Hukum Bai

Hukum Bai`at

A. Pengertian Bai’at
Secara bahasa baiat mempunyai dua makna.
• Janji untuk taat
• Kesepakatan dalam jual beli.
Secara istilah, Ibn Khaldun dalam muqaddimahnya menyebutkan bahwa baiat itu maknanya adalah janji unuk mentaati. sehingga seorang yang berbaiat kepada seorang pemimipin seolah-olah berjanji unuk menyerahkan urusannya kepadanya dan tidak menentangnya dalam segala sesuatu.
Termasuk mentaatinya atas beban yang dipikulkan dipundaknya baik dalam keadaan suka maupun duka. ketika seseorang membaiat pemimipinnya dan menyalami tangannya sebagai penguat janjinya seperti akad yang dilakukan oleh seorang penjual dan pembeli sehingga baiat itu identik dengan bersalaman tangan. (Lihat muqaddimah Ibn Khaldun halaman 209)
Ibnu atsier mengatakan bai’at adalah suatu ungkapan (gambaran) dari saling mengingat atau saling berjanji, (perjanjian dari kedua belah pihak) seolah-olah masing-masing dari keduanya telah menjual apa yang ada pada dirinya kepada saudaranya dan ia telah memeberikan ketulusan hatinya ketaatan dan urusan internnya (an-Nihayah 1/174)
Dalam kitab Al-jami’ Al-Ushul dinyatakan bahwa bai’at atau pun mubaya’at ialah perjanjian untuk menolong akan tetapi yang dimaksud di sini adalah perjanjian untuk patuh dan taat secara muthlak, kecuali dalam maksiat. Maka tidak ada patuh dan taat. Dan itulah yang terjadi terhadap Nabi SAW. Dan para khalifah Rosyidin setelah Nabi (al-Jami’ al-Ushul 3/42)
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa bai’at adalah pernyataan janji setia yang dinyatakan oleh seseorang di hadapan imam dengan berjabat tangan (kalau dengan lelaki) sebagai penguat bahwa ia senantiasa akan patuh dan taat terhadap segala aturan dan ketentuan imam selam tidak bertentangan dengan ketentuan agama.

