan. Dalam hal ini Rasulullah pernah melaknatnya, seperti tersebut dalam hadis:
`Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya atau minta dicukurkan alisnya.` (Riwayat Abu Daud, dengan sanad yang hasan. Demikian menurut apa yang tersebut dalam Fathul Baari)
Sedang dalam Bukhari disebut:
Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan-perempuan yang minta dicukur alisnya.
Lebih diharamkan lagi, jika mencukur alis itu dikerjakan sebagai simbol bagi perempuan-perempuan cabul.
Sementara ulama madzhab Hanbali berpendapat, bahwa perempuan diperkenankan mencukur rambut dahinya, mengukir, memberikan cat merah (make up) dan meruncingkan ujung matanya, apabila dengan seizin suami, karena hal tersebut termasuk berhias.
Tetapi oleh Imam Nawawi diperketat, bahwa mencukur rambut dahi itu samasekali tidak boleh. Dan dibantahnya dengan membawakan riwayat yang tersebut dalam Sunan Abu Daud: Bahwa yang disebut namishah (mencukur alis) sehingga tipis sekali. Dengan demikian tidak termasuk menghias muka dengan menghilangkan bulu-bulunya.
Imam Thabari meriwayatkan dari isterinya Abu Ishak, bahwa satu ketika dia pernah ke rumah Aisyah, sedang isteri Abu Ishak adalah waktu itu masih gadis nan jelita. Kemudian dia bertanya: Bagaimana hukumnya perempuan yang menghias mukanya untuk kepentingan suaminya? Maka jawab Aisyah: Hilangkanlah kejelekan-kejelekan yang ada pada kamu itu sedapat mungkin.
5. Pakaian Wanita Menyerupai Laki-laki dan Sebaliknya
Rasulullah s.a.w. pernah mengumumkan, bahwa perempuan dilarang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki dilarang memakai pakaian perempuan.15 Disamping itu beliau melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.16 Termasuk diantaranya, ialah tentang bicaranya, geraknya, cara berjalannya, pakaiannya, dan sebagainya.
Sejahat-jahat bencana yang akan mengancam kehidupan manusia dan masyarakat, ialah karena sikap yang abnormal dan menentang tabiat. Sedang tabiat ada dua: tabiat laki-laki dan tabiat perempuan. Masing-masing mempunyai keistimewaan tersendiri. Maka jika ada laki-laki yang berlagak seperti perempuan dan perempuan bergaya seperti laki-laki, maka ini berarti suatu sikap yang tidak normal dan meluncur ke bawah.
Rasulullah s.a.w. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambutnya juga oleh Malaikat, diantaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan; dan yang kedua, yaitu perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai orang laki-laki (Hadis Riwayat Thabarani). Justru itu pulalah, maka Rasulullah s.a.w. melarang laki-laki memakai pakaian yang dicelup dengan `ashfar (zat warna berwarna kuning yang biasa dipakai untuk mencelup pakaian-pakaian wanita di zaman itu).
Ali r.a. mengatakan:
`Rasulullah s. a. w. pernah melarang aku memakai cincin emas dan pakaian sutera dan pakaian yang dicelup dengan `ashfar` (Hadis Riwayat Thabarani)
Ibnu Umar pun pernah meriwayatkan:
`Bahwa Rasulullah s.a.w. pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup dengan `ashfar, maka sabda Nabi: `Ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu jangan kamu pakai dia.`