Syubuhat Islam Liberal

Syubuhat Islam Liberal

I. Liberal
Liberal maknanya adalah kebebasan. Sehingga ketika disematkan kepada kata Islam maka yang dimaksuk adalah membebaskan paham Islam dari ortodoksi dan interpretasi yang selama ini dianggap sudah mapan.
Intinya ingin meliberalkan ajaran Islam dengan semangat membuka ide dan pemikiran-pemikiran yang bersifat liberal (bebas). Sekilas bila dilihat dari sebuah sudutr pandang, memang ada benarnya. Sebab semua orang tahu bahwa di dunia Islam memang terjadi banyak penyimpangan dari garis yang ssungguhnya.
Namun sayangnya, melihat butir-butir pemikiran yang sering dilontarkan oleh para aktifis Islam Liberal terutama pada pemakaian istilah bebas, nampak jelas bahwa bebas yang dimaksud adalah bebas dalam arti mutlak dan absolut. Seseorang punya hak untuk bebas menginterpretasikan makna Islam sebebas-bebasnya, bahkan kalau pun harus bertentangan dengan Al-Quran Al-Karim, sunnah atau dengan tatanan syariah yang selama ini ada, tetap bebas.
Sederhananya, bebas berselisih dengan ajaran Islam itu sendiri baik dalam masalah aqidah, syariah, akhlaq atau masalah lainnya. Sesuatu yang sejak generasi pertama umat Islam dimunculkan oleh Allah SWT dimuka bumi telah disepakati mutlak oleh semua fuqaha, hari ini ingin dibongkar dan diganti dengan pemahaman lain atas nama kebebasan perpikir.
Sehingga yang muncul sebenarnya adalah berkonfrontasi dengan syariat Islam itu sendiri bahkan cenderung justru menjadi tujuan utamanya. Semakin hari semakin nampak bagaimana kata bebas itu dipahami dengan selera mereka. Buktinya hampir tidak ada tulisan dari aktifis Islam Liberal yang mendukung ajaran Islam, tetapi bebas yang muncul adalah justru bebas menghujat ajaran Islam.
Karena itulah jaringan ini sangat disorot oleh para ulama. MUI Jawa Barat pun pernah secara terbuka mengharamkannya. Dan para sesepuh serta ulama NU pun ikut resah. Sehingga mereka merasa perlu memberikan peringatan atas penyelewengan yang dilakukannya.
II. Generasi Berikutnya
JIL adalah perpanjangan generasi dari kalangan sekuler anti Islam di Indonesia selama ini. Menurut mereka, gerakan sekulerisasi yang selama ini berjalan tidak pernah berhasil menjauhkan umat Islam dari agama mereka. Karena umumnya berjalan secara indivual dan terkesan sendiri-sendiri. Apalagi kalangan itu kini sudah mulai ‘tua’ dan tidak lagi terlalu vocal. Dan dalam banyak hal dianggap sudah ‘sadar’ dan ‘kembali’ ke pangkuan keaslian ajaran Islam.
Dan kenyataannya, para tokoh sekuler masa lalu sudah cenderung tidak lagi menghujat-hujat. Entah karena sudah sadar atau sudah kehabisan nafas akibat tidak pernah diterimanya ide-ide sekuler mereka di negeri ini. Kita tidak lagi mendengar ada tokoh yang ingin mengganti ‘assalamu alaikum’ dengan ‘selamat pagi’. Juga kita tidak dengar lagi slogan ‘Islam yes partai Islam no’. Juga kita tidak dengar lagi mereka menghujat pemakaian jilbab yang kini justru sudah sangat memasyarakat.
Sehingga generasi penerus mereka yang masih muda-muda itu merasa perlu mengambil langkah-langkah yang lebih radikal dan lebih vocal lagi untuk akselerasi peruntuhan nilai-nilai keaslian Islam di tengah masyarakat. Dan untuk itu mereka membangun sebuah network / jaringan untuk menyatukan barisan dan menggalang potensi. Agaknya mereka gerah melihat Islam semakin marak dan syariat Islam semakin populer di tengah masyarakat. Apalagi justru sekarang mucul wacana untuk menerapkan syariat Islam di berbagai wilayah di Indonesia.