B. Baiat dalam Qur’an dan sunnah
” Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah . Tangan Allah di atas tangan mereka , maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.(QS. Al Fath :10)
Yang dimaksud dalam ayat ini adalah baiatur ridwan yaitu yang terjadi pada perjanjian Hudaibiyah sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi SAW
Rasulullah bersabda kepada Majasya’ keika ditanya untuk apa kami dibaiat, beliau saw, menjawab untuk Islam dan jihad (HR. Bukhari Muslim)
C. Hukum Taklifi
Hukum baiat itu berbeda sesuai dengan orangnya. ahlul hilli wal aqdi diwajibkan untuk membaiat orang yang mereka pilih menjadi pemimpin, yaitu orang-oragn yang sudah memnuhi syarat-syarat secara syariah.
Sedangkan khlayak manusia secara dasar juga wajib untuk membaiat sang pemimpin sebagai kewajiban ahlul hilli wal aqdi. Dasarnya adalah sabda Nabi :
Siapa yang meninggal dan dilehernya tidak ada baiat seorang imam maka matinya mati jahiliyah (HR Muslim)
Namun al Malikiyah berpendapat cukuplah bagi orang kebanyakan untuk meyakini dalam hati bahwa dirinya berada dibawah kepemimipinan imam yang dibaiat, dan bahwa dirinya terikat untuk mentaatinya.
(Lihat Ibn Abidin 1/368, as Syarqul Kabir 4/298, Minhajuth Thalibin 4/173).
Dari sisi imam yang di baiat wajiblah dia menerima baiat itu bila dipilih menjadi imam, yaitu dengan tidak adanya orang lain yang sebanding degannya dalam hal persyaratan. Namun bila ada orang-orang lain yang juga memenuhi syarat seperti dirinya maka menerima baiat baginya fardu kifayah.
D. Hakikat Bai’at
Baiat itu adalah sebuah akad yang bersifat saling ridha dan boleh memilih tidaj boleh disusuli penekanan dan pemaksaan.
Baiat adlah kesepakatan antara kedua belah pihak. pertama adalah Ahlul hilli wal aqdi dan kedua adalah orang yang dipilih menjadi imam, yaitu orang yang memenuhi syarat-syarat dan dipilih oleh ahlul hilli wal aqdi. Bila seluruh anggota ahli hilli wal aqdi sepakat untuk memilih seseorang dan meyakini terpenuhinya syarat-syarat pada diri orang itu maka mereka akan membaiat orang tersebut, bila orang itu menyetujui pembaiatan dirinya dan sudah di baiat maka wajiblah seluruh umat untuk masuk kedalam baiat itu dan mentaatinya.
Namun bila orang tadi tidak menerima dirinya diangkat menjadi imam maka harus dicarikan orang lain,ia tidak boleh dipaksa.
Para fuqaha sepakat bahwa seorang imam itu baru resmi menduduki jabatanya manakala telah disepakati oleh seorang anggota ahlul hilli wal aqdi baik yang ada dipusat maupun didaerah. Dalilnya adalah perkataan Umar bin Khatab r.a, “Orang yang membaiat seorang imam tanpa bermusyawarah dengan seluruh umat Islam maka baiatnya tidak sah.
E. Beberapa Kesalahan Dalam Memahami Makna Bai’at.
Bai’at dengan artian sesungguhnya adalah hal yang dibolehkan oleh agama dan pernah dicontohkan oleh Nabi SAW, tetapi kadang pengertian bai’at tersebut sering disalahtafsirkan dan disalahgunakan untuk tujuan tertentu.
Sehingga berdampak negatif dalam kehidupan keagamaan di kalangan umat Islam sehingga mudah saja untuk menuduh kafir kepada yang lain, yang tidak berbai’ah kepada imam kelompoknya bahkan ada yang sampai menghalalkan dara seseorang yang keluar dari kelompoknya.
Adapun kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam memahami makna bai’at, antara lain sebagai berikut:
1. Kesalahan dalam mengartikan kalimat “Mitatan Jahiliyyatan”
Dalam Fathul Baary, Ibnu Hajar memberikan komentar tentang pengertian “Miitatan Jahiliyyatan” bahwa yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan “mati Jahilyyah” dengan bacaan mim kasroh “Miitatan bukan Maitatan” adalah keadaan matinya seperti kematian di jaman Jahiliyyah dalam keadaan sesat tiada imam yang ditaati karena mereka tidak mengetahui hal itu. Dan bukan yang dimaksud itu ialah mati kafir tetapi mati dalam keadaan durhaka” (Fathul Baary 7/13).
Imam al-Qadhy ‘Iyadh berkata: Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang keluar dari ketaatan imam dan meninggalkan jama’ah maka ia mati miittan jahiliyyatan” adalah dengan mengkasrah mim “miitatan” yaitu seperti orang yang mati di jaman Jahiliyyah karena mereka ada dalam kesesatan dan tidak melaksanakan ketaatan kepada seorang imam pun” (Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim (syarah shohih Muslim) 6/258).

