Turunnya Al-Quran Dengan 7 Huruf

Turunnya Al-Quran

Allah menurunkan Qur`an kepada Muhammad untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Qur`an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan bumi.
Turunnya Qur`an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.
Turunnya Qur`an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Sangat menggetarkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia himah Ilahi yang ada dibalik itu. Rasulullah SAW tidak menerima risalah tersebut karena kesombongan dan permusuhan mereka. Oleh karena pun wahyu turun secara berangsur-angsur untuk menguatkan hati Rasulullah SAW dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmatn-Nya.
I. Turunnya Qur`an Sekaligus
Allah berfirman dalam kitabnya yang mulia:
`Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil.`( al-Baqarah: 185 ).
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Quran ) pada malam lailatul qadar.` ( al-Qadr : 1 )
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya ( Qur`an ) pada malam yang diberkahi.` ( ad-Dhukan: 3 ).
Ketiga ayat diatas tidak bertentangan, karena malam yang diberkahi adalah malam lailatul qadar dalam bulan ramadhan. Tetapi lahir ( zahir ) ayat-ayat itu bertentangan dengan kehidupan nyata Rasulullah SAW , dimana Qur`an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun. Dlam hal ini para ulama mempunyai dua madzab pokok :
1. Madzab pertama yaitu, pendapat Ibn Abbas dan sejumlah ulama serta yang dijadikan pegangan oleh umumnya para ulama.
Yang dimaksud dengan turunnya Qur`an dalam ketiga ayat diatas adalah turunnya Qur`an sekaligus di Baitul `Izzah dilangit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian sesudah itu Qur`an diturunkan kepada rasul kita Muhammad saw. Secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian sejak dia diutus sampai wafatnya. Ia tinggal di mekkah sejak diutus selama tiga belas tahun dan sesudah hijrah tinggal di madinah selama supuluh tahun. Ia tinggal di mekkah selama tiga belas tahun dan selama itu wahyu turun kepadanya, ia wafat dalm usia enam puluh tiga tahun pendapat ini didasarkan pada berita-berita yang sahih dari Ibn Abbas dalam beberapa riwayat. Antara lain:
a. Ibn Abbas berkata: ` Qur`an sekaligus diturunkan ke langit dunia pada malam lailatul qadar, kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun.` Lalu ia membacakan:
`Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya .`( al-Furqan : 33 ).
`Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.` (al-Isra` : 106 ).
b. Ibn Abbas r.a berkata: ` Qur`an itu dipisahkan dari az-Zikr, lalu diletakkan dai baitul Izzah di langit dunia. Maka jibril mulai menurunkannya kapada Nabi saw.`
c. Ibn Abbas r.a mengatakan : ` Allah menurunkan Qur`an sekaligus kelangit dunia , temmpay turunnya secara beransur-ansur. Lali Dia menurunkannya kepada Rasulnya bagian demi bagian.`
d. Ibn Abas r.a berkata : `Qur`an diturunkan pada malam lailatul qadar, pada bulan ramadhan ke langit dunia sekaligus; lali ia diturunkan secara berangsur-angsur.`
2. Madzab kedua, yaitu yang diriwayatkan oleh as-Sya`bi .
Bahwa yang dimaksud dengan turunnya Quran dalam ketiga ayat diatas adalah permulaan turunnya Qur`an pada Rasulullah SAW permulaan turunnya Quran itu di mulai pada malam lailatul qadar di bulan ramadhan, yangv merupakan mala yang di berkahi. Kemudian turunnya berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selam kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian Qur`an hanya satu macama cara turun, yaitu turun secara bertahap kepada Rasulullah SAW seba yang demikian inilah yang dinyatakan dalam Qur`an :
`Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.` (al-Isra`: 106 )
orang musyrik yang diberi tahu bahwa kitab-kitab samawi terdahulu turun sekaligus, menginginkan agar Qur`an diturunkan sekaligus:
`Berkatalah orang-orang yang kafir: `Mengapa Al Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?`; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil . Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya .` ( al-Furqan : 32-33 )
Dan keistimewaan bulan ramadhan dan malam lailatul qadar yang merupakan malam yang diberkahi itu tidak akan kelihatan oleh manusia kecuali apa bila yang dimaksudkan dari ketiga ayat diatas adalah turunnya Qur`an kepada Rasulullah SAW yang demikian ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam friman Allah mengenai perang badar: `jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan , yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( al-Anfal : 41 ).