Tentu saja jaringan ini tidak bisa berjalan kalau tidak disponsori oleh pihak musuh Islam yang memang punya kepentingan. Karena itu berbekal rencana jahat dari musuh Islam, jaringan ini didirikan. Pemikir-pemikir yang tidak senang dengan Islam mereka kumpulkan, baik yang secara resmi menyatakan bergabung atau mencatut nama-nama tokokh tertentu tanpa meminta izin dari yang bersangkutan. Salah satu kasusnya adalah pencatutan nama Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Entah apakah mereka sudah mengoreksinya atau belum, yang jelas mereka sering mengutip-ngutip nama beliau sehingga ada kesan ingin menampilkan opini bahwa Qaradawi pun sepaham dengan misi mereka.
III. Beberapa syubuhat yang sering dilemparkan oleh para tokohnya adalah sebagai berikut :
1. Syubhat Pertama :
Aktifis JIL mengatakan :
“Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.”
Jawaban
Hampir mustahil bila ada seorang muslim yang merasa tidak tahu bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam itu semata-mata budaya arab. Karena semua itu ada dalilnya dalam Al-Quran dan Sunnah. Kalau jubah dan jenggot, barangkali masih bisa ditolelir bahwa ada faktor budayanya. Khusus masalah jenggot, meski bukan merupakan kewajiban, namun tetap ada nash sunnah nabawiyah yang manganjurkannya. Sedangkan masalah jubah itu memang murni budaya arab yang tidak mengandung tasyri’.
Tapi potong tangan, qishash dan rajam itu bukan sekedar kewajiban, bahkan masuk dalam perkara hudud yang penerapannya sangat mutlak. Tidak ada ulama yang menentangnya sepanjang sejarah kecuali pada zindiq dan munafikin.
Jilbab bukan sekedar pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum. Ini panfsiran yang sesat sekali. Masalahnya, standar kepantasan umum itu apa? Dan umum yang mana? Indian Amerika, Aborigin, suku asmat? Koteka?
Kalau sekedar standar kepantasan umum, seharusnya surat Annur: 31 dan Al-Ahzab: 59 itu dihapus terlebih dahulu. Ganti dengan ayat yang bunyinya “Wahai orang yang beriman, pakailah pakaian yang sesuai dengan selera masing-maisng daerah”. Silahkan buat sendiri nama surat dan nomor ayatnya. Dan bila meminjam logika mereka, toh tidak sulit bagi Tuhan yang kuasa untuk membuat satu ayat seperti itu. Nyata tidak kita temukan ayat dan hadist demikian.
Larangan kawin antara perempuan Islam dan laki-laki non muslim yang mereka katakan tidak relevan lagi, peraturan itu bukan semata-mata dari Al-Quran tapi dari Sunnah dan sumber syriah yang lain. Rupanya mereka ingin mengecoh dengan mengatakan kalau Al-Quran tidak mengatakan secara tegas, berarti boleh digonta-ganti seenaknya. Tidak demikian.
2. Syubhat Kedua :
Aktifis JIL mengatakan :
“Kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. “.
Jawaban :
Ungkapan ini adalah jiplakan total dari para tokoh sekuleris dan orientalis. Sebuah slogan masa lalu yang masih sering dikumandangkan para pengekor yang sudah expired yaitu,`Memisahkan agama dan negara`. Orang barat sekuler sejak dini memang memperkenalkan slogan ini dengan kalimat :
Berikan kepada raja apa yang menjadi hak raja dan berikan kepada tuhan apa yang mejadi hak tuhan.
Barat pernah melakukannya dan kini mereka terpuruk dalam jurang kehancuran moral dan kemanusiaan. Hidup mereka terlalu kering dan hampa. Lalu tenggelam dalam aneka kriminalitas, penyimpangan sosial, kegamangan dan akhirnya kehancuran nilai-nailai kemanusiaan. Jadi ide ini terbukti tidak baik.