2. Mencampuradukan pengertian Bai’at dan Syahadat.
Banyak orang yang mempraktekan bai’at itu dengan ucapan dua kalimah syahadah, seolah-olah bai’at itu adalah pintu untuk masuk Islam. Padahal ada sejumlah perbedaan antara Bai’at dengan Syahadat antara lain:
 Syahadat merupakan salah satu rukun Islam, sedangkan bai’at tidak termasuk rukun Islam
 Orang yang mengingkari Syahadat adalah Kafir, sedang orang yang tidak berbai’at terhadap seorang imam, maka dia tidak dianggap kafir apalagi jika bai’at itu terhadap seorang imam lokal yang tidak berdasarkan musyawarah umat Islam. Jamaahnya hanyalah sebuah jamaah di antara sekian banyak jamaah muslimin. Bukan imam dari jamaah muslimin sebagaimana yang dijelaskan sifatnya dalam hadits nabawi.
 Syahadat adalah mengucapkan Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah Wasyhadu Anna Muhammadan Rasulullah. Sedangkan materi baiat bermacam-macam tergantung tuntutan kebutuhan dan situasi. Contohnya Bai’at al-Aqabah al-ula berbeda isinya dengan Bai’at al-Ridhwan.

3. Menetukan cara-cara tertentu dalam Bai’at
Bai’at tidak termasuk salah satu syariat agama yang baku, oleh karenanya tidak terdapat aturan-aturan tertentu dalam pelaksanaannya. Baik waktu, tempat atau caranya. Bai’at hanya dilakukan dengan berjabat tangan saja sebagai tanda kesiapan dan kesanggupan untuk melaksanakan apa yang telah ia ikrarkan. Adapun membai’at perempuan tidak dilakukan dengan berjabat tangan, tetapi dengan kata-kata saja.

4. Bai’at terhadap imam yang majhul
Sebagaiman telah diterangkan di muka bahwa bai’at itu ialah janji setia seseorang terhadap imam. Ia siap untuk melaksanakan segala perintah imam selama tidak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah, ia tidak akan menyalahi atau mendurhakai keputusan imam, seperti halnya imam shalat. Makmum tidak akan ruku jika imam belum ruku, demikian pula dalam sujud dan salm ia tidak akan mendahului imam.
Dengan demikian, maka mengenal kepribadian imam, akhlak dan keilmuannya mutlak diperlukan. Karena bagaimana mungkin seseorang berbai’at terhadap imam yang belum dikenal kepribadiannya atau kepada imam yang tidak jelas prosedur pemilikannya. Yang demikan itu sama halnya membeli kucing dalam karung.
Sepanjang sejarah tidak pernah ada imam yang dirahasiakan, apalagi imam daulah. Lawan maupun kawan pasti mengenalnya. Imam itu harus dipilih, tidak bisa mengangkat dirinya sendiri, tentu saja sebelumnya sudah haerus diketahui kelebihannya. Baik kepribadiannya, keilmuannya maupun akhlaknya.