Perang badar terjadi pada bulan ramadan. Dan yang demikian ini diperkuat pula oleh hadis yang dijadikan pegangan para penyelidik hadis permulaan wahyu. Aisyah berkata: `Wahyu yang mula-mula diturunkan kepada Rasulullah SAW ialah mimpi yang benar diwaktu tidur. Setiap kali bermimpi ia melihat ada yang datang bagaikan cahaya yang terang dipagi hari. Kemudian ia lebih suka menyendiri. Ia pergi ke gua hira untuk bertahanus beberapa malam, dan untuk itu ia membawa bekal. Kemudian ia kembali kerumah Khadijah, dan Khadijahpun membekali seperti itu biasanya. Sehingga datanglah `kebenaran` kepadanya seaktu ia berada di gua hira`. Malaikat datang kepadanya dan berkata ` bacalah` Rasulullah SAW berkata ` aku tidak panai membaca` lalu malaikat merangkulnya sampai kepayahan. Kemudian ia melepaskan aku, lalu katanya ` bacalah` aku menjawab ` aku tidak pandai membaca` lalu ia merangkulku lagi sampai aku kepayahan. Lalu ia lepaskan aku. Lalu katanya ` bacalah` aku menjawab aku tidak pandai membaca. Lalu ia merangkulku untuk ketiga kalinya, sampai aku kepayahan, lalu ia lepaskan aku lalu katanya ` Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan sampai dengan apa yang belum diketahuianya.`
Para penyelidik menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pada mulanya diberi tahu dengan mimpi di bulan kelahirannya, yaitu bulan Rabi`ul awal. Pemberitahuan dengan mimpi itu lamanya enam bulan. Kemudian ia diberi wahyu dengan keadaan sadar ( tidak dalam keadaan tidur ) pada bula ramadan dengan Iqra`. Dengan demikian maka nas-nas yang terdahuklu itu menunjukkan pada satu pengertian.
3. Madzab ketiga
Bahwa Qur`an diturunkan kelangit dunia selama dua puluh tiga malam lalilatul qadar yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar itu ada yang ditentukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah wahyuj yang diturunkan kelangit dunia pada malam lailatul qadar , untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW sepanjang tahun. Madzab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufasir.. pendapat ini tidak mempunyai dalil.
Adapun madzab kedua yang diriwayatkan dari as-Sya`bi , dengan dali-dalil yang sahih dan dapat diterima,tidaklah bertentang dengan madzab yang pertama yang diriwayatkan dari Ibn Abbas.
Dengan demikian maka pendapat yang kuat ialah bahwa Al-Quran Al-Karim itu dua kali diturunkan:
Pertama: diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar ke baitul Izzah di langit dunia.
Kedua: Dditurunkan kelangit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.
Al-Qurtubi telah menukil dari Muqatil bin Hayyan riwayat tentang kesepakatan ( ijma`) bahwa turunnya Qur`an sekaligus dari lauhul mahfuz ke baitul izzah di langit dunia. Ibn Abbas memandang tidak ada pertentangan antara ke tiga ayat diatas yang berkenaan dengan turunnya Qur`an dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah SAW bahwa Qur`an itu turun selam dua puluh tiga tahun yang bukan bulan ramadan. Dari Ibn Abbas disebutkan bahwa ia ditanya olah `Atiyah bin al-Aswad, katanya ` dalam hatiku terjadi keraguan tentang firman Allah, bulan ramadan itulah bulan yang didalamnya diturunkan Qur`an, dan firman Allah SWT, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam lailatul Qadar, pada hal Qur`an itu ada yang diturunkan pada bulan syawal, Zulkaidah , Zulhijjah, Muharram , Saffar dan Rabi`ul awwal; Ibvn Abbas menjawab ` Qur`an diturunkan berangsur-angsur, sedikit- demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan disepanjang bulan dan hari.`
Para ulama mengisyaratkan bahwa hikmah dari hal itu ialah menyatakan kebesaran Qur`an dan kemuliaan orang kepadanya Quran diturunkan. As-Suyuti mengatkan : ` Dikatakan bahwa rahasia diturunkan Quran sekaligus ke langit dunia ialah untuk memuliakannya dan memuliakan orang yang kepada Qur`an diturtunkan. Yaitu dengan memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa Qur`an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul terakhir dan umat yang paling mulia. Kitab itu kini telah diambang pintu dan akan segera diturunkan kepada mereka. Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghenndaki disampaikannya Qur`an kepada meraka secara bertahap sesuai dengan peristiwa-perostiwa yang terjadi, tentulah ia diturunkan kebumi. Sekaligus seperti halnya kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
Tetapi Allah membedakannya dari kitabv-kitab yang sebelumnya. Maka dijadikanlah dua ciri tersendiri: diturunkan secara sekaligus , kemudian diturunkan se cara bertahap, untuk menghormati orang yang menerimanya.` As-Sakhawi mengatakan dalam Jamalul Qurra ` Turunnya Qur`an kelangit dunia sekaligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada yang keturunan Adam dihadapan para malaikat. Serta pemberitahuan kepada malaikat akan perhatian Allah dan rahmat-Nya kepada mereka. Dan dalam pengertian inilah Allah memerintahkan tujuh puluh ribu malaikat untuk mengawal surah Al-ana`m, dan dalam pengertian ini pula Allah memerintahkan Jibril agar mengimlakannya kepada para malaikat pencatat yang mulia, menuliskan dan membacakan kepadanya.`
Dan firman Allah:
`Dan sesungguhnya Al Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin , ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.` (as Syuara`: 192-195 ).
Dan firman-Nya:
Katakanlah: `Ruhul Qudus menurunkan Al Qur`an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri `.( an-Nahl: 102 ).
Dan firman-Nya:
`Kitab ini diturunkan Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Bijaksana.` (al-Jasiyah : 2 )
Dan firman-Nya:
`Dan jika kamu dalam keraguan tentang Al Qur`an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami , buatlah satu surat yang semisal Al Qur`an itu.` ( al-Baqarah : 23 )
Dan firman-Nya:
`Katakanlah: `Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.` (al-Baqarah: 97 )
Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Al-Quran Al-Karim adalah kalam Allah dengan lafalnya dengan bahasa arab, dan bahwa Jibril telah menurunkannya ke dalam hati Rasulullah SAW dan bahwa turunnya itu bukanlah turunnya yang pertama kali kelngit dunia. Tetapi yang dimaksudkan ialah turunnya Qur`an secara bertahap. Ungkapan (untuk arti menurunkan ) dalam ayat-ayat diatas menggunakan kata tanzil bukan inzal. Ini menunjukkan bahwa turunnya itu secara bertahap dan berangsur-angsur. Ulama bahasa membedakan kata tanzil dan inzal. Tanzil berarti turun secara berangsur-angsur, sedang inzal hanya menunjukkan turun atau menurunkan dalam arti umum.
Quran turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga belas tahun di mekkah menurut pendapat yang kuat, dan sepuluh tahun di madinah. Penjelasan tentang turunnya secara berangsur itu terdapat dlam firman Allah : `Dan Al Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.`(al-Isra: 106 )
Maksudnya : Kami telah menjadikan turunnya Qur`an itu turun secara berangsur agar kamu membacakannya kepada manusia secara perlahan dan teliti dan Kami menurunkannya bagian demi bagian sesuai dengan peristiwa dan kejadian-kejadian.
Adapun kitab-kitab samawi yang lain, seperti taurat, injil, dan zabur, turunnya sekaligus. Tidak turun secara berangsur. Hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya: `Berkatalah orang-orang yang kafir: `Mengapa Al Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?`; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil.` ( al-Furqan : 32 ).
Ayat ini menunjukkan bahwa kitab-kitab samawi yang dahulu itu turun sekaligus. Dan inilah pendapat yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama. Seandainya kitab-kitab yang terdahulu itu turun secara berangsur.. tentulah orang kafir tidak merasa heran terhadap Qur`an yang turun secara berangsur. Makna kata-kata mereka ` Mengapa Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja` seperti halnya kitab-kitab yang lain. Mengapa ia diturunkan secara bertahap ? mengapa ia diturunkan secara berangsur ? Allah tidak menjawab mereka bahwa ini adalah sunnah-Nya didalam menurunkan kitab samawi sebagaimana Dia menjawab kata-kata mereka:
`Dan mereka berkata: `Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?` (al-Furqan : 7 )
`Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.` (al-Furqan : 20 ), dan seperti Dia menjawab ucapan mereka:
`Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul ?` ( al-Isra`: 94 ) dengan jawaban: `Katakanlah: `Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul`.( al-Isra`: 95 ) dan dengan firman-Nya: `Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu , melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka,` ( al-Anbiya`: 27 ).
Tetapi Allah menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah mengapa Qur`an diturunkan secara bertahap dengan firman-Nya, ` Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu,` maksudnya ialah; demikianlah Kami menurunkan Qur`an secara bertahap dan terpisah-pisah karena suatu hikmah, yaitu untuk memperkuat hati Rasulullah SAW . ` Dan Kami membacakanya kelompok-demi kelompok,` maksudnya : Kami menentukannya seayat- demi seayat atau bagian demi bagian, atau Kami menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya. Karena turunnya yang bertahap sesuai dengan hal itu lebih dapat memudahkan hafalan dan pemahaman yang merupakan salah satu penyebab kemantapan ( didalam hati )
Penelitian terhadap hadis-hadis sahih menyatakan bahwa Qur`an turun menurut keperluan, terkadang turun lima ayat, terkadang sepuluh ayat, terlebih lebih banyak dari itu atau lebih sedikit. Terdapat hadis sahih yang menjelaskan sepuluh ayat telah turun sekaligus berkenaan dengan berita bohong tentang Aisyah. Dan telah turun pula sepuluh ayat dalam permulaan surah Mukminun secara sekaligus dan telah turun pula�..yang tidak mempunyai alasan ( gairu ulid darari ) saja yang merupakan bagian dari satu ayat.
II. Hikmah Turunnya Qur`an Secara Bertahap
Kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya Qur`an secara bertahap dari nash-nash yang berkenaan dengan hal itu. Dan kami meringkaskannya sebagai berikut : 1.
1. Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW .
Rasulullah SAW telah menyampaikan dakwahnya kepada menusia, tetapi ia menhgadapi sikap mereka yang membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh orang-orang yang berhati batu, berperangai kasar dan keras kepala. Mereka senantiasa melemparkan berbagai macam gangguan dan ancaman kepada Rasul. Pada dengan hati tulus ia ingin menyampaikan segala yang baik kepada mereka, sehingga dalam hal ini Allah mengatakan:
`Maka barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.` (al-Kahfi: 6 ).
Wahyu turun kepada Rasulullah SAW dari waktu kewaktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap melangkahkan kaki dijalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang dihadapinya dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut dimusim panas yang segera akan berakhir.
Allah menjelaskan kepada rasul akan sunnah-sunnah-Nya yang berkenaan dengan para Nabi terdahulu yang didustakan dan dianiaya oleh kaum mereka; tetapi mereka tetap bersabar sehingga datang pertolongan dari Allah. Dijelaskan pula bahwa kaum Rasulullah SAW mendustakannya hanya karena kecongkakan dan kesombongan mereka, sehingga ia akan menemukan `Sunnah Ilahi` dalam iring-iringan para nabi sepanjang sejarah. Yang demikian ini dapat menjadikan hiburan dan penerang baginya dalam mengahadapi gangguan dan cobaan dari kaumnya dan dalam menhadapi sikap mereka yang selalu mendustakan dan menolaknya.
`Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, , karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah . Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.` (al-Anam: 33-34 ).
`Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan , mereka membawa mu`jizat-mu`jizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.`(Ali-Imran: 184 ).
Qur`an juga memerintahkan Rasul bersabar sebagaimana Rasul-rasul sebelumnya:
`Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.` (al-Ahqaf : 35 )
Jiwa rasul menjadi tentang karena Allah menjamin akan melindunginya dari gangguan orang yang mendustakan, firman-Nya:
`Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.`(al-Muzammil:10-11 )
Demikianlah hikmah yang terkandung dalam kisah para Nabi yang terdapay dalam Qur`an: `Dan kisah rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami terguhkan hatimu.` (Hud : 120 )
Setiap kali penderitaan Rasulullah SAW bertambah karena didustakan oleh kaumnya dan merasa sedih karena penganiayaan mereka, maka Qur`an turun untuk melepaskan derita dan menghiburnya serta mengancam orang-orang yang mendustakan bahwa Allah mengetahui hal ihwal mereka dan akan membalas apa yang melakukan hal itu.
`Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.` (yaasin: 73)
`Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maba Mengetahui.`(Yunus: 65 )
Demikianlah pula Allah menyampaikan berita gembiara kepadanya dengan ayat-ayat ( yang isinya menjanjikan ) perlindungan, kemengan dan pertolongan:
`Allah memelihara kamu dari gangguan mereka.`(al-Maidah: 67 )
`Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.`(al-Fath: 3 )
`Allah telah menetapkan: `Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang`. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.` (al-Mujadalah: 21 ).
Demikianlah ayat-ayat Qur`an itu turun kepada Rasulullah SAW secara berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa. Didalam kisah para nabi itu terdapat teladan baginya. Dalam nasib yang akan menimpa orang-orang yang mendustakan terdapat hiburan baginya. Dan dalam janji akan memperoleh pertolongan Allah terdapat berita gembira baginya. Setiap kali ia merasa sedih sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia ayat-ayat penghiburpun datang berulang kali sehingga ia berketetapan hati untuk melanjutkan dakwah dan merasa tenteram dengan pertolongan Allah.
Dengan hikmah demikianlah Allah menjawab pertanyaan orang-orang kafir mengapa Qyr`an diturunkan secara bertahap , dengan firman-Nya: `Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil .` (al-Furqan: 32 )
Abu Syamah berkata: ` Apa bila ditanya, apakah rahasia Qur`an diturunkan secara bertahap dan mengapakah ia tidak diturunkan sekaligus ssperti halnya kitab-kitab yang lain ? Kami menjawab : pertanyaan yang demikian ini sudah di jawab oleh Allah. Allah berfirman ` Dan orang-orang kafir berkata: mengapa Qur`an diturunkan kepadanya tidak sekaligus saja ? . mereka bermaksud, mengapa Qur`an tidak diturunkan kepadanya seperti halnya kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para rasul sebelum dia. Maka Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya : ` demikianlah ( Kami menurunkannya secara berangsur, untuk memperkuat hatimu dengannya). Sebab apa bila wahyuselalu baru dalam setiap peristiwa, maka pengaruhnya dalam hati menjadi lebih kuat, dan orang yang menerimanya mendapat perhatian. Hal yang demikian menghendakinya seringnya malaikat turun kepadanya. Pembaharuan dan situasi yang dibawanya dari sisi Allah yang Maha Perkasa. Hal ini menimbulkan kegembiraan dihati Rasulullah SAW yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata . itulah sebabnya, Rasulullah SAW sangat bermurah hati di bulan-bulan ramadan karena dalam bulan ini jibril sering menemuinya.` 2.
2. Ttantangan dan Mukjizat.
Orang-orang musyrik senantiasa berkubang dalam kesesatan dan kesombongan hingga melampaui batas. Mereka sering mangajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menentang. Untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal batil yang tak masuk akal, seperti menanyakan tentang hari kiamat :
Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat ( al-Araf : 187 ).
Dan minta disegerakannya azab :
Dan mereka itu meminta kepadamu untuk disegerakan azab (al-Hajj: 47 ).
Maka turunlah Qur`an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan mereka, misalnya firman Allah :
`Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya , yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak suatu kemanfaatanpun dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak membangkitkan.` ( al-Furqan : 3 ).
Maksud ayat tersebut ialah ` Setiap mereka datang kepadamu dengan pertanyaan yang aneh-aneh dari sekian pertanyaan yang sia-sia, Kami datangkan padamu jawaban yang benar dan sesuatu yang lebih baik maknanya dari semua pertanyaan-pertanyaan yang hanya merupakan contoh kesia-siaan saja.`
Disaat mereka keheran-heranan dengan turunnya Qur`an secara berangsur, maka Allah menjelaskan kepada mereka dengan Qur`an yang diturunkan secara berangsur sedangkan mereka tidak sanggup untuk membuat yang serupa dengannya. Akan lbih melihatkan kemukjizatannya dan lebih efektif pembuktiannya dari pada kalau Quran diturunkan sekaligus lalu mereka diminta membuat yang serupa dengannya. Oleh sebab itu ayat diatas datang sesudah pertanyaan mereka. Mengapa Qur`an itu tidak diturunkan kepaanya sekali turun saja ? maksudnya ialah: Setiap mereka datang keadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil yang mereka minta seperti turunnya Al-Quran Al-Karim ur`an sekaligus, Kami berikan kepadamu menurut kebijaksanaan Kami membenarkanmu dan apa yag lebih jelas maknanya dalam melemahkan mereka, yaitu dengan turunnya Al-Quran Al-Karim secara berangsur. Hikmah yang demikian juga telah diisyaratkan oleh keterangan yang terdapat dlam beberapa riwayat dalam hadis Ibn Abbas mengenai turunnya Qur`an : `Apa bila orang-orang musyrik mengadakan sesuatu, maka Allah pun mengadakan jawabannya atas mereka.`
3. Mempermudah Hafalan dan Pemahamannya.
Al-Quran Al-Karim turun ditengah-tengah umat yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis, catatan mereka adalah daya hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya, kemudian menghafal an memehaminya.
`Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah . Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,` (al-Jumuah : 2 )
…( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi�( al-araf :157 ).
Umat yang buta huruf itu tidaklah mudah untuk menghafal seluruh Qur`an apa bila Al-Quran Al-Karim diturunkan sekaligus, dan tidak mudah pula bagi mereka untuk memahami maknanya serta memikirkan ayat-ayatnya, jelasnya bahwa Al-Quran Al-Karim secara berangsur itu merupakan bantuan terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahami ayat-ayatnya. Setiap kali turun satu atau beberapa ayat, para sahabat segara menghafalkannya. Memikirkan maknanya dan memahami hukum-hukumnya. Tradisi demikian ini menjadi suatu metode pengajaran dalam kehidupan para Tabi`in.
Abu Nadrah berkata,`Abu Saad al-Khudri mengajar kan Qur`an kepada kami, lima ayat diwaktu pagi, dan lima ayat di waktu petang. Dia memberitahukan bahwa jibril menurunkan Al-Quran Al-Karim lima ayat-lima ayat.`
Dari Khalid bin Dinar dikatakan, `Abul `Aliyah berkata kepada kami `Pelajarilah Qur`an itu lima ayat demi lima ayat; karena Nabi saw mengambil dari jibril lima ayat demi lima ayat.`
Umar berkata, `Pelajarilah Quran itu lima ayat demi lima ayat, karena jibril menurunkan Quran kepada Nabi saw. Lima ayat demi lima ayat.`
4. Kesesuaian dengan Peristiwa-peristiwa Pentahapan dalam Penetapan Hukum.
Manusia tidak akan mudah mengikuti dan tunduk kepada agama yang bau ini seandainya Al-Quran Al-Karim tidak menghadapi mereka dengan cara yang bijaksanadan memeberikan kepada mereka beberapa obat penawar yang ampuh yang dapat menyembuhkan mereka dari kerusakan dan kerendahan martabat. Setiap kali terjadi suatu peristiwa, diantara mereka , maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang menjelaskan statusnya dan penunjuk serta meletakkan dasar-dasar perundang-undangan bagi mereka, sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu. Dan cara ini menjadi obat bagi hati mereka.
Pada mulanya Quran meletakkan dasar-dasar keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-nya, dan hari kiamat, serta apa yang ada dalam hari kiamat itu. Seperti kebangkitan, hisab, balasan, surga dan neraka. Untuk itu,Al-Quran Al-Karim menegakkan bukti-bukti dan alasaan sehingga kepercayaan kepada berhala tercabut dari jiwa orang-orang musyrik dan tumbuh sebagai gantinya akidah Islam.
Al-Quran Al-Karim mengajarkan ahlak mulia yang dapat membersihkan jiwa dan meluruskan kebengkokannya dan mencegah perbuatan yang keji dan munkar. Sehingga dapat terikikir habis akar kejahatan dan keburukan. Ia menjelaskan kaidah-kaidah halal dan haram yang menjadi dasar agama dan menancapkan tiang-tiangnya dalam hal makanan, minuman,harta benda, kehormatan dan nyawa.
Kemudian penetapan hukum bagi umat ini meningkat kepada penanganan penyakit-penyakit sosial yang mudah mendarah daging dalam jiwa mereka sesudah digariskan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan rukun-rukun Islam yang menjadikan hati mereka penuh dengan iman, ikhlas kepada Allah dan hanya meyembah kepada-Nya serta tidak menyekutukan-Nya.
Demikian pula Al-Quran Al-Karim turun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi bagi kaum muslimin dalam perjuangan mereka yang panjang untuk meninggikan kalimah Allah. Hal-hal tersebut diatas, semuanya mempunyai dalil-dalil berupa nas-nas Al-Quran Al-Karim bila kita meneliti ayat-ayat makki dan madaninya serta kaidah-kaidah perundang-undangannya. Sebagai contoh di mekkah disyariatkan salat; dan prinsip mengenai zakat yang diperbandingkan dengan riba :
`Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan . Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipat gandakan.`( ar-Rum : 38-39 ).
Surah al-an`am yang makki itu turun untuk menjelaskan pokok keimanan dan dalil-dalil tauhid, menghancurkan kemusyrikan, menerangkan tentang makanan yang halal yang haram serta ajakan untuk menjaga kemuliaan harta benda, darah dan kehormatan.
Allah berfirman : `
Katakanlah: `Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan sesuatu yang benar `. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat , dan penuhilah janji Allah . Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.`(al-an`am:151-152 ).
Kemudian setelah itu turunlah perincian hukum-hukum ini. Pokok-pokok hukum perdata (terutama hukum benda) tutrun di mekkah tetapi perincian hukumnya di madinah, seperti ayat tentang utang piutang dan ayat-ayat mengharamkan riba. Asas-asas hubungan kekeluargaan iu turun di mekkah, tetapi penjelasan mengenai hak suami isteri dan kewajiban hidup berumah tangga serta hal-hal yang bertalian dengannya seperti keberlangsungan terus rumah tangga tadi atau keterputusannya dengan perceraian atau dengan kematian, kemudian bagaimana warisannya, maka penjelassan mengenai hal itu semua diterangkan dalam perundang-undangan yang madani. Sedang mengenai zina dasarnya sudah diharamkan di mekkah :
`Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.` (al-Isra: 32 ).
Tetapi hukuman-hukuman yang diakibatkan oleh zina itu turun di medinah. Adapun mengenai pembunuhan dasarnya juga sudah turun di mekkah :
`Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.` (al-Isra:33 ).
Tetapi perincian hukuman tentang pelanggaran terhadap jiwa dan anggota badan itu turun di mekkah. Contoh yang paling jelas mengenai penetapan hukum yang berangsur-angsur itu ialah diharamkannya minuman keras, mengenai hal ini pertama-tama Allah berfirman :
`Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan.`(an-Nahl: 67).
Ayat ini menyebutkan tentang karunia Allah apa bila yang di maksud dengan `sakar` ialah khamr atau minuman keras dan yang dimaksud dengan `rezeki` ialah segala yang dimakan dari kedua pohon tersebut seperti kurma dan kismis-dan inilah pendapat jumhur ulama- maka pemberian predikat `baik` kepada rezeki sementara sakar tidaj diberinya, merupakan indikasi bahwa dalam hal ini pijian Allah hanya ditujukan kepada rezeki dan bukan kepada sakar, kemudian turun firman Allah:
`Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: `Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya`.(al-Baqarah:219).
Ayat ini membandingkan antara manfaat minuman keras (khamr) yang timbul sesudah memminumnya seperti kesenangan dan kegairahan atau keuntungan karena memperdagangkannya, dengan bahaya yang diakibatkannya seperti dosa, bahaya bagi kesehatan tubuh, merusak akal, menghabiskan harta dan membangkitkan dorongan-dorongan untuk berbuat kenistaan dan durhaka. Ayat tersebut menjauhkan khamr dengan cara menonjolkan segi bahayanya dari pada manfaatnya, kemudian turun firman Allah: `Wahai orang-orang yang beriman , janganlah kamu salat sedang kamu dalam keadaan mabuk.`(an-Nisa`: 43 ).
Ayat ini menunjukkan larangan minuman khamr pada waktu-waktu tertentu bila pengaruh minuman itu akan sampai kewaktu salat, ini mengingat adanya larangan mendekati salat dalam keadaan mabuk, samppai pengaruh minuman itu hilang dan mereka mengetahui apa yang mereka baca dalam salatnya, selanjutnya firman Allah:
`Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu.`(al-Maidah:90-91)
Ini merupakan pengharaman secara pasti dan tegas terhadap minuman dalam segala waktu. Hikmah penetapan hukum dengan sistem bertahap ini lebih lanjut diungkapkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a ketika mengatakan :
`Sesungguhnya yang pertama kali turun dari Qur`an ilah surah Mufassal yang didalamnya disebutkan surga dan neraka, sehingga ketika manusia telah berlari kepada Islam, maka turunlah hukum haram dan halal. Kalau sekiranya yang turun pertama kali adalah `jJanganlah kamu meminum khamr` tentu meraka akan menjawab: ` Kami tidak akan meninggalkan khamr selamanya.` Dan kalau sekiranya yang pertama kali turun ialah ; janganlah kamu berzina, tentau mereka akan menjawab: `Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.`
Demikianlah pentahapan dalam mendidik umat ini sesuai degan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat tersebut. Rasulullah SAW pernah meminta pertimbangan para sahabatnya mengenai tawanan perang badar. Maka Umar berkata: `Potong saja leher mereka` sedang Abu Bakar berkata: `Menurut pandangan kami, sebaiknya Anda memaafkan mereka dan meminta tebusan dari mereka` dan Rasulullah SAW pun mengambil pendapat Abu Bakar. Maka turunlah Firman Allah :
`Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.`(al-Anfal: 67-68 ).
Kaum mualimin merasa kagum atas besarnya jumlah pasukan mereka pada perang Hunain, sehingga seseorang diantara mereka berkata :
`Kami pasti tidak akan dikalahkan oleh pasukan kecil.` Mereka pun menerima pelajaran yang berat dalam hal itu, dan turunlah firman Allah: `Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di medan peperangan yang banyak, dan peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah , maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfa`at kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`(at-Taubah: 25-27).
Ketika Abdullah bin Ubai pemimpin orang-orang munafik meninggal dunia, Rasulullah SAW diundang untuk menyembahyangkannya. Ia pun memenuhinya, namun ketika ia berdiri, Umar berkata ` apakah engakau hendak melakukan salat atas Abdullah bin Ubai, musuh Allah yang mengatakan begini begitu ?` Umar menyebutkan peristiwa-peristiwa yang dilakukan Abdullah, sedang Rasulullah SAW tersenyum saja. Kemudian ia berkata kepada Umar, ` Sebenarnya dalam hal ini saya sudah diberi kebebasan unutuk memilih. Sebab telah dikatakan kepadaku, :` Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka . Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.(at-Taubah:80), sekiranya aku tahu bahwa jika aku memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali dia diampuni, tentu aku akan memohonkan ampun lebih dari tujuh puluh kali; kemudian Rasulullah SAW menyembahkannya juga, dan berjalan bersama Umar dan ia berdiri diatas kuburannya hingg selesai penguburan. Umar berkata ` Aku heran terhadap diriku dan keberanianku kepada Rasulullah SAW padahal Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Demi Allah tidak lama kemudian turunlah kedua ayat ini: `Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri di kuburnya�..(at-Taubah: 84 ). Maka sejak itu Rasulullah SAW tidak lagi melakukan salat atas seorang munafik pun sampai ia di penggil Allah Azza Wajalla.`
Ketika beberapa orang diantara kaum mukminin yang sejati tidak ikut dalam perang Tabuk dan mereka tetap tinggal di madinah, sedang Rasulullah SAW tidak mendapatkan alasan bagi ketidak ikutan mereka, beliau menjauhi dan mengucilkan mereka sehingga mereka merasa hidupnya menjadi sempit. Kemudian turunlah ayat-ayat Qur`an untuk menerima tobat mereka:
`Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.`(at-Taubah: 117-118).
Yang demikian ini juga diisyaratkan oleh keterangan yang diriwayatkan dari Ibn Abbas mengenai turunnya Qur`an : `Qur`an diturunkan jibril dengan membawa jawaban atas pertanyaan para hamba dan perbuatam mereka.`
5. Bukti Yang Pasti Bahwa Al-Quran Al-Karim Diturunkan Dari Sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.
Qur`an yang turun secara berangsur kepada Rasulullah SAW dalam waktu lebih dari dua puluh tahun ini ayat-ayatnya turun dalam selang waktu tertentu, dan selama ini orang membacanya an mengkajinya surah demi surah. Ketika ia melihat rangkaiannya begitu padat, tersusun cermat sekali dengan makna yang saling bertaut, dengan gaya yang begitu kuat, serta ayat demi ayat dan surah demi surah saling terjalin bagaikkan untaian mutiara yang indah yang belum ada bandigannya dalam perkataan manusia :
`Alif laam raa, suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci , yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,` (Hud: 1 ).
Seandainya Qur`an ini perkataan manusia yang disampaikan dalam berbagai situasi, peristiwa dan kejadian, tentulah didalamnya terjadi ketidak serasian dan saling bertentangan satu dengan yang lainnya, serta sulit terjadi keseimbangan.
`Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ? Kalau kiranya Al Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.`(an-Nisa`:82 ).
Hadis-hadis Rasulullah SAW sendiri yang merupakan puncak kefasihan yang paling bersastra sesudah Quran tidaklah tersusun dalam sebuah buku dengan ungkapan yang lancar serta satu dengan yang lain saling berkait dalam satu kesatuan dan ikatan seperti halnya Al-Quran Al-Karim atau dalam bentuk susunan yang serasi dan harmoni yang mendekatinya sekalipun, apalagi ucapandan perkataan manusia lainnya.
`Katakanlah: `Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur`an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain`.(al-Isra: 80 )
III. Faedah Turunnya Qur`an secara Berangsur-angsur dalam Pendidikan dan Pengajaran
Proses belajar mengajar itu berlandaskan dua asas; perhatian terhadap tingkat pemikiran siswa dan pengembangan potensi akal, jiwa dan jasmaninya dengan apa yang dapat membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.
Dalam hikmah turunnya Qur`an secara bertahap itu kita melihat adanya suatu metode yang berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan kedua asas tersebut seperti yang kami sebutkan tadi, sebab turunnya Qur`an it telah meningkatkan pendidikan umat Islam secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa manusia , meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian dan menyempurnakan existensinya sehingga jiwa itu tumbuh dengan tegak diatas pilar-pilar yang kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan umat manusia seluruhnya dengan izin Tuhan.
Pentahapan turunnya Al-Quran Al-Karim itumerupakan bantuan yang paling baik bagi jiwa manusia dalam rangka menghafal , memehami, mempelajari, memikirkan makna-maknanya dan mengemalkan apa yang dikandungnya.
Diantara celah-celah turunnya Al-Quran Al-Karim yang pertama kali didapatkan perintah untuk belajar dengan alat tulis:
`Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaran kalam.`(al-Alaq:1-5)
Demikian pula dengan turunnya ayat-ayat tentang riba dan warisan dalam sistem harta kekayaan, atau turunnya ayat-ayat tentang peperangan untuk membedakan secara tegas antara Islam dengan kemusyrikan. Diantara itu semua terdapat pentahapan pendidikan yang mempunyai berbagai cara dan sesuai engan tingkat perkembangan masyarakat Islam yang sedang dan senantiasa berkembang, dari lemah menjadi kuat dan tangguh.
Sistem belajar mengajar yang tidak memperhatikan tingkat pemikiran siswa dalam tahap-tahap pengajaran, bentuk bagian-bagaian ilmu diatas yang bersifat menyeluruh serta perpindahannya dari yang umum ke yang khusus; atau tidak memperhatikan pertumbuhan aspek-aspek kepribadian yang bersifat intelektual, rohani dan jasmani, maka ia adalah sistem pendidikan yang gagal yang tidak akan memberi hasil ilmu pengetahuan kepada umat, selain hanya menambah kebekuan dan kemunduran.
Guru yang tidak memeberikan kepada para siswanya porsi materi ilmiah yang tidak sesuai, yang hanya menambah beban kepada mereka diluar kesanggupannya untuk menghafal dan memahami, atau berbicara kepada mereka dengan sesuatu yang tidak dapat mereka jangkau, atau dengan mereka sesuatu yang tidak memeprhatika keadaan mereka dalam menghadapi keganjilan perilaku atau kebiasaan buruk mereka sehingga dia berlaku kasar dan keras. Serta menangani urusan tersebut dengan tergesa-gesa dan gugup, tidak bertahap dan tidak bijaksana- maka guru yang berlaku demikian in adalah guru yang gagal pula. Dia telah mengubah proses belajar mengajar menjadi kesesatan yang mengerikan dan menjadikan ruang belajar menjadi ruang yang tidak disenangi.
Begitu pula dengan buku pelajaran, buku yang tidak tersusun judul-judul dan fasal-fasalnya serta tidak bertahap penyajian pengetahuannya dari yang mudah ke yang sukar, juga bagian-bagiannya tidak tersusun secara baik dan serasi, dan gaya bahasanya pun tidak jelas dalam menyampaikan apa yang dimaksud- maka buku yang demikian ini tidak akan dibaca dan dimanfaatkan oleh siswa.
Petunjuk Ilahi tentang turunnya Al-Quran Al-Karim secara bertahap merupakan contoh yang baik dalam menyusun kurikulum pengajaran, memilih metode yang baik dan menyusun buku pelajaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s