Cukuplah barat jadi korban ide liar yang sering dihembuskan oleh para yahudi. Tidak perlu lagi kalangan muslimin tetipu untuk kesekian kalinya lalu silau dengan apa yang telah dipromosikan barat. Padahal mereka sendiri tidak pernah berhasil dengan idenya itu. Bagaimana mungkin ide usang yang tidak pernah berhasil mendatangkan kebahagiaan di negeri mereka itu malah ingin diekspor ke negara berkembang ? Lalu sangat tidak masuk akal bila umat Islam menerima begitu saja ide usang yang terbukti bobrok di barat itu dan menelannya mentah-mentah.
Entahlah apa yang telah membuat sebagian kalangan pemikir Islam masih saja tidak bisa melepaskan keterpesonaan mereka pada fatamorgana dari barat. Barangkali karena secara mental memang masih dalam taraf kekerdilan dan karakter keterjajahan yang akut.
Padahal Islam adalah sebuah sistema yang lengkap mengatur semua sisi kehidupan. Bukankah Allah SWT telah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah : 208)
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab , kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.(QS. Al-An`am : 38)
3. Syubhat Ketiga :
Aktifis JIL mengatakan :
“Islam -seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain- adalah `nilai generis` yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran `Islam` bisa ada dalam filsafat Marxisme. ”
Jawaban :
Kalimat ini mudah sekali dibengkokkan maksudnya. Bila kita arahkan pada kalimat terakhir, jelas mereka mengatakan bahwa kebenaran Islam bisa ada dalam filsafat marxisme. Di satu sisi memang benar, tetapi bisa saja ditafsirkan terbalik, bahwa marxisme itu pun mengandung nilai-nilai kebenaran Islam. Penafsiran terbalik ini mungkin yang mereka harapkan untuk dipahami demikian, tetapi mereka pasti sudah siap-siap menghindar bila dituduh menyamakan Islam dengan marxisme dengan menggunakan gaya ungkapan ‘bisa jadi’.
Bahwa ada sititik nilai di dalam agama dan ajaran lain yang juga terdapat dalam Islam, itu sudah pasti. Hanya saja masalahnya apakah bila ada setitik persamaan lalu dikatakan bahwa Islam itu identik dengan marksisme, budhisme, konghuchu dan seterusnya ? Atau mungkinkah dikatakan bahwa Islam itu adalah marksisme lalu marksisme adalah Islam ? Ini sungguh logika yang terlalu sederhana.
Sebenarnya 6000-an ayat lebih di dalam Al-Quran telah menjadi batas yang sangat jelas mana yang haq dan mana yang batil. Intinya, kurang satu titik saja dari kompsisi ajaran Islam sudah dianggap bermasalah. Meski penampilan luar sudah Islam, tapi masih saja menerima teori Darwin yang mengatakan bahwa asal usul manusia dari kera, jelas sebuah kesalahan fatal dalam aqidah. Apalagi bila Islam disandingkan dengan marksisme, maka dalam ukuran 1000, yang sama barangkali hanya 3 atau empat point saja. Selebihnya adalah perbedaan-perbedaan yang mendasar dan tidak bisa dipertemukan.
Menyamakan marksisme serta agama-agama lain dengan Islam adalah sebuah ide yang menjelaskan betapa kurangnya logika seseorang.

4. Syubhat Keempat :
Aktifis JIL mengatakan :
“Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi. ”
Jawaban :
Ungkapan ini sangat subjektif dan terlalu jauh. Umat Islam memang tidak berdaya dan punya masalah menghimpit. Tetapi penegakan syariah bukan sekedar berangkat dari ketidakberdayaan apalagi meninggalkan cara rasional. Dalam alam pikiran mereka, pokoknya yang berbau syariah berarti tidak rational. Jelas ini pelecehan sepihak.
Padahal yang benar adalah sebaliknya bahwa syariah itu sangat rasional. Sebagai contoh, bunga dari hutang luar negeri kita tiap hari mencapai 20 juta US. Ini akibat dari diterapkanya sistem bunga yang ribawi dan dimusuhi semua agama. Islam datang dengan solusi rasional, hilangkan riba dan ganti dengan bagi hasil dimana semua pihak punya tanggung-jawab dan bisa sama-sama untung. Maka bunga dari hutang negara miskin macam Indonesia justru tidak rational.