F.Teknis Bai’at
Cara berbaiat adalah dengan ucapan yang disampaikan oleh masing-masing anggota ahlul hilli wal aqdi kepada seseorang yang dipilih menjadi anggota khlaifah :
“Kami membaiatmu untuk menegakkan keadilan dan segala kewajiban imamah”
Tidak diharuskan dengan menyalaminya meskipun baiat dizaman Rasulullah dan kaumnya baiat dengan menggunakan jabatan tangan, namun baiatun nisa’ tidak dengan tangan.
G. Bai’at Di Masa Sekarang
Berbaiat kepada imam jamaah muslimin bila memang ada hukumnya wajib. Namun bila kita lihat realitas saat ini, apalagi umat Islam tidak punya pemimpin yang menyatukan semua elemen umat karena semenjak tahun 1924 khilafah Islamiyah terakhir sudah tumbang, kami menyimpulkan bahwa belum ada jamatul muslimin seperti yang disebutkan dalam hadits-hadits. Yang ada barulah jamaah-jamaah tertentu yang masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Jamaah-jamaah ini hanya bisa disebut sebagai jamaatun min jama`atil muslimin. Jamaah dari jamaah-jamaah muslimin.
Berbaiat kepada pemimpin dari masing-masing jamaah itu tidak menjadi kewajiban semua umat Islam. Karena yang diwajibkan adalah membaiat pimpinan majaatul muslimin dimana semua umat Islam mengakui keberadaan jamaah ini.
Adapun jamaah-jamaah atau harakah yang bertebarang di berbagai negeri, bukanlah termasuk jamaah yang di maksud di dalam hadits tersebut. Karena semua itu masih dalam kategori jamaatun min jamaatil muslimin. Sebuah kelompok dari jamaah muslimin.
H. Terlanjur Berbaiat Kepada Jamaah Yang Tidak Benar
Yang menjadi permasalahan pada masa sekarang ini adalah adanya gerakan-gerakan tertentu yang menggunakan bai’at sebagai upaya untuk menjerat anggota. Padahal jamaah itu kemudian terindikasi berpaham yang keliru serta jauh dari ajaran Islam yang orisinil. Tidak sedikit orang yang kebingungan karena terjebak mengikuti suatu harakah (jama’ah), lantaran sudah berkomitmen dengan membaiat pimpinannya untuk mentaatinya. Padahal semakin lama sekamin jelas sesatnya gerakan tersebut. Misalnya seringkali menuduh umat Islam dengan tuduhan kafir, tidak mengerjakan shalat, puasa dan lainya.
Dalam banyak kasus sebenarnya banyak orang yang akhirnya sadar dan ingin keluar dari gerakan sesat itu, karena berbagai alasan syar’i yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Namun yang mengganjal adalah jika keluar dari gerakan tersebut khawatir dianggap mati jahiliyah sesuai dlm hadits dan dianggap termasuk menghianati janji.
Jawabnya adalah bahwa selama kita masih melihat sebuah harakah itu selaras dengan aqidah Islam dan syariahnya, kita masih punya kewjiban untuk ikut menegakkannya. Dan pertimbangan untuk keluar dari harakah itu bisa mulai muncul manakala secara tegas memang telah menyimpang dari garis aqidah yang benar atau terjadinya pelanggaan kasus syariah yang fatal. Dalam pertimbangan itu, tentu saja harus diupayakan terlebih daulu untuk meluruskannya dengan cara yang baik dan penuh dengan hikmah disetai mau’izhah hasanah, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl : 125).
Sebab Islam itu adalah agama nasihat. Dan kita tidak dibenarkan untuk terburu memvonis jelek atas sesuatu gerakan sebelum terlebih dahulu diupayakan pelurusan dengan cara yang lembut dan melakukan musyawarah yang baik. Untuk itu Allah SWT pun telah dengan tegak menuntutnya dari diri kita.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali Imran : 159).
Dan jangan sampai tindakan keluar dari jamaah itu malah memperparah hubungan persaudaraan kita dengan sesama muslim. Dan kondisi dimana sebuah faksi di dalam sebuah jamaah menyempal dan membuat kelompok kecil adalah fenomena yang tidak terlalu bisa dibanggakan. Apalagi bila urusannya sekedar pergesekan / friksi masalah kekuasaan di dalamnya serta pengaruh persaingan jabatan dan kepentingan. Tentu hal ini justru memalukan wjah umat Islam yang selama ini memang sudah agak tercoreng. Dan semakin banyak sempalan-sempalan yang menyempal lalu saling dorong, saling jegal dan saling menghabisi di antara mereka, bukanlah pemandangan yang indah.
Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.(QS. Ar-Ruum : 31-32).
Sesungguhnya ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu , dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka .(QS. Al-Mu?minun : 52-53).
Kalaupun janji itu sempat terucap dan baiat sempat terangkat, maka untuk menebusnya bisa dilakukan kaffarah. Sebagaimana yang telah didijelaskan di dalam Al-Quran Al-Kariem.
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud , tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah . Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur .(QS. Al-Maidah : 89).
Jadi pilihan kaffarahnya ada tiga macam ditambah satu macam bila tidak sanggup, yaitu :
1. Memberi makan sepuluh orang miskin
2. Memberi pakaian kepada mereka
3. Memerdekakan seorang budak.
4. Puasa selama tiga hari
Wallahu a’lam bish-shawab

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s