Kalau pencuri hanya sekedar dipenjara, maka tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menampung para pencuri di negeri ini. Selain itu, negara pun dirugikan karena harus memberi makan, pakaian, kesehatan dan sebagainya kepada ribuan pencuri yang menghuni penjara. Islam datang dengan solusi rasional dan hemat. Pencuri dengan nisab yang memadai dan terbukti secara sah, potonglah tangannya. Ini menjadi pelajaran bagi calon pencuri yang lain untuk tidak main-main dengan hukum. Uang belanja negara pun hemat karena tidak perlu memberi makan, pakaian dan semua biaya penjara. Dan shok terapi ini selama 15 abad lamanya terbukti majur. Negeri yang masih menjalankan potong tangan adalah negeri teraman di dunia dari segi pencurian. Silahkan gunakan rasio dan tinggalkan tuduhan mengada-ada.

5. Syubhat Kelima :
Aktifis JIL mengatakan :
“Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.”
Jawaban :
Memang syariah Islam itu datang dari Allah bukan dalam bentuk jadi seperti sebuah kitab undang-undang hukum pidana lengkap dengan bab dan pasalnya. Semua itu membutuhkan kodifikasi dan penyusunan ulang yang -alhamdulillah- sebagian besarnya telah dikerjakan oleh para ulama terdahulu.
Tapi dalam penyusunan itu, tidak ada nilai yang dibuang dan tak satupun aturan itu yang diselewengkan. Namun menurut mereka seolah-olah semua produk syariah itu merupakan kemalasan berpikir atau lari dari masalah. Padahal para ulama ketika menyusun kitab-kitab fiqih telah melakukan ijtihad yang sangat dalam dan sampai hari ini pintu ijtihad itu tidak pernah tertutup. Terutama pada hal-hal yang terkait dengan perkembangan zaman dan budaya. Tapi kalau masalah yang memang tidak memerlukan perubahan karena akan selalu sama kapan dan dimanapun, buat apa diotak-atik lagi.

6. Syubhat Keenam :
Aktifis JIL mengatakan :
“Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3: 19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).
Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.”
Jawaban :
Paragraf yang ini intinya jelas ingin mengatakan bahwa semua agama sama, karena intinya semua menuju kepada kebenaran. Dengan gaya bahasa ini, diharapkan orang akan menfsirkan bahwa terserah kita mau beragama apa, toh semuanya baik. Bahkan pada waktunya, berpindah-pindah agama pun tidak apa-apa toh semuanya juga menuju kepada kebenaran. Juga diharapkan orang tidak perlu lagi merasa bahwa agama yang dianutnya adalah paling benar, karena mungkin saja salah.
Para aktifis Islam Liberal itu lupa barangkali bahwa pendpatnya ini pun mungkin benar dan mungkin salah. Dan kalau salah, berarti agama yang benar itu adalah Islam dan yang lain salah. Atau sebaliknya.
Dan kalimat ini menjadi sangat beresiko bila dipandang dari sudut aqidah Islam, karena bisa menarik orang kepada kesimpulan bahwa agama selain Islam itu juga benar. Dan pada derajat tertentu sebenarnya sudah bisa membuat seseorang yang meyakininya gugur ke-Islamannya. Artinya oirang yang meyakini pernyatan ini dianggap murtad dan konsekuensi dari kemurtadannya itu harus dihukum mati.
Meskipun prosesnya harus melalui sebuah mahkamah syar`iyah dan istitabah. Yaitu diminta untuk mencabut pernyataan yang mengandung kalimat kufur. Bila istitabah tidak diindahkan dan masih tetap pada pendirian kufurnya itu, hakim berhak memvonis mati. Darahnya pun menjadi halal. Sayangnya Indonesia tidak mengakui hukum Islam, sehingga ada ribuan orang yang murtad dan menghujat agama, bisa tenang-tentang saja hